Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Ingatan tentang masa lalu


__ADS_3

"Pagi ...!" Nilam, tersenyum manis. Namun, Angga tidak membalas senyuman. Angga, mengantarkan mereka ke sekolah. Ia, tidak mengucapkan apa-apa.


"Sebenarnya, Kakak marah kenapa ya?" Dika bertanya kepada Aldo.


"Entahlah ...!" Aldo, mengangkat kedua bahunya.


Mereka masuk ke dalam kelas. Rey, terlihat sangat sibuk dengan buku-bukunya.


Nilam, menghapus papan tulis. Rey, sejak tadi memperhatikan Nilam yang sedang menghapus papan tulis. Melihat, papan tulis sepertinya akan roboh karena pakunya sudah harus di ganti dan terlihat sudah berkarat. Tiba-tiba saja, papan tulis jatuh Rey dengan cepat Rey berlari menolong Nilam yang akan tertimpa oleh papan tulis.


Mata mereka saling bertatapan, sedangkan tangan kanannya Rey, menahan papan tulis. Semua orang yang baru masuk menolong mengangkat papan tulis.


'Kenapa, hatiku berdetak kencang...!' Gumam, Rey dalam hati. Wajah Nilam yang memerah. Tiba-tiba saja Farel masuk. Dan melihat kejadian itu, ia meledeki mereka berdua.


"Itu, sebabnya Rey tidak pernah menyukai seorang gadis!" Ucap Farel. Rey yang mendengarnya emosi dan menghampiri Farel CS, tatapan mereka berdua sangat tajam dan penuh amarah. Rey, sudah mengepalkan tangannya. Namun tiba-tiba Guru olahraga memasuki ruang kelas. Pak Agus adalah Guru olahraga, yang selalu mendukung para murid dalam ekstrakurikuler. Terutama Rey yang pintar dalam bidang pendidikan, sedangkan Farel selalu unggul dalam bidang ekstrakurikuler.


"Selamat pagi anak-anak?"


"Pagi Pak ...!" Serentak semua murid.


"Sekolah kita akan mengikuti turnamen basket dengan sekolah lain, Bapak harap kalian mengikuti program ini, terutama Farel masih sebagai Kapten tim basket, tolong kamu dan Rey atur semuanya, Bapak harap kalian semua bisa bekerja sama!"


"Baik, Pak!" Ucap Farel dengan antusias.


'Lihat saja, pembalasan dendam untuk si Raffi!' Gumamnya dalam hati, dengan menatap penuh rencana terhadap Raffi.


'Sepertinya, Farel memiliki banyak rencana jahat untukku!' Nilam sudah mengetahui akal bulus Farel.


"Ayo, semua pria setelah jam kedua, memasuki ruang ganti. Kita akan berlatih basket, tolong kerjasama!" Farel mulai menunjukkan wibawanya, sebagai kapten.


"Ayo, semua pria akan di seleksi, jika lolos akan memasuki tim basket, oke!" Semua orang mengangguk tanda setuju.


"Dika, gimana? Masa aku harus ganti baju di ruang pria!" Ia berbicara kecil dengan berbisik.


"Iya, justru itu, keadaan semakin rumit!" Dika dan Aldo menghela nafas panjang.


Farel yang melihat wajah Raffi yang terlihat panik, ia mendekati, dan menarik lengannya.


"Loe, gak bisa nolak. Ngerti ...! Cepat ganti baju, kalau gak loe tau akibatnya!" Farel, tersenyum licik. Nilam hanya tersenyum pasrah.


*****


Angga, melamun di dalam ruangannya, dengan memegang sebuah pulpen di tangannya. Ia, membayangkan wajah cantik Nilam yang sedang tersenyum manis.


'Mengapa hatiku berdetak kencang saat memikirkan dirimu, tapi aku tidak sanggup untuk mengatakan perasaan ini!'


Ucok, mengetuk pintu. Angga tidak merespon sedikitpun, ia sedang melamun sambil tersenyum sendiri. Ucok terpaksa harus masuk untuk memberikan sebuah laporan baru.


"Pak ...!" Ucok, mengibaskan tangannya ke arah wajah Angga. Namun, Angga hanya terdiam. Ucok hanya tersenyum bingung, lalu ia mencolek tangan Angga.


Angga terkejut dan ia langsung duduk tegak. Dan menarik nafas dalam-dalam.


"Benar-benar mengagetkan! Sejak kapan kamu disini?"


"Saya, dari tadi. Sudah mengetuk pintu, namun Bapak tidak merespon sama sekali! Jadi, Saya terpaksa harus masuk, karena ada laporan yang sangat serius! Bapak sedang melamun sambil tersenyum sendiri! Bapak, sedang jatuh cinta ya?"


"Udah gak usah dibahas! Gak penting! Kasus apa?"


