
Setelah pulang dari kantor sore. Ia langsung menjemput ibunya untuk membeli sebuah kado. Mereka berdua sangat bahagia dan berjalan-jalan memutari mall, Rey makan bersama ibunya. Ibunya, mengusap sisa makanan yang ada di sisi bibir Rey dengan tisu.
Rey, hanya tersenyum bahagia. Ia berharap bisa selamanya hidup bersama dengan ibunya. Ia sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan bersama dengan ibunya.
"Kamu, sudah besar masih saja. Makannya belepotan, gimana kalau mama sudah tidak ada lagi!"
"Mah... kok ngomong gitu sih. Mama akan hidup lama sampai Rey menikah dan punya anak. Kan mama selalu bilang, walaupun Rey sudah besar, di mata mama Rey tetaplah anak kecil yang selalu haus akan perhatian dari mamanya!" Ibunya hanya tersenyum.
"Sudahlah makan, kita pulang ...!" Rey, masih tidak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya ia baru merasakan lagi kehangatan bersama dengan ibunya. Rasanya, ia sangat menyesal kenapa tidak dari dulu. Tiba-tiba saja air matanya menetes.
"Jangan, menangis ...!" Ibunya mengusap air matanya.
Setelah itu mereka pulang. Untuk bersiap-siap pergi ke rumah Farel.
Setelah malam tiba, mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah Farel. Rey, mengetuk pintu kamar ibunya.
"Masuklah ...!" Ibunya terlihat sedang melamun di depan cermin.
"Kenapa mama melamun?" Tanyanya dengan heran.
"Mama merasa tidak pantas jika harus bertemu dengan orang yang pernah mama sakiti, rasanya mama malu dan sangat berdosa ...!" Ibunya, merasa sedih. Rey, mengusap wajah ibunya.
"Mah, percayalah mereka orang baik. Pasti tulus untuk memaafkan mama, ayo kita mulai lagi dari awal ..." Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka berangkat.
Sesampainya di rumah Farel. Farel mempersilakan mereka duduk. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh ibunya Farel dan Farel, sehingga membuat perasaan mama nya Rey sedikit lebih lega dengan respon mereka. Bahkan, badannya sempat bergetar saking merasa bersalahnya dengan apa yang pernah terjadi sebelumnya.
Mama nya Rey setelah menyantap makanan tersebut. Ia menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya, ibunya Farel menghampiri.
"A ... aku meminta maaf kepada kalian berdua...?" Ibunya Rey terlihat sangat bersalah. Ibunya Farel hanya tersenyum.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu di maafkan... kami berdua sudah lama memaafkan jauh sebelum kamu meminta maaf. Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, akhirnya kami berusaha untuk membuka lembaran baru dan ikhlas dengan apapun yang terjadi Allah pasti punya rencana lain. Alhamdulillah kami tidak pernah merasa kesulitan. Jadi kamu tidak usah khawatir. Yang penting kan kamu sudah mengakui semua kesalahan yang telah terjadi. Kita berdamai dengan masa lalu ". Dan mereka pun berpelukan, sambil menangis kecil. Rey dan Farel yang melihatnya merasa senang kini hubungan mereka kembali seperti dulu. Setelah, ibunya Rey memberikan sebuah kado untuk ibunya Farel mereka berdua pulang dengan hati yang gembira.
Di perjalanan pulang ia tidak sengaja melihat Inggar yang sedang berdiri di pinggir jalan. Tadinya ia ingin berhenti namun, ia terlalu malam untuk berhenti.
'Jika aku berhenti sekarang, mama pasti akan kemalaman pulang. Mama juga pasti lelah, mungkin aku bisa pulang lalu kembali' Gumamnya dalam hati. Setelah sampai rumah, Rey pamit ada urusan penting ia tidak akan lama.
Rey, kembali menyalahkan motornya dan kembali untuk mencari Inggar.
"Pak, aku mau ini?"
"Ini Neng ...!" Inggar membeli makanan burger karena ia sangat lapar. Inggar pergi begitu saja.
"Hei ... Neng... uangnya mana?" Inggar terlihat sangat heran. Lalu ia kembali dan memberikan sebuah koin.
__ADS_1
"Neng ... ini apaan buat ngerok? Maaf ini gak laku .. ini duit apaan?" Tukang dagang tersebut terlihat sangat heran, sambil terus memandangi koin tersebut. Tukang dagang tersebut memperlihatkan bentuk uang.
