
Di ruang interogasi Pungky mengakui jika memang dirinya yang telah membunuh Aldi.
"Bagaimana kronologi kejadian tersebut?"
"Begini pak ceritanya "
Pagi itu, ibu tiri Aldi memanggil Pungky untuk mengobrol. Awalnya Pungky menolak untuk membunuh Aldi karena ia tidak tega. Namun, ibu tirinya memberikan uang muka.
"Ini, loe gak usah banyak omong. Ngerti loe! Nanti gue pura-pura suruh Aldi ke rumah neneknya, loe yang anterin. Dia kan masih kecil gak akan ngerti apa yang terjadi!" Pungky, sebenarnya keberatan. Namun, ia terlanjur di berikan uang muka sebesar lima puluh ribu. Akhirnya, mereka menyusun rencana.
Aldi, dengan polosnya mau ikut dengan Pungky tetangganya sendiri. Dan ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pungky, membawa Aldi untuk pergi ke sungai dengan alasan memancingnya. Ia lalu mendorong korban hingga jatuh ke air, alih-alih bukannya menolong korban yang tidak dapat berenang. Ia malah turun ke sungai untuk menenggelamkan tubuh korban yang masih kecil itu. Hingga tidak bernafas lagi.
"Memangnya disana tidak ada orang?"
"Tidak, hanya kami berdua?"
"Lalu, tubuhnya bagaimana?"
"Saya, dorong hingga hanyut dan benar saja cukup jauh korban hanyut"
"Apakah tidak ada perasaan iba? Anak sekecil itu kamu bunuh?"
"Ya, sebenarnya sih. Saya, tidak tega, tapi saya terlanjur janji kepada ibu tirinya. Saya tidak enak!"
"Tidak enak, tapi tadi saya mendengar langsung jika kamu bangga membunuh Aldi, dengan memamerkan kelakuan kejimu itu terhadap teman-temanmu?"
Ia, terdiam membisu. Ia, sempat menarik nafasnya dalam-dalam.
"Saya, tidak pernah bisa membayangkan bagaimana perasaan Aldi saat itu, orang dewasa yang seharusnya bisa melindungi dirinya dari kejahatan. Tapi merekalah yang telah menghilangkan nyawanya dengan sengaja. Saya, tidak habis pikir dimanakah hatimu? Hanya demi uang seratus ribu, kau tukar nyawanya?" Angga, terlihat sangat emosional. Pungky terlihat sangat menyesal.
"Uang, seratus ribu kamu bisa habiskan dalam sekejap. Namun nyawa anak itu tidak dapat kembali? Berapa banyak pun penyesalan yang mendalam di hatimu, sekarang sudah terlambat. Ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, kamu bisa bayangkan itu?"
"Ampun pak ... saya menyesal ... tolong hukum saya. Jika perlu hukum mati saya pak? Saya, sangat menyesal. Tolong Pak, tangkap ibu tirinya itu yang sudah menghasut saya. Saya siap mati!" Pungky, menangis tersedu-sedu, ia sangat menyesali perbuatannya itu.
Angga, hanya terdiam membisu. Dan memerintahkan kepada Ucok untuk memasukkan Pungky ke dalam sel tahanan. Nilam, yang melihat Angga terdiam. Ia menghampiri.
__ADS_1
"Kamu, tidak apa-apa?" Nilam mengusap pundaknya.
"Tidak apa-apa?" Angga, sedikit lebih lega.
"Tugas menjadi seorang detektif itu tidak mudah. Banyak cerita yang menyentuh hati kita. Kadang sering emosional sendiri!" Nilam hanya tersenyum.
Angga, memerintahkan untuk menangkap otak dari kejadian perkara. Angga, turun ke lapangan untuk menangkap pelaku. Saat ia sampai di lokasi, pelaku sedang menjemur pakaian.
"Maaf ada pak?" Tanya wanita itu. Tidak lama, ayahnya Aldi keluar dengan menggendong bayi, sekitar empat bulan.
"Anda kami tahan, atas pembunuhan berencana terhadap anak tirimu!" Wanita itu terkejut, termasuk ayahnya Aldi yang terlihat sangat shock.
"Maksudnya?" Ayahnya mulai penasaran. Ia berharap ini tidak benar.
"Istri anda, adalah otak dari pembunuhan Aldi. Ia yang telah memerintahkan Pungky untuk menghabisi nyawa Aldi. Dengan iming-iming uang seratus ribu." Ucok, menjelaskan secara detail.
Tubuhnya lemas, hingga ia duduk di kursi dengan bercucuran air mata. Nilam, mengambil bayi itu.
"Mas, maafkan aku?" Ia, mencoba untuk membujuk suaminya. Tapi pria itu hanya terdiam membisu dengan cucuran air matanya yang tidak bisa berhenti. Ia tidak percaya jika ini adalah sebuah kenyataan pahit.
"Maaf mas, aku khilaf?"