"Ditemukan sebuah mayat di dekat taman kota pusat, bisa kita langsung saja ke lokasi!" Angga segera bergegas, memakai jas dan segera keluar ruangan. Ia, segera memerintahkan beberapa bawahannya untuk segera menyelidiki kasus baru tersebut.


Angga dan Ucok segera berjalan menuju lokasi kejadian. Setelah sampai, beberapa polisi sudah memeriksa keadaan. Bahkan, sudah ada beberapa bukti. Angga menghampiri mayat tersebut.

__ADS_1


"Lapor, Pak ..! Ada beberapa barang bukti belum ditemukan, sepertinya wajah korban sengaja di rusak agar tidak mudah dikenali. Jenis kelamin perempuan, kami belum bisa menyimpulkan penyebab kematian utama korban. Sebaiknya, kita menunggu hasil otopsi jenazah korban!"


"Baiklah... sebaiknya! Cepat bawa ke ahli forensik, segera berikan hasilnya!"


"Baik, Pak ...!"


Angga, melihat beberapa luka bakar pada wajah korban, sepertinya pelaku sangat dendam terhadap korban, hingga begitu sadis membunuh korban.


"Apa, ini masih ada hubungannya dengan pembunuhan berantai para wanita, tapi bagaimana mungkin pelakunya sama, terlihat dari cara pembunuhan tidak sama dengan pembunuhan sebelumnya, bisa dipastikan pelaku berbeda dengan pelaku sebelumnya?"


"Iya, sebaiknya kita menunggu hasil otopsi jenazah korban, setelah itu baru kita akan mengetahui identitas korban!"


Angga mengangguk.


*****


Farel, mengajak Raffi untuk ganti baju.


"Ganti nih!" Ia melemparkan baju tersebut ke wajah Raffi.


"Ganti disini!" Nilam bertanya dengan bergetar. Semua orang melihatnya dengan terdiam. Aldo dan Dika, bingung harus berbuat apa.


"Pakai tanya lagi! Ayo, ganti! Nih, gue aja ganti baju disini!" Farel membuka baju dan ia mengganti bajunya, badannya sangat bagus, karena ia seorang kapten basket, wajahnya juga sangat tampan, namun sayang ia tidak pernah menyadari itu semua. Nilam yang melihat Farel membuka baju, ia segera menutup mata.


Semua orang sudah mengganti bajunya, hanya Nilam yang belum.


"Ah lama ... sini gue bukain bajunya!" Farel mendekati Nilam. Nilam sangat bergetar.


"Gak usah, aku bisa sendiri! Kalian duluan saja!"


"Hey ... Tenang disini semua cowok normal, gak ada yang suka sama cowok lagi. Ya, kecuali Rey mungkin!" Rey, menarik kerah baju Farel. Dan segera memukul wajah Farel.


Tentu saja itu membuat Farel emosi, dan segera melakukan perlawanan. Saat, mereka berdua bertengkar, Pak Agus datang dan berusaha untuk melerainya.


"Jangan, Pak! Kami minta maaf!" Ucap Farel yang memelas, bibirnya sedikit berdarah oleh pukulan Rey. Dan Rey terluka di bagian hidungnya yang sedikit memerah.


"Sudah, ayo cepat berkumpul ...! Saya, tegaskan sekali lagi, hal seperti ini tidak boleh terulang kembali, mengerti!" Semua orang mengangguk.


Nilam masih terdiam membisu, ia masih memegang baju tersebut.


""Cepat ganti baju loe ...! Kalau dalam Lima menit gak keluar, tamatlah riwayat hidup loe!" Farel, menepuk pipi Nilam.


Nilam, menarik nafas panjang. Untung semua pria sudah berganti pakaian, hanya ia yang belum mengganti pakaian, ia segera menganti pakaian, segera berlari ke arah lapangan basket.


"Hey ... loe telat satu menit! Lari muterin lapangan basket sepuluh kali!"


"Cuma satu menit ...!" Nilam merasa sangat emosi.


"Gue, gak mau tahu ...! Gue, kapten tim ini, jadi gak ada yang boleh nolak! Cepetan dong ...!" Farel, mendorong tubuh Raffi untuk segera berlari mengelilingi lapangan basket.


Dika dan Aldo merasa bersalah.


"Kalau Kak Angga tahu, tamatlah riwayat hidup kita berdua!" Ucap Aldo.


"Lihat nih, pegang bola basket itu yang bener gimana! Harus fokus, ngerti gak?"


Nilam hanya tersenyum, ia tidak mengerti. Karena baru pertama kalinya ia memegang sebuah bola basket. Entah, mengapa tiba-tiba Nilam seperti mengingat sesuatu. Terlihat samar-samar di bayangannya sendiri ia melihat masa lalu, ia sedang berada di sebuah taman yang indah dan luas, seseorang membawa sebuah bola dan mengajaknya bermain bersama. Seketika sosok pria tersebut sangat samar dan menghilang, dari bayangan masa lalunya.


