Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Patah hati


__ADS_3

Treng ... Treng ... Treng ..


Bell berbunyi nyaring, bertanda masuk kelas. Farel membawa, kotak kue dan memberikan kotak kue di atas meja Rey. Ia, meletakkan kotak tersebut, Rey tertegun melihat Farel memberikan kue kesukaannya.


"Sebenarnya, gue males ... cuma gimana lagi, amanah takutnya dosa ...!" Ia, berjalan dan duduk di bangkunya. Semua orang merasa bingung.


"Thanks ...!" Rey, berbicara dengan nada senang dan gugup. Nilam, yang melihatnya merasa ikut senang.


'Sepertinya, akhir-akhir ini, Rey dan Farel sudah mulai membaik, semoga saja Farel bisa memaafkan Rey' Pikirnya dalam hati.


Saat jam istirahat, Sukma datang ke kelas Nilam.


"Raffi, kamu mau gak, nge date sama aku ..?" Nilam terlihat kaget.


Ia, berbisik kepada Raya yang berada di sebelahnya.


"Ngedate apa?"


"Jalan, itu bahasa Inggris ...!" Mereka berdua berbisik. Setelah mengetahui artinya. Ia, menjawabnya dengan tegas.


"Maaf, kayanya aku gak bisa, soalnya mau Ngedate sama Raya, iya gak ...?" Ia, menyenggol lengan Raya. Raya, menjawabnya dengan bingung dan gugup.


"Heh ... iya, kita ada acara nanti malam...!"


Sukma terlihat sangat kecewa, dengan jawaban tersebut. Ia, menangis, dan berlari, ia menabrak Farel.


"Kenapa kamu menangis ...?" Tiba-tiba saja Sukma memeluknya.


"Raffi, nolak Ngedate sama aku...! Dia, lebih suka sama Raya ...?" Farel mengusap air matanya. Dan berusaha untuk menenangkannya.


'Ternyata, Farel baik juga, dia masih suka gak ya sama aku ...?' Gumamnya dalam hati.


"Farel, kamu masih menyukai aku ...?" Farel sejenak terdiam, ia hanya menganggukkan kepalanya. Sukma, tersenyum. Rey, yang melihatnya dari kejauhan.


'Jika, Raya melihat semua ini, dia pasti akan terluka ...!' Rey, khawatir jika Raya melihat ini.


Saat jam masuk, setelah istirahat.


Kepala sekolah, memberikan arahan agar membersihkan tempat renang karena akan di pakai untuk, acara sekolah. Lomba renang. Akhirnya mereka menuju kolam renang, dan guru memberikan arahan agar membersihkan setiap tempat termasuk kolam renang agar dibersihkan, juga bangku-bangku.


"Harus sampai bersih, kalian mengerti kan ...?"


"Baik, pak ...!" Jawab mereka bersamaan.


"Jangan banyak bercanda, harus serius ...?" Guru itu pergi, sambil menunjuk ke arah bagian yang kotor. Semua siswa-siswi membersihkan tempat dengan antusias, Nilam yang terlihat sedang memungut sampah menggunakan jaring, di sisi kolam. Farel, menghampiri dengan marah.


"Maksudnya apa? Loe nolak ajakan Sukma,.. walaupun perasaan gue gak terbalaskan bukan berarti loe berhak untuk nyakitin dia!" Farel mendorongnya, tapi beberapa menit ia memeganginya.


"Aku mohon, jangan lepasin ya ..?" Nilam, terlihat sangat takut. Wajahnya terlihat sangat cemas.


Farel yang terlanjur marah, bahwa itu adalah kesempatan untuk mengerjainya. Ia, melepaskan genggamannya. Hingga Nilam, terjatuh ke dalam air. Nilam, tidak bisa berenang, ia mulai kehilangan nafasnya. Rey yang melihatnya, mengambil handuk dan bergegas menyebur ke kolam. Karena terkena air, rambut palsunya terbuka, untungnya disana hanya Farel yang melihatnya. Rey segera membenarkan rambutnya. dan menutupi menggunakan handuk.

