
Angga turun dari mobilnya.
"Angga ...?" Nilam menghampirinya.
"Kenapa, bukannya lagi ngobrol. Gue, gak mau ganggu"
"Kenapa sih, ini masih pagi. Mulai marah gak jelas, kamu marah karena aku nginep di rumah Raya?"
"Terserah .. loe mau selamanya juga gak apa-apa!" Nilam terlihat sangat sedih. Tiba-tiba saja melihat Angga marah-marah.
"Ya udah, gak apa-apa. Aku di rumah Raya aja, selamanya ....!". Dengan nada bercanda. Sedangkan, Angga terlihat marah.
"I don't care ..!" Angga, masuk ke dalam mobil. Ia, terlihat terdiam sejenak.
'Loe gak ngerti apa yang gue rasain. Bukan itu, tapi rasa cemburu.'
Ia, melajukan mobilnya.
'Kenapa rasanya sakit ... cinta itu menyakitkan dan sesuatu yang tidak pernah bisa aku hindari.'
Aldo, Dika Raya dan Rey hanya terdiam membisu.
"Perang dunia kedua kayanya ...?" Aldo, berbisik.
"Sttt ... berisik loe ..!" Timpal Raya, dan mereka segera memasuki kelas. Karena, Rey yang sudah pasti akan menenangkan Nilam. Mereka tidak ingin mengganggu kedekatan mereka berdua.
Rey, datang di hadapannya. Ia tersenyum manis.
"Ayo masuk ... sepertinya dia cemburu melihat kedekatan kita berdua." Nilam, tersenyum.
"Emang kalau pria cemburu seperti itu?"
"Kak Angga itu terlalu menyukai dirimu, sampai apapun yang ada di hadapannya itu membuatnya menjadi serba salah. Karena, aku juga merasakan hal yang sama."
"Kepada siapa?" Rey, menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Nilam.
"Kamu ingin tahu?" Nilam justru merasa gugup dengan kedekatan Rey. Ia, begitu dekat hingga membuat jantungnya tidak karuan.
Bell berbunyi nyaring. Nilam terlihat malu dengan tatapan Rey. Ia segera berlari menuju kelas.
Mereka kemudian masuk ke dalam kelas. Farel, sedang menunggu Raya.
Ternyata Farel sudah memberikan sebuah minuman di atas meja Raya. Ia, melihatnya dan ada tulisannya.
"Untuk Raya ..." Sedangkan Raya yang merasa tidak memesan minuman, ia malah berteriak memanggil siapa yang telah memberinya.
"Woy. .. siapa nih, gue perasaan gak pesen ini!"
"Berisik ... loe tuh pagi-pagi bikin kuping gue budeg ...!" Dika, mengusap kupingnya.
Farel berpura-pura tidak mengetahui. Ia datang, ia ingin meminum, minuman tersebut. Di tahan oleh Raya.
"Ini, punya gue ... gimana kalau ada racunnya?"
"Jadi, loe takut kalau gue yang kena racun ..?" Seketika wajahnya memerah.
"Apaan sih!" Raya langsung meminum minuman itu. Dengan perasaan malu.
Ia, langsung menghabiskan minuman tersebut.
"Loe, haus pagi-pagi. Udah maraton ...?" Aldo terheran-heran melihat Raya yang langsung meneguk minumannya tanpa sisa.
****
Angga, sedang meeting bersama tim-nya. Termasuk juga Maya. Moderator nya adalah Firman. Angga, terlihat melamun dan memutar pulpen.
__ADS_1
'Gue tuh terlalu cemburu, bodoh banget sih. Akhirnya begini, terlalu naif jadi orang. Hal sepele jadi besar, susah untuk mengendalikan diri sendiri. Terlalu sayang sampai nyakitin hati orang yang gue sayang demi keegoisan gue!' Ia terus merenungi dirinya sendiri. Maya yang melihatnya merasa jika Angga tidak fokus dengan meeting nya.
'Kenapa Angga terlihat gelisah, apa ia sedang memikirkan gadis lain. Tapi siapa? Aku harus mencari tahu siapa gadis yang selalu membuatnya gelisah' Maya menatap ke arah Angga.