Pria itu berdiri dengan lemah. Dengan menunjuk pada wanita itu.
"Khilaf, kamu bilang? Atas dasar apa kamu membunuh Aldi, padahal ia sangat menyayangi dirimu dan juga adiknya. Bagaimana bisa hatimu setega itu, ingatlah ia anak piatu ibunya telah lama meninggal, aku percaya padamu. Tapi kamu telah menghilangkan nyawanya?"
"Aku cemburu melihat kamu lebih perhatian kepada Aldi dibandingkan dengan anak kita?"
"Aku tidak pernah membeda-bedakan antara Aldi dan anak kita. Aldi sudah cukup besar, ia harus mendapatkan perhatian lebih, sedangkan bayi kita belum banyak mengerti. Aku juga sayang, aku selalu mengasuh bayi kita. Aldi juga sangat menyayangi dirimu dan adiknya. Kalau kamu tidak percaya, ini adalah gambar keluarga kita?" Ia, mengambil sebuah gambar di kamar Aldi. Dengan tulisan keluarga, meskipun tulisannya belum rapi. Ada gambar dirinya, adiknya, ayah dan ibu tirinya.
Ibu tirinya itu melihat gambar tersebut sangat tidak percaya. Bagaimana mungkin anak yang sering ia perlakuan tidak baik. Ternyata sangat menyayangi dirinya dan anaknya.
"Kamu, tidak pernah tahu bagaimana Aldi. Karena kamu selalu menganggapnya sebagai beban, padahal ia selalu membantu untuk membereskan rumah. Walaupun kamu sering memarahinya karena nakal, namanya juga anak-anak. Ingat ... Aldi itu baru tujuh tahun, ia belum terlalu mengerti. Tapi ... kamu adalah ibu tirinya, yang seharusnya menjadi pelindung untuknya. Bagaimana bisa kamu menghilangkan nyawanya karena rasa cemburu? Kamu adalah iblis ...!"
"Maafkan aku mas?" Ia, memohon untuk di maafkan.
__ADS_1
"Maafmu, tidak bisa mengembalikan nyawa anakku. Pak tolong hukum dia seberat-beratnya. Saya, sudah tidak mau melihat wajahnya, nanti saya akan mengirimkan berkas perceraian kita!" Polisi, membawa pelaku. Pelaku hanya menangis dan di soraki oleh warga setempat. Ia, di tempatnya di sel tahanan wanita. Disana, ia merenung selama berhari-hari bahkan ia tidak ingin makan. ASI nya telah penuh. Sehingga, membuat ia sakit. Ia, Terus menatap gambar yang telah di gambar Aldi. Ia, mengingat kebaikan Aldi untuknya. Bahkan, saat ia sedang sakit, Aldi berusaha untuk merawatnya dengan baik, meskipun terus di marahi.
'Aku, sangat menyesali semuanya. Anak yang sering aku siksa ternyata begitu menyayangi aku dan anakku. Seharusnya, aku mati saja. Aku tidak pantas untuk hidup. Ia, melihat bayangan Aldi duduk di sebelahnya, dengan basah kuyup.
"Ibu ...?"
Air matanya tumpah ruah, ia tidak percaya bisa melihat Aldi.
"Aldi ... Aldi ... Aldi ...?" Ia, tidak bisa memegang tubuh Aldi.
"Jangan pergi nak ... ibu janji akan memperbaiki semuanya. Tolong jangan pergi lagi ... ibu ikut bersamamu?" Ia, terus berteriak sehingga membuat tahanan lain terbangun.
"Ada apa sih berisik?" Mereka menghampiri, ternyata pelaku sudah mulai mendingin dan tidak lagi bersuara. Mereka memanggil polisi yang sedang bertugas. Kebetulan Nilam, yang menghampiri.
"Ada apa?"
"Ini, badannya dingin? Kayanya mati deh ...?" Seseorang menyenggol lengannya.
"STT ... jangan ngomong sembarangan!"
Rey, ikut menghampiri dan memasuki ruang tahanan. Dan memeriksa pelaku. Ia, memeriksa sudah tidak ada denyut nadinya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. ..!" Semua orang terkejut, Angga datang dan ikut memeriksa.
"Innalilahi, tolong sampaikan pada keluarga jika pelaku sudah meninggal dunia."
"Siap ... baik pak ...!" Farel, segera menghubungi keluarganya untuk memberikan informasi tersebut.
"Kami, sudah berusaha untuk merawatnya. Namun, ia tidak mau makan, sepertinya batinnya sangat tersiksa dan menyesal apa yang telah terjadi. Setiap kali ia tidur, ia hanya memanggil Aldi ... ikut ...!"
"Baiklah terimakasih banyak atas bantuannya!" Rey, kemudian pergi.
"Ganteng banget ya.. ?"
"Tahu aja sama yang ganteng ...? Huh ...?"
__ADS_1