__ADS_1


'Ternyata benar, jika Raffi adalah seorang gadis ... apa aku tidak salah lihat. .?'


Rey, membawanya sedikit menjauh. Dan menggosoknya dengan handuk kering.


"Kamu tidak apa-apa?" Tiba-tiba saja, Aldo dan Dika datang. Raya, terlihat sedang memarahi Farel.


"Tidak apa-apa!" Ia, terlihat sangat shock.


"Apa kamu tidak bisa berenang?" Rey bertanya.


'Aku, merasa takut jika masuk ke dalam air. .!'


Rey, memegang tangannya. Agar hangat.


"Kamu, gak usah jawab apapun!"


Raya datang dan membawanya untuk mengganti bajunya. Raya, merasa sangat kesal, Farel mulai merasa bersalah dan menyesal. Ia sudah keterlaluan. Ia, mencari Raffi untuk meminta maaf.


"Loe tuh keterlaluan ..?" Raya, terlihat sangat marah.


"Iya, gue tahu. Makanya gue mau minta maaf ...? Maaf kalau gue keterlaluan ...?"


"Iya, gak apa-apa ...!"


"Makasih banyak ya, gue janji gak akan pernah berbuat jahat lagi sama loe ...?" Nilam hanya tersenyum.


Sukma, akhir-akhir ini sering mendekati Farel. Dan, hubungan mereka semakin dekat.


Farel mendekati Raya, dan mengajaknya ke taman sekolah. Raya yang merasa Farel akan menembak dirinya. Karena, Farel memegangi tangannya hingga ke taman.


'Gue pasti bilang yes ...!' Gumamnya dalam hati. Raya hanya tersenyum manis, menunggu apa yang di ucapkan.


"Apa sih ... lama banget sih ...?"


"Sabar dong ... gue deg-degan ngomongnya juga ...!" Farel menarik nafasnya. Ia, menatap mata Raya dan memegang kedua bahunya.


"Tatap mata gue, fokus...Sebenarnya ... gue, suka sama loe ...? Dari dulu?" Raya terkejut ia merasa sangat senang, wajahnya memerah.


"Gue ju ...!"


"Maksudnya gue, itu kata-kata buat Sukma. .. gue mau nembak Sukma besok!"


"Kita, udah PDKT (Pendekatan), pasti gue di terima! Gimana, bagus kan ...!"


Rasanya sakit, ia merasa sedang bermimpi. Ia, berusaha menahan air matanya. Farel memeluknya


"Loe, sahabat kesayangan gue ...!" Farel memeluknya. Raya terlihat menghapus air matanya.


'Kenapa hatiku terasa sakit ...? jujur aku tidak bisa ikhlas, rasanya sangat sakit ...! Ada sesak yang terasa ... sungguh inikah namanya patah hati ...!"


Setelah kejadian itu, Raya terlihat menghindari Farel. Farel bingung ada apa dengan Raya.

__ADS_1


'Kenapa gue merasa ada yang hilang,..! Gue bisa dekat dengan Sukma tapi mengapa Raya yang menjauhiku?'


Ia, bertanya kepada Aldo dan Dika, mengapa hari ini Raya tidak masuk. Mereka tidak tahu.


"Kenapa bos melamun terus ...?" Salah satu anggotanya bertanya ia, hanya diam tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia, terus memikirkan kenapa Raya terus menghindari. Sukma datang dan mengajaknya untuk makan di kantin, ia berjalan dengan sangat malas. Wajahnya nampak lesu. Ia, menabrak seorang temannya.


"Tumben sekali, bad boy lesu ...!" Ia menertawakan Farel. Hampir saja ia, memukul wajah temannya itu. Sukma, menghentikan.


"Loe, kenapa sih ...?"