Angga, harus melihat beberapa berkas yang telah beku selama beberapa tahun terakhir. Yang belum sempat terpecahkan. Ada kasus yang menarik, seorang gadis menghilang entah kemana.
"Tolong, kasus ini. Kita selidiki kembali?" Ucok menganggukkan kepalanya. Dan segera mengambil kembali berkas laporannya.
"Ini, beberapa orang yang mungkin terlibat dalam kasus tersebut." Tiba-tiba saja telepon berdering dan memberikan laporan jika ada mayat di dekat proyek pembangunan hotel yang telah di semen di atasnya. Mereka segera pergi menuju TKP. Disana sudah banyak orang, Angga segera memeriksa lokasi. Dan ada beberapa orang yang menggali lubang tersebut dan mengeluarkan mayat tersebut yang tinggal tulang berulang. Ada orang tua korban yang penasaran ingin melihat langsung kondisi putrinya tersebut.
"Benar ini baju terakhir yang putri kami kenakan." Ia nampak begitu tertekan, menerima kenyataan.
"Luka lama yang sudah terkubur dalam, hingga harus kembali ke permukaan. Dan memunculkan kenangan itu kembali, tapi apa boleh buat jika kenyataan pahit harus di rasakan." Angga, berbicara dengan Ucok, dan mereka menghampiri orang tua korban.
"Besok akan di lakukan tindakan lebih lanjut, seperti pemeriksaan fisik, hasil DNA serta hasil visum penyebab utama kematian putri ibu." Ucok, memberikan informasi. Mereka berdua hanya mengangguk.
"Dari siapa kalian tahu jika putri kalian disini?"
"Kebetulan suami saya bekerja di proyek ini, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang tidak biasa. Sampai saya bermimpi jika putri saya berada disini sedang bermain. Ia mengatakan, ibu harus selalu bahagia dengan ayah." Dan air matanya tidak dapat ia bendung lagi saat ia menceritakan semuanya. Suaminya menenangkan.
"Bersabarlah, siapapun tidak ingin kehilangan orang yang paling penting dalam hidup ini. Takdir memberikan jalan lain untuk kita." Angga, berusaha untuk mengerti.
Mobil ambulans datang dan membawa mayat tersebut.
****
Setelah pulang sekolah, Farel tengah berdiri di depan motornya. Dan mendekati Raya, ia segera memakaikan helm. Raya terdiam dan sedikit memberontak.
"Loe kenapa sih?"
"Loe, gak ingat bahwa hari ini gue mau tanding basket?"
"Terus apa urusannya dengan gue?"
"Loe, yang nyemangatin gue. Ini khusus untuk loe." Farel menarik tangannya dan segera mengajak Raya untuk naik. Ia menolak.
"Bukan itu?"
"Terus kenapa?" Farel menarik tangannya dan matanya bertatapan dengan dekat.
"Cepetan naik..!" Suaranya sangat lembut. Raya terpesona dan ia akhirnya naik.
"Woy, kenapa duluan?" Aldo berteriak.
"Nyusul aja ...!" Farel sambil berlalu pergi. Sukma melihatnya dari kejauhan dengan memasang wajah yang sedih.
'Kenapa loe tega nyakitin perasaan gue.' Gumamnya dalam hati.
Rey, juga kebetulan tidak membawa motor. Akhirnya mereka terpaksa harus menaiki angkot. Rey, duduk di dekat Nilam. Nilam, ketiduran di pundak Rey. Rey, sangat senang, ia mengusap kepalanya dengan lembut.
"Ekhm ... panas banget nih!" Aldo nyeletuk.
"Panaslah, emang ini taksi!" Supir angkot terlihat kesal, padahal Aldo sedang bercanda terhadap Rey.
"Loe sih?" Timpal Dika pelan.
"Gue, bercanda. Bukan begitu maksudnya, jadi si akang yang baper."
Dika hanya tertawa. Sedangkan Rey juga ketiduran di angkot. Aldo, memberikan sebuah kode terhadap Dika untuk menjahili mereka berdua.
Mereka berdua, membuat tangannya saling berpegangan. Dan mereka hanya tertawa puas. Nilam, terbangun dari tidurnya dan melihat tangannya sedang di pegang oleh Rey.
