
Setelah bukti-bukti sudah terkumpul dengan adanya saksi akhirnya sang ibu terjebloskan ke dalam penjara. Dan pelaku sangat bangga terhadap anaknya yang berani berkata jujur meskipun itu akan membuatnya di penjara.
"Sekarang, kamu tinggallah dengan nenek mu. Maafkan ibu yang tidak pernah bisa menjadi ibu yang baik. Bahkan ibu sudah gagal menjadi seorang ibu" Ia terus menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya, dan memeluk anaknya untuk terakhir kalinya.
"Tapi, ibu akan kembali kan?"
Ia hanya menganggukkan kepalanya.
"Bu, tolong jaga Ali ..."
Ibu paruh baya itu, hanya menganggukkan kepalanya menahan sedihnya.
"Ibu .... ibu ...!" Tangis anak itu pecah begitu melihat ibunya pergi menuju sel tahanan. Neneknya, menahannya dengan penuh sedih.
"Sungguh, pemandangan yang sangat menyedihkan!" Ucap Aldo yang sesekali meneteskan air matanya. Semua orang terlihat sedih dengan kejadian tersebut.
Akhirnya Ali di rawat oleh neneknya. Sebelum Ali pulang ia ingin bertemu dengan para polisi disana.
"Terimakasih, Ali ingin seperti kakak semua menjadi polisi yang baik. Kakak ku selalu bilang jika kita hidup harus menjadi orang yang baik dan jujur. Sekarang kakak sudah bersama dengan ayah" Semua orang tersenyum bahagia mendengar ucapannya, ia pamit pulang. Semua orang hormat kepada Ali. Dan Ali sangat bahagia.
****
Setelah tugas semua selesai, semua orang pulang. Sedangkan Rey ikut ke rumah Farel untuk bermain futsal.
Rey, terlihat melamun di teras rumah Farel.
"Rey ...?" Ibu Farel menepuk pundaknya. Membuat Rey sedikit terkejut. Ia bersalaman.
"Ibu ...!"
"Duduk lagi ... ada apa kamu melamun?" Akhirnya mereka duduk dan Rey tampak menarik nafasnya yang panjang.
"Tidak ada apa-apa!"
__ADS_1
"Jangan bohong ... bicaralah ... ada apa? Kamu sudah menganggap ibu sebagai ibumu sendiri kan? Maka ceritakan apa yang membuatmu begitu resah"
Rey, sempat terdiam dan sedikit ragu.
"Hmm .. ini tentang Mama"
"Kenapa, apa mamamu sakit?"
"Bukan itu ... Mama baik-baik saja. Hanya dua hari lagi ulang tahunnya. Aku merasa belum pernah memberikan sebuah hadiah yang indah untuknya sejak kejadian itu. Aku menjadi sangat membencinya, setiap hari perasaan ini begitu terluka dengan semua keadaan ini. Di lain sisi aku sangat mencintai mama tapi di lain sisi ada rasa kecewa yang tidak pernah bisa aku lupakan!"
Tiba-tiba saja Farel, datang menyambung obrolannya.
"Kenapa loe jadi benci sama ibu loe? Allah saja maha pengampun apalagi kita hanya manusia biasa. Iya gak Bu?" Ibunya hanya tersenyum.
"Rey, kami sudah memaafkan semua kesalahan ibumu. Jauh sebelum itu ibu sudah sering bilang ke Farel untuk menjadi orang yang pemaaf, karena hidup dengan penuh dendam itu tidak baik. Meskipun itu sulit dan tidak mudah, tapi kami ikhlas inilah takdir. Apalagi kamu anaknya sendiri, ibumu jauh lebih sakit di banding kamu, karena ia telah menyimpan sebuah penyesalan seumur hidupnya. Percayalah, ibumu pasti selalu menangis setiap hari "
Rey, sering melihat ibunya diam-diam menangis. Sedangkan Rey sudah tidak perduli dengan dirinya. Rey, menyadari jika yang ia lakukan adalah salah. Seharusnya ia tidak menyakiti hati ibunya. Ia pasti sudah menyakiti hati ibunya selama ini, tapi ibunya selalu sabar, selalu menyiapkan makanan meskipun Rey tidak pernah makan bersama ibunya. Rey, terlihat sangat sedih, matanya berbinar-binar. Ia menahan air matanya.
