Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Dilema


__ADS_3

Nilam terbangun dari tidurnya. Raya, terkejut melihat Nilam terbangun dengan suara nafas tersengal-sengal.


"Kenapa? Mimpi buruk?" Raya, memegangi pundaknya.


"Aku juga tidak tahu. Aku rasa itu adalah masa lalu diriku sendiri, yang hingga kini belum dapat aku mengerti."


"Ya, sudah ayo ... hari ini hari minggu. ..!" Nilam terlihat terkejut.


'Hari minggu. Bukankah hari ini, aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Rey.' Nilam, melihat jam ternyata sudah jam sembilan pagi. Ia sudah telat dua jam, ia segera bergegas bersiap-siap dan memakai pakaian yang diberikan oleh Rey. Raya, terlihat terkejut dengan Nilam yang sangat cantik.


"Waw ... cantik banget sih! Semoga harimu menyenangkan." Nilam memeluk Raya.


"Terimakasih banyak, dengan semua ini. Tanpa kamu, aku bukan apa-apa."


"Ih, jangan gitu. Gue jadi sedih ... cepetan Rey pasti sudah menunggu kamu."


"Tapi, apa dia masih menungguku?"


"Yakin dia pasti akan terus menunggu, karena dia adalah pria yang setia. Hati-hati ya." Nilam segera keluar rumah.


Nilam, hanya dengan memutar tangannya. Lalu, ia menggunakan kekuatannya untuk teleportasi. Ia, telah sampai dan mencari-cari Rey, tidak ada dan ia duduk di bangku.


"Sepertinya, aku terlambat dan membuatnya menjadi kesal." Nilam, tertunduk menyesal karena ia telah datang terlambat. Tiba-tiba saja, ia melihat sepasang sepatu di hadapannya. Ia, menyodorkan minuman.


"Ini ...!" Rey, terlihat sangat tampan dengan kemeja biru dengan kaos putih di dalamnya, dengan celana jeans dan lengkap dengan sepatu berwarna hitam, dengan rambutnya yang terbelah dua.


Nilam, terpesona dengan ketampanannya. Ia, sangat manis saat tersenyum.


Nilam, mengambil minuman tersebut. Rey duduk di dekatnya dan juga meminum minuman tersebut.


"Aku, sudah lama menunggumu. Hingga haus, tapi aku yakin kamu pasti akan datang. Walaupun terlambat tadinya aku sedikit ragu untuk menunggu lagi. Tapi aku memutuskan untuk tetap menunggu meskipun pada akhirnya kamu tidak akan pernah datang." Rey, juga meneguk minumannya. Nilam, terlihat merasa sangat bersalah.


'Kenapa rasanya hatiku berdegup kencang saat berada di dekat Rey' Gumamnya dalam hati. Nilam, merasa pernah melewati masa seperti ini. Lalu, ia kembali ke masa lalunya.


"Kamu harus ingat, meskipun kamu selalu datang terlambat. Aku selalu menantimu dengan setia. Kapan kamu akan disiplin?" Pria, itu terlihat sangat serius.


"Kapan aku tidak disiplin hanya telat beberapa menit saja, kamu sudah begitu marah!" Nilam membuang wajahnya.


"Sudahlah, tidak usah balik marah ...!" Nilam hanya terdiam membisu. Pria itu, menggelitik perutnya.


"Ih ... kamu ... awas ya!" Akhirnya mereka berlari-larian bersama. Seseorang datang dengan pakaian seperti seorang pangeran. Ia mendekati mereka berdua yang sedang bercanda.


"Apakah kalian sudah selesai berlatih?" Mereka berdua, terkejut dan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Sudah tuan ..." Pria itu, menundukkan kepalanya dan badannya. Lalu di ikuti oleh Nilam.


Pangeran itu, mendekati Nilam dan mengulurkan tangannya.


"Bangunlah ...!" Ia memandangi wajah Nilam. Dan, mengeluarkan pedang secara tiba-tiba, dan menyerang Nilam, namun Nilam segera menghindar dengan menundukkan tubuhnya. Dan menjauh. Pangeran itu hanya tersenyum. Dan menyimpan kembali pedangnya.