"Ini namanya uang. Punya gak Neng?"
Inggar, menggelengkan kepalanya. Rey, yang memperhatikan dari belakang, sempat heran.
'Sebenernya kamu siapa?'
"Biar saya saja yang bayar mas. Ini uangnya?"
"Oh, ya. Ini kembaliannya?"
"Gak usah ambil saja." Rey, menarik tangan Inggar.
'Rey. ..' Gumamnya dalam hati. Ia merasa berdegup kencang. Rey, mengajaknya untuk duduk.
"Makanlah ... kamu pasti lapar?" Inggar hanya terdiam.
"Tapi ini apa?"
"Ini ada burger, makanlah " Inggar menggigit makanan tersebut, saosnya mengenai bibirnya sampai belepotan. Rey, mengusapnya dengan tisu.
'Wajahnya begitu dekat, bahkan ia selalu tersenyum manis.'
Rey, pergi mencari minuman. Sementara, perasaan Inggar masih saja berdegup kencang, bahkan wajahnya sampai memerah.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa setiap dekat dengan pria itu, jantungku berdegup kencang." Tidak lama Rey kembali dengan membawa minuman.
"Ini minumannya" Rey, memberikan minuman tersebut. Inggar meminumnya, hingga ia tersedak.
"Hati-hati ...!" Rey, mengusap pelan pundaknya.
"Tolong jangan terlalu dekat denganku ...!" Inggar sedikit menjauh.
"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu?"
'Aku sampai tidak bisa bernafas jika ia terus bersikap manis seperti ini.' Gumamnya dalam hati.
"Coba kamu tarik nafas pelan-pelan lalu keluarkan!" Inggar melakukannya.
Rey, mengeluarkan uang.
"Ini untukmu, ada lima ratus ribu untukmu, nanti jika kamu ingin membeli makanan pakailah uang ini. Jangan koin seperti yang tadi kamu berikan kepada penjual. Apa ini cukup? Sebenarnya kamu tinggal dimana?"
__ADS_1
Inggar, mengambil uang tersebut. Namun ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Inggar, berpura-pura menunjukkan sesuatu hingga membuat pandangan Rey beralih. Inggar menghilang.
"Mana ...?" Rey, melihat Inggar telah pergi. Rey, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kebiasaan kamu ... seperti hantu tiba-tiba datang dan pergi begitu saja. Sebenarnya kamu itu siapa?"
Inggar, bersembunyi di balik pepohonan.
'Belum saatnya kamu tahu aku ini siapa' Inggar, menghilang dari kegelapan. Rey, pulang kembali.
****
Keesokan harinya. Seperti biasa mereka akan sangat sibuk. Farel terus menatap ke arah Raya yang sedang sibuk mengurus berkas-berkas.
"Woy ... loe lihat apa sih?" Aldo mengagetkannya.
"Apaan sih loe. Ngagetin gue aja ...!" Farel, kembali duduk. Lalu, ia berpikir untuk memberikan kopi. Lalu, ia membuat kopi, dan memberikan kepada Raya.
"Ini untukku?"
"Iya, masa buat si Aldo ... diminum ya?"
Raya, hanya tersenyum. Lalu, mengambil kopi tersebut. Farel, membisikan kata-kata kepada Raya sebelum ia pergi.
"I love you ...!" Raya menjadi salting. Farel, kembali ke tempat kerjanya.
Nilam, datang melihat wajah Raya yang sedang memerah.
"Kamu kenapa?"
"Enggak ...!" Raya, duduk sambil mengatur napas.
Rey yang baru datang setelah ia dari toilet. Ia, melihat Nilam yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan laporan.
'Kenapa kamu selalu cantik, aku ingin sekali bisa selalu dekat denganmu!'
Nilam menghampiri Rey karena ada laporan yang harus ia tanyakan. Rey, nampak terkejut karena Nilam menghampirinya.
Nilam, duduk di dekatnya dengan jarak yang begitu dekat.
'Aku tidak bisa mengatur nafasku saat berada di dekatmu. Rasanya berjuta-juta katapun sudah habis, begitu melihatmu. Mulutku langsung terkunci yang ingin aku dengarlah hanya suaramu yang merdu'
"Hey, malah melamun? Ini apa?"
__ADS_1
Rey, reflek memegangi tangan Nilam saat ingin mengambil laporan tersebut. Nilam dan Rey saling bertatapan. Sementara Angga yang melihatnya merasa cemburu.