"Ajaklah ibumu besok kemari kami mengundangnya untuk makan malam. Kita lupakan apa yang telah terjadi di masa lalu!" Farel mengiyakan ucapan ibunya.
"Ada apa Nak?" Ibunya terlihat heran.
"Biarkan Rey, memeluk mama lebih lama?"
Ibunya hanya terdiam heran, tapi ia juga bahagia. Karena untuk pertama kalinya Rey memeluknya setelah beberapa tahun hubungan mereka menjadi sangat dingin.
"Besok, Rey akan mengajak mama ke rumah Farel?" Tentu saja itu membuat ibunya terkejut.
"Kamu, tidak salah? Kamu pasti salah. Kamu bercanda kan?"
"Tidak, mama percaya sama Rey. Tadi mereka sendiri yang bilang mengundang mama untuk datang makan malam bersama. Mereka bilang kita lupakan semua yang sudah terjadi"
"Alhamdulillah kalau begitu ... harusnya mama membuat kue atau membeli sebuah hadiah. Mama tidak akan datang dengan tangan kosong ...!"
__ADS_1
"Siap bos ... anakmu ini akan membantu ratu untuk memilihkan hadiah terbaik untuk mereka!" Ibunya hanya tersenyum haru, air matanya mengalir.
"Mama jangan menangis ...!" Rey, mengusap air matanya.
"Mama menangis bahagia, serasa mimpi ... tapi ini kenyataan yang indah. Sampai kata-kata pun sudah habis"
"Pokoknya, mulai hari ini Rey janji akan membahagiakan mama selama hidup Rey. Rey, minta maaf atas semua kesalahan Rey selama ini, mama mau kan anak durhaka seperti Rey?"
"Kamu, bukan anak yang durhaka. Kamu pantas marah dan benci sama mama karena memang mama yang salah selama ini. Egois, hanya memikirkan diri sendiri, padahal setiap hari menangisi penyesalan dan penyesalan seumur hidup mama. Mama bahkan tidak pernah bercermin selama kejadian itu, karena mama juga terlalu malu melihat kelakuan mama yang begitu hina ini!" Ibunya, menangis tersedu-sedu. Rey, memeluknya.
"Yang penting, sekarang mereka sudah memaafkan mama. Kita mulai lagi dari awal." Ibunya hanya menganggukkan kepalanya.
****
Keesokan harinya. Di kantor Rey nampak lebih cerah dan bersemangat.
"Kenapa tuh orang, terlihat sangat cerah. Senyum sumringah ...!" Aldo berbicara dengan Dika.
Nilam, menghampiri Rey yang sedang mengerjakan sebuah laporan.
Rey, menarik tangan Nilam dan menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu, malam ini keluarga Farel mengajak mamaku untuk makan malam bersama!"
"Wah ... Alhamdulillah kalau begitu, aku senang sekali mendengarnya"
"Iya, ... aku tidak pernah sebahagia ini!" Rey, memegang erat tangan Nilam.
Rey, memandang wajah Nilam yang begitu manis.
'Andai kamu tau, bagaimana aku selalu ingin bersamamu, menggenggam tanganmu dan melihat wajahmu '
"Hey ... kenapa melamun!" Nilam, mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Oh, maaf ... Aku terlalu bahagia ...!" Rey, melanjutkan laporannya.
"Aku ikut bahagia, semoga saja semuanya kembali seperti dulu!" Rey, menganggukkan kepalanya.