
Hari ini, ada kerja kelompok. Aldo dan Dika, mengajak mereka untuk belajar di rumahnya. Akhirnya, mereka ke rumah Angga.
Hanya, Farel yang tidak dapat hadir karena ia, tidak bisa libur bekerja, temannya sedang sakit. Jadi, ia harus bertanggung jawab atas cafe. Sesampainya di rumah, mereka bersama-sama, menyiapkan makanan dan minuman. Mereka, melakukan tugas yang sangat banyak. Sambil bercanda dan tertawa. Raya, hanya melamun, karena ia berharap Farel datang.
"Kenapa loe ngelamun?" Tanya Dika penasaran.
"Gak apa-apa?" Ia, terlihat sangat tidak bersemangat. Tiba-tiba saja, Farel datang karena temannya yang satunya lagi bisa menggantinya. Raya, menjadi semangat.
"Tadi, dia melamun ... sekarang datang pangerannya ... semangat lagi ..!" Dika, dengan nada bercanda. Farel bahkan tidak mengerti maksudnya.
Mereka, melanjutkan pelajaran yang akan mereka kerjakan. Rey, duduk berada dekat Nilam.
'Sebenarnya, hatiku berdegup kencang saat berada di dekatmu, namun bagaimana lagi, aku harus memendam rasa ini!' Rey, terlihat sangat gugup berada di dekat Nilam. Tiba-tiba saja, Angga pulang dan melihat Rey, berada di dekat Nilam. Ia, sedikit cemburu.
"Hai, kak ...!" Mereka serentak. Angga, terlihat memasang wajah yang kaku. Ia, menutup pintu kamarnya dengan keras. Membuat semua orang terkejut. Angga, mengambil minuman kaleng, dan menyimpannya dengan sangat keras. Ia, terlihat memainkan benda-benda dengan sangat berisik. Dan, pergi ke dalam kamarnya, menutup kembali dengan keras, hingga membuat mereka kembali terkejut.
"Pintu rumah loe kuat juga ...!" Farel, mulai bercanda.
"Iya, bener ...!" Jawab Aldo dan Dika. Mereka tertawa bersama.
Angga, terdengar bernyanyi dengan sangat keras. Hingga, merusak pendengaran mereka semua.
"Kakak loe kenapa? Kesurupan ...?" Farel, bingung kenapa dengan Angga, yang terlihat sangat tidak senang.
Nilam, yang merasa kesal. Menghampiri, kamarnya.
Tok .... tok ...tok ...
"Apa sih?" Ia, memakai handset, hingga tidak mendengar kata-kata Nilam. Nilam, kesal dan menggunakan kekuatannya untuk membuat musiknya berhenti. Ia, segera pergi, setelah Angga kebingungan kenapa bisa mati.
Rey, merasa jika Angga sedang cemburu. Ia, malah sengaja dekat dengan Nilam. Rey, mengambil air minum ke dapur, disana ada Angga yang sedang menyeduh teh.
Angga, mendengus.
"Heh ... gue peringatkan, loe gak usah deketin Raffi ..! Ngerti loe ...?" Angga, terlihat sangat marah. Ia, berbicara dengan mendorong tubuh Rey. Rey, hanya terdiam, ia membalas.
"Maaf, kan aku gak suka cowok ...! Emang, Raffi seorang gadis ...?" Rey, berpura-pura tidak mengetahui jika Raffi adalah Nilam. Angga, hanya terdiam. Mereka saling bertatapan dengan amarah.
Nilam, penasaran ia mendekati. Dan bertanya pada mereka.
"Ada, apa..?" Mereka berdua sangat terkejut, dan berpura-pura tidak terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. ..!" Angga kembali duduk di meja makan, dengan meneguk minumannya.
Akhirnya, Nilam melanjutkan kembali, ia belajar dengan sangat dekat dengan Rey.
"Ini, kesini.., apa kamu mengerti?" Rey, terlihat sedang menjelaskan kepada Nilam. Angga terlihat sangat cemburu, ia menatap mereka dari meja makan yang terlihat ke arah ruang tamu. Ia, berpikir bagaimana cara agar Rey tidak terlalu dekat dengan Nilam. Ia, terus menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku harus berpikir keras, agar mereka tidak bisa berdekatan...!" Ia, berbicara pelan. Akhirnya, ia menemukan sebuah ide.
