
Angga terlihat sangat sibuk.
Ada beberapa wartawan yang mewawancarai seorang satpam sekolah.
"Pak apakah benar, jika kepala sekolah telah melakukan pesugihan, tolong berikan penjelasannya?"
"Maaf saya tidak tahu, karena kepala sekolah sangat baik, jadi tidak ada kecurigaan sama sekali!"
Suasana disana sangat ramai, bahkan warga ikut berdatangan.
Mereka beristirahat di kantin sekolah yang sangat ramai. Terpaksa mereka harus makan di halaman. Disana ada Rey yang sedang terduduk sendirian, saat mereka akan menghampiri Rey, beralasan untuk pergi ke toilet.
'Kenapa Rey terus menghindari, aku merasa ada sesuatu' Gumamnya dalam hati.
Rey, pindah ke sisi taman. Kebetulan ia meminjam gitar temannya, ia menyanyikan lagu kesukaannya.
Dengan judul jangan pernah berubah. Suaranya sangat merdu. Sehingga membuat, wartawan yang tertarik pada Angga, menghampirinya. Ia bernama Ira.
"Wow ... suaranya bagus banget ...!" Sontak membuat Rey terkejut dengan kedatangan wartawan itu.
"Hey ... gue Ira. Gue adalah wartawan yang di tugaskan untuk mewawancarai kasus ini!" Ia memberikan tangannya, namun Rey tidak menggubrisnya. Gadis itu hanya tersenyum saat jabatan tangannya tidak di balas.
"Oh oke ..." Ira, kembali meletakkan tangannya. Dengan tersenyum. Tidak lama temannya memanggilnya untuk sesi wawancara dengan Angga.
'Hatiku berdegup kencang, oke atur nafas panjang. Ira loe pasti bisa' Ira mendekati Angga yang sedang berdiri sembari memperhatikan kegiatan dalam olah TKP.
"Pak ... maaf. Apakah bisa saya mewawancarai bapak?" Angga, terlihat sangat dingin. Ia menatap ke arah Ira.
"Maaf ... sepertinya, saya tidak bisa di wawancara untuk saat ini, karena kamu bisa melihat sendiri. Pekerjaan saya saja belum selesai" Angga, berjalan pergi. Ira tidak menyerah ia memaksa Angga.
"Pak ... tolong, waktunya hanya sepuluh menit, karena jika tidak... saya akan di hukum, karena saya baru saja bekerja. Demi nenek saya, tolong hanya sepuluh menit " Ia, menghalangi jalan Angga. Angga merasa terenyuh dengan perkataannya.
"Baiklah, hanya sepuluh menit " Ira begitu sangat bahagia. Ia, memulai wawancara nya, sebelum habis pertanyaan terakhir. Ira merasa sangat lapar, sampai Angga mendengar suara perutnya. Gadis itu terlihat malu.
Angga, menyuruh temannya untuk membelikan semua makanan kepada para karyawan. Lalu ia pergi. Gadis itu sangat berterimakasih atas kebaikan Angga.
"Ya Allah, idaman sekali ... udah ganteng, baik hati walaupun ia terlihat sangat dingin "
__ADS_1
Rey, terlihat sangat gundah dengan perasaannya sendiri. Ia menatap ke arah langit yang terlihat mendung, semendung hatinya.
Nilam, menghampiri.
"Aku tahu, kamu sedang menghindari diriku?"
Rey, tidak berbicara sepatah katapun. Ia, hanya terdiam membisu.
'Andai saja kamu tahu bagaimana perasaan ini. Aku merasa semua ini hanyalah sebuah ilusi yang menyakitkan. Bahkan aku tidak tahu mana yang nyata dan tidak. Rasanya sulit dimengerti ' Rey, berbicara dengan dirinya sendiri.
"Aku tahu, kamu terus menghindari. Apa aku punya salah? Jika ia aku minta maaf?" Nilam, menatap ke arah Rey. Wajahnya memelas. Rey, hanya terpaku memandang wajahnya.
'Rasanya tatapan hangat ini pernah ku rasakan sebelumnya. Rasanya aku ingin memegang wajahnya'
"Hey ... Kenapa terus menatapku?" Rey, menjadi tersipu malu.
"Sorry ... !" Rey, tertunduk malu.
"Oh, jadi pria itu sudah punya kekasih? Hmm ... pantas saja ia bersikap dingin " Ira memperhatikan dari kejauhan.
"Bagaimana, agar kamu mau memaafkan aku?" Nilam, terlihat sedih jika Rey menjauhi dirinya.
Rey, sedikit menghela nafas panjang.
