Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Mengikhlaskan dan memaafkan


__ADS_3

"Ibu, sudah ... sudah, jangan begitu!" Suaminya memeluknya erat, dan mereka menangis berdua. Nilam, merasa sangat sedih. Angga, meneteskan air matanya. Ia, tidak tega melihat wajah kedua orang tua itu menangisi kepergian anak kesayangan mereka.


****


Hingga keesokan harinya, berita itu menjadi viral dan membuat beberapa orang mulai menjadi marah, dan berdemo di di depan kantor Angga. Media massa terus mencetak berita tersebut.


Angga, dan tim nya membawa pelaku untuk melakukan reka ulang kejadian, di luar sudah banyak massa, yang sedang menunggu pelakunya keluar. Angga, terkejut melihat banyaknya jumlah massa yang berkumpul dengan penuh amarah, hingga mereka melempari pelaku dengan telur dan batu-batu kecil. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang menusuk pelaku pertama tepat di bagian perut sebelah kirinya. Pelaku jatuh tersungkur ke tanah. Semua orang mulai panik. Dan, terjadi kerusuhan, Angga bergegas membawa semua pelaku menuju mobil. Dan, mencari siapa yang menusuk pelaku, karena ia kabur.


Angga, kemudian menemukannya, ia tengah menangis dengan darah di tangannya dengan berlutut. Kemudian polisi mulai menyuruh semua orang untuk pulang. Situasi sudah mulai bisa di atasi, Angga menghampiri dan bertanya.


"Pak, tolong ... letakkan senjata tersebut?" Angga, menghampirinya dengan sangat perlahan. Pria, separuh baya tersebut berbalik badan dengan wajah yang sedih. Ia, menjatuhkan senjatanya. Firman, menghampirinya dengan memborgol tangannya. Bapak itu hanya pasrah dan menangis.


"Aku, belum puas .... mereka masih bisa hidup normal, tanpa harus menangis karena kehilangan!" Bapak tersebut menangis. Angga, membawanya ke ruangannya untuk diberikan segelas air putih. Angga, tahu jika bapak ini adalah bapaknya Anita. Mereka, berpikir jika Bapak tersebut karena kehilangan anaknya, ternyata ada alasan lain mengapa ia begitu nekad. Nilam, datang ke kantor Angga dengan Aldo dan Dika karena mereka baru pulang sekolah.


Angga, membawa Bapak tersebut ke ruang interogasi setelah di bersihkan. Bapak itu terus menangis, dengan menundukkan kepalanya. Ia, sangat terluka dengan semua kenyataan pahit ini. Nilam, bertanya kepada Angga, ada apa dengan Bapak tersebut. Angga, menceritakan semuanya pada Nilam, dan di dengarkan oleh Dika dan Aldo. Mereka, menyimak dengan penuh haru. Nilam, berinisiatif untuk bertemu dengan Bapak tersebut. Ia, memasuki ruangan tersebut. Bapak, itu masih menundukkan kepalanya ia tampak sangat sedih, Angga ikut masuk. Nilam, duduk dan memegang tangan Bapak tersebut. Ia, melihat sebuah bayangan.


"Pah, Mamah mau ke pantai?" Dengan berdiri menghadap ke arah luar jendela.


"Untuk apa mah? Nanti, kita akan ingat lagi, karena Anita sangat suka pantai! Lebih baik kita di rumah saja ya! Ingat dokter juga bilang, Mamah gak boleh banyak pikiran lagi!" Sambil, mengelus rambut istrinya.


"Pah, tolong ... jangan menolak untuk pergi, anggap saja, bahwa Mamah sudah ikhlas melepaskan kepergian Anita anak semata wayang kita! Mamah sudah menghabiskan hari-hari dengan air mata, Mamah ingin sekali menghirup udara segar, " Ia, memelas, akhirnya suaminya dengan terpaksa harus mengikuti keinginan istrinya. Dan akhirnya mereka pergi ke pantai di pagi itu. Suasana, sedikit mendung seolah memberikan sebuah firasat buruk, tentang sesuatu yang akan terjadi.