"Hey, malah melamun!" Bola, basket tersebut ia lemparkan tepat ke wajah Nilam yang sejak tadi melamun. Wajahnya memerah, itu membuat semua orang terkejut. Dan menatap ke arah Nilam dan Farel.


"Hey, bisa gak! Gak usah kasar ...! Gak usah kasar loe, sama cew ...!" Aldo langsung, menyenggol lengan Dika, memberikan sebuah kode agar tidak membocorkan rahasia mereka.

__ADS_1


"Cew ... Cewek maksudnya!" Ucap Farel.


"Bukan, maksudnya! Loe tahu kan, Raffi itu lemah kaya cewek gak kaya loe, kuat ...!" Ucap Aldo.


"Iya, emang sih, gue pikir juga sih, dia kaya cewek, lemah, gak bisa kuat seperti lelaki sejati!" Nilam yang mendengarnya emosi.


"Aku, bisa ... jangan ngomong sembarangan ...!" Ia, melemparkan bola basket tersebut tepat ke arah kepalanya, hingga membuat Farel terjatuh.


"Hmmm ... baiklah kalau loe maunya gitu!"


Mereka bertatapan serius, kali ini Nilam berusaha untuk mengerti permainan ini. Rey, yang sejak tadi mengamati mereka berdua. Tersenyum manis.


Ternyata, Farel sengaja membuat Nilam kesulitan untuk mengerti permainan ini. Ia, sengaja membuat Nilam sampai mimisan dengan melempar bola tepat ke arah hidupnya dengan kencang. Rey, yang sejak tadi terduduk, ia segera berlari menghampiri Nilam. Dan segera mengusap darah yang mengalir dari hidungnya, dengan sapu tangannya. Ia, mengusapnya dengan penuh Kelembutan. Aldo dan Dika, emosi melihat kejadian tersebut. Farel hanya terdiam menganggap bahwa itu adalah hal biasa.


Rey, tidak berbicara sepatah katapun. Ia hanya terus mengusap darah yang mengalir, dan ia berlari ke halaman belakang.


"Panik amat sih! Aneh banget ya!" Ujar Dika.


"Iya, perhatian banget padahal ia tidak tahu kalau Nilam adalah cewek!"


"Jangan-jangan dia penyuka sesama jenis...!"


"Sttt ... jangan ngomong sembarangan, wajarlah kita semua kan berteman! Dia cuma khawatir hanya sebagai teman!" Timpal Aldo.


Rey, kembali dengan membawa sebuah daun. Yang bisa memberhentikan mimisan. Ia begitu telaten dalam merawat Nilam. Farel yang melihatnya merasa heran jika Rey begitu perhatian terhadap Raffi.


"Bos ... mungkin ya, bener kata orang dia itu penyuka sesama jenis! Buktinya, sekarang gimana? Udah jelas kan!"


Farel mengamati mereka, dan mencoba berpikir sejenak mungkin saja benar kata orang. Rey, menghampiri Farel dengan penuh emosi dan tatapan mata yang tajam.


"Loe, gak usah ganggu Raffi ...!" Ia mendorong tubuh Farel dengan penuh amarah.


"Oh, ... slow aja!" Dengan wajah yang datar dan merasa tidak peduli.


Hari itu pertama kalinya Rey berbicara. Suaranya sangat indah, setelah sekian lama ia tidak pernah berbicara. Demi membela Raffi. Ia datang dan duduk di sebelah Nilam dan berbicara dengan wajah yang datar.


"Jangan salah paham ... Aku hanya tidak bisa melihat orang lain tertindas! Mulai sekarang, akulah yang akan membantumu untuk latihan!"


'Kenapa hatiku merasa senang dengan perkataan Rey!'


Aldo dan Dika, hanya tersenyum bingung. Mereka berdua berpikir keras, apakah benar Rey tidak menyukai perempuan, hingga ia begitu perhatian terhadap Nilam yang menyamar menjadi Raffi.


Jam pulang berbunyi. Angga sudah menunggu di depan gerbang sekolah.


"Kalian pulang naik angkot! Kakak ada perlu dengan Nilam!"


"Naik angkot ...! Gak ada pilihan lain selain itu?"


"Ada ...?"


"Nah, gitu dong! Naik taksi ya kak?" Wajah mereka berdua langsung ceria.


"Bukan ..?"


"Terus apa?" Tanya mereka heran.


"Jalan kaki ...! Terserah kalian, mau naik angkot atau jalan kaki, silahkan ...!" Angga, memberikan mereka uang. Hanya sepuluh ribu dan membuat mereka musam.


"Ya Allah kenapa, Kakak kami ini sangat pelit!" Angga tidak memperdulikan mereka berdua. Angga langsung membawa Nilam naik mobil.


"Kamu, mau bawa aku kemana?" Tanyanya bingung.

__ADS_1


Angga hanya terdiam membisu, ia tidak merespon pertanyaan Nilam.


Kira-kira kemanakah Angga membawa Nilam?.


__ADS_2