"Kamu tidak salah. Mungkin, aku hanya ingin sendiri dulu. Ada banyak hal yang aku rasa salah dalam diriku" Rey, berjalan pergi. Ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, ia benar-benar butuh waktu untuk mencoba melihat gadis yang ia sukai berada dengan pria lain. Nilam, hanya terdiam. Ia sedih apa yang sebenarnya terjadi sehingga Rey menghindarinya.
****
Keesokan harinya.
Sukma, berpamitan untuk pindah sekolah ke luar kota.
"Terimakasih banyak untuk semuanya, meskipun kedekatan kita hanya beberapa waktu tapi aku tidak pernah akan melupakan kalian semua. Perjuangan kita melawan monster kecil itu, dan kesempatan untuk bekerja sama. Aku baru merasakan persahabatan yang begitu tulus. Terimakasih banyak!" Sukma memeluk Raya dan Nilam.
Suasana menjadi haru. Meskipun ibunya harus berada di kursi roda lagi, tidak masalah baginya.
"Kenapa harus pergi?" Raya, bertanya sambil menangis.
__ADS_1
"Aku tidak bisa disini, karena kenangan bersama ayah pasti sangat menyakitkan hati. Jadi sebaiknya aku melupakan semuanya. Dan membuang semuanya. Ibu pasti tidak bisa hidup tenang karena mengingat semuanya. Nilam terimakasih, aku tahu sekarang kenapa kamu menyamar. Terimakasih teman-teman kalian sangat baik." Semua orang hanya terdiam, mereka sangat sedih jika Sukma harus pergi.
"Pak Angga terimakasih banyak atas bantuannya. Tanpa bapak, entah bagaimana dan kalian adalah teman terbaik bagi putri saya. Terimakasih banyak atas semuanya"
"Sama-sama, sudah menjadi tugas dan kewajiban kami sebagai aparat kepolisian, kami sudah siapkan. Tempat tinggal untuk kalian" Akhirnya Sukma menaiki mobil. Ia melambaikan tangannya, teman-temannya terlihat sangat sedih.
Mereka membayangkan, kejadian saat mereka berjuang, ada tangis, canda dan air mata, bersama-sama melawan mahkluk yang mengerikan. Sehingga, membuat mereka semua sedih. Menjadi kenangan yang indah yang tidak pernah bisa mereka lupakan.
Rey, terlihat sangat diam. Bahkan setelah perpisahan ia tiba-tiba menghilang. Nilam, menggunakan telepati nya, ia mencari Rey.
Rey, terlihat sedang melamun di depan sungai dekat sekolah. Ia menggunakan kekuatannya agar segera sampai ke lokasi tujuan. Namun, disana sudah ada Inggar yang sedang duduk.
Rey, terlihat duduk bersebelahan dengan Inggar. Inggar, menyender di sebelah bahunya.
Melihat pemandangan itu, rasanya seperti tidak nyaman.
'Kenapa hatiku terasa aneh?' Gumamnya dalam hati. Badannya menjadi lemah. Nilam, kemudian membalikkan badannya dan pergi, dengan perasaan yang kecewa.
Sebenarnya, Rey yang menyuruh Inggar untuk melakukan hal itu. Karena ia tahu jika Nilam pasti mengejarnya, karena rasa penasaran.
"Sudah ... saya ucapkan terimakasih banyak!" Namun, Inggar tidak bergerak. Ia terlihat sangat nyenyak. Rey tidak menyadari jika Inggar sedang pingsan karena ia bertarung dengan iblis yang mengganggu mereka di sekolah. Ia mengalami luka parah di bagian dadanya.
****
Saat Angga kembali ke kantor. Ada seorang pria paruh baya memberikan sebuah laporan jika istrinya sedang hamil.
"Bagaimana kronologi kejadian?"
"Saya, bekerja di luar kota. sebulan sekali saya pulang. Dan mendapati rumah sudah kosong. Ternyata ada adik kandung istri saya, cepat berikan informasi" Gadis itu sekitar dua puluh tahun, berinisial PR.
"Iya pak, terakhir adalah pada hari Sabtu. Sebelum akhirnya ia pergi menghilang. Ia terakhir pamit akan bertemu dengan LL, namun sejak itu ia tidak pernah kembali?"
"Kejadian ini sudah berapa lama?"
"Seminggu pak".
"Seminggu kenapa baru lapor sekarang?"
__ADS_1
"Maaf pak. Karena saya dan dia mengenal, jadi tidak menaruh curiga"
Baiklah, sebaiknya kami akan memeriksa kediaman bapak.