
Nilam bermimpi, dalam tidurnya.
Pangeran menghampiri Nilam yang sedang terduduk di kursi dekat sungai. Pangeran ikut duduk di sebelahnya.
"Apa kamu sangat menyukai pemandangan alam?"
Nilam hanya tersenyum, ia malah melamun tentang hal lain.
"Nilam, kamu disini?" Nilam, berbalik badan. Nilam, nampak begitu terkejut dengan penampilan sahabatnya itu. Ia mendekati dan memegangi bahunya memperhatikan dengan seksama.
"Kamu, adalah seorang putri?" Sahabatnya itu hanya tersenyum.
"Iya, aku adalah putri mahkota. Aku permaisuri dari pangeran maaf jika ini membuatmu terkejut. Aku tidak sempat memberitahu bahwa aku telah menikah!" Nilam hanya tersenyum, dan memeluknya erat.
"Aku bahagia jika kamu sudah bahagia. Apapun yang terjadi yang penting kamu sudah bahagia. Kita tetap sahabat sejati. Aku tidak pernah bisa melupakan apa yang telah kita lalui dulu"
Mereka adalah sahabat sejak kecil, bahkan ia tidak mengetahui jika sahabatnya telah menikah dengan seorang pangeran. Karena, sahabatnya itu memang dari keluarga terpandang dan kaya raya. Mereka saling melepaskan rindu dengan bercerita banyak hal.
"Oh iya, bagaimana kamu disini apakah kamu senang?" Ia hanya tertegun. Dan menarik nafasnya.
"Kamu tahu aku tidak bisa bebas, seperti biasa. Apapun di atur disini, kamu tahu aku tidak begitu suka di atur-atur. Benar-benar harus sempurna, bahkan baju pun di atur"
"Bagus ... jadi tidak perlu lelah untuk mengurus ini itu lagi."
"Ih ...! Kamu pikir semua itu enak, apa yang di lihat orang lain, itu selalu enak ..." Ia mencubit pelan Nilam.
"AW ... maaf ... eh tapi apa pangeran begitu tampan?"
"Tampan sih. Tapi ia begitu dingin, ia tidak pernah menatap wajah siapapun dengan seksama. Bahkan kami tidak pernah satu kamar. Aku tahu, rasanya aku juga belum menyukainya. Jadi aku tidak merasa begitu keberatan dengan keputusannya itu. Tapi bagaimana dengan dirimu sampai disini, bagaimana jika ada pengawal istana yang mengetahui keberadaan dirimu?"
"Bagaimana aku di kejar-kejar oleh preman pasar, kau tahu aku tidak punya begitu banyak uang. Sehingga aku, terpaksa harus menghutang sementara pekerjaan juga sulit." Nilam menarik nafasnya yang panjang.
"Ini, ambillah ... jika kamu membutuhkan bantuan ku, kamu bisa kembali tapi malam hari. Karena jika siang akan banyak pengawal istana yang berkeliaran. Kau mengerti?" Nilam, hanya terkesima dan menangis haru.
"Terimakasih banyak atas bantuannya ...!"
"Sudah, sebaiknya kamu pulang karena sebentar lagi akan akan pengontrolan."
Nilam, bergegas pergi menuju atap. Ia memang sangat pintar bela diri, memanjat adalah keahliannya. Tanpa ia sadari pangeran telah mengawasi keberadaannya dari balik jendela kamarnya. Pangeran tidak menegurnya karena ia telah mendengar percakapan keduanya. Dan pangeran menghampiri.
"Hemm ... sebaiknya kamu segera pergi tidur!" Ia terkejut dengan kedatangan pangeran yang tiba-tiba.
__ADS_1
Dengan gugup ia menjawab.
"Baiklah ..." Ia segera berjalan menuju kamarnya. Sedangkan pangeran masih memperhatikan Nilam yang tadi kabur.
'Sepertinya, gadis itu memiliki bakat lain.'
Ingatannya kembali ke masa depan.
"Aku masih mengingat betul bagaimana kita bertemu pertama kali?" Nilam, langsung menatap ke arah pangeran.
