
Angga mencari informasi tentang LL namun ia belum berhasil menangkap pelaku. Sepertinya ia mengganti identitas diri, sehingga membuat polisi sulit menemukannya.
"Lapor pak ... sepertinya pelaku sudah berpindah ke tempat lain, dan mengganti identitas diri. Sepertinya pelaku sudah cukup mahir dalam melakukan tindakannya, bagaimana jika kita mencari ke daerah lain?" Ucok memberikan sebuah saran.
"Baik, kita akan pergi ke luar kota, tadi ada beberapa petunjuk. Sepertinya ia menuju Padang sebaiknya, kita siapkan Tim ketiga untuk segera mencari informasi."
"Baik pak ... siap . Laksanakan ...!"
***
Rey, merasa heran dengan Inggar yang sejak tadi hanya diam saja. Ia