Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Sahabat tetaplah sahabat


__ADS_3

Nilam, mengejar mereka hingga ke perpustakaan. Nilam, menarik tangan Rey. Rey, terdiam sejenak. Sukma, yang menyukai Raffi ia, malah menggodanya. Tapi, Rey menyuruhnya untuk pergi duluan saja. Sukma, segera pergi dengan melambaikan tangannya kepada Raffi.


"Ada, apa?" Wajahnya sangat sinis. Nadanya juga berubah. Kebetulan lorong sekolah menuju perpustakaan saat itu sedang sepi. Jadi, hanya ada mereka berdua. Farel, yang tidak sengaja melihat mereka berdua. Sembunyi di balik tembok dan mengintip mereka berdua.


"Aku, mau ...?" Rey, sudah memotong pembicaraan.


"Mau, nyakitin lagi ...! It's oke, kalau kamu gak mau lagi sebangku sama aku, gak ada masalah, terus gimana lagi, apa aku bisa ngelarang kamu untuk pergi atau tinggal!" Rey, pergi dengan wajahnya yang sangat kesal.


"Aku, hanya takut jika semua orang terus membicarakan tentang kamu, kamu penyuka sesama jenis, aku merasa menjadi beban untukmu, jadi mungkin lebih baik jika aku yang menghindari!"


"Karena itu! Hanya karena itu, apakah aku merasa terbebani saat semua orang mencemooh ku, jika aku memang menyukaimu, tapi kamu tidak pernah mengerti semuanya, aku seorang pria tidak bisa menyembunyikan sebuah perasaan ini, ataupun berbohong kepada perasaan ini! Aku, tidak peduli dengan apapun yang mereka bicarakan tentangku! Tapi, setidaknya kamu tetap bersamaku, jika akhirnya aku harus membuangnya jauh-jauh! Aku, akan berusaha untuk melepaskan dirimu! Entah mengapa rasanya sakit saat kamu bicara tadi pagi! Bisakah, kamu mengerti apa yang aku rasakan, sedikit saja, kamu peka dan rasakan kehadiran diriku di hidupmu ... Haruskah sesakit ini!" Rey, terlihat sangat marah, ia bicara, dengan memegangi tangan Nilam, untuk menyentuh dadanya.


"Bisakah kau rasakan kehadiran diriku untukmu, seberapa besar hatiku untukmu! Rasakan, sedikit saja perasaan ini! Harusnya, kamu tahu apakah aku sudah tidak normal lagi! Biarpun, semua orang tidak mengetahuinya, tapi jika kamu tahu aku masih normal! Tapi, kini aku sudah berusaha untuk melupakan semuanya!"


Nilam, bahkan terkejut dengan ucapannya. Ia, berpikir jika Rey tidak mengetahuinya jika ia seorang gadis.


Nilam, menahannya. Dengan memeganginya.


"Aku, mohon maafkan aku!" Rey, melepaskan tangannya secara perlahan dan pergi begitu saja. Rey, menangis di dalam hatinya. Ia, merasa lega sudah memberi tahu semua isi hatinya. Dan entah mengapa rasanya Nilam menangis. Farel, tidak mengerti apa yang membuatnya jatuh cinta terhadap seorang pria. Farel, berjalan dan bertabrakan dengan Nilam yang sedang menangis.


(Apakah, hidupnya begitu tertekan hingga ia tidak normal lagi! Kasihan...! Harusnya, ia itu nembak cewek bukan cowok lagi!) Gumam Farel dalam hatinya. Ia, memelas melihat Rey yang sudah tidak normal.


"Loe, kenapa sih!" Farel, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Nilam, hanya menangis. Ia, secara tidak sadar menangis di pelukan Farel. Saat Farel ingin melepaskannya. Ternyata, ia tidak tega, lalu ia mengusap kepalanya. Entah mengapa Farel merasa nyaman berada di pelukan Raffi.


(Apakah, aku sudah tidak normal lagi!) Farel, segera melepaskan pelukannya. Dan, bertanya kepada Raffi.


