
Karena, Aldo dan Dika tidak ingin sahabatnya itu menjadi kemarahan ayahnya, mereka mencoba untuk menjelaskan.
"Om, ini gak seperti yang Om pikirkan! Kami mohon!" Ucok, melihat wajah mereka.
"Diam ... saya hanya ingin bicara dengan anak gadis saya?" Mereka semua terdiam.
"Ayah ... gak apa-apa jika Ayah marah! Raya, ikhlas karena Raya udah salah! Mohon maaf!" Raya, menangis.
"Tidak, Nak ...! Ayah tidak marah, karena Alhamdulillah kalian tidak selamat dan telah menangkap pelakunya! Ayah yang harusnya berterima kasih kepada kalian semua, karena telah membantu Tim kepolisian untuk menangkap pelakunya!"
"Ayah, gak marah?" Raya memeluknya.
"Untuk apa, Ayah marah! Sementara anak Ayah telah melakukan hal benar! Walaupun melanggar aturan untuk tidak keluar malam!" Mereka semua tertawa. Tidak lama, kemudian Angga turun dari mobilnya. Giliran Aldo dan Dika yang takut.
Tapi, ia menghampiri mereka dengan penuh senyuman dan memeluknya. Tapi, ia tidak berkata sepatah katapun. Ia, memberikan sebuah isyarat agar Aldo dan Dika tidak berbicara apapun, karena Angga sudah cukup mengerti apa yang terjadi. Nilam, yang melihatnya merasa senang jika Angga tidak memarahinya dan yang lainnya.
Angga, mengajak mereka untuk makan malam di sebuah restoran mewah untuk memberikan apresiasi atas keberhasilan mereka dalam membantu Tim investigasi. Angga, tidak berbicara dengan siapapun ia terlihat begitu serius, wajahnya terlihat sangat jutek. Nilam, merasa Angga marah kepadanya, bahkan ia tidak melihatnya, tidak lama kemudian Maya datang. Angga telah mengundangnya untuk makan bersama. Dan ia menyuruhnya untuk duduk di dekatnya. Maya, yang senang hati berdekatan dengan Angga. Aldo dan Dika, merasa tidak senang, wajah Nilam berubah menjadi merah. Ia merasa sangat sakit. Apa salahnya hingga Angga melakukan hal itu.
Saat semuanya sedang sibuk dengan makanannya. Maya, tiba-tiba saja ingin menyuapi Angga, tatapan matanya tertuju kepada Nilam, matanya terlihat sangat marah. Ia mau di suapi oleh Maya. Nilam, merasa sangat kesal, rasanya ia ingin menangis. Sungguh, tega Angga terhadapnya.
"Aku, mau ke toilet dulu!" Dengan wajahnya terlihat sangat kesal. Semua orang menatapnya dengan heran. Rey, yang menyadarinya merasa cemas. Nilam, menangis di dalam kamar mandi.
(Apalagi, yang bisa wanita lakukan jika hatinya terluka, hanya bisa menangis!) Ia, terus mengusap air matanya. Kebetulan tidak ada seorangpun disana. Angga, sebenarnya tidak tega, melihat wajah Nilam yang begitu. Tapi, ia terpaksa melakukan hal itu agar ia tahu bagaimana perasaannya. Karena sudah beberapa menit tidak keluar Rey merasa cemas, ia segera berdiri dari tempat duduknya. Tapi, Angga melarangnya.
"Biar aku saja!" Angga, pergi menuju toilet. Rey, kembali terduduk di kursinya.
Angga, diam di depan pintu. Nilam, segera menghapus air matanya. Dan mencuci wajahnya. Ia, segera menarik nafasnya dan melihat wajahnya sedikit merah.
"Kenapa, aku begitu bodohnya menangis hanya karena patah hati! Angga, lihat saja nanti aku akan membalas semuanya! Kenapa kamu tidak pernah mengerti tentang semua perasaanku! Aku, juga tidak tahu kenapa aku begitu menyukaimu! Bodoh ... bodoh ..!" Ia terus mengurutu di depan cermin. Angga yang mendengarnya dari luar, hanya tersenyum. Ia merasa sangat senang jika ternyata perasaannya sama. Angga, terus menahan tawanya, dengan menutup mulutnya dengan tangannya. Tidak lama kemudian Nilam keluar ia begitu terkejut melihat Angga yang telah berada di depan pintu. Ia sangat malu.
"Kamu? Dari tadi ya! Pasti kamu mendengarkan apa yang aku bicarakan tadi kan?"
"Tidak, aku baru datang, dengerin apa? Emang kamu bicara soal apa?" Nilam, terlihat sangat malu, wajahnya terlihat memerah. Ia bergegas mengusap wajahnya.
__ADS_1
Nilam, segera pergi. Angga, menarik tangannya dan memeluknya erat.
"Jangan, bergerak! Tetaplah begini!" Nilam, hanya tersenyum ia bahkan merasa nyaman berada di pelukan hangat Angga.
Rey, yang merasa khawatir dengan Nilam segera menyusulnya. Dan ia melihat Angga yang sedang berpelukan dengan gadis yang ia sukai.
Ia, segera memutarkan badannya. Dan kembali menuju mejanya. Sebenarnya ia sangat cemburu tapi, ia sadar jika Angga adalah orang pertama yang ia kenal, sebelum dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam.
(Ternyata, aku tidak sendiri, ada seseorang yang terlihat sangat menyukainya selain aku).
"Udah ... nanti ada yang lihat!" Nilam, melepaskan pelukannya.