Nilam ingin melepaskan genggamannya, namun Rey tetap memeganginya. Rey terbangun dari tidurnya. Ia, begitu malu saat tangannya sedang berpegangan dengan Nilam, dengan di tatap oleh Aldo dan Dika. Dan mereka sudah memfotonya. Dan mengirimkan kepada Rey, karena mereka tahu jika Rey begitu menyukai Nilam.
"Maaf...?"
__ADS_1
"Gak apa-apa" Nilam nampak begitu malu. Kebetulan hanya mereka berempat di dalam angkot. Sementara itu Raya dan Farel sedang di jalan.
"Pegangan gue mau ngebut?"
"Pegangan?"
"Iya, loe pikir gue tukang ojek. Cepetan pegangan gue mau ngebut." Ia, segera mengebut untuk mengejar waktu. Ini pertama kalinya ia berada begitu dekat dengan Farel.
'Gue, seneng banget bisa sedekat ini dengan loe! Begitu hangat dan menyenangkan, entah berapa banyak kebahagiaan saat aku berada di dekatmu' Farel yang melihat dari spion motornya, sangat senang. Setelah sampai, Farel mengajaknya masuk dan menyuruhnya untuk menunggu di depan lapangan.
"Jangan kemana-mana, gue mau ganti baju dulu. Anak-anak pasti di jalan" Ia mengusap kepalanya.
Ada beberapa gadis yang melewatinya dan salah satunya tidak sengaja menginjak kaki Raya.
"Maaf, maaf ...?"
"Raya ... apa kabarmu?" Ternyata itu adalah salah satu temannya waktu SMP.
"Alhamdulillah baik ..."
"Syukurlah kalau begitu, loe kesini sendiri? Apa, sama pacar!" Raya terdiam sejenak.
"Oh iya gue lupa, loe pasti gak punya pacar. Loe kan trauma, saat cowok yang loe suka malah suka sama gue. Nanti cowok loe suka lagi sama gue."
Farel yang mendengarnya merasa sangat marah. Ia, segera datang.
"Sayang, kamu tunggu disini!" Raya, terlihat sangat kaget dengan perkataan Farel.
"Loe pacarnya? Gue gak percaya."
"Kenapa gue harus bohong?"
"Mana buktinya? Gue, gak percaya, cowok populer kaya loe pacar Raya."
Farel, memegangi tangan Raya. Raya terlihat gugup.
"Gue, gak percaya Raya itu .. " Tiba-tiba saja Farel mencium pipi Raya. Membuat semua orang terkejut.
"Sebaiknya kalian pergi, jangan ganggu pacarku lagi. Atau gue ...!"
"Oke, kita bakal pergi ..!" Mereka pergi menjauh dari hadapan Raya. Raya masih terlihat shock dengan kejadian tadi, rasanya seperti mimpi.
'Jantung gue, rasanya mau copot ...! Gue gak bisa bernafas'
"Raya ...?"
'Apa dia shock dengan kejadian tadi. Gue harap dia gak marah dengan kejadian barusan' Farel sudah di panggil oleh pelatih untuk segera memasuki lapangan basket.
Aldo, Dika, Nilam dan Rey datang mendekati Raya.
"Woy, bengong aja ..?"
"Gue gak sedang bermimpi kan?"
"Kenapa emang loe? Kesambet setan?" Dika mencubit pipinya.
"Aw sakit ...!"
"Loe, bilang ini mimpi bukan. Ini kenyataan bahwa loe ada disini."
"Raya, kamu baik-baik saja kan?"
"Gak apa-apa" Ia terlihat mengusap dengan senang pipinya yang tadi di cium oleh Farel. Farel, begitu bersemangat bertanding karena ia sesekali melirik ke arah Raya.
"Hebat Farel ... sempurna" Pelatih begitu semangat.
__ADS_1
"Ada yang aneh, kenapa Farel begitu bersemangat ... power nya bener-bener keluar." Dika, terlihat mengawasi Farel.
"Berisik loe, sok pengamat loe ...!" Aldo, menepuk pundaknya.