"Loe, jadi cowok lembek banget sih! Gue, heran kenapa, kadang gue pikir loe kaya cewek, loe bahkan terlihat sangat cantik saat menangis, apa jangan-jangan, memang Rey menyukai seorang gadis, dan kamu bukan seorang pria!" Nilam, yang tadinya menangis menjadi terkejut dengan pertanyaan Farel. Ia, segera pergi sambil mengusap wajahnya. Farel, terus mengejarnya. Hingga, mereka bertemu lagi dengan Rey dan Sukma yang keluar dari perpustakaan. Tatapan mata Rey begitu tajam.


Tiba-tiba saja, Farel mengandeng tangan Raffi, dengan tertatih-tatih. Ia, berakting kesakitan.

__ADS_1


"Ayo, kita harus segera pergi ke ruang UKS, untuk mengambil obat sakit perut untukku!" Sukma dan Rey merasa heran. Sedangkan, Rey merasa cemburu melihat kedekatan mereka berdua dan berlagak tidak peduli. Ia, pergi begitu saja.


"Makasih, udah bantuin! Jalan, aja sendiri!"


Saat pulang sekolah. Mereka di jemput oleh Ucok. Karena, Angga tidak bisa menjemput mereka, ia sedang sangat sibuk. Saat, itu Rey sedang berdiri di samping nya, tanpa menengok sedikitpun.


(Mengapa, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda saat Rey, bersikap dingin terhadapku! Aku merasa ada sesuatu yang hilang, saat ia pergi!)


Nilam, melihatnya dari kaca mobil. Rey, terlihat diam. Sebenarnya, Rey merindukan Nilam, tapi ia sedang memberikan sebuah pelajaran untuk Nilam, agar bisa mengerti. Nilam, hanya melamun. Ia, kepikiran ucapan Rey tadi di sekolah. Nilam, hanya diam di kamar, ia tidak bersemangat untuk makan.


Angga, pulang dan memanggil Nilam. Dan memberi tahu bahwa Nilam akan tinggal bersama Ucok dan Raya Minggu depan, karena ia akan pergi keluar kota. Ada, kasus yang harus ia selesaikan. Tapi, Nilam hanya tersenyum biasa. Dan, ia masuk ke dalam kamar.


"Kalian, tahu kenapa Nilam begitu?"


"Gak, tau kenapa! Mungkin, lagi datang bulan!" Aldo nyeletuk. Angga, tidak mengerti apa yang terjadi. Ia, juga masih sibuk dengan urusan kantornya. Dan, segera pergi menuju kantornya. Nilam, melihatnya dari jendela kamar, Angga berangkat menuju kantornya. Ia, jadi semakin sedih karena dua pria yang ia selalu membuatnya bahagia, tiba-tiba yang satu marah dan satu lagi sibuk.


"Rey, kamu baru pulang?"


Rey, tidak menjawab pertanyaan ibunya.


"Kamu, masih bekerja di toko buku itu! Mamah kan udah bilang, jangan kerja lagi, kamu sudah kaya, tinggal urusin perusahaan Papah mu saja, coba kamu mengerti apa yang mamah mau! Perusahaan papahmu, adalah perusahaan fashion terkenal di Jakarta!"


"Cukup ... mah ... dia bukan, papah aku ...! Dia, itu papahnya Farel ... cukup mamah sudah merusak semuanya! Persahabatan yang sudah aku jalin bertahun-tahun lamanya, namun kini kandas karena keegoisan mamah! Mamah sudah merusak semuanya, sudah puas mah!" Ia, menamparnya.


Rey, maafkan mamah. Ia merasa bersalah, karena spontan menampar wajah Rey. Rey, yang terlihat menangis ia segera menuju kamarnya. Mamahnya pun, ikut menangis sedih.


Farel, baru saja pulang bekerja. Ia, tidak sengaja bertemu dengan Ayahnya.


"Farel ...!" Farel, segera pergi. Ayahnya, mengejarnya, dan menarik tangannya.