"Aku rasa aku harus pergi!" Nilam beranjak dari duduknya. Pangeran menahannya dengan memegangi tangannya.
"Jangan pergi ... kenapa kamu harus terus menghindar, apa salah jika aku mencintaimu?" Nilam hanya terdiam.
"Harusnya, tidak ada perasaan ini. Karena, pangeran tidak pernah tahu apa yang aku rasakan sendiri. Tertekan dengan semuanya, sedangkan permaisuri adalah sahabatku yang selalu membantuku di saat aku susah. Aku tidak bisa mengkhianati kepercayaannya!"
"Kamu salah, aku dan dia tidak pernah saling mencintai. Jadi aku mohon mengertilah!" Nilam menatapnya dengan tajam dan dengan air matanya.
"Kamu yang tidak pernah mengerti apa yang akan terjadi ke depannya. Persahabatan ku, pasti akan hancur, dan kamu harus sadar jika kita tidak bisa pernah bersama. Karena kamu dan aku hanyalah sebuah mimpi dan kebohongan! Aku tidak bisa menjadi selir mu, aku tidak bisa berdampingan dengan sahabatku sendiri. Sekalipun ia tidak pernah mencintaimu, aku yakin pasti hatinya sakit."
Nilam, pergi dan berlari. Sembari mengusap air matanya. Ia, tidak ingin kehilangan pangeran tapi juga sahabatnya. Saat berlari, ia menabrak Rey yang sedang berdiri di tepi sungai.
"Kamu kenapa?"
Keesokan harinya. Pangeran jatuh sakit, ia demam tinggi. Semua orang nampak gelisah, Nilam yang mendengarnya merasa sangat cemas. Ia segera mengunjungi istana. Disana sudah ada tabib dan permaisuri yang sedang memegangi tangannya.
'Kenapa hatiku terasa sangat terluka. Harusnya aku sadar siapa aku. Kenapa aku ada di antara mereka berdua, meskipun Mawar tidak pernah menyukai pangeran, tapi ia terlihat begitu mencemaskan keadaan pangeran. Harusnya aku membiarkan mereka untuk bahagia' Saat ia sedang melamun. Permaisuri memanggilnya untuk menemani pangeran, karena ia akan mengantar tabib untuk menunjukkan bahan obat-obatan. Nilam hanya tersenyum. Dan menemani pangeran.
Pangeran dengan sedikit sadar membuka matanya, dan yang ia lihat adalah Nilam. Ia sangat senang, jika Nilam masih mencemaskan keadaan dirinya.
"Sampai matipun aku akan selalu mencintaimu, apapun yang terjadi nanti aku akan hadapi demi dirimu!" Dengan nada suara yang lemah.
Nilam hanya terdiam dan terkejut mendengar pertanyaannya. Nilam tidak bisa berkata-kata lagi. Pangeran selalu berusaha untuk membujuknya agar menjadi selirnya. Namun Nilam tidak bisa. Ia selalu menolak meskipun ia ingin bersama dengan orang yang ia cintai. Karena pangeran yang selalu menyelamatkan dirinya dari segala kesulitan, pangeran adalah orang pertama yang membawanya masuk ke dalam istana dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah turun langsung, tapi ia selalu menyuruh orang lain untuk membantu Nilam. Nilam adalah wanita pertama yang ia tatap dengan seksama dan yang membuat hatinya berdebar-debar. Padahal selama pangeran membantu, ia tidak pernah bertemu langsung dengan Nilam. Pangeran adalah orang yang sangat dingin, bahkan ia hanya berbicara seperlunya saja. Wajahnya sangat tampan dan berkharisma, dengan tubuh yang ideal.
Tangan pangeran menggenggam tangan Nilam, dengan hangat. Nilam terlihat menangis, dengan keadaannya.
'Mencintai orang yang tidak pernah bisa aku miliki ' Gumamnya dalam hati. Tidak lama pangeran tertidur pulas, Nilam melepaskan genggamannya. Dan tidak lama permaisuri masuk. Nilam segera pergi.
Nilam terbangun dari tidurnya. Karena Raya membangunkannya untuk sekolah. Tiba-tiba cermin yang di berikan oleh Inggar bergerak.
