Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Surat yang menyedihkan


__ADS_3

Mereka berdua terlihat saling menaruh curiga. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang membuat, Inggar pergi.


Aldo dan Dika, datang mencari Nilam, Inggar yang memiliki kesempatan untuk kabur.


"Haduh ... capek. Kemana saja sih ...?" Dika berbicara dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Nilam hanya tersenyum.


'Sebenarnya ada apa? Apa hubungannya dengan kasus ini'


"Udah ... ayo ... kita harus turun...!" Nilam mengajak mereka untuk turun. Dan mereka menghampiri Tika yang berada di ruang UKS. Sementara, Rey yang sedang memutari taman di sekolah itu. Dan kebetulan saja bertemu dengan Inggar yang nampak sedang kesakitan, karena terkena ranting pohon dan membuatnya kakinya terluka. Ia terlihat sedang duduk di bangku dekat pohon. Rey yang melihatnya, menghampiri. Inggar sedang tertunduk untuk melihat lukanya.


"Biar aku saja ... yang mengobati lukamu?" Rey, membungkukkan badannya dan menyiraminya dengan air yang ia bawa tadi. Dan ia mengeluarkan sebuah kain berwarna biru. Kebetulan itu sapu tangan yang bersih.


'Kenapa manusia ini selalu tiba-tiba saja bertemu. Jika di lihat-lihat dia sangat tampan juga..! Mengapa rasanya tidak asing. Apakah hanya perasaanku saja' Ia terlihat tersenyum tipis melihat Rey sedang mengobati Lukanya.


"Sudah selesai ...!" Rey, terlihat sangat manis. Tiba-tiba saja Inggar, berubah menjadi jutek kembali.


"Iya, sudah-sudah terimakasih banyak ...! Tidak perlu di tolong juga tadi bisa sendiri!" Inggar terbangun dari duduknya. Dan segera berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh. Rey bingung dan berbicara.


"Sebenarnya siapa kamu? Apakah kamu sedang syuting film?" Inggar menghentikan langkahnya.


'Syuting ... apa itu syuting? Bahasa manusia aneh-aneh. Tapi aku tidak boleh terlihat kaku, aku hanya harus terus berpura-pura jika aku adalah manusia, seperti Nilam yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya sekarang'


Rey berjalan, dan menghampirinya. Ia, memberikan sepatunya untuk di pakai oleh Inggar.


"Kamu ini aneh, pakai baju seperti kerajaan ini zaman modern, sepertinya kamu ini artis figuran! Ini pakailah ... jika tidak kakimu akan kembali terluka, karena sepatumu sudah rusak dan tipis."


Inggar, terlihat sangat terkejut dengan kebaikan Rey. Ia tetap terdiam. Rey, memakaikan sepatu tersebut meskipun sedikit kebesaran. Karena terkesima ia hanya terdiam saat Rey memakaikan sepatu tersebut.


"Oh iya, jika kamu tidak ingin di anggap aneh dengan memakai baju seperti ini. Sebaiknya kamu mengganti pakaian. Bahkan, aku tidak pernah melihat wajahmu? Kenapa kamu memakai penutup wajah seperti masker ini? Dan kulihat bajumu ini seperti zaman kerajaan."

__ADS_1


Inggar hanya terdiam, ia tidak menjawab semua pertanyaan Rey. Terdengar suara langkah seseorang, Rey menoleh kearah sumber suara. Namun Inggar pergi dan menghilang. Ternyata hanya seekor kucing. Rey, menoleh kembali ke arah Inggar.


"Pergi lagi ... gadis yang aneh, selalu tiba-tiba saja menghilang dan datang ..." Rey, pergi menyusul teman-temannya.


***


Di ruangan UKS, Tika yang mulai tersadar dari pingsannya. Terlihat menangis sejadinya karena harus menghadapi kenyataan pahit jika kedua sahabatnya telah pergi. Ia, menunjuk Astri sebagai penyebabnya.


"Gara-gara loe, kedua sahabat gue pergi bersama untuk mengakhiri hidupnya karena cemoohan dari kalian semua. Harusnya kalian saja yang mati, bukan kedua sahabatku" Ia nampak terpukul, dan semua temannya nampak menyesal karena telah melakukan kesalahan fatal.


"Gue, minta maaf ... !" Astri, menangis tersedu-sedu menyesalinya.


"Udah gak ada artinya lagi sekarang, maaf loe gak akan ngebalikin nyawa mereka... Makanya punya mulut itu di jaga, biar gak nyakitin hati orang lain, sekarang menyesal setelah terjadi, gak ada gunanya lagi. Loe nangis juga gak akan pernah bisa mengulang kejadian sebelumnya." Di ruangan tersebut menjadi ramai dengan Isak tangis, karena mereka menyesal telah melakukan hal yang salah. Nilam dan yang lainnya terlihat iba dengan kejadian ini.


Nilam, mendekati dan memberikan sebuah nasehat.


"Kita memang tidak bisa, mengembalikan nyawa mereka, tapi kamu masih memiliki semua kenangan indah bersama mereka, dan itu akan terus menjadi pengobat rindu. Kamu harus kuat dan sabar, dan bantu mereka mencari keadilan." Tika, menangis, di bahu Nilam. Ia, mengingat semua kenangan bersama kedua sahabatnya. Saat di loteng sekolah. Mereka bertiga duduk di pinggir tembok. Tika memulai percakapan.