__ADS_1


"Farel, Ayah sudah sangat merindukanmu!" Farel, hanya menahan tangisnya.


"Rindu ... Bagiku Ayah telah pergi, sudah meninggal, aku sudah tidak punya ayah lagi!"


"Farel, Ayah mohon maafkanlah .. bagaimanapun juga kamu tetap darah dagingku, tidak bisakah kita bersama-sama seperti dulu! Maafkanlah ayah!" Farel, berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari kejaran ayahnya, dengan tangisannya ia berlari sekencang-kencangnya.


Nilam, sedang berada di taman sendirian, melihat Farel menangis sambil berlari dan terjatuh. Nilam, menghampirinya. Dan, membangunkan. Saat, itu Nilam sedang memakai baju wanita, ia terlihat sangat cantik. Mereka berdua duduk, di kursi taman. Nilam, sendiri juga kabur dari rumah untuk sementara waktu, agar ia tenang.


"Kamu, gadis cantik yang pernah aku temui waktu itu!" Hampir saja, Nilam keceplosan bahwa ia mengenal Farel. Ia, berpura-pura tidak ingat. Mereka kemudian berkenalan.


"Mengapa kamu menangis?" Farel, tidak bisa menahan air matanya. Tapi, ia tidak berbicara sepatah katapun. Rey, yang sedang marah pergi keluar. Melalui jendela kamar. Ia, berjalan dengan perasaan yang campur aduk.


"Hari ini, semuanya berlalu begitu saja, dengan penuh kekecewaan yang mendalam!" Rey, berjalan dan melihat Nilam bersama dengan Farel. Farel, terlihat sangat bahagia bersama dengan Nilam. Ia, tidak bisa merusak semuanya.


(Apakah, kami menyukai orang yang sama! Jika ia, harusnya aku bisa melepaskan Nilam, untuk Farel, karena sudah banyak kesalahanku kepada Farel hingga ia menderita). Nilam, yang melihatnya berpura-pura untuk pulang. Ia, mengejar Rey.


"Rey ...!" Rey, berbalik badan. Tatapannya, hanya tertuju pada Nilam, ia melihat Nilam, dengan penampilan seorang gadis cantik. Ia, terpesona dengan kecantikan Nilam. Nilam, mendekatinya.


"Ternyata benar! Kamu, memang sudah mengetahui jika aku seorang gadis!" Rey, hanya tersenyum. Dan mulai berbicara.


"Kembalilah sebagai seorang teman, dan lupakan bahwa kau tau, aku menyukaimu!" Nilam, hanya terdiam membisu. Apalagi maksudnya. Tiba-tiba saja hujan deras. Membasahi bumi dan Nilam kembali menangis. Ia, merasa di permainkan oleh Rey. Ia, berlari menjauhi Rey. Rey, yang cemas dengan Nilam. Mengejarnya. Nilam, bersembunyi di balik pohon besar yang tidak terlihat. Nilam, merasa hancur dengan perkataan Rey.


Farel, yang melihatnya menangis, memeluknya erat. Di tengah hujan deras.


Rey, terpaksa harus melakukan hal ini. Karena, sepertinya Farel juga menyukai Nilam. Ia, tidak bisa mengambil kebahagiaan Farel. Rey, membayangkan kejadian dulu.


Ia, sungguh tidak sanggup lagi jika harus melihat Farel menderita. Jika, ia harus melepaskan wanita yang ia sangat sayangi demi sahabatnya itu. Rey, menemukan mereka berdua.


(Meskipun, kita sekarang jauh dan tidak pernah bisa seperti dulu. Tapi, tidak pernah sedikitpun aku melupakan semua persahabatan kita. Kamu tetaplah sahabatku, walaupun kita sudah tidak pernah bisa seperti dulu, kesalahan aku dan ibuku tidak akan pernah bisa di maafkan lagi, aku akan lakukan apapun agar kamu memaafkan aku, termasuk melepaskan orang yang aku sukai)

__ADS_1


__ADS_2