
Tim telah dibentuk. Tim A bertugas mengecek semua rekaman cctv di area yang telah di lalui korban, lalu Tim B bagian lapangan bertugas untuk mencari tahu apakah ada saksi. Tim A terdiri dari Nilam, Rey, Raya, dan pak Ucok. Mereka mengecek cctv di area jalan. Setelah menemukan beberapa informasi, jika korban memang akan pergi untuk menjemput anaknya, namun entah apa yang membuatnya akhirnya untuk kembali berputar arah.
"Arahnya ke selatan? Apa yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk berputar arah, sebegitu pentingkah!" Ucap Rey, sembari duduk berpikir.
'Dia, terlihat sangat tampan jika sedang berpikir seperti itu! Wajahnya sangat serius, tatapannya yang tajam membuat siapapun tertarik' Gumam Nilam dalam hati.
"Baiklah, mari kita cek cctv berikutnya. Kemanakah ia pergi" Tambah Ucok.
Mereka kemudian, mengecek semua rekaman cctv berikutnya, mengarah ke sebuah komplek perumahan. Mereka turun dari mobil, dan menanyakan perihal mobil yang masuk ke dalam perumahan tersebut. Ada informan yang memberikan informasi penting, jika ada seorang wanita yang sedang hamil memasuki sebuah rumah di blok C karena wanita tersebut sempat turun untuk menanyakan alamat.
Lalu, ia pergi ke blok C namun tidak terlihat kembali pulang. Mereka melanjutkan pencarian, memasuki blok C. Mereka menuju rumah yang disebutkan informan tersebut.
Mereka mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum ..." Nilam, mengucapkan salam.
Terdengar suara langkah kaki, lalu seseorang membukakan pintu.
"Waalaikumsalam ... Iya sebentar." Seorang gadis muda yang nampak terkejut. Usianya sekitar dua puluh tahun.
"Maaf, ada apa ya. Kenapa tiba-tiba ada polisi?" Dengan wajah yang sedikit takut dan cemas.
"Maaf, kami tidak bermaksud untuk mengganggu, kami boleh menanyakan beberapa hal saja. Bolehkah kami untuk masuk?" Ucok menjelaskan.
"Ah ... Iya boleh .. Silahkan masuk. Mari ...!" Dia menjawab dengan sedikit gugup. Mereka semua duduk.
"Mohon maaf, ada perlu apa bapak dan ibu datang ke rumah ini, apakah ada tindakan kriminal?"
"Begini, apakah anda pernah melihat wanita ini?" Ucok, menunjukkan foto korban.
Gadis itu, terdiam dan menjawab dengan sedikit ragu.
"Maaf ... Saya tidak pernah melihat wanita ini"
"Tapi apa boleh kami periksa, karena kami memiliki ijin untuk menggeledah rumah ini, karena di curigai telah menyembunyikan korban. Tentu saja jika anda tidak bersalah, anda tidak perlu takut. Kami tidak akan melakukan kesalahan."
"Hmm ... Baiklah, silahkan geledah rumah ini" Dengan wajah yang menyakinkan.
Lalu, mereka menggeledah rumah itu namun mereka tidak menemukan apapun. Lalu, mereka ijin permisi untuk pulang dan meminta maaf atas kesalah pahaman.
"Aku yakin pasti ada sesuatu di rumah itu, namun aku tidak bisa melihat apa telah terjadi" Ucap Nilam pelan.
Mereka pulang, tapi mereka juga merasakan ada sesuatu. Mereka istirahat di tempat makan.
"Menurut prosedur yang berlaku, jika ada rumah yang memang di curigai, sebaiknya di awasi. Karena, Raya sedang tidak sehat, saya akan mengantarkan pulang. Nah ... Kalian berdua saya tugaskan untuk mengawasi rumah itu."
Nilam sempat terkejut dan menatap ke arah Rey. Rey, hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mobil saya tinggal untuk kepentingan kalian berdua, saya akan naik taksi. Nanti jika ada apa-apa tolong berikan kabar. Kalian mengerti?"
"Siap ... Mengerti ...!" Jawab mereka serempak.
"Baiklah, kami pulang kalian berhati-hati!" Ucok menepuk pundak mereka.
Ucok terlihat bercakap sedikit dengan Rey, sementara Raya mengobrol dengan Nilam .
Raya, membisikan kata-kata kepada Nilam.
"Pasti romantis bertugas dengan pria yang kamu sukai?"
Nilam hanya tersenyum, dengan wajah yang memerah.
"Apaan sih!" Nilam terlihat malu.
"Tapi, sebenarnya kamu suka sama Rey apa Kak Angga?"