"Raffi...! Bisakah, kamu membuatkan aku telur goreng, aku laper nih?" Nilam, yang terlihat tidak suka di ganggu saat sedang belajar, sedikit kesal. Namun, Angga terus memanggilnya. Membuat semua pandangannya tertuju pada Nilam. Akhirnya, Nilam menghampirinya dengan wajah yang kesal.
"Aku, laper ...!" Memasang wajah melas. Akhirnya, Nilam mau.
Nilam, membuatkan telur goreng untuknya.
"Ini ...! Aku, harap kamu tidak menggangu aku, saat aku sedang belajar ..!" Angga, menggenggam tangannya. Secara sembunyi di bawah meja. Dan berbisik.
"Tolong, jangan terlalu dekat dengan pria lain ...! Jika, kamu tidak mau, aku mengacak-acak seisi rumah ini ...!" Kemudian ia melepaskan genggamannya. Nilam, hanya tersenyum. Dan, ia segera kembali kepada teman-temannya. Dan, Farel mengeluarkan sebuah kotak makanan yang berisi kue.
Mereka melahapnya.
"Wah ... enak banget, sungguh ...!" Aldo dan Dika. Terlihat sangat menikmatinya. Yang lainnya pun sangat menyukainya.
"Buatan siapa ini ..?" Raya, bertanya.
"Sudah kuduga ... kalian memang saling berhubungan dekat, ..!" Dika, terlihat serius.
Mereka berdua hanya terdiam membisu.
"Gue, kasih tahu ya ... Sebesar apapun masalah kalian, jika kalian adalah sahabat sejati, kalian itu harus menyelesaikan masalahnya, bukan hubungannya ...! Terkadang kita hidup dengan penuh kesalah pahaman ..., gue harap kalian bisa kembali seperti dulu,.. gue juga sering berantem sama si Aldo, tapi gue tetep peduli sama dia. .!" Semua orang bertepuk tangan.
"Tumben sekali, loe bijak dan benar ...!" Raya, tertawa. Akhirnya mereka tertawa bersama.
"Yey ... namanya juga manusia, bisa salah bisa benar ...!" Timpal Dika.
'Ada, benarnya juga, ucapan Dika. . haruskah aku memaafkan semua kesalahan Rey,..?' Gumamnya dalam hati.
****
Maya, menghampiri Angga yang terlihat sedang melihat berkas kasus yang harus ia selesaikan.
Tok ..tok ..tok ...
__ADS_1
"Masuk ...!" Maya, duduk Angga tetap melihat berkasnya.
"Ini jam sarapan pagi, aku ingin sekali berbicara denganmu saat jam makan, bisakah sekali saja ...?" Angga, menatapnya dengan tatapan mata yang tajam, ia berpikir apakah harus mengiyakan atau tidak.
Maya, memaksanya. Akhirnya Angga menyetujuinya. Mereka berdua berangkat ke sebuah kafe, disana ada Rey dan Nilam yang sedang sarapan, karena harus memfotokopi hasil laporan kemarin. Nilam, mengetahui jika ada Angga dan Maya. Ua berpura-pura tidak melihat mereka berdua. Karena, terlihat jika Angga tidak suka melihat sekitar. Angga adalah tipe pria yang tidak begitu peka terhadap sesuatu dan ia tidak suka melihat sekitar, kecuali untuk urusan pekerjaan. Ia, begitu fokus pada, menu. Kebetulan, jarak mereka sedikit jauh, hingga Angga tidak mengetahuinya.
Mereka memesan minuman dan roti panggang. Angga, terlihat sangat tampan. Hingga membuat Maya menjadi salah tingkah. Ia, berbicara dengan nada gugup.
"Sebenarnya, apakah kamu sudah memiliki kekasih ..?" Angga terlihat diam. Ia, hanya memutar minuman tersebut.
"Sepertinya, memang benar jika kamu sudah memiliki kekasih ...? Aku anggap jika diammu adalah sebuah jawabannya!" Wajahnya terlihat sangat sedih.
"Apa, begitu penting ... hingga aku harus menjawabnya ..? Meskipun, kamu mirip dengan Mila, bukan berarti hatiku untukmu, semirip apapun kalian, tetaplah hati kalian dan juga karakter kalian berbeda ...! Tolong, jangan membuat dirimu sendiri sakit ..!"
