Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Kakak bangun, aku ingin bermain lagi denganmu


__ADS_3

Setelah mereka sampai di lokasi, sang ibu sedang berusaha untuk memberikan CPR secara alami. Saat petugas menghampiri ia nampak terkejut dan panik m


"Tolong anakku ...?" Ibu itu menangis tersedu-sedu. Sedangkan anak laki-laki yang berdiri di dekat kakaknya itu, terlihat sangat sedih dan menangis usianya sekitar enam tahun. Sedangkan kakaknya yang berusia sembilan tahun.


Tim medis segera mengangkat tubuh gadis itu, dan segera membawanya ke mobil ambulans. Karena memang alat mereka sudah canggih, mereka berusaha untuk menyadarkan korban. Namun, beberapa kali melakukan CPR tetap gagal.


Tim medis, melirik ke arah Angga dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf Pak, kami sudah berusaha untuk menyelamatkan korban. Tapi sayang banyaknya volume air yang terdapat di paru-paru korban, membuat korban tidak bisa di selamatkan. Kami meminta maaf" Dengan sangat menyesal tim medis menyampaikan informasi tersebut.


Angga, menarik nafasnya dan berusaha untuk menyampaikan kepada ibu korban. Sementara adiknya yang sedang mengobrol dengan Rey dan Farel.


"Apakah kakakku akan selamat?" Farel, setengah duduk dan menghampiri anak itu lebih dekat. Ia mengusap kepalanya.


"Insya Allah kita doakan saja, tim medis sedang berusaha agar kakakmu bisa selamat. Kamu berdoa agar kakakmu selamat dan bisa bermain lagi denganmu".


Anak itu tersenyum, sedikit lega.


"Siapa namamu?" Farel melanjutkan pembicaraannya.


"Ali ... Kakak siapa?"


"Ali nama yang indah, kakak namanya Farel dan ini namanya kak Rey "


Tidak lama terdengar suara jeritan dari ibu korban.


"Tidak ...!" Semua orang tertuju kepada ibu korban. Anak keduanya menghampiri ibunya dan bertanya kepada ibunya.


"Ibu ... apa yang terjadi?" Ibu itu hanya menangis.


Anak itu menghampiri kakaknya yang terbaring lemah.


"Kak ... bangun... ayo main lagi, cuma kakak yang selalu menemaniku setiap hari. Ayo bangun ... jangan tidur terus, ibu sudah menangis, kakak bangun ... aku ingin bermain lagi denganmu?" Semua orang merasa tersentuh hingga ada beberapa orang yang meneteskan air matanya. Ali memegang tangan kakaknya.


"Kenapa tangan kakak dingin sekali, aku akan berikan selimut tebal agar kakak hangat. Tapi kakak janji akan bangun dan menemani aku lagi, kakak jawab. Kakak bilang, kalau orang hidup tubuhnya akan hangat, tapi kenapa kakak sangat dingin. Apakah kakak sudah mati?" Ali, terus menggoyangkan tubuh kakaknya itu. Ia mulai menangis tersedu-sedu, Angga menggendongnya.


Semua orang ikut menangis, melihat peristiwa yang menyedihkan itu. Ali terus menangis tersedu-sedu. Ia sangat histeris. Hingga, beberapa tim menemani Ali agar ia merasa sedikit terhibur. Angga, menidurkan anak itu di sofa.


Angga, duduk di dekatnya. Ia mengusap kepala itu anak itu. Ibu korban, menyajikan kopi untuk para polisi.


"Apakah di rumah ini memiliki cctv, agar kami tahu bagaimana korban terjatuh ke dalam air?" Ibu itu terlihat terkejut, dan terlihat sangat gugup.


"Tidak ... kami tidak memiliki cctv." Ibu itu pergi berlalu.


"Aneh kenapa terlihat gugup?"

__ADS_1


"Kakak ... aku ikut, kenapa kakak pergi meninggalkan ku? Kenapa ibu tega melakukan semua itu kepada kakak?" Ali, mengigau. Angga merasa aneh, dengan kata-kata terakhir Ali.


"Ada yang tidak beres?" Angga, memerintahkan kepada anggotanya untuk mencari barang bukti lain.


Jenazah korban masih di ruang otopsi. Maya masih menyelidiki kasus ini.


****


Keesokan hari. Mereka berkumpul dan Maya juga hadir dalam rapat itu.


"Maaf, terdapat jejak tangan orang dewasa di kepala korban. Bagian belakang sepertinya ia bukan jatuh tapi ada seseorang yang sengaja menenggelamkan kepala korban ke kolam, hingga lemas dan korban terjatuh dengan sendirinya ke kolam."


"Masuk akal, karena saya mendengar Ali mengigau tentang kakaknya, jika ibunya melakukan sesuatu kepada kakaknya?"


"Bagaimana jika Ali mau memberikan informasi untuk bukti? Anaknya bisa di ajak ngobrol, bahkan dia memiliki simpati yang sangat besar, bahkan untuk anak seusianya ia sudah mengerti jika orang sudah meninggal. Sepertinya ia bisa memberikan kesaksian demi kakaknya?" Farel menambahkan.


