
Rasanya hancur, ia telah di khianati oleh sahabatnya sendiri. Ia, berusaha untuk bangkit meskipun kepalanya berdarah. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan mendekati.
"Kamu ... tega sekali melakukan hal ini terhadapku? Apa salahku padamu?" Gadis itu hanya tersenyum sinis.
"Kamu mau tahu? Ya ... Karena, kamu selalu bahagia. Bahkan, tidak ada seorang pria yang menyukai diriku ini. Setiap kali aku menyukai seorang pria, pasti pria itu malah menyukai dirimu. Hatiku sakit, kamu memiliki pekerjaan bagus, rumah sendiri dan seorang suami. Sedangkan aku ... siapa... Akhirnya aku memutuskan untuk merayu suamimu. Ya ... walaupun awalnya ia sempat menolaknya, namun saat itu hujan deras kami tidak sengaja bertemu di halte bus dan kami mengobrol. Pada akhirnya suamimu mulai menyukai diriku, akhirnya kami berselingkuh. Aku puas ...! Harusnya kamu mati saja ... untuk apa hidup, di khianati oleh suami dan sahabatmu sendiri ...!"
Milla, mencoba untuk melawan dengan memukul sahabatnya itu dengan vas bunga, hingga ia terluka.
"Kamu....!" Gadis itu, akan balas memukul.
"Jangan, biarkan saja, sebaiknya kamu pulang saja, karena nanti bisa menimbulkan keributan. Aku tidak mau kamu di ketahui oleh orang lain." Gadis itu tersenyum bahagia, dan meninggalkan mereka, meskipun kepalanya sedikit terluka.
Milla yang mendengarnya merasa sangat terluka, melihat suaminya begitu menyukai sahabatnya itu, air matanya terus mengalir melihat hal yang tidak pernah ia bayangkan. Ia, berusaha untuk mencari bantuan, saat ia akan kabur. Suaminya malah menyiramnya dengan air keras. Hingga ia tersungkur ke lantai, lalu dengan emosi suaminya memukuli dengan penuh emosi. Hingga ia tidak bergerak, ia kabur melalui pintu belakang. Paman korban masuk ke dalam dan melihat Milla sudah tidak berdaya, ia bertanya kepada Milla siapa yang melakukannya.
Dengan suara yang lirih ia mengatakan jika yang melakukannya adalah suaminya. Pamannya langsung melakukan pencarian bersama warga dan segera menelepon polisi. Namun sayangnya nyawanya tidak tertolong lagi. Hingga saat ambulance datang, ia sudah tidak bernyawa.
Kembali ke masa depan, semua orang yang mendengar cerita Nilam yang di rasuki oleh arwah Milla yang menceritakan semuanya dengan detail. Akhirnya, Angga melakukan pencarian terhadap pelaku kedua yang di duga sebagai otak pembunuhan.
"Ibu, harus ikhlas ... tolong jangan menangis, ayah tolong jaga ibu. Karena tugasku sebagai anak telah selesai ...!" Kedua orang tuanya hanya menangis dengan pesan terakhir anaknya itu.
Warga setempat mulai resah, mereka terlihat sangat emosi dan hampir saja menyerang pelaku. Angga memerintahkan kepada Ucok untuk segera membawa pelaku pergi dari lokasi.
Dengan perasaan yang sebenarnya masih cemburu, namun Angga berusaha untuk sabar dan ia menghampiri Nilam.
"Terimakasih atas bantuanmu..?" Nilam hanya tersenyum.
"Aku, merindukan suasana seperti ini. Sungguh ...! Dan juga dengan dirimu ...!" Nilam, dengan perasaan malu ia merindukan Angga. Angga, terlihat kaget. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.
Rey yang mendengarnya merasa cemburu.
"Nilam ... harusnya kamu bertanya kepada dirimu sendiri, siapa yang ada di hatimu ...? Aku atau Rey ...?" Nilam hanya terdiam.
"Jangan tanyakan tentang isi hatiku, karena kamu akan lebih mengetahui apa yang ada di dalam hatiku. ..!" Angga, pergi dengan perasaan yang sama, selalu penuh tanda tanya tentang isi hati Nilam.
