Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Hati seseorang tidak ada tahu


__ADS_3

Angga segera memeriksa cctv, dan ia terkejut jika ada sesosok manusia berjubah hitam yang membawanya ke kursi.


Seketika ia mengingat semua kejadian tersebut. Ia segera berlari menuju mobilnya, ia segera menuju ke sekolah. Sementara Raya terbangun untuk buang air kecil. Setelah ia dari kamar mandi ia duduk, sambil memegangi ke arah tempat tidur Nilam.


"Kok empuk?" Dengan heran, ia segera membuka selimut itu. Ia terkejut ternyata Nilam tidak ada. Ia segera menelpon Farel yang kebetulan sedang menginap di rumah Aldo.


Farel merasa sangat percaya diri mendapatkan telepon dari Raya.


'Hemm ... pasti ia kangen sama gue!' Dengan pede nya ia langsung berbicara.


"Kenapa, kangen ya?" Raya hanya terdiam lalu ia menjawab.


"Hem ... bukan itu! Masalahnya ...!"


"Masalahnya, oh aku tahu kamu malu kan! Ayo kenapa harus malu! Kita kan ...!" Raya langsung memotong pembicaraannya.


"Ih ... kamu tuh, masalahnya Nilam hilang?" Farel terkejut dengan pernyataannya. Lalu dengan polosnya Farel menjawab.


"Ke kamar mandi kali ...?" merasa binguy


"Aku gak bodoh, aku sudah mengecek seluruh ruangan gak ada! Jangan-jangan... dia ke sekolah soalnya aku juga mulai ingat kejadian malam kemarin. Gini aja kita janjian di sekolah ...?"


"Sekarang ...?"


"Bukan ... tahun depan ... ya sekarang, pokoknya ajak Aldo dan Dika. Aku tunggu gak pakai lama ...!" Raya menutup teleponnya dan bergegas menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Ia melihat pesan dari Sukma yang berisi permintaan tolong. Ia segera memasukkan panah, dan juga beberapa senter. Ia yakin jika Sukma pasti berada di gedung sekolah. Raya, bergegas menghidupkan motornya dan pergi menuju ke sekolah.


Farel, membangunkan Aldo dan Dika, meskipun sedikit sulit. Farel, menghidupkan suara hantu yang sedang tertawa, hingga mereka terkejut dan ketakutan. Mereka terduduk dan saling bertatapan dengan wajah yang panik.


"Ah ... setan ... setan...!" Mereka bersamaan, dengan saling berpelukan. Akhirnya mereka bangun juga pikir Farel, meskipun harus mengerjai mereka berdua. Aldo dan Dika, menatap ke arah Farel yang terlihat puas dengan ketakutan mereka.


"Gak lucu sumpah ...!" Aldo dengan wajah yang judes.


"Loe kenapa sih ...? Hello ini tuh malam. ..!" Gumam Dika.


"Gue tau ini malam bukan subuh ... Gak usah banyak tanya, sekarang bangun kita akan ke sekolah?" Mata mereka berdua terbelalak.


"Ngapain sih ... loe gila ini sudah malam, gue males ...!" Jawab Dika. Diikuti oleh Aldo yang juga terlihat malas.


"Nilam hilang ... !" Mereka berdua terkejut.


"Kok bisa ... !" Saling bertatapan.

__ADS_1


"Udah pokoknya, nanti ceritanya. Sekarang kita ke sekolah, karena kalian bakal tahu apa yang terjadi!" Mereka bergegas menyiapkan barang-barang yang akan dibawa, termasuk alat pendeteksi hantu. Akhirnya mereka berangkat dengan di bonceng tiga, karena motor di rumah mereka sedang rusak terpaksa mereka memakai motor tua milik Aldo.


"Serius ini motor nyala ...?" Farel mulai ragu.


"Nyala ... loe tenang aja ... don't worry ...!" Dengan santainya Dika mencoba menghidupkan motornya. Pada awalnya memang menyala.


"Tuh kan apa gue bilang ...?" Farel hanya tersenyum. Namun, tiba-tiba saja mogok. Farel menatap sinis.


"Tuh kan ... kenapa harus motor butut sih ...! Gue takut kenapa-kenapa sama Raya dan Nilam! Kelamaan disini ..." Farel, memukul motor tersebut dengan emosi dan langsung menyala. Meskipun Aldo sedikit marah karena motornya di pukul oleh Farel, namun karena pukulan Farel motornya dapat hidup kembali.