"Kematian di bulan merah" Mereka berdua membaca dengan bersamaan.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" timpal Raya.
Nilam hanya terdiam berpikir.
Di sekolah, Sukma membawa teman barunya, mereka sedang duduk di kantin. Rey terlihat sedang sibuk mengobrol dengan adik kelas yang sedang menanyakan pelajaran mereka tampak sangat akrab.
Mereka sedang duduk di kantin berdua, tanpa mengetahui jika Nilam terlihat tidak suka. Raya, menyenggol lengan Nilam.
"Hey, lihat mereka sedang apa? Sibuk banget. Kamu gak cemburu kan?" Sambil menunjuk ke arah Nilam. Nilam hanya terdiam sejenak. Ia juga bingung kenapa ia tidak suka melihat Rey dengan gadis lain.
"Wajar sih, kalau Rey banyak yang suka. Ya ... karena ia memang Arjuna kelas ..." Timpal Dika. Nilam hanya terus menatap ke arah Rey. Rey, tidak sadar telah di perhatikan oleh Nilam.
"Woy ... bengong Mulu ...!" Dika menyenggol lengan Aldo.
"Ih ... apaan sih ...! Itu ada cewek cantik di tengah-tengah Sukma. Siapakah namanya hai pujaan hati ...!"
"Tau ... tanya aja sendiri!"
"Namanya Sari " Timpal Farel.
"Kok loe tau sih ...!" Aldo antusias.
"Iya, dia tetangga gue ...!" Farel sedang makan. Tiba-tiba saja Aldo menarik lengannya sambil membawa sekotak minuman.
"Eh ... kenapa sih loe. Jangan tarik-tarik begini!" Aldo menariknya ke arah Sukma. Dan tiba disana, mereka terlihat gugup. Gadis-gadis itu menatap mereka. Sukma yang senang dengan kehadiran Farel, mulai bertanya.
"Loe kenapa tumben banget!" Dengan wajah yang sumringah.
"Ini buat loe dari Farel ...!" Aldo tiba-tiba memberikan sebuah minuman kepada Sukma. Farel yang menatap sinis ke arah Aldo. Aldo hanya tersenyum saja, dengan gugup.
'Matilah gue .. tapi gak apa-apa, Farel pasti maafin gue ...!' Yang penting gue bisa kenal sama Sari. Urusan Farel belakangan ...!' Gumamnya dalam hati.
Sukma menyuruh mereka untuk duduk namun Farel menolak dan sempat melihat ke arah Raya, yang terlihat sangat marah. Lagi-lagi Aldo memaksanya untuk ikut duduk, dengan terpaksa ia mengikuti keinginan Aldo. Sukma mendekati, sedangkan Farel duduk mengarah Raya. Ia sungguh takut jika Raya.
'Mati gue ... Raya pasti emosi, semuanya gara-gara si cupu ...! Gue jadi tumbal atas keinginannya untuk berkenalan!' Gumamnya dalam hati.
"Ih, ngapain sih. Si Aldo pake acara kesana.!"
"Farel apa Aldo sih?" Tanya Dika. Raya, terdiam.
"Gue tau loe cemburu kan, lihat si Farel deketan sama Sukma?" Nilam memberikan sebuah kode kepada Dika agar tetap diam. Raya, menatap ke arah Sukma yang sedang mengobrol dengan semua temannya, sedangkan Farel terlihat diam saja. Akhirnya Aldo berhasil kenalan dengan gadis yang ia sukai, karena mereka memiliki banyak kesamaan.
__ADS_1
"Aduh ... ini pada galau. Yang satu lagi sama cewek sibuk tugas, yang satu sibuk bantuin pdkt, sisanya berdua bagian cemburu dan sakit!" Aldo memperhatikan mereka berdua yang sedang galau dengan melihat pria yang mereka sukai berada dengan gadis lain.
"Cinta itu terkadang menyakitkan, kita tidak pernah tahu kapan kita bahagia dan terluka saat menyukai seseorang. Jadi nikmati saja alurnya, jika masih sanggup ya pertahankan jika sudah lelah berhentilah". Dika, memberikan sebuah nasehat.