"Gak apa-apa ...?" Ia, kemudian berjalan pergi. Ia, terlihat marah-marah di kamar mandi. Ia, terlihat sangat merindukan Raya. Ia memukul-mukul tembok kamar mandi. Dengan berteriak-teriak tidak jelas. Menendang tong sampah. Rey yang sudah memperhatikan hari-hari Farel.


Aldo dan Dika, berbicara di kantin. Mereka berbicara kecil.


"Si Farel lagi PMS (Datang bulan) kayanya...?" Aldo memulai percakapan.


"Emang dia cewek ...? Gue, baru tahu ...!" Dika terlihat serius.


"Loe ... tulalit ...! Maksudnya gue, dia itu marah-marah akhir-akhir ini, kaya cewek lagi datang bulan..!"


Dika, mulai mengerti maksudnya. Nilam dan Rey, berpikir hal yang sama.


"Sepertinya, dia aneh sejak Raya menghindarinya ...?" Dika, mulai mengerti.


Mereka semua, saling bertatapan.


"Jangan-jangan,... benar ...!" Farel tiba-tiba saja datang dan menanyakan alamat Raya. Ia, mengerbak meja hingga membuat mereka semua terkejut.


"Tulisin alamat Raya...?" Ia, memberikan sebuah kertas dan pulpen. Mereka semua saling bertatapan. Dengan wajah yang terlihat sangat marah.


"Heh ... malah bengong ... tulisin cepat alamatnya dimana, kalau gak mau gue tonjok loe. ..?" Ia terlihat sangat tidak sabar.


"Dik, tulis cepat ...!" Aldo, mengarahkan kepada Dika. Dika, mulai menulis alamatnya. Farel, terlihat sangat senang.


"Thanks ya ...!" Ia mencium kertas tersebut. Dan pergi begitu saja, sepertinya ia akan menemui Raya setelah pulang sekolah. Di kelas ia terus, menatap meja Raya yang kosong. Sepertinya ia melihat wajahnya Raya yang sedang tersenyum manis padanya.


'Aneh. .. kenapa gue malah seneng banget bisa ketemu sama loe...!' Ia terus bicara dalam hatinya.


****


Sepulang sekolah, Ucok menjemput mereka ke sekolah dan membawa mereka ke kantor. Terlihat Angga sedang sibuk.


Angga, memanggil pacar korban. Dan mengintrogasi.


"Dimana kamu saat kejadian..?"


"Dirumah Pak, saya di rumah ibu saya, aku tidak mungkin membunuhnya. Karena kami telah lama berpacaran kurang lebih lima tahun sejak sekolah, sekarang kami sudah sama-sama bekerja ...! Bapak bisa memeriksa cctv-nya..? Jika, saya yang membunuhnya, saya pasti sudah kabur ... untuk apa saya disini..!"


"Banyak, pembunuh yang berpura-pura tidak bersalah dan mereka tetap tenang ... agar tidak di curigai ...?"


"Pak, saya sangat mencintainya bahkan saya tidak pernah menodainya, saya tulus... bahkan saya berniat untuk menikahinya?" Pria itu nampak tertekan. Angga, sedang mencoba memahami. Saksi mata yang lainnya di panggil. Seorang ojek online.

__ADS_1


"Begini Pak ... pagi itu sayang...Eh maksudnya, saya pak, mengantarkan korban terakhir kalinya menuju cafe dekat hotel, namun sebelum sampai tujuan, ia meminta untuk turun dari motor. Loh kok disini mbak ..? Itu ada teman saya pak, ini ongkosnya, kembaliannya ambil saja ya ...! Lalu ia pergi menemui pria tersebut, namun saya tidak melihat siapa pria tersebut karena saling berseberangan dan saya tidak begitu fokus ...!"


"Lapor Pak ... kami telah berhasil menangkap pelakunya? Ia, terus menelpon kantor, karena merasa bersalah. Ternyata, ia adalah sahabat korban karena sering di pinjami uang, dan tidak mau membayarnya hingga akhirnya berujung pembunuhan.


__ADS_2