
Rey, mengusap wajah Nilam yang basah oleh air hujan.
'Aku merasa bahagia dan nyaman saat bersamamu! Apakah perasaan kita sama!' Gumamnya dalam hati, dengan mengusap wajah Nilam. Nilam, hanya tersenyum malu. Wajahnya memerah.
Lalu, Rey mengajaknya untuk duduk di bangku. Rey, terlihat membuka jaketnya dan memakaikan jaket itu kepada Nilam.
Deg ... deg ... deg ... mata saling memandang.
Detak jantung mereka berdua, berdegup kencang. Tiba-tiba saja Farel datang karena hujan deras.
"Auh ... hujan lebat, basah semuanya!" Tidak lama ia mulai menyadari bahwa ada Rey.
"Ouh, kalian berdua sedang pacaran? Berati bener, Rey bersikap dingin terhadap wanita karena ia memang tidak menyukai seorang wanita!" Rey, akan berdiri dari duduknya, tangan Nilam menahannya dan menggelengkan kepalanya. Rey, menahan emosi demi Nilam. Dan banyak orang yang mulai meneduh, Rey menggenggam tangan Nilam agar tidak kedinginan. Farel, terlihat sibuk dengan mengibaskan bajunya yang basah dengan tangannya.
Farel, membuka helmnya yang sejak tadi ia pakai dan membuat para wanita terpesona dengan ketampanannya, ia mengibaskan rambutnya yang basah. Farel memang terkenal dengan bad boy, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa ia juga sangat populer dan tampan.
"Kak, boleh minta fotonya? Kakak itu selebgram sekolah, idaman setiap wanita!" Tanya seorang gadis. Farel, hanya tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
'Sebenarnya, Farel itu adalah orang yang baik tapi kenapa ia begitu tidak menyukai Rey, ada masalah apakah antara mereka berdua! Aku, harus mencari tahu!' Pikirnya dalam hati.
Hujan, berhenti semua orang mulai pergi dari halte. Rey, mulai melepaskan genggamannya. Farel, mulai memakai helmnya dan segera pergi, ia tidak mengatakan apapun. Tidak lama Aldo dan Dika datang, mereka melanjutkan perjalanan menuju toko buku. Tempat Rey bekerja, mereka membaca buku dengan senang hati. Angga, menelpon Dika untuk menjemput mereka. Angga, telah menunggu di depan mobil, dengan setelan jas hitam, ia terlihat sangat keren, dengan kacamata hitam, rambutnya sangat rapi, ia tersenyum manis. Membuka pintu mobil dengan senyuman yang manis.
Rey, yang melihatnya dari balik jendela, merasa bahwa Angga memang menyukai Nilam. Ia, merasa memiliki saingan berat.
***
"Aku mau ngajakin kamu, jalan-jalan!" Angga, memulai percakapan dengan penuh semangat.
Angga, membawa ke sebuah tempat yang luas, caffe itu terlihat seperti caffe bernuasa kebun. Disana sudah terlihat banyak makanan. Aldo dan Dika tersenyum bahagia, ia kagum dengan makanan sebanyak ini. Mereka sangat senang.
"Wow ... harta Karun!" Ucap mereka berdua dengan riang. Ketika Dika akan mengambil makanan, Angga, menepuk tangannya.
"Eh, baca do'a dulu!" Dika, tersenyum malu. Angga, memimpin do'a tersebut. Mereka semua tampak bahagia.
Angga, memberikan beberapa makanan di piring Nilam. Angga, mulai menyuapinya dengan sangat lembut. Tatapan matanya seperti pernah ia lihat sebelumnya. Ia, kembali ke kenangan masa lalunya di peri awan.
"Apakah, kamu menyukai semua makanan ini? Apapun akan kuberikan untukmu! Makanlah!" Pria itu menyuapinya dengan sangat baik. Begitulah ingatan masa lalunya. Namun, ia tidak bisa melihat jelas siapa pria itu, yang bisa ia lihat hanya tatapan matanya. Tiba-tiba saja lamunannya terusik dengan suara Angga yang mulai mengatakan.