Mereka bergegas, dengan berboncengan tiga. Meskipun terlihat rusuh karena tempat duduk menjadi sempit karena mereka bertiga.


Raya sudah lebih awal sampai, ia merasa terlalu lama menunggu kedatangan Aldo, Dika dan Farel. Dan ia memutuskan untuk masuk duluan. Ia turun dari motor dan mengambil senternya. Yang kebetulan sekolah tersebut sangat gelap gulita yang biasanya lampu selalu menyala meskipun malam hari.


Meskipun ia takut jika ada satpam sekolah yang akan mengusirnya. Semoga ini jadwal satpam malam pulang, ia kemudian mengecek jam tangannya yang menunjukkan jam sepuluh malam.


"Biasanya jam segini sudah pulang, sepertinya aku aman..!" Ia memasuki ruangan. Terlihat sangat asing saat di malam hari. Suasana yang begitu dingin, dengan hembusan angin yang membuat semakin dingin. Ia mendengar suara teriakan dari arah lantai dua.


'Ada apa? pasti sesuatu yang buruk telah terjadi' Pikirnya. Saat ia akan melangkah ada seseorang yang menepuk pundaknya. Saat ia membalikkan badannya, ternyata Aldo.


"Ish ... loe gak usah ngagetin gitu, hampir aja jantung gue copot ...!" Mereka hanya tersenyum.


"Gue, denger ada teriakan di lantai dua, gue yakin ada sesuatu yang terjadi. Ayo cepat ...!" Farel menarik tangannya.


"Ah ... bilang aja loe takut kan?" Aldo dengan nyeletuk. Farel memukul pundaknya.


"Loe ... bisa diem gak ... denger ya, gue gak takut, emang loe ..." Saat mereka berdebat, Dika sudah berjalan dengan Raya.


"Loe sih, jadi di tinggalin ..." Farel dan Aldo menyusul mereka. Mereka menuju lantai dua.


"Dingin banget ya suasananya ...?" Dika, merasa suasananya sangat dingin. Mereka hanya terdiam.


"Udah jangan banyak omong, kita ini di sekolah yang biasanya ramai kini menjadi sepi. Jadi wajar jika kita merasa suasananya tiba-tiba saja berubah ..!" Farel menegaskan. Mereka terus mencari sumber suara itu. Terdengar suara gaduh.


Sementara itu di tempat Nilam. Sepertinya makhluk itu sangat marah.


"Aku ingin darah dan jiwa anak itu?"


"Tolong jangan sakiti anakku?" Wanita itu menghampirinya Sukma yang terbaring di atas meja, ia terlihat sangat ingin menerkam mangsanya itu. Saat ia akan menyentuh tubuh Sukma, Nilam keluar dari persembunyiannya dan berteriak.


"Hentikan ...." Wanita itu membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Oh kita kedatangan banyak tamu .... sudah pasti kalian akan kembali ...!" Wanita itu, mengeluarkan tangannya dengan kukunya yang mulai memanjang.


Ia berjalan mendekati Nilam dan Rey.


"Kau ingin siapa yang selamat?"


"Maksudnya?"


Tiba-tiba saja, Aldo, Dika dan Raya berada di tempat yang sama dengan mereka. Mereka terkejut kenapa bisa tiba-tiba saja berada disana.


"Kalian ... aku sengaja tidak memberi tahu kalian. Tapi kenapa ...?"


"Nilam, kami tidak ingin kamu berjuang sendiri ...?"


"Sudah ... tidak usah penuh drama ... karena aku tidak pernah percaya dengan yang namanya sahabat. Dulu aku memiliki sahabat tapi semuanya pendusta ...!" Wanita itu, menginjak kakinya dengan keras hingga bergetar hebat. Dan menunjukkan ada beberapa orang yang terjebak di sebuah ruangan. Dan ruangan itu berpindah ke tempat mereka.


Mereka berteriak keras dan meminta tolong.


"Apa maksudmu dengan semua ini?"


Wanita itu memasang wajah yang penuh dendam, ia mendekati Nilam dan berkata.


"Semuanya harus mati ...! Karena mereka yang telah menghancurkan masa depanku" Ia mendekati orang-orang itu yang berjumlah sekitar enam orang. Empat perempuan dan dua laki-laki. Dan ternyata mereka adalah orang tua dari anak-anak yang hilang dulu.