"Baguslah jika kemampuanmu sudah memenuhi syarat sebagai prajurit wanita terbaik di negeri ini!" Nilam, menarik nafas lega jika ternyata ia sedang di uji.


"Damar, berikan ia baju untuk berperang nanti..! Latih terus agar ia menjadi prajurit wanita terbaik."


"Baiklah tuan ... segera laksanakan" Damar, menundukkan tubuhnya dan sebelah tangannya memegangi perut. Damar adalah kepercayaan kerajaan, dia adalah prajurit pria terbaik di negeri awan. Tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya. Lamunan itu, kembali kepada masa depan. Rey, menepuk pundaknya.


"Kenapa kamu diem aja?" Rey, melihat wajah Nilam.


"Tidak, aku hanya ..." Rey, terus menatapnya. Hingga membuatnya ia tidak bisa berkata-kata lagi. Dan merasa gugup. Ia merasa hampir mengingat semuanya. Hanya saja wajah yang ia lihat tidak jelas. Sehingga, ia hanya bisa melihat jelas wajahnya saja.


'Aku hanya ingin bilang, kamu sangat cantik ... dan selalu membuat jantungku terus berdetak kencang' Gumamnya dalam hati. Nilam, memulai percakapan.


"Maaf, aku sudah terlambat?" Ia tampak menyesal karena telah membuat Rey menunggunya dengan waktu yang lama. Rey, hanya tersenyum.


"Meskipun aku harus menunggumu hingga larut malam tidak apa. Aku akan terus menunggu. Meskipun pada akhirnya kamu tidak akan pernah datang" Rey, terlihat sangat senang jika pada akhirnya penantian panjang tidak sia-sia. Nilam hanya tersenyum.l, dan mencoba mengingat wajah dua pria tadi


Rey, mengajak ia untuk berfoto bersama. Akhirnya mereka punya foto bersama.


'Entah mengapa rasanya aku sudah pernah bertemu dengan Rey. Mengapa rasanya tidak asing.'


****


Angga, terlihat sangat sibuk. Hingga tiba-tiba saja datang beberapa orang yang terdiri dari ibu, ayah dan dua orang anak gadis yang masih muda.


"Mohon maaf, tolong duduk. Ada apa?" Ucok, mulai bertanya.


"Mohon maaf Pak. Kami begitu tergesa-gesa, karena ...?" Ibu itu terlihat sangat tidak kuat untuk menceritakan semuanya.


"Baiklah, ibu sebaiknya menenangkan diri dulu."


"Tidak pak. Anak saya telah di lecehkan oleh kakak temannya! Hancur hati ini! Bagaimana dengan masa depannya nanti" Ibu itu memukul dadanya dengan pelan dengan air matanya yang terus menerus mengalir. Suaminya mengusap kepalanya. Naya, terlihat sangat bersedih dengan semua ini.


"Baik, kami akan meminta kesaksian dari beberapa orang. Agar lebih jelas. Baiklah, korban adalah siapa?"


"Saya pak .. namanya saya Naya"


"Mari tunggu di ruang interogasi." Ucok mengantarkan korban ke dalam ruangan interogasi. Ucok menjelaskan kepada Angga ada kasus baru. Angga segera memasuki ruangan interogasi.

__ADS_1


"Coba ceritakan sedetail-detailnya tentang semuanya. Kami akan langsung memproses semua laporan ini." Naya menganggukkan kepalanya. Ia mulai menceritakan.


Sore itu.


"Mah, boleh kan Naya menginap di rumah Ita?" Dengan wajah yang memelas.


"Nak, apakah disana aman?" Ibunya tersenyum bertanya kepada putri sulungnya itu. Ia, memiliki seorang adik laki-laki yang berumur sembilan tahun.


