
Mereka terus mencari, disana ada sebuah tempat yang gelap. Terlihat seperti portal kepada dimensi lain, yang bercahaya putih dan bercampur hitam pekat yang berputar-putar.
Nilam mendekati portal tersebut, dan ia terbawa masuk ke dalam. Semua orang terkejut dan membuat mereka semua ikut masuk ke dalam.
Setelah sampai, mereka berada di tempat yang gelap. Yang di penuhi oleh tumbuhan, mereka berjalan menulusuri, ruangan tersebut seperti sekolah mereka namun dalam suasana yang berbeda. Saat mereka berjalan, di pojokan ruangan mereka melihat tubuh Sukma dan Rika. Farel mendobrak pintu tersebut.
Terlihat Rika dan Sukma yang tengah terduduk. Aldo senang sudah melihat wajah Rika, dan Rika sudah tidak sadar. Dan yang lainnya terfokus pada Sukma yang sedang pingsan. Sukma, terbangun dari tidurnya.
"Bangun ... please ...!" Aldo menangis, tidak lama Rika terbangun. Namun ia sangat lemah terlihat ada banyak darah yang mengalir dari perutnya. Terlihat bekas cakaran dari mahluk itu.
"A .. ku sudah bilang ja ... ngan cari aku ...!" dengan suara yang lirih, Aldo mengusap wajah Rika yang juga menangis.
Sukma yang juga ikut tersadar, ia tidak sengaja memeluk Farel. Wajah Raya terlihat cemburu, Farel langsung melirik ke arah Raya, namun Farel yang merasa tidak enak, karena terlihat sangat ketakutan. Tapi di lain sisi ia memikirkan perasaan Raya.
'Oke loe harus tenang Raya, loe harus tahu posisi loe sekarang. Dan Sukma sedang ketakutan. Oke fine ...!' Raya terlihat mengela napas panjang.
"Alhamdulillah ... sekarang satu masalah sudah selesai dan sekarang saatnya kita kembali ke dunia nyata ..!" Angga memberikan arahan.
Tidak lama, kemudian datang beberapa mahkluk seperti tuyul, namun mereka bertaring. Wajah mereka sangat menyeramkan.
"Do ... gue gak sanggup melihat wajah yang begitu menyeramkan ...!" Dika, memegangi tangan Aldo.
"Dika, mendingan loe bantuin gue buat angkat tubuh Rika ...!" Dika, ikut membantu Aldo untuk mengopoh tubuh Rika. Sedangkan yang lainnya mulai mengambil benda apapun untuk melawan mahkluk itu. Angga menggunakan senjata, sedangkan yang lain mengambil kayu yang ada di sekitar mereka.
Mereka mulai melawan mahkluk itu, nyaris membuat mereka kewalahan menghadapi mahluk tersebut. Mereka memukul kepala mahkluk itu, dan beberapa menghilang seperti debu. Namun, semakin lama semakin bertambah banyak. Membuat mereka kebingungan.
"Gawat ... jumlah mereka semakin banyak. Kita bisa habis ...!" Ujar Dika yang sejak tadi hanya diam, di antara takut dan ia lebih memilih untuk menggopoh tubuh Rika.
__ADS_1
'Kenapa kekuatan ku tidak berfungsi disini ...' Nilam merasa bingung.
"Makhluk seperti apa ini?" Nilam berbicara kepada Raya.
"Sepertinya mereka tidak mempan untuk di tembak dan di pukul." Raya yang terus berusaha untuk mengusir mereka menjauh.
"Sepertinya mahluk ini, semakin kita bunuh semakin banyak ... meskipun terlihat menghilang. Namun coba kita perhatikan kenapa jumlahnya terus bertambah setiap kita membunuh satu ... sebaiknya kita hentikan, pasti ada hal lain yang mereka takuti ...!" Rey, merasa jika cara mereka salah. Dan yang lain ikut berpikir, ternyata yang dikatakan oleh Rey adalah benar. Mereka terus berpikir apa yang harus mereka lakukan.
Semakin lama semakin banyak, dan mereka terkepung oleh makhluk itu. Di tengah kepanikan makhluk yang berbadan besar tadi kembali muncul. Ia mengeram.
Mereka semua saling berpegangan satu sama lain, dan membentuk sebuah lingkaran.
"Ya Allah ... gue belum nikah ... masa harus mati ...!" Farel memukul kepalanya.
"STT ... gak usah dramatis deh ... bukan saatnya kita memikirkan hal lain, karena kita harus berpikir untuk keluar dari sini!"
