Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Ini belum berakhir


__ADS_3

Rey, mendekati Nilam yang sedang melamun. Ia memberikan sebuah, pulpen yang terdapat boneka di atasnya.


"Apakah ini untukku?" Rey hanya tersenyum.


"Bolehkah, aku bertanya sesuatu kepadamu?"


"Tentang apa?"


"Apakah, kamu menyukai kak Angga?" Nilam, terdiam sejenak, ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.


"Meskipun kamu tidak pernah berbicara tentang perasaanmu terhadapnya, aku yakin ia juga merasakan hal yang sama denganmu? Karena, aku bisa merasakan perasaan itu untuknya!"


"Aku, tidak tahu apakah aku benar-benar menyukainya atau tidak! Aku, merasa ada sesuatu yang menjanggal, antara aku dan dia! Aku, juga tidak mengerti mengapa?"


'Seandainya, kamu bisa membalasnya untukku, sekali saja!'


"Karena, tidak selamanya sebuah perasaan bisa di ungkapkan dengan kata-kata, terkadang sikap selalu lebih menyakinkan!" Nilam, hanya terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Rey.


Tiba-tiba saja, ia melihat sosok bayangan hitam yang melewati pintu, Nilam segera berlari mengejarnya. Dan, Rey mengikutinya dari belakang. Nilam, sangat cepat dan berlari ke atap.


"Kemampuanmu, ternyata sudah mulai pulih Nilam...! Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, ia berdiri tepat di depan Nilam!" Wanita itu, memakai baju serba hitam, gaun yang serba hitam dengan hiasan di kepalanya. Ia, terlihat sangat cantik, dan juga terlihat sangat jahat dari raut wajahnya.


"Inggar ...! Kamu ...?"


"Kenapa ...? Perlukah, aku membantumu untuk mengingat semuanya! Sepertinya, kamu sudah lupa tugasmu disini untuk apa?" Inggar, memberikan sebuah cermin.


"Untuk apa?" Ia, mengambilnya.


"Kenyataan, tidak selamanya indah! Kamu, perlu membuang semuanya agar tidak terluka terlalu dalam!" Tiba-tiba saja, Rey datang dengan nafas tersengal-sengal.


"Kamu, ngobrol dengan siapa?"


"Dengan, ...!" saat Nilam berbalik, ternyata ia sudah menghilang.


Lalu, mereka mengobrol di atas atap, ternyata disana ada tempat duduk Rey yang sengaja ia buat agar saat jam pulang ia bisa, duduk sebentar untuk merenungi kehidupannya yang begitu pahit.


"Kamu, tahu aku selalu berharap masih bisa bersama dengan Farel, seperti dulu ...! Aku, bahkan, mencetak fotonya yang besar agar aku tidak merasakan kesepian, aku selalu berharap agar semuanya bisa kembali seperti dulu!" Ternyata, Rey mencetak foto Farel yang sangat besar, persis seperti patung foto. Ia, selalu mengobrol dengan foto tersebut agar ia merasa Farel tetaplah sahabatnya.


"Aku, yakin kamu pasti bisa bersama dengan Farel seperti dulu! Semua hanya perlu waktu lama untuk memaafkan, aku yakin dia juga merindukan persahabatan kalian berdua! Kesabaran pasti akan berbuah manis!" Nilam tersenyum manis. Tiba-tiba saja, Rey mendekati Nilam dengan sangat dekat, hingga ia berpikir Rey akan menciumnya. Ia, merasa berdegup kencang. Wajahnya terlihat memerah, berkeringat dingin. Rey hanya tersenyum.


"Aku, hanya ingin mengambil ini!" Rey, mengambil alat musik berupa gitar. Yang berada di dekat Nilam. Dan, memainkannya dengan baik. Ia, bahkan bernyanyi dengan sangat merdu.

__ADS_1


"Sudah, tampan, suaranya sangat merdu ...!" Mereka berdua menghabiskan waktu bersama di atas atap.


****


"Lapor, pak! Kami, sudah mendapatkan alamat para pelaku!" Firman, memberikan sebuah informasi, dan mereka segera menyamar sebagai masyarakat biasa.


Terlihat, para pelaku sedang bertransaksi dengan para pembeli narkoba. Salah satu dari mereka, menyamar sebagai pembeli barang tersebut. Kemudian, mereka menciduk para pelaku.


"Tetap, di tempat ... kalian telah di kepung ...!" Para pelaku, terlihat kaget dan mereka malah menyerang balik dengan menembaki secara acak, hingga terkena beberapa kaca, yang mulai berjatuhan. Semua Tim bersembunyi di balik mobil.


Salah satu pelaku, menelpon atasan mereka. Dan bos tersebut mengirimkan sebuah foto, dan itu adalah foto Angga.


"Tembak, yang berada di foto tersebut!" Perintah atasan mereka.


Senjata, mulai di arahkan ke arah Angga dari kejauhan, Firman yang mulai menyadari, melihat laser yang terus mengarah ke arah Angga, tanpa Angga menyadarinya. Ia, bergegas menuju Angga, sehingga yang tertembak adalah Firman.


Dor ......


Terdengar suara tembakan, seketika itu suasana menjadi hening.


Gubrak .... Tubuhnya terjatuh menyentuh tanah ...


Ia cedera tepat di bagian perut sebelah kirinya. Hingga, membuat kekacauan, Angga segera menghampiri, ia melihat Firman yang tengah tergeletak di lantai, bersimbah darah. Angga, membuka bajunya untuk menutup lukanya.


"Pak,... sudah ku bilang ... aku pasti bisa seperti... Bapak...!" Suaranya, terdengar begitu lemah, dengan rintihan rasa sakitnya.