Setelah, mereka sampai, mereka memasang menu makanan, namun tiba-tiba saja istrinya meminta ia untuk membelikannya sebuah minuman. Akhirnya, ia pergi.


"Tunggu sampai aku kembali!" Ia, hanya menunduk. Saat, ia sedang duduk di bibir pantai, ia melihat sebuah bayangan anaknya yang memanggilnya untuk mendekati pantai.


"Mah, sini ... Ayo main bareng lagi! Anita, kangen banget sama Mamah!" Ibu, itu terus berjalan tanpa menyadari bahwa ia sudah sampai tengah. Dengan, menangis mengejar anaknya yang telah tiada. Sampai, ia tenggelam dan separuh air sudah masuk ke dalam tubuhnya. Suaminya, terus memanggil namanya.

__ADS_1


"Mah, tolong jangan tinggalkan aku sendiri!" Bapak itu menangis dengan berlari sekencang-kencangnya meskipun sulit karena derasnya arus air. Istrinya sudah tidak sadarkan diri, dan ia berhasil menyelamatkan istrinya dibantu oleh penjaga pantai dan warga. Mereka, menelpon ambulans segera datang.


"Alhamdulillah, istri bapak masih bisa kami selamatkan, jika terlambat sedikit saja sangat fatal, untuk sementara waktu istri Bapak akan di rawat secara intensif sampai kondisi traumanya sembuh total!"


"Baik, dok, lakukan apapun demi istri saya! Terimakasih banyak atas bantuannya!"


"Sama-sama, bapak juga harus banyak istirahat!" Dokter itu pergi.


Angga, menepuk pundaknya dan membuat Nilam, kembali tersadar.


Begitu pahit kenyataan yang harus dihadapi oleh Bapak tersebut, seorang diri. Nilam, mengajak Angga keluar dari ruangan dan menceritakan semuanya. Angga, mulai mengerti mengapa Bapak tersebut begitu dendam kepada pelaku.


Angga, mengajak bapak tersebut untuk makan bersama.


"Saya, berinisiatif untuk membantu bapak pindah rumah, ke luar kota, supaya bapak dan ibu bisa memulai hidup baru! Karena, jika terus berada di dalam kenangan yang sama, itu akan sulit untuk melupakan semuanya, bayangan tentang anak bapak itu akan terus berlanjut, sebaiknya saran saya mohon di pertimbangkan! Bapak dan ibu bisa kembali jika sudah tenang! Biarkan, para pelaku akan menerima hukuman yang sesuai, bapak tidak usah khawatir dengan persoalan itu!" Bapak tersebut hanya terdiam, ia bingung harus bagaimana, tapi ada benarnya jika terus di rumah, istrinya tidak bisa melupakan semua kenangan bersama anaknya.


"Terimakasih atas bantuannya, semoga Allah membalas kebaikan kalian! Dan, Bapak segera menikah!" Bapak itu berpamitan dengan Angga dan yang lainnya. Angga, hanya tersenyum.


Di sekolah.


Kompetisi segera di mulai, mereka bersiap-siap untuk bertanding. Mereka semua tampak mempesona dan tampan, disertai oleh tim childress dari Sukma. Ternyata ibunya Farel datang ke acara tersebut, terlihat Rey bersalaman, Farel yang melihatnya dari kejauhan dengan memasang tali sepatunya dengan emosi. Mereka nampak begitu akrab, itu membuat Farel kesal. Saat mereka berdiri di tengah lapangan, Farel membisikkan kata-kata kepada Rey.


"Loe, jangan pernah deketin nyokap gue lagi! Ngerti ...!" Farel terlihat sangat maray, Rey hanya terdiam. Nilam, merasa ada yang tidak beres antara mereka berdua.


