
"Jika ada telepon masuk, tinggal tekan tombol yang berwarna hijau ini. Dan pakai selalu earphone ini. Sebentar lagi akan datang dua orang lagi yang memegang peranan penting di meja dua dan tiga!"
Tidak lama, kedua orang yang Bu Ayu sebutkan datang.
"Maaf, terlambat ...!" Mereka berdua menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Kalian kan memang biasa minum kopi terlebih dahulu. Jadi, silangkan duduk, kita memiliki beberapa orang untuk di ajari. Semoga kalian berdua tidak keberatan dengan hadirnya orang-orang baru.
"Tidak apa-apa Bu, dengan senang hati kami akan memberikan arahan" Satu pria menjawab, bernama Anwar. Sedangkan rekannya seorang gadis muda bernama Tika. Tidak lama kemudian, ada telepon masuk.
Bu Ayu langsung duduk dan memasang earphone di telinganya.
"Hallo. .. ada yang bisa kami bantu?"
"Tolong ... !" Suaranya terdengar sangat ketakutan.
"Oke kami akan bantu, tolong tetap tenang. Dan ceritakan secara perlahan apa yang terjadi?"
"Ka ... Kakakku, menikam ibu di kasur... tolong ... selamatkan ibuku?"
"Baiklah, dimana kamu bersembunyi?"
"Di kamarku, saat aku mendengar teriakkan ibu. A ...ku langsung masuk ke kamar?" Suaranya terdengar menangis.
"Baik. .. tolong sebutkan alamat rumahmu, dan berapa usiamu?"
Gadis itu menyebutkan nama dan juga alamatnya. Meja dua dan tiga. Menjalankan tugas masing-masing. Angga, yang mendapatkan panggilan segera membentuk tim khusus untuk lokasi. Akhirnya, Nilam, Rey, Raya dan Farel ikut ke lokasi kejadian. Sedangkan, Aldo dan Dika belajar di ruang kontrol.
Sesampainya di lokasi. Pintu tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Angga, memberikan aba-aba agar mendobrak pintu.
"Satu ... dua ... tiga ...!"
Mereka mendobrak pintu tersebut. Dan di dalam terlihat sangat sepi sunyi. Angga, menyebarkan tim nya untuk investigasi lokasi. Nilam ke lantai dua. Ia, membuka pintu kamar yang juga terkunci.
"Terkunci dari dalam ...?"
__ADS_1
"Awas ... !" Nilam mendobraknya sendiri. Membuat semua orang tercengang. Rey, hanya tersenyum. Disana tidak ada siapapun. Lalu, mereka berjalan menuju ruangan lain, ada kamar yang nampak terbuka. Mereka menghampiri kamar itu. Dan terlihat tubuh seorang wanita yang terbaring penuh dengan darah.
"Pak, target sudah di temukan?" Farel menggunakan walkie talkie. Angga, segera menuju lantai dua. Terlihat Nilam, sedang melihat kondisi korban yang sudah kehilangan banyak darah. Tidak lama ada beberapa petugas dari tim forensik untuk memeriksa apakah masih hidup. Kebetulan Maya yang bertugas.
Maya, memeriksa korban dan menggelengkan kepalanya. Menandakan jika korban sudah meninggal dunia. Tidak lama terdengar suara gedoran dari lemari. Sontak membuat semua orang terkejut.
"Suara apa itu?" Semua orang serentak.
Angga menghampiri lemari itu, secara perlahan.
sambil tetap berjaga-jaga dengan pistol nya. Nilam, memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Meskipun, Angga sempat menahannya namun ia tetap mendekati lemari itu.
""Satu ... dua ... tiga ...!" Semua orang terlihat tegang.
Nilam membuka lemari itu, terlihat seorang anak yang sedang berdiri ketakutan. Raya berlari dan menggendong anak tersebut usianya sekitar delapan tahun.