"Sukma, bagaimana kamu bisa masuk kesini dan apa tadi kamu menelpon?" Sukma bilang jika ia tidak pernah menelpon karena ia juga tidak tahu dimana handphone itu. Karena ia memang belum menemukan handphone-nya. Dan saat ia memasuki toilet ia di serang oleh mahkluk besar dan ia pingsan.
'Tapi jika ia di serang kenapa ia bahkan tidak terluka sedikitpun ... ini sedikit aneh.' Gumamnya Angga dalam hati, ia merasa sedikit aneh dengan keterangan Sukma.
"Sial ... kita di jebak ...!" Farel, terus memegangi tangan Raya. Ia khawatir jika mereka tidak bisa selamat.
"Senjata ini juga tidak bisa, sepertinya kita sengaja di jebak untuk memasuki kawasan mereka " Mereka semua takut. Karena mahluk itu semakin mendekati dan di saat suasana yang menegangkan. Tiba-tiba terlihat api, dengan suara pedang, seseorang melempar pedang ke arah mereka. Rey melompat untuk mengambil pedang tersebut. Ia sepertinya sangat mahir dalam menggunakan pedang. Pedang itu menyala mengeluarkan api. Entah mengapa Rey seperti memiliki ikatan dengan pedang tersebut, ia menebas semua makhluk itu, dan mereka menghilang. Di tengah perang melawan mahkluk itu, Inggar mendekati mereka. Dengan membawa sebuah obor api.
"Inggar ...!" Nilam, mendekatinya.
"Ini pedangmu ...!" Inggar memberikan pedang yang berwarna hitam. Nilam, sedikit teringat akan masa lalunya. Ia sedang berperang melawan para mahluk, bersama dengan seorang pria. Dan lamunan itu buyar saat, Inggar memberikan arahan.
__ADS_1
"Kamu harus ingat, bahwa kamu adalah seorang jendral wanita dulu ... maka kekuatanmu akan kembali!" Seketika Nilam dapat memulihkan kembali kekuatannya. Dan pedang tersebut menyala. Dan mereka mulai kembali melawan para mahluk itu. Akhirnya mereka semua menghilang. Mereka bisa bernafas lega.
Aldo, memapah tubuh Rika, mereka berlari ke arah pintu keluar. Saat akan keluar mahkluk besar itu telah berada di depan pintu. Rika mengambil obor api itu dari tangan Inggar. Kalian pergilah, karena ia memang menginginkan diriku.
Sukma yang mulai mengingat siapa Anita. Ingatannya kembali ke masa lalu.
"Kita adalah sahabat sejati ... kita akan selalu bersama selamanya!" Ucap Sukma sambil memeluk kedua sahabatnya itu.
"Kamu ingat dengan Anita ...?"
"Tidak ... siapa dia?"
"Semua orang melupakannya begitu saja ..! Hal terakhir yang aku ingat ia memasuki sekolah saat mengambil bukunya"
Ingatan itu kembali ke masa depan.
"Anita ... maafkan aku ...!" Sukma menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis ... kalian harus pulang!"
Terlihat ada arwah Anita yang menuntun mereka untuk pergi. Aldo tidak rela, Dika terus memegangi tubuh Aldo yang memberontak untuk pulang. Sukma yang terus menarik tangan Rika. Rika mendorong Sukma.
"Tolong ... bawa Sukma pulang ...!" Dengan tertatih ia menahan para mahluk itu, agar semua temannya bisa pulang dengan selamat. Perasaan Sukma hancur, ia harus merelakan sahabatnya itu. Aldo dan Sukma terus berteriak histeris.
"Rika ...!" Sebenarnya mereka semua tidak ingin jika Rika berkorban untuk mereka. Rika menangis, dan melawan mahkluk itu sendiri. Karena tepat jam tiga, pintu akan tertutup. Rika menutup pintu tersebut sambil tersenyum manis dengan air matanya mengalir. Ia melambaikan tangannya.
"Tolong jangan sampai ada korban lagi ...!" Pintu tertutup, terlihat makhluk besar itu berada di belakangnya. Dan terlihat Rika kesakitan karena di serang. Terdengar suara teriakan sebelum portal itu menghilang. Dan mereka menangis tersedu-sedu melihat pengorbanan Rika.
__ADS_1
Aldo terduduk, terdiam membisu. Dika memeluknya. Sukma langsung pingsan karena harus menerima kenyataan pahit. Tiba-tiba saja ada sebuah cahaya yang menyilaukan mata mereka semua.