"Kenapa, kamu melamun?" Nilam hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba saja Ucok menelponnya, agar segera ke kantor, karena para saksi sudah ia kumpulkan. Nilam, bersedia untuk ikut. Mereka bergegas menuju kantor.
Angga, memegang tangan Nilam saat memasuki kantor. Aldo dan Dika, tersenyum dari arah belakang. Yang kegirangan. Nilam hanya tersenyum, Angga tetap fokus berjalan menyusuri jalan lorong yang panjang untuk memasuki ruangan investigasi. Saat tiba, ternyata disana sudah ada Maya juga. Nilam, mulai melepaskan genggamannya. Maya, yang melihatnya merasa heran.
__ADS_1
Angga, memasuki ruangan investigasi, dan yang lainnya melihatnya dari balik jendela. Di ruangan hanya ada Ucok, Nilam, Angga dan seorang saksi.
"Siapa namamu?"
"Nama saya, Luna Pak!"
"Kamu, lihat foto ini!" Angga, menyodorkan sebuah foto yang sangat mengerikan, foto-foto korban pertama. Wanita itu bergidik ngeri.
"Ya, ampun Pak, saya tidak kuat untuk melihatnya!" Wanita itu seperti merasa mual.
"Oke, apakah Anda mengenali foto ini?" Angga, menyodorkan sebuah foto kembali.
"Kalau ini saya kenal! Namanya Julia dia sahabat saya!"
"Bahkan, seorang sahabat tidak mengetahui jika sahabatnya telah meninggal dunia!"
"Meninggal, maksudnya? Apakah sahabat saya telah tiada pak!" Ia terlihat sangat syok, dengan menarik nafasnya.
"Iya, dia ditemukan meninggal dunia dalam keadaan yang sangat mengenaskan bahkan wajahnya sudah rusak, dimana Anda saat pada kejadian? tepatnya tanggal tiga Januari?"
"Saya, berada dirumah, bapak bisa lihat cctv-nya di rumah saya! Bahkan, kami sempat chatting pada saat itu!"
"Pak, saya adalah managernya wajar saja jika saya hanya memberikan sebuah saran, agar ia tidak sembarangan menerima setiap endorsan dari berbagai produk, apalagi jika ada kandungan yang berbahaya! Itu bisa merugikan orang lain!" Luna, berbicara dengan nada yang kesal.
"Oke, baiklah! Apa kemungkinan besar yang membuatnya di incar oleh orang lain!"
"Ya, mungkin saja karena kesal merasa di tipu!"
"Terlihat dari Anda bicara sepertinya Anda sangat kesal?"
"Kesal, tentunya! Tapi, tidak pernah terlintas olehku bahwa akan membunuhnya, karena bagaimanapun kami sudah bersahabat sejak lama, jadi tidak mungkin jika aku membunuhnya, karena ia juga sering membantuku untuk hidup!" Wajahnya terlihat menangis kecil.
"Kami, sudah melihat semua rekaman cctv, benar Anda sedang berada dirumah! Baiklah, hanya itu saja yang ingin kami tanyakan, sekali lagi terimakasih atas kerjasamanya!" Wanita itu pergi, dengan wajah yang sedih.
Saksi kedua memasuki ruangan investigasi. Saksi kedua bernama Yudis, ia memang sedikit kemayu dan ia pernah bertengkar hebat dengan korban, begitulah kabar yang tersebar.
Angga, menyodorkan sebuah foto.
"Ini, teman saya pak! Hemm ... ada apa ya pak? Apa, dia telah melakukan penipuan, atau apa?" Tanyanya heran.
"Tidak, dia tidak melakukan apa-apa termasuk menipu siapapun?"
__ADS_1
"Lalu apa? Kenapa saya di panggil?"
"Apakah kamu mengetahui keberadaannya?"
"Tidak! Untuk apa, dia itu musuh besar saya, dia sering mengejek saya, untuk apa mengetahui keberadaannya! Sungguh tidak penting!" Dengan ekspresi wajah yang centil.