__ADS_1
Nilam, berpikir siapa yang sebenarnya yang paling ia sukai. Dua-duanya sama-sama membuatnya nyaman, tapi ia juga tidak bisa memutuskan untuk menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka, karena ia juga tahu. Ingatannya kembali ke masa lalu.
"Sebenarnya, apa kamu sangat menyukai pangeran?" Damar bertanya dengan serius.
Nilam hanya menghela nafas.
"Apakah aku harus pergi dari istana ini? Karena, jika aku berada disini, semuanya akan kacau. Aku merasa ini tidak akan baik, putri mahkota adalah sahabat kecilku, bagaimana bisa aku mengkhianatinya!" Nilam, menangis tersedu-sedu, Damar mengusapnya dengan lembut, dan membiarkan Nilam bersandar di pundaknya. Pangeran tidak sengaja melihat mereka berdua dan merasa sangat cemburu. Ia tampak memegang erat bunga yang berada di depannya hingga rusak, hingga tangannya terluka.
'Aku, sebenarnya ingin membawamu pergi dengan diriku ke tempat dimana hanya ada kehidupan yang indah. Tapi apakah kamu siap untuk semua resikonya, bahkan jika kamu mengetahui hal yang sebenarnya tentang diriku, bahkan aku tidak sanggup jika harus jujur' Gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya.
Pangeran sedang berada di taman sendiri dengan di temani oleh secangkir teh hangat, ia terus memandang ke arah lain. Tiba-tiba saja, ia di serang oleh seseorang dari belakang. Pangeran, menghindari dan melangkah mundur, mereka berdua saling bertatapan. Orang misterius itu, memakai pakaian seperti ninja. Ia bersiap untuk kembali melawan, ia mengeluarkan sebuah pedang. Ia berusaha melukai pangeran, namun pangeran dengan cepat menghindari dan berhasil memukul bagian pundaknya dengan tangannya. Hingga, orang tersebut terdiam sejenak dan segera berlari. Pangeran mengejarnya hingga ia, bertabrakan dengan Nilam yang sedang membawa pakaian untuk putri mahkota. Semua pakaian terjatuh.
"Maaf..!" Pangeran, hanya terdiam sambil melihat ke sana-sini , ia kehilangan jejak ninja tersebut.
"Hemm ...untuk apa kamu disini?" Pangeran terlihat sangat jutek.
"Aku, hanya ingin mengantarkan pakaian ini!"
'Apakah mereka sudah tidur bersama! Ah ... biarkan saja, mereka memang seharusnya begitu. Untuk apa aku merasa cemburu, lagi pula sudah seharusnya aku merelakan semua perasaan ini, sebelum terlalu sakit!' Gumamnya dalam hati, ia memberikan pakaian tersebut. Dengan berlalu pergi.
Pangeran, hanya terdiam. Sebenarnya ia tidak bermaksud melukai perasaan Nilam. Ia hanya merasa cemburu kemarin. Lalu, pangeran menyuruh dayangnya untuk segera mengantarkan pakaian tersebut. Pangeran kembali ke ruang kerjanya. Ia berpikir siapa yang telah menyerangnya.
'Jelas sekali ia memiliki ilmu bela diri yang tinggi, bahkan ia begitu cekatan dalam menghindari setiap serangan. Siapa yang sebenarnya ingin mencelakai ku?' Gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya.
Putri mahkota menemui Nilam, mereka tampak berbincang dengan penuh kasih.
"Oh ya, kenapa kamu tidak jadi mengantarkan pakaianku?" Nilam tertegun, dan menatap putri dengan heran.
"Jadi, bukan pangeran yang mengantarkan pakaian tersebut?"
__ADS_1
"Bukan, tapi dayang istana, aku pikir kamu!"
'Jadi pangeran berbohong, ternyata dia ... hemm aku telah berburuk sangka kepada dirinya!'
"Hey, kamu tahu... jika rumornya pangeran telah menemukan seorang gadis untuk di jadikan selirnya!" Ia terlihat sedikit bersedih. Sementara itu Nilam hanya terdiam membisu, ia tahu cepat atau lambat semuanya akan terbongkar.
"Kamu tahu siapa gadis itu?"
"Tidak ...!" Nilam sedikit gugup.
