
Karena, suara gaduh dari kamar Nilam. Dika dan Aldo saling bertatapan.
"Apa itu ...? Ini tengah malam loh ...! Hantu, jangan-jangan ...?" Aldo dan Dika, terlihat ketakutan.
"Ish ... ngarang loe ...!" Dika, berbicara sambil memegangi tangan Aldo.
"Ya, udah kita cek ...?" Ucap Aldo.
"Emang loe berani ...?"
"Enggak ...!" Dengan tersenyum.
"Dari kamar Nilam sepertinya, kita cek ...!" Timpal Dika. Mereka berdua berjalan menuju kamar Nilam. Saat mereka membuka pintu, Nilam tengah memegang cermin tersebut. Dan membuat ia terkejut. Hingga, sedikit mundur dari tempatnya.
"Ya ampun ...!" Nilam, mengusap dadanya. Mereka berdua hanya tersenyum.
"Apa itu ...?" Aldo, penasaran dan memegangnya. Ia, terkejut karena cermin tersebut sangat panas. Dan, Nilam kuat menahan panasnya.
Mereka berkumpul di ruang tamu. Untuk meneliti benda apa ini.
"Aneh ...! Padahal, jelas tadi itu suara pecahan kaca, tapi kenapa cerminannya tidak pecah, bahkan tetap utuh." Aldo, merasa heran. Itulah yang dipikirkan oleh Nilam. Angga, mengetuk pintu, Dika membukakan pintu. Dan ia melihat Nilam memegang sebuah cermin antik. Tiba-tiba saja, bergetar dan terlihat sebuah tulisan yang muncul dari cermin tersebut yang berwarna merah.
Mereka semua membacanya secara bersamaan.
"Gerhana merah" Mereka saling bertatapan.
"Maksudnya apa?" Dika, mulai berpikir keras.
'Apa, ada hubungannya dengan kejadian beberapa tahun lalu?' Gumam Angga dalam hati. Lalu, ia pergi begitu saja ke kamar, karena ia terlihat sangat lelah. Sambil berjalan ia berbicara agar semuanya tidur karena ini sudah malam. Ia, mengusap kepala Nilam dengan berlalu pergi. Nilam, terlihat sangat senang. Mereka semua memasuki kamar.
****
Penyelidikan kembali di lanjutkan. Mereka menemukan beberapa bukti dan informasi tentang korban dan pelaku yang sangat memungkinkan untuk melakukan hal sekeji itu. Saat mereka sedang rapat, Firman datang dengan gagahnya. Semua orang terkejut.
"Alhamdulillah kamu sudah kuat ...?" Angga, terlihat sangat senang dengan kembalinya Firman ke tempat kerjanya.
__ADS_1
" Siap .... Alhamdulillah, sehat dan insya Allah hari ini, kita akan mulai lagi ...?" Firman hormat dan semua orang terlihat sangat gembira dan bahagia dengan kesehatan Firman. Mereka menyambutnya dengan penuh semangat. Mereka melanjutkan rapat mereka.
"Sepertinya mantan kekasihnya, tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya, berdasarkan hasil visum korban seperti itu, ia sedang hamil sekitar tiga bulan. Kebanyakan kasus seperti ini, kemungkinan korban meminta pertanggung jawaban, pelaku tidak ingin bertanggung jawab, apalagi pelaku adalah keluarga terpandang, bahkan orang tuanya adalah pengusaha sukses." Ucok berbicara dengan sangat jelas.
"Sebaiknya, kita bergegas menuju rumah pelaku. Berdasarkan hasil barang bukti dan kemungkinan besar alasannya." Angga, dan tim nya segera memasuki mobilnya. Terdengar suara sirine polisi. Semua orang terlihat terpesona melihat, mobil para polisi. Mereka memasuki rumah pelaku.
"Maaf, tolong ada apa ini ...?" Terlihat, seorang pria paruh baya membukakan pintu.
"Kami, memiliki surat atas penangkapan pelaku berinisial PR, mohon untuk kerjasamanya. .!" Ucok berbicara dengan menunjukkan surat kuasanya.
Mereka, langsung menangkap pelakunya.
"Pah, tolong ...!" Ia, melambaikan tangannya kepada ayahnya. Polisi tetap menangkapnya. Ibunya, hanya menangis. Kedua orang tua ini sudah pasrah saja, karena memang kelakuan anaknya yang sering membuat masalah. Pelaku sangat tampan, hitam manis, tinggi, dengan badan yang ideal, sayang ia seperti berandalan. Bahkan, ia adalah seorang selebgram. Namun, hidupnya tak semulus perjalanan karirnya. Setelah ia sampai. Angga, telah menunggunya.
"Dimanakah anda saat korban terbunuh?" Pelaku hanya terdiam membisu. Ia, terlihat sangat sedih. Dan shock dengan semua yang ia harapkan.
"Kenapa, begitu takut untuk mengakuinya. Bukankah anda pelakunya? Buktinya, sudah jelas." Angga, memperlihatkan rekaman cctv. Pelaku hanya terkejut.
"Bukankah itu, jaket punyaku?" Ia, melihat dengan begitu serius. Sepertinya, seolah-olah ia merasa sangat heran. Angga, merasa aneh.
"Jawab saja, bahkan bukti lainnya juga kami miliki." Angga, menyodorkan sebuah jam tangan. Berwarna merah, dan terlihat berkilau. Ia, malah terlihat lebih aneh.
"Pak, sepertinya ada seseorang yang mencoba menjebak saya? Korban itu adalah mantan saya, tapi untuk apa saya membunuhnya. Apa motifnya? Bahkan, saya sendiri tidak memiliki alasan khusus untuk membunuhnya. Meskipun kami telah putus, tapi kami masih menjadi sahabat." Angga, terlihat berpikir.