Nilam terlihat terdiam.
"Sudahlah Kamu juga seneng kan kalau dekat dengan Rey?" Raya tampak menggoda.
"Pilihan yang sulit memang, harus memilih dua orang yang nyaris sempurna!" Raya terlihat sambil tersenyum.
"Sudah, kamu jangan terus menggodaku dengan pernyataan yang sulit untuk aku jawab!"
Raya, tertawa kecil.
"Raya cepat, ini taksinya sudah menunggu!"
"Baik ayah ...!"
Raya, berbicara pelan saat melewati Rey.
"Dah ... ! Baik-baik ya dengan pujaan hati!" Kata-kata tersebut ia lontarkan kepada Rey. Rey, hanya tersenyum manis mendengar kata-kata Raya.
Semua orang sudah jika Rey memang menaruh hati terhadap Nilam, tatapan matanya dan seluruh perhatiannya hanya untuk Nilam.
Nilam, melambaikan tangannya.
Tinggal mereka berdua, sempat canggung. Karena memang Rey terlihat marah sejak kemarin kepadanya.
"Aku ...!" Mereka bicara bersamaan.
"Kamu duluan ...!" Ucap Nilam.
"Tidak ladies terlebih dahulu ... Silahkan...!"
Nilam sempat terdiam.
__ADS_1
"Apa ... Kamu marah?"
"Marah kenapa?" Rey, sejenak diam.
'Bagaimana aku bisa marah, jika sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal itu. Andai saja kamu tahu, jika aku marah justru membuatku semakin terluka harus bersikap dingin, tapi aku tidak bisa menahan rasa cemburu.'
"Kok kamu bengong ... Jadi benar kamu marah?"
"Enggak ... Sorry aku kurang konsentrasi. Bagaimana jika kembali ke tempat tadi untuk mengawasi rumah itu?"
Rey, mengalihkan pembicaraan tersebut dengan mengajak Nilam kembali ke tempat tadi. Nilam, hanya menganggukkan kepalanya dan mereka berjalan menuju mobil. Rey, membukakan pintu untuknya.
Nilam, masuk. Rey memegangi dadanya.
"Kenapa jadi gugup seperti ini! Bagaimana bisa perasaan ini semakin besar setiap harinya, meskipun ada saja hal yang membuatku terluka" Iya, mengusap dadanya dan berdebar kencang.
Rey, kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka sempat bertatapan mata, namun akhirnya teralihkan mendengar suara tukang parkir, yang mengetuk jendela.
"Ayo ... Pak kalau mau keluar ...!"
"Oh ya ...!" Rey, memarkirkan mobil dan kembali ke arah komplek perumahan tadi. Selama, perjalanan mereka saling diam. Ini pertama kalinya mereka berada di mobil berdua. Yang membuat mereka sangat canggung.
'Ya Allah, apa yang harus aku katakan. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tiba-tiba saja mulutku rasanya terkunci!' Gumam Rey dalam hati.
Tiba-tiba suara telepon berdering dari tas Nilam. Ia, mengambil handphone itu.
"Siapa ...?" Rey mulai bertanya.
"Angga ..."
Rey, terlihat merenggut dan tidak sadar jika kecepatannya menjadi tinggi. Ia, terlihat sangat cemburu. Nilam, yang menyadari bahwa Rey kembali marah. Sengaja tidak mengangkat telepon.
"Kenapa tidak di angkat?"
"Kalau aku angkat, sepertinya kecepatan mobil ini akan terus bertambah!"
Rey, langsung terdiam dan tersadar jika Nilam sampai berpegangan erat. Ia sadar jika hampir membuat mereka celaka.
"Astaghfirullah ...!" Ucap Rey, dengan meminggirkan mobilnya.
"Aku minta maaf. Aku hampir membuatmu celaka!" Rey, memegang tangan Nilam, ia tampak sangat bersalah.
Nilam, justru gugup karena tangannya di pegang oleh Rey. Ini pertama kalinya Rey memegangi tangannya. Sehingga ia tidak bisa berkata-kata lagi.
Tangannya lembut dan hangat. Itulah yang Nilam rasakan, ia tidak bisa memilih harus Rey atau Angga, karena mereka berdua sudah ada di hatinya dan sulit untuk menentukan siapa yang harus ia pilih.
Tidak lama, telepon itu berdering lagi namun ke handphone Rey. Mereka berdua saling bertatapan.
"Maaf ... !" Rey mengucapkan maaf karena telah memegang tangannya.
__ADS_1
"Kalau tidak di angkat Angga pasti akan marah kepadamu?"
Rey, terlihat diam. Ia bingung haruskah ia mengangkat telepon dari Angga.