"Ya, udah jalannya gandengan?"
"Jangan! Nanti mereka akan curiga!"
"Oh, iya lupa! Ya, udah kamu jalan duluan, aku dibelakang kamu!" Mereka berdua sangat terlihat bahagia. Dan kembali ke meja makan. Rey, berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya menjadi terluka.
"Apaan sih!" Raya, menyumpal mulutnya dengan makanan.
"Ih ...! Tapi, enak juga, suapin lagi dong!" Ia, membuka mulutnya, Raya malah memasukkan sambel. Farel, berteriak kepedesan. Semua orang tertawa bersama. Sementara, mereka tidak mengetahui jika Farel alergi terhadap sambel. Farel, segera pergi menuju toilet untuk mencari air. Rey, terlihat sangat marah.
"Bercanda! jangan berlebihan! Kalau kalian tidak tahu apa yang terjadi terhadap seseorang, mungkin menurut kalian sepele tapi belum tentu juga bagi orang lain sepele!" Mereka semua terkejut dengan kemarahan Rey.
Raya, yang merasa bersalah segera menyusulnya, ternyata Farel sedang mengompres bibirnya di depan wastafel luar. Farel, yang mengetahui seseorang berada di belakangnya. Ia, bicara.
"Tenang, gue gak apa-apa!" Ia, mengompres bibirnya dengan perlahan. Ternyata bengkak dan merah. Raya, menangis merasa sangat bersalah.
"Kenapa loe nangis?" Farel, menghampirinya.
"Gue, salah! Udah bercanda kelewatan!" Raya, terus menangis, Farel mengusap air matanya dengan lembut.
"Jujur ya loe jelek kalau lagi nangis! Dan gue paling gak suka lihat cewek nangis! Apalagi, cewek cantik itu gak boleh sedih nanti cantiknya luntur!" Raya, sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Nah, gitu dong! Lagian, kenapa gak sama mangkoknya aja sekalian masukin! Kurang banyak, nanggung kan kalau cuma sedikit sama-sama sakit!" Raya, tersenyum sambil mencubit tangannya.
"Auw ... sakit! Nah, gitu dong jadi makin cantik!"
"Tapi, aku tetep aja merasa bersalah!" Ia, menundukkan kepalanya. Farel, mengusap kepalanya. Sambil berjalan ia berkata.
"Udah gak usah dipikirin! Mendingan makan lagi! Mubazir makanannya!"
(Ternyata, Farel itu manis! Kenapa, aku merasa nyaman berada dekat dengan dia!) Raya, mengikutinya dari belakang. Semua orang sedang menunggunya kembali. Dan meminta maaf telah keterlaluan.
"Udahlah, jangan dipikirkan! Gue baik-baik saja! Kan, lagian kurang banyak juga sambelnya, harusnya satu mangkok, sama aja sakitnya biar sekalian!" Semua orang mulai tertawa bersama dan mulai makan. Aldo dan Dika terlihat sangat kelaparan.
"Aldo, Dika ...! Kalian ini bisa gak, jangan begitu! Sungguh, memalukan!" Mereka menjawab dengan mengunyah makanannya.
"Habis, gak pernah makan makanan mewah! Kakak kan pelit! Duit, banyak tapi gak pernah ngajkin kita makan mewah!" Angga, terlihat sangat jutek, dengan tatapan mata yang tajam. Aldo dan Dika menelan ludah.
"Hehe iya maaf ya kak! Ayo, makan jangan dilihatin!" Aldo, mengalikan pembicaraan.
Meja makannya sangat panjang hingga terlihat satu sama lainnya. Dan restoran ini memang sangat mewah, terdapat kaca besar yang menghadap langsung ke kota. Pemandangan yang indah, terlihat lampu-lampu yang menyala di malam hari, menghiasi kota tersebut. Semakin, lezat makanan tersebut.
"Kamu, lama banget ke kamar mandinya? Apa ada masalah?" Rey, terlihat bertanya dengan perasaan cemas, karena matanya terlihat sembab. Ia begitu perhatian terhadap Nilam.
"Tidak apa-apa!" Rey, hanya tersenyum. Kemudian ia menyuapi Nilam.
"Ini, enak! Apakah kamu mau?" Nilam, terkejut kenapa Rey ingin menyuapinya. Angga yang melihatnya dari kejauhan. Terlihat sangat cemburu. Harusnya aku yang duduk di dekatmu.
(Terkadang, aku merasa menyukaimu adalah sesuatu yang menyakitkan, karena aku tidak pernah bisa mengungkapkan semua perasaanku, karena saat ini aku masih ragu, haruskah aku tetap berdiam diri!)
Rey, terus menyodorkan sendok makan yang berisi SOP iga, Nilam sungguh tidak enak jika menolaknya. Akhirnya ia mau di suapi oleh Rey. Angga, harus menahan diri untuk cemburu. Karena, ia sadar bahwa mereka pikir Nilam adalah seorang pria.
"Lihat, Rey itu sudah gila, dia itu kayanya emang udah gak normal lagi! Masa, suka sama cowok! Gue, mana mau nyuapin si Aldo atau si Dika!" Ia berbicara kepada Raya dengan berbisik kecil, dengan bergidik. Raya, hanya tersenyum. Maya, yang mulai menyadari bahwa terlihat Angga sangat aneh, ia malah memainkan makanannya. Bahkan, mie goreng ia hanya putar-putar.
"Sebenarnya, apa yang sedang kamu pikirkan?" Ia, memberhentikan tangannya yang sedang memutar mie nya.
__ADS_1