"Ia pasti melihat kejadian yang mengerikan ini?" Angga, menyimpulkan demikian.
Yang lain, juga berpikir seperti itu, Rey mulai mencari penelpon tadi. Rey, melihat kamar ujung, yang belum di periksa. Iya mengetuk pintu tersebut.
"Siapa disana?"
"Kami dari kepolisian!"
Gadis itu, membuka pintunya karena masih takut. Ya terlihat sangat gugup.
Lalu, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Mencoba untuk menenangkan Ita yang telah menelpon. Sedangkan tersangka, baru pulang dan berpura-pura tidak tahu.
"Ada apa ini Pak?" Ia berpura-pura terlihat sedih.
Angga, mencoba untuk menjebak.
"Maaf pak sepertinya terjadi perampokan, karena benda-benda juga ada yang hilang iya kan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu jika ada ada benda yang hilang di rumah ini? Padahal kami tidak membicarakan tentang benda-benda yang hilang di rumah ini?" Pelaku langsung terdiam membisu. Rey, menemukan baju dan celana pelaku yang penuh dengan darah, yang ia sembunyikan di kolong tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kamu, sudah tidak bisa mengelak lagi. Bukti-bukti sudah ada, tolong ikut kami"
Pelaku hanya terdiam membisu. Sedangkan Ita, mencoba untuk berbicara dengan pelaku.
"Bagaimana bisa kamu membunuh ibuku, yang telah merawat dirimu meskipun kamu adalah anak angkatnya. Bagaimana bisa saat semua orang membuangmu hanya ibuku yang merawatmu dengan tulus, seperti anaknya sendiri. Dimana hatimu? Bahkan, ia selalu memaafkan dirimu, aku sendiri cemburu ibu lebih perhatian kepada dirimu, namun kamu sering memarahinya dan mengatakan jika ibu pilih kasih. Sungguh, kamu tidak pernah bisa bahagia. Kamu telah menyia-nyiakan seorang ibu yang begitu tulus hatinya. Kamu pasti akan menyesal hingga mati ...!" Ita menangis tersedu-sedu, ia terlihat sangat emosional. Sedangkan pelaku hanya terdiam membisu seribu bahasa. Lalu, ia di bawa ke kantor polisi.
Ia, melihat sosok ibunya yang sedang berdiri di lantai dua. Persis di depan jendela, ia nampak menangis. Pelaku sampai terkejut.
Setelah sampai di ruang interogasi. Angga, membiarkan ia sendirian.
Nilam, mencoba berbicara kepada Angga, agar diberikan ijin untuk melakukan interogasi.
"Memangnya kamu bisa?" Dengan nada meledek.
"Bisalah ... kenapa takut?" Nilam dengan percaya diri.
"Baiklah, aku akan memberikan ijin?" Nilam, spontan memeluk Angga karena terlalu senang. Membuat Angga malu.
"Maaf ...!" Nilam, terlihat sangat malu. Pipi nya memerah, Rey yang melihatnya hanya terdiam. Lalu, ia mendekati Nilam.
"Kamu pasti bisa. Semangat ..."
Nilam, hanya tersenyum dan memasuki ruang interogasi. Terlihat pelaku seperti tidak tenang.
"Siapa yang telah menyuruhmu untuk melakukan tindakan sekeji itu?"
"Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya dengan kesadaran diri sendiri"
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Aku, cemburu melihat ibuku tidak begitu perhatian terhadap diriku. Aku, sangat butuh sosok orang tua, namun aku merasa tidak adil. Sejak kecil hidupku begitu berantakan, mengalami banyak pelecehan seksual sejak kecil dari keluarga dan orang tua yang sering bertengkar hingga mereka membuangku ke dinas sosial. Hidupku sungguh tidak bahagia, sampai saatnya aku di adopsi dan aku juga merasa dipilih kasih karena anak angkat."
"Apa kamu menyesal?"
Pelaku hanya terdiam membisu.
__ADS_1