"Saya setuju, mari kita lanjutkan penyelidikan ini"


"Siap laksanakan ...!" Semua serentak.


Sementara Rey terlihat melamun, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Nilam yang melihatnya berniat untuk menghampiri, namun Rey pergi dengan Farel untuk menjemput para saksi.


"Raya, aku melihat Rey melamun? Apa dia ada masalah?"


"Sepertinya? Rey orangnya tidak banyak bicara, aku rasa dia memang sedang sedih."


"Selamat untuk siswi terbaik sebagai perenang hebat juara satu!" Mereka berdua saling bertatapan.


"Bagaimana bisa perenang handal, mati tenggelam padahal kolam nya juga tidak dalam, ia pasti bisa menyelamatkan diri sendiri. Terlihat ia telah memenangkan beberapa penghargaan terbaik." Farel berbicara pelan kepada Rey.


Rey, mengambil foto itu, untuk ia jadikan sebagai bukti.


Sesampainya, mereka di ruang interogasi. Angga memasuki ruangan interogasi dan interogasi antara ibu dan anak akan terpisah agar ibunya tidak bisa memberikan arahan kepada Ali.


Angga, mengintrogasi Ali.


"Hai ... apa kabarmu?"


"Alhamdulillah baik ...!"


"Apa kamu bisa ceritakan apa yang terjadi kepada kakakmu?" Anak itu murung dan ia hanya terdiam membisu. Kepalanya tertunduk lesuh. Angga mengusap kepalanya.


"Ali ... kakakmu butuh keadilan. Kakakmu pasti bangga memiliki seorang adik yang mau berkata jujur?"


Lalu Ali mengingat ucapan kakaknya selama ini.

__ADS_1


"Ali, kamu harus ingat menjadi orang baik. Selalu berkata jujur, ayah selalu mengatakan hal yang baik. Kakak akan selalu ingat kata ayah, orang baik akan selalu di kenang sepanjang masa walaupun mereka telah tiada! Jangan pernah takut kepada kebenaran"


"Apapun itu kak?"


"Apapun itu, jadilah orang baik dan jujur sekalipun kita tidak punya apapun!"


Ali menatap wajah Angga, dan mulai bicara.


"Saat itu, aku sedang bermain mobil-mobilan di pinggir kolam. Sementara itu ibu menyuruh kakak untuk mengambilnya minuman ..."


"Lalu ...?"


Ali sempat melirik ke arah ibunya yang di luar.


"Kamu tenang saja, kami disini ada untuk melindungi dirimu, ibumu tidak bisa menyakiti kamu?" Angga, memegangi tangannya. Lalu Ali melanjutkan pembicaraannya.


"Tapi, tidak sengaja kakak menumpahkan minuman itu, tepat ke baju baru yang baru ibu beli. Ibu terlihat sangat marah, wajahnya memerah sedangkan kakak terlihat ketakutan dan terus menerus meminta maaf kepada ibu. Sementara ibu, malah menarik tangan kakak, dan menariknya mendekati kolam, lalu menyuruh kakak untuk jongkok "


"Jongkok .... ngerti gak sih!"


"Ampun Bu. .. aku minta maaf. Aku janji bakal cuci bajunya hingga bersih kembali. Tolong ampuni aku ibu?"


"Alah ... gak ada ampun!"


"Lalu ibu, memasukkan kepala kakak ke dalam kolam berkali-kali. Aku sempat bilang kepada ibu agar melepaskan kakak, tapi ibu malah mendorong tubuhku. Hingga aku hanya menangis, tubuh kakak yang tadinya masih terlihat bergerak tidak lama tidak bergerak lagi. Ibu terlihat panik, lalu ibu menenggelamkan tubuh kakak ke kolam. Tidak lama ibu sibuk, mencabut cctv. Dan setelah itu, ibu menelpon kepolisian!"


Ali sangat dewasa.


"Hebat Ali ... kakakmu pasti sangat bangga memiliki seorang adik sepertimu. Siapa yang mengjarimu untuk sedewasa ini?"


"Kakakku ... dia selalu mengatakan hal baik, mengajariku banyak hal. Kami hanya berdua saja, ibu selalu sibuk di luar rumah."


"Bagaimana dengan ayahmu?"


"Ayah ... sudah meninggal. Aku selalu bersama kakak, tidak ada yang lain. Bahkan sampai saat ini, aku masih merasa melihatnya" Angga, mengusap kepalanya.


"Terimakasih banyak kamu anak hebat. Kamu banyak berdoa ya untuk kakak dan ayahmu."


"Kak, kalau aku jujur begini, apakah ibu akan masuk penjara?"


Angga, langsung terdiam.


"Karena kakak selalu bilang, kalau orang jahat masuk penjara dan di tangkap polisi."


"Ali, orang bersalah pasti harus di hukum!"

__ADS_1


Ali terdiam membisu.


__ADS_2