"Hemm ... aku yakin gadis itu memiliki sesuatu yang istimewa, karena sedingin pangeran bisa begitu menyukai gadis itu, sedangkan aku tidak pernah dia lirik!" Nilam, merasa bersalah hampir saja, ia bicara namun kembali ia urungkan niat tersebut. Ia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.
Lamunan itu kembali ke masa depan. Rey menepuk pundaknya. Membuat Nilam sedikit terkejut.
"Ayo ... pulang?" Nilam membalasnya dengan senyuman. Selama perjalanan Nilam juga merasa kepikiran tentang ucapan Angga yang marah terhadapnya.
****
Farel, mengajak Raya makan malam di tempat pecel ayam. Selesai makan, Farel mengajaknya untuk ke taman kota yang indah, di penuhi oleh lampu yang berwarna. Perasaan Raya begitu bahagia. Farel, menyuruhnya untuk tetap diam dan menunggunya karena ia akan membelikan sebuah minuman. Raya duduk menunggunya.
Raya duduk tepat di depan ada sebuah air mancur yang di penuhi oleh lampu berwarna-warni. Farel datang dan berjongkok di depannya, ia memberikan minuman.
"Aku, mau jujur tentang isi hati ini. Sebenarnya aku menyukai kamu, aku tidak bisa lagi menahannya, setiap kali aku melihatmu hatiku berdebar kencang. Apakah perasaan kita sama? Jika kamu ambil minuman ini, kamu menerima cintaku? Jika kamu tidak mengambil minuman ini tandanya kamu menolaknya! Aku akan tutup mata, karena aku tidak siap jika di tolak!" Raya, tidak percaya jika ia telah di tembak oleh pria yang sangat ia sukai. Karena terlalu bahagia Raya hanya terdiam tidak percaya. Ia, malah terus menatap wajah Farel yang sangat tampan, ia sedang memejamkan matanya.
"Maaf ... aku ...!" Raya berdiri dan membuat mata Farel membuka dengan perasaan kecewa. Namu, Raya tiba-tiba mengambil minuman tersebut dan berlari. Farel, menghela nafas. Ia begitu bahagia, jika cintanya di terima. Ia, mengejar Raya dan berhasil mendapatkan tangannya, dan menariknya mendekat. Raya hanya tersenyum malu-malu, Farel tersenyum manis menatapnya.
"Tapi, jangan beritahu siapapun jika kita sudah jadian! Aku mau kita backstreet, kamu tahu kan pacaran diam-diam?" Farel, sempat tidak setuju namun ia mengikuti apa yang Raya inginkan, yang terpenting perasaan mereka sama. Farel mengantarkan Raya pulang. Disana sudah ada Rey dan Nilam yang sedang mengobrol di teras menunggu Raya. Akhirnya Rey juga pulang. Sementara itu Angga, tetap merasa kesal dengan semuanya. Ia, melamun di teras kamarnya dengan memandangi lampu-lampu kota-kota.
Nilam, sebenarnya merindukan Angga, bahkan ia membayangkan saat pertama dulu bertemu. Hingga mereka begitu dekat.
'Meskipun raga ini jauh, tapi entah mengapa rasanya hatiku selalu memikirkan dirimu. Sekalipun kamu selalu salah paham terhadapku, aku selalu bilang terhadap diriku sendiri,jika semua ini adalah salahku padamu yang tidak pernah bisa memberi tahu isi hatiku ini' Nilam, memandangi foto Angga yang berada di dalam handphone nya. Tidak terasa air matanya menetes dan membasahi handphonenya. Ia merasa seperti pernah merasakan hal seperti ini dulu di negeri awan.
'Aku yang terlalu bodoh, hingga terus menerus melukai hati Nilam. Untuk apa aku memaksanya untuk berterus terang kepada diriku, sungguh terlalu ...! Bodohnya diriku ...! Jika ia bilang menyukai Rey, itu juga bisa membuatku patah hati, jika ia tidak memberi tahu aku selalu penasaran setiap hari. Ini membuat hatiku setiap hari merasa tidak tenang!' Angga terus memukul kepalanya itu. Ia terlihat sangat bodoh.
__ADS_1
Nilam tidak sengaja menerawangnya melalui handphonenya yang melihat tingkah laku Angga, hingga membuatnya kembali tersenyum.
'Kamu sangat tampan dengan baju tidur itu!' Gumamnya dalam hati.