"Aku kan cuma nemenin Ita, karena orang tuanya sedang ke luar kota. Kasihan dia cuma sendiri. Mah, please ya ... aku dan Ita kan sahabatan banget, gimana mama tau sendiri kan!"


"Hmm ... gimana ya. Mama bingung jawabnya juga"


"Please mah ... aman kok pasti. Kita bisa jaga diri baik-baik. Ya mah ...masa mama tega sih Ita itu adalah sahabat aku banget"


"Kenapa gak dia aja yang menginap disini? Kalian kan cuma berdua saja. Agar lebih aman disini saja, bagaimana?"


"Gak bisa mah, Ita disuruh jagain rumah." Ibunya hanya terdiam, dan kemudian dengan terpaksa harus mengikuti keinginan putrinya.


Naya, kemudian pergi ke rumah Ita. Dan menelponnya.


"Loe dimana sih, gue udah nyampe rumah?"


"Oh ... sorry. Gue, lagi belanja buat makan malam nanti, karena ada Tika juga ikutan. Gini aja loe masuk tunggu di rumah, kuncinya gue taro dekat pot bunga dekat pintu. Kalau gue udah selesai, gue pasti langsung pulang kok"


"Oke, jangan lama ...!" Ia menutup teleponnya dan mencari kunci agar bisa masuk ke dalam. Ia, segera membuka pintu. Dan duduk di ruang tamu, ia mulai tiduran di kursi dengan menggunakan handsetnya. Hingga ia tidak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam. Dan membuatnya terkejut.


"Kakak ... maaf. Aku lancang ..!" Ia mendekati, dan duduk di kursi lainnya.


"Kemana Ita?"


"Hem ... ia sedang belanja dulu. Kakak tidak ikut,?" Naya, mulai terlihat sangat gugup. Ia, merasa sangat takut jika hanya berdua saja. Sebenarnya ia memang menyukai kakak temannya itu. Namun ia merasa perasaan tidak enak.


"Tidak, karena banyak tugas kuliah. Sebentar, aku ambilkan minum dulu!" Dan, ia segera kembali dengan gelas dan air putih. Naya, meminum air tersebut dan tidak lama ia hilang kesadaran. Dan, ia merasa sesuatu telah berada di atas tubuhnya dan ia tidak bisa bergerak dan membuka matanya. Ia, sadar jika ia sedang di lecehkan. Ia, hanya bisa menangis dalam hatinya.


'Mah, maafin aku. Aku udah gak percaya sama Mamah selama ini. Andai saja waktu itu aku percaya pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.


"Itulah yang saya ingat pak. Rasanya seperti hancur berkeping-keping hati ini. Aku sudah tidak punya masa depan rasanya.!" Gadis itu menangis tersedu-sedu. Angga, mengusap kepalanya dan berkata.


"Kamu tetap punya masa depan yang cerah. Kami akan menyembunyikan identitas korban sebaik mungkin. Hingga, kamu tetap bisa menjalani hari-harinya seperti biasa. Tanpa orang lain ketahui" Naya, merasa lega telah di bantu oleh Angga. Lalu, Ita di panggil oleh Angga menuju ruang interogasi.


"Apakah, benar jika pelakunya adalah kakak anda?"


"Saya, tidak begitu yakin. Karena ia, sangat baik."

__ADS_1


"Loh, tadi di luar ruangan interogasi. Anda berbicara membela korban dan sekarang pernyataan anda berubah lagi. Tolong jangan mempersulit kasus ini"


"Baiklah saya akan memberikan kesaksian. Jujur saja, kakak saya adalah kakak yang paling baik, ia selalu memberikan apapun untuk saya. Bahkan, ia selalu ada di dalam suka dan duka. Tapi sahabat saya juga butuh bantuan. Apa yang harus saya lakukan. Di lain pihak saya tidak percaya dengan apa yang terjadi, tapi di lain sisi sahabat saya tidak akan berbohong!" Ia, menangis. Dilema di antara harus membela sahabatnya atau kakaknya sendiri. Angga, sangat mengerti apa yang terjadi.


__ADS_2