"Dia, sedang hamil. Jadi pasti kamu tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilannya.. Iya kan...?"
Ia, terkejut mendengar kronologi nya. Wajahnya terlihat sangat bersalah.
"Lalu, bagaimana dengan buktinya?" Pelaku terlihat diam.
"Saya, tidak tahu ... siapa yang begitu dendam kepada saya? Tapi, saya berani bersumpah bukan saya pelakunya!" Angga, keluar dari ruangan interogasi. Firman memasukkan ke dalam sel. Tidak lama kemudian kedua orang pelaku datang. Angga memiliki sebuah ide. Agar ibunya dapat bekerja sama dengannya. Ia, memasang alat perekam suara, agar ia mengetahui jika pelaku akan jujur terhadap ibunya.
Karena ia pikir, seorang anak pasti akan jujur terhadap ibunya. Ibunya, bersama seorang wanita. Reus memasuki lorong sel di antar oleh pengawas. Ia, mendekati anaknya yang tengah duduk di pojok ruangan sel. Hanya mengobrol di balik jeruji besi. s
"Mah, tolongin aku? Aku gak salah mah!" Ibunya hanya menangis.
__ADS_1
"Jujur saja nak ..untuk apa kamu berbohong, sudah jelas buktinya semu berada di kamu? Ibu, mohon jangan berbohong lagi ...!" Ia, merasa hatinya sangat hancur, ketika orang yang ia begitu sayangi tidak mempercayainya lagi. Bahkan, tidak tega melihat wajah ibunya yang terus menerus menangis.
"Lihatlah, mama mu, itu karena ulahmu! Kamu itu gak bisa di percaya, Papah sampai sakit sekarang! Kalau kamu emang gak salah, coba buktikan sendiri. Sedangkan seluruh buktinya sudah polisi miliki. Kamu masih mau mengelak. Kami sudah tidak percaya lagi, dengan semua tingkah lakumu." Kakak, perempuannya terlihat sangat marah. Yang di ucapkan oleh kakaknya ada benarnya. Bagaimana cara membuktikan jika ia tidak bersalah, sedangkan semua bukti telah di temukan polisi. Bahkan, semuanya adalah miliknya. Ia, hanya terdiam membisu. Matanya, terlihat kosong. Ia, melihat ibunya telah pergi bersama kakak perempuannya.
"Begitu, banyak dosa yang ada di hidupku hingga Tuhan membalasnya ...!" Ia, menangis sejadi jadinya di dalam sel seorang diri. Membayangkan semua kesalahannya, hingga ia sering kali membuat keributan yang harus membuat keluarganya lelah. Sering kali, membuat keluarganya malu. Itu, karena orang tuanya lebih menyayangi kakak keduanya yang laki-laki yang mudah di atur tidak seperti dirinya.
Baru kali ini, ia merasa sangat terpuruk dalam hidupnya. Ia yang begitu kuat dan populer di dunia maya. Hari ini dunianya terasa runtuh. Ia, menangis sambil tertunduk. Di dalam dinginnya sel penjara yang pertama kali ia hirup.
****
Raya, di bujuk oleh temannya untuk sekolah dan bisa membuktikan bahwa ia bisa melupakan Farel. Raya, terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Ia, terlihat feminim yang biasanya terlihat sedikit tomboi.
Saat, keluar dari mobil. Semua orang terlihat terpesona dengan kecantikan Raya dengan gayanya yang baru. Rambutnya yang terurai panjang, menggunakan bondu berwarna merah. Ia begitu menawan. Farel yang melihatnya dari kejauhan. Merasa terkejut dengan perubahan Raya. Ia, bahkan ingin menyapanya. Namun, Raya mengacuhkannya.
Raya, terlihat sangat cantik. Farel hanya menatap dari kejauhan. Ia, sebenarnya merindukan Raya bukan karena ia telah berubah menjadi lebih cantik.
Aldo, menyenggol lengannya.
"Lihatlah, pujaanmu itu, sedang terpesona melihat kecantikan wajahmu?" Raya yang tersenyum. Tapi di dalam hatinya tetap ia dendam dengan sikap Farel.
Dika, bertanya kepada Farel.
"Loe, terpesona dengan kecantikan parasnya?"
"Karena, hati seseorang tidak ada yang tau. Sedekat apapun kita dengannya, apalagi jauh." Farel, hanya tersenyum melihat Raya yang baik-baik saja setelah beberapa hari tidak bertemu. Mendengar jawaban Farel. Dika malah tidak mengerti. Tiba-tiba saja ia, meminjam sebuah gitar kepada temannya. Ia, bermain sebuah gitar dengan bernyanyi sangat merdunya. Membuat semua orang mengelilinginya.
"Dimanakah kau kini, ku ingin bertemu. Dan tatap wajahmu." Semua terhanyut dalam melodinya yang indah.
Nilam, yang berdiri di samping Rey. Tidak sadar ia memegangi tangannya. Karena, ia pikir itu tangannya Raya. Bel berbunyi nyaring tanda masuk. Semua orang mulai bubar. Raya terlihat lebih dahulu.
'Lalu, ini tangan siapa?' Ia, melihatnya dengan tatapan mata yang malu. Rey, hanya tersenyum. Ia, segera melepaskan genggamannya dan wajahnya terlihat memerah dan segera duduk. Di susul oleh Rey dari belakang. Sungguh ia sangat malu. Sementara, Rey terlihat sangat bahagia. Karena, sekarang Rey duduk dengan Dika. Ia, tiba-tiba berbicara.
"Sepertinya, aku tidak bisa mencuci tangan ini!" Sambil tersenyum manis. Dika, memegangi kepalanya.
"Loe, kenapa sih ...?" Rey hanya melamun.
__ADS_1