Pertandingan di mulai, mereka begitu antusias dengan melawan sekolah lain. Acara begitu ramai, kedudukan unggul SMA Global. Nilam dan yang lainnya sangat senang. Saat, di babak final. Tiba-tiba saja, ibu Farel mendadak seperti kesakitan, sepertinya ia lupa membawa obat asma nya, Farel yang melihatnya merasa tidak tenang, hingga ia tidak fokus dengan pertandingannya, hingga sekarang unggul. Rey yang melihatnya, saat ia sedang istirahat ia mendekati ibunya Farel.


"Ibu, tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Gak, usah dipikirin, ibu gak apa-apa!" Nafasnya berat. Farel, meminta untuk digantikan sementara waktu. Ia, menghampiri ibunya. Dan, mendorong tubuh Rey.


"Farel, jangan begitu!"


"Ibu, kenapa selalu belain Rey, emang dia anak ibu? Farel, cuma gak mau, orang yang sudah menghancurkan kehidupan kita, bisa dekat lagi dengan kita!"


"Farel ...!" Ibunya sedikit menangis mendengar perkataannya. Ia, tidak menyangka jika Farel begitu membenci Rey. Farel terlihat menundukkan kepalanya. Rey, merasa tidak nyaman dengan ucapan Farel.


'Gue, emang udah gak bisa di maafkan lagi!' Rey, hanya bisa menahan sedihnya hatinya. Tiba-tiba saja, ibunya bertambah parah sementara pertandingan masih berlangsung. Farel mulai di panggil oleh pelatih.


"Loe, gak pernah tahu, sakitnya hati gue, di musuhi oleh orang yang paling penting dalam hidup gue! Meskipun loe, gak bisa maafin gue, tapi gue mohon jangan jauhin gue dari ibu, karena ia adalah ibu kedua untuk gue, biarkan gue bantuin buat ke ruang UKS! Dan loe tetep, ngelanjutin tugas loe sebagai kapten tim! Loe, boleh benci dan marah sama gue, tapi ibu lebih butuh bantuan! Please ...! Loe, boleh pukul gue ...!" Farel, menatapnya dengan tatapan mata yang tajam. Tangannya, ingin memukul wajah Rey, ia kemudian berbicara dan berbalik badan.


"Gue, percayain nyokap gue sama loe! Kalau terjadi sesuatu, lihat aja nanti!" Ia, kemudian pergi menuju lapangan kembali. Rey, membawa ibunya ke ruangan UKS.


"Rey, ibu mohon maaf, Farel memang marah tapi ia, sebenarnya masih sering memikirkan keadaan kamu, bahkan foto kita bertiga masih ia simpan di kamarnya! Percayalah, bahwa ia hanya perlu waktu untuk berdamai dengan masalah dan kenyataan!" Rey hanya tersenyum, disana sudah ada dokter yang menangani ibu, dan membuat keadaan ibunya membaik. Rey, berbincang banyak setelah lama mereka tidak bertemu.


Pertandingan berakhir, Farel segera menyusul ibunya menuju ruangan UKS.


"Farel ...!" Ibunya sangat terkejut karena, Farel datang dengan nafas tersengal-sengal.


"Ibu, gak apa-apa?" Ia, terlihat sangat khawatir. Nilam juga mengikuti dari belakang dan menghampiri ibu.


"Nilam ...!" Ibu, keceplosan dengan memanggil nama aslinya. Nilam memberikan kode. Ibunya kemudian terlihat gelisah.


"Maaf ... salah, maksudnya Raffi! Apa kabarmu?" Mereka berpelukan dan ibunya berbisik.


"Maaf, keceplosan ...!" Nilam hanya tersenyum. Farel, terlihat bingung dengan ibu dan Raffi.

__ADS_1


Rey, berpikir bagaimana ibu bisa mengetahui rahasia Nilam, sementara anaknya sendiri tidak mengetahuinya.


__ADS_2