Wanita itu menangis sedih. Lalu cerita kembali ke masa lalu, dua puluh tahun yang lalu.


Clara adalah gadis yang sangat pintar, ia bersekolah dan mendapatkan sebagai siswa terbaik. Ia mendapatkan beasiswa karena meskipun ia bukan keluarga yang mampu, namun ia sangat rajin hingga mendapatkan beasiswa. Saat ia masuk sekolah. Ia di bully oleh Genk kobra, para gadis kaya raya. Yang sering menjahilinya.


"Eh, loe tuh gak seharusnya berada disini. Disini ... cuma khusus untuk orang kaya ... nah loe cuma karena pinter aja bisa sekolah disini, harusnya loe tuh sekolah di hutan ...! Gak pantes orang miskin kaya loe, pasti orang tua loe juga kerja jadi pemulung ya" Mereka semua tertawa puas. Clara berdiri dan terlihat marah.


"Loe gak berhak untuk, ngehina orang tua gue ...! Lalu ia memukul wajahnya ...!" Akhirnya karena insiden tersebut, ia harus di panggil ke ruangan BK. Karena itu ia diberikan surat peringatan karena melakukan tindakan kekerasan. Dan untuk sementara ia di skors. Ia memiliki satu sahabat yang bernama Anita yang selalu menemaninya.


"Hey guys ... kita punya ide, si Clara kan pinter kita suruh dia ngerjain PR kita aja, dan bilang kalau kita mau maafin dia, iya gak ..?" Akhirnya mereka setuju dengan usul dari ketua geng itu yang bernama Dewi. Akhirnya Clara dapat kembali ke sekolah. Dan Clara pikir niat baik mereka tulus, Anita sempat curiga namun Anita ternyata diam-diam berpacaran dengan salah satu geng tersebut yang bernama Bowo. Clara merasa hidupnya sangat bahagia, akhirnya ia bisa memiliki banyak teman. Walaupun ia sering di suruh untuk mengerjakan PR, Anita merasa keberatan dengan itu, namun Clara menegaskan bahwa dirinya sangat bahagia meskipun harus setiap hari mengerjakan tugas mereka.


Anita memeluknya, waktu demi waktu, mereka semakin dekat. Hingga suatu hari mereka mengadakan sebuah pesta ulang tahun Dewi dan kekasihnya Tio. Pestanya sangat mewah, karena Clara di berikan minuman alkohol hingga membuatnya mabuk ada seseorang yang membawanya ke kamar. Sementara Anita terus mencarinya. Ia melihat setiap kamar, dan ia melihat kamar yang sedikit terbuka. Disana ada Clara yang sedang terbaring di kasur, dan ada beberapa pria, sepertinya ia akan melakukan pelecehan seksual terhadap Clara. Dan disana ada Dewi dan Tio.


Mereka sambil memfoto tubuh Clara yang setengah sadar, ia melambaikan tangan ke arah Anita yang hanya terdiam membisu, saat ia akan masuk untuk membantu Clara. Ia di tarik oleh Bowo.


"Tolong, jangan ikut campur... karena jika tidak mereka akan memperlakukan dirimu, aku gak mau kamu kenapa - kenapa, please udah biarin aja mereka.!" Anita memberontak sempat ia ingin memaksa, namun di tahan oleh Tio, Anita menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya yang tidak bisa menyelamatkan sahabatnya itu. Pintu kemudian tertutup, yang terakhir ia lihat Clara sedang menangis lemah. Kemudian pintu tertutup dan Anita sudah tidak bisa melihat apa yang kemudian terjadi.


Keesokan harinya, Clara masih masuk sekolah dan ia terlihat sangat marah. Kepada teman-temannya itu. Dewi mengancam akan membocorkan foto itu.

__ADS_1


"Ingat minggu depan akan ujian sekolah, gue mau loe ngelakuin hal ini buat gue ...!" Dewi membisikkan sesuatu kepada Clara. Clara menahan amarahnya mengingat orang tuanya. Ia hanya menyetujui permintaan mereka. Karena mereka mengancam jika Clara tidak memenuhi keinginan mereka, maka mereka akan menyebarkan foto syur miliknya tadi malam. Betapa hancurnya hati Clara, sementara Anita terlihat seolah-olah menghindari dirinya.


Ia merasa hidupnya sangat tidak bahagia. Ia sadar ia hanya di peralat oleh temannya itu.


__ADS_2