"Kalau gue sih, pengennya kerja dulu, biar bisa merasakan gimana rasanya punya uang sendiri, gue mau kasih Mama gue, pokoknya buat nyenengin keluarga gue .." Dengan penuh senyuman.


"Kalau gue sih, pengennya kuliah jurusan sastra karena gue suka puisi, gue mau jadi penyair ..!" Dengan memegangi dadanya.


"Puisi terus dong...!" Jawab Tika dengan menyenggol lengannya. Mereka tertawa bersama.


"Kalau gue mah, kerja sambil kuliah bareng kalian terus ... sahabat sejati! Pokoknya, jangan tinggalkan gue, kalian adalah sahabat gue...!"


"Ouh ... jadi terharu ..." Ucap Naya, dan mereka berpelukan.


Kenangan itu membuat hati Tika bertambah sedih. Rasanya ia tidak mampu menerima kenyataan ini.

__ADS_1


'Kini, semua mimpi itu harus terkubur dalam-dalam, karena tinggal kenangan, dan aku sendiri yang harus bertahan tanpa kalian'


Ucok datang, memberikan sebuah surat yang mereka tulis sebelum melakukan aksi bunuh diri. Keluarga korban datang dan menanyakan kepada polisi apakah mereka bunuh diri atau di bunuh. Angga, menyodorkan surat tersebut, yang pertama kepada orang tua Naya.


"Hallo ... mah, pah ... jika kalian membaca surat ini, itu artinya aku sudah pergi. Maafkan aku jika selama ini tidak pernah menjadi anak yang baik. Maafkan aku jika tahun ini liburan tanpa aku, tolong. Jaga adik baik-baik. Jangan pernah beritahu jika aku pernah melakukan hal sebodoh ini.. Jangan sampai mengikuti langkahku yang salah ini. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak sanggup lagi untuk menanggungnya. Aku sudah merepotkan kalian karena masalahku ini. Aku mohon maaf jika selama aku menjadi anak kalian, aku telah melakukan kesalahan. Kalian adalah orang tua terbaik sepanjang hidupku" Ibunya menangis sejadinya, dengan terduduk di lantai, ia benar-benar terpukul dengan isi surat tersebut.


Kemudian, surat kedua dari Ita.


"Hai, mah ... pah ... aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku menulis ini sambil menangis tersedu-sedu dengan sahabatku ini, aku tidak sanggup jika harus melihatnya menderita sendiri. Iya, benar saja jika kakak yang paling aku sayangi telah melecehkan sahabatku sendiri. Aku telah bersaksi bahwa kakakku telah bersalah, di lain itu aku sangat menyayangi kakak. Aku setiap hari merasa bersalah karena masalah ini. Aku tadinya tidak yakin, tapi saat itu aku tidak sengaja mendengar kakak menelpon salah satu temannya dan ia bercerita karena efek obat yang di berikan oleh temannya itu, membuatnya menjadi hilang kendali. Meskipun aku sangat menyayanginya tapi aku sudah bersaksi jika kakak memang salah. Dan orang salah harus menerima akibatnya kan mah? Maafkan aku karena selama ini tidak pernah membuat kalian bahagia, sayang dariku Ita" Mereka berdua membaca surat tersebut menangis tersedu-sedu.


Hingga ibunya Ita pingsan. Suasana mulai menjadi bertambah menyedihkan. Nilam terlihat menenangkan mereka semua. Akhirnya semua orang mulai sibuk untuk membantu menenangkan para keluarga korban. Nilam seperti melihat arwah kedua korban yang berdiri di depan pintu, Nilam segera menghampiri dan mereka berdua berlari, Nilam mencoba untuk mengejar mereka berdua, mereka berlari ke atap tempat lokasi mereka melakukan bunuh diri. Mereka berdua berpegangan


"Tunggu ...!"


Nilam kembali ke masa sebelum kejadian.


"Ada apa, kenapa kamu berlari?" Ita bertanya.


"Aku sudah tidak sanggup lagi, aku sudah capek. Mereka benar pria mana yang akan menikahi wanita seperti diriku ini?"


"Mereka bohong, pasti banyak. Loe cantik dan berprestasi, loe gak usah takut. Masih ada gue, please."


"Udah, gak sanggup rasanya... Mendingan gue mati aja!" Ita langsung memeluknya.


"Ayo ... kita berdua ...!" Naya langsung menatapnya.


"Serius ...?"


"Serius, untuk apa hidup. Gak ada artinya lagi sekarang ini, gue sudah terjebak di antara kakak dan sahabat gue sendiri, jadi lebih baik gue pergi aja!"

__ADS_1


"Ya udah, kita tulis surat dulu, kebetulan gue udah nyimpen buku, dan pulpen" Mereka berdua sejenak terdiam, dan sedikit ragu namun akhirnya mereka saling bertatapan dan mulai menulis surat tersebut sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Nilam kembali sadar, saat Angga menepuk pundaknya. Nilam terlihat lemah dan ia di tahan oleh Angga. Angga, menggendong Nilam sampai mobil. Karena Nilam telah pingsan. Energi nya terserap oleh kejadian tersebut. Nilam mulai tersadar dan melihat sudah ada di mobil. Ia, melihat keduanya sedang melambaikan tangannya mengucapkan salam perpisahan. Nilam hanya tersenyum melihat mereka tersenyum dan kemudian menghilang.


__ADS_2