"Apa, kemungkinan besar dia dibunuh!" Angga, berbicara dengan berbisik di telinganya. Pria kemayu itu nampak sangat terkejut, dengan mata yang melotot. Ekspresi wajah yang terlihat sangat bersalah.
"Bagaimana bisa!" Ia, terlihat sangat syok dan terlihat berpikir keras.
"Bagaimana bisa, kamu pergi secepat itu, padahal kamu belum tahu tentang perasaanku! Meskipun kita sering bertengkar itu membuatku semakin menyukaimu!" Ia, menatap foto itu.
Angga, berpikir bahwa pria itu homo ternyata dia masih menyukai seorang gadis. Terlihat ia mengusap air matanya.
"Pak, tolong temukan pembunuhnya? Saya, akan berikan sebaran untuk menemukan siapa pembunuhnya! Jujur saja, saya masih normal, ini hanya formalitas belaka untuk mencari uang, saya sudah sejak lama mencintai Julia, tapi dia tidak pernah mengerti, dia bahkan menganggap kalau saya tidak normal, semua itu salah! Saya, terpaksa harus menyembunyikan semuanya!"
"Baiklah! Terimakasih atas kerjasamanya!"
Pria itu pergi. Nilam, tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Dari saksi-saksi. Mereka berkata yang sejujurnya. Lalu, siapa pembunuhnya? Nilam berpikir keras. Sementara itu, para selebgram mulai berdatangan ke kantor meminta agar diberikan perlindungan, karena beberapa selebgram sudah mulai menghilang. Mereka takut, giliran mereka. Angga, mulai kewalahan menghadapi berbagai pertanyaan dari selebgram itu. Sekitar dua puluh orang sudah mulai membuat laporan agar mereka diberikan perlindungan secara khusus. Bahkan mereka membawa barang-barang agar tidur saja di kantor polisi. Angga dan Ucok kebingungan. Ucok berbicara agar Angga pulang saja duluan biar mereka yang menghandle semuanya. Dika dan Aldo sudah lama berada diluar.
Angga, mengulurkan tangannya, dengan menggenggam tangan Nilam.
"Disini banyak orang, agar kamu tidak tersesat dan berdesakan dengan orang lain!" Angga, tersenyum manis dan Nilam tidak mengatakan apapun. Ia, hanya tersipu malu.
Angga, memegang tangan Nilam, tangannya terasa sangat hangat dan lembut, saat mereka sedang berjalan menyusuri jalan, tiba-tiba saja Maya berlari dan langsung memeluknya sambil menangis, Nilam mulai melepaskan genggamannya. Dan, terlihat kecewa, Angga bingung karena Maya sedang menangis, ia mulai melepaskan pelukannya dengan perlahan. Nilam pergi dengan perasaan yang sangat hancur dan kecewa.
'Nilam, pasti sangat kecewa!' Angga, tidak bisa berbuat apa-apa saat Nilam pergi dengan perasaan kecewa.
'Maafkan aku Nilam! Apakah kamu menyukaiku! Jika ia pasti hatimu sangat hancur!' Angga berpikir Nilam pasti cemburu besar.
Nilam, pergi dengan perasaan yang sedih, Aldo dan Dika tidak mengetahui apapun, bingung melihat Nilam yang terlihat sangat bersedih. Tanpa ekspresi. Aldo dan Dika hanya terdiam.
'Kenapa rasanya harus sesakit ini!'
"Kalian pulang duluan! Aku, mau pergi dulu sebentar!"
"Eh, Nilam ...!" Nilam berjalan dengan cepat seperti sedang melakukan teleportasi. Aldo dan Dika bingung, akhirnya mereka pulang.
"Gimana ini!" Dika merasa khawatir dengan Nilam.
"Dia itu bukan manusia pasti bisa jaga diri, baik-baik saja pasti, ayo kita pulang!" Akhirnya mereka pulang. Tiba-tiba saja hujan deras.
__ADS_1