"Jangan, banyak bicara lagi! Kau boleh minta apapun itu? Kamu, masih muda, ingat ada ibu dan adik,-adikmu yang sudah menunggumu!" Angga, terlihat sangat sedih, ia menahan air matanya.


"Apa benar, ... aku bisa meminta apapun dari bapak ...?" Ia, mulai sedikit bersemangat untuk hidup, meskipun bicaranya masih terbata-bata.


"Kamu, harus ingat, apa tujuanmu untuk bekerja denganku? Apa, kamu masih ingat, saat pertama kali bertemu denganku!" Angga, berusaha untuk membuatnya tetap sadar sampai ambulans datang.


"Masih ...!" Dengan terbata-bata, menahan sakit.


Cerita beralih ke dua belas tahun yang lalu.


Pagi itu, Angga adalah seorang senior yang baru dilantik sebagai detektif swasta di Jakarta. Ia, bertemu dengan seorang anak laki-laki, yang sedang menyemir sepatu, ia juga ingin menyemir sepatunya. Ia, membuka sepatunya dan memberikan kepada anak laki-laki tersebut. Ini adalah Firman kecil, saat pertama kali bertemu dengan Angga. Meskipun ia, hitam manis, ia adalah anak yang lumayan tampan.


"Berapa?"


"Lima ribu untuk sepasang sepatu!" Anak itu sangat sopan santun. Anggy, sangat kagum kepada anak yang bisa bekerja keras di usia mudanya. Ia, cepat-cepat pergi sambil memegangi handphone ditangannya, karena ia segera berlari terburu-buru.

__ADS_1


"Kak, kembaliannya?" Anak itu segera berlari mengejar, Angga segera menaiki sebuah mobil. Ia terus mengingat flat nomor mobil tersebut untuk mengembalikan uang kembaliannya.


Keesokan harinya. Angga, lewat kembali dengan mobil. Firman mengejarnya, Angga yang melihatnya dari spion mobil segera menghentikan lajunya.


"Kenapa..?" Tanyanya heran. Anak itu bisa berlari dengan sangat cepat. Ia, menyodorkan uang.


"Ini, kembaliannya! Kemarin, kakak pergi terburu-buru, hingga aku hanya mengingat flat nomor mobil kakak!" Angga tersenyum dan mengambil kembaliannya. Ia, jongkok dan berbicara.


"Larimu, sangat cepat, bahkan kamu mampu mengingat flat nomor, serta kejujuran yang paling penting. Maukah kamu bekerja sama denganku!" Hari itu, adalah pertama kalinya mereka berjabat tangan. Haru senyum di wajah Firman kecil. Seorang anak yang bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga. Kejujuran, sopan santun, yang membuat Angga tertarik dengan Firman. Sejak saat itu, Angga membiayai sekolah, pulang sekolah Firman bekerja di kantor Angga membersihkan kantor dan ia akan mencermati setiap hari kegiatan para polisi dan detektif Angga. Hingga ia besar dan diangkat menjadi polisi.


Sekarang, yang ia lihat Firman sedang kesakitan, ia takut terjadi hal yang tidak di inginkan oleh nya. Seperti beberapa tahun lalu yang membuat ia sangat trauma.


Yang Firman rasakan hanyalah, rasa sakit dan mulai merasa mati rasa, hingga ia mulai hilang kesadaran. Angga, nampak begitu cemas. Untungnya, ambulans segera tiba, di waktu yang tepat.


Ambulans segera datang dan membawa Firman Mereka, sudah melakukan yang terbaik. Angga, menunggunya di rumah sakit.


Beberapa pelaku tidak dapat ditemukan, sepertinya mereka memang sudah mengetahui jika mereka akan terciduk oleh para polisi. Sehingga, mereka menyusun strategi. Sepertinya, bos mereka telah lama mengincar Angga.


****


Keesokan harinya. Ia, bertanya kepada Raya, bagaimana bisa menggunakan benda asing ini. Raya, mengajari Nilam caranya.


"Percuma rasanya!" Ia, terlihat kesal.


"Kenapa?" Raya, penasaran.


Menghela nafas ...


"Katanya, mau telepon? Tapi, sampai sekarang tidak ada kabarnya! Jadi, percuma kan, aku bisa atau gak!" Wajahnya terlihat kecewa.


"Mungkin dia sangat sibuk! Tahu sendiri, bagaimana pekerjaan kak Angga, bukan main-main! Dia pasti telepon kalau sudah gak sibuk, pasti." Raya, mencoba menghiburnya, di hari minggu yang cerah.


"Kita, lari saja! Maksudnya olahraga!"


Raya, meminjamkan baju traning untuk berolahraga, Nilam terlihat sangat cantik. Aldo dan Dika, tercengang melihat Nilam.


"Beautiful ...!" Secara bersamaan. Mereka akhirnya jalan kecil. Tapi, pikiran Nilam malah mengingat untuk apa ia berada disini, sampai ia lupa mengecek cermin yang diberikan oleh Inggar. Ia, menabrak seorang pria.


"Maaf ... maaf ...!" Suara itu adalah Rey. Ia, sama tampan, dengan menggunakan handset di telinganya.


'Ternyata, Rey akan sangat berbeda saat menggunakan pakaian biasa!' Gumamnya dalam hati. Mata mereka saling bertatapan.

__ADS_1


'Aku, tidak bisa membohongi perasaanku saat berada di hadapannya' Rey, hanya tersenyum manis melihat wajah Nilam yang terlihat sangat cantik, dengan traning olahraga.


__ADS_2