"Jika, aku adalah Mila bagaimana. .? Masihkah kau seperti dulu, hatimu dan cintamu...?"
Angga, terlihat diam dan ia tidak menyangka bahwa Maya akan berbicara hal seperti itu. Angga, tidak dapat berbicara sepatah katapun, karena hatinya bukan lagi untuk Mila yang telah tiada. Angga, juga belum siap untuk menjawab pertanyaan tersebut.
'Sebenarnya, siapa Mila? Kenapa aku, begitu merasa cemburu!' Gumam Nilam dalam hatinya. Nilam, terlihat sangat gelisah. Rey, yang mengetahuinya. Memegang tangannya untuk membuatnya tenang. Pagi itu sekitar pukul tujuh. Mereka berdua bergegas menuju motor, melewati Angga, dan Angga yang melihatnya merasa jika Nilam pasti cemburu. Tapi ia, tidak bisa mengejarnya, karena Maya sedang menangis. Jadi ia tidak punya pilihan lain selain tetap diam. Melihat wajah Nilam yang terlihat sedih, sungguh dilematis untuknya. Tapi, ia berpikir Rey sudah ada untuknya, sedangkan Maya masih menangis.
Angga, merayunya dengan berbicara dengan baik-baik agar tidak menangis lagi, kebetulan saat itu masih pagi. Jadi, belum banyak orang. Angga, hanya mengusap pundaknya.
Angga, segera mengajak Maya pulang ke kantor
Pagi itu, ia menjadi kurang konsentrasi karena kejadian pagi ini.
'Pasti, Nilam salah paham ... sebaiknya aku menjemputnya pulang sekolah. .!' Gumamnya dalam hati.
Karena, ia merasa kesal menunggu di kantor. Ia, pergi ke sekolah, sebelum jam pulang sekolah. Banyak orang melihatnya sebagai pria yang sangat tampan. Semua murid wanita terus membicarakan ketampanannya. Saat, mereka keluar dari kelas. Mereka mendengar para gadis tengah membicarakan tentang pria yang tampan. Dengan memakai setelan jas, dengan kacamata hitam dan berkulit putih, badannya yang tinggi semampai. Membuat semua terpana.
"Siapa sih, yang mereka bicarakan ...?" Aldo dan Dika, saling bertanya. Mereka, berjalan dan sampai di tempat parkir, tepat disana. Angga, berdiri di depan mobil. Ia, terlihat berbeda. Dan mencabut kacamatanya, dengan sedikit mengibaskan rambutnya. Membuat hati wanita meleleh. Sedangkan, Nilam sedang marah karena kejadian tadi pagi. Biasanya, Angga jarang turun dari mobilnya. Baru kali ini, ia berdiri di depan mobilnya.
Nilam, berjalan melewati Angga.
"Eh, lihat ... udah keren-keren, malah di tinggalin ...!" Aldo dan Dika, menertawakan kejadian lucu tersebut. Nilam, mendekati Farel yang tengah memarkirkan motornya. Ia, tiba-tiba saja naik ke motor Farel. Farel, terkejut dan mencoba untuk menurunkan Raffi.
'Tangannya, lembut banget ... kaya tangan perempuan, kulitnya halus ...? Hatiku, terasa lebih hangat saat berada di dekatnya. Ah,... aku sudah tidak normal rasanya ...!' Gumamnya dalam hati.
Rey, yang melihatnya dari depan perpustakaan. Merasa aneh, apakah Farel mau membonceng Nilam. Angga, terlihat sangat marah. Ia, menghadang motornya.
"Naik ...! Aku bilang ...! Aku tidak mau mendengar alasan apapun itu ...?" Ia, menarik tangan Nilam menuju mobil. Mereka, berjalan dengan tanpa berbicara sepatah katapun. Tiba-tiba saja, Nilam. Melihat seseorang melintasi mobil mereka.
__ADS_1
"Awas ...?" Ucap Nilam. Dan mobil pun berhenti, Nilam segera bergegas keluar dari mobil. Dan mencari sumber bau busuknya mereka melihat tumpukan plastik hitam besar. Dan mendekati. Angga, membukanya dan mereka terkejut dengan isinya plastik tersebut. Mayat perempuan. Dan setelah menelpon ambulans, mayat tersebut akan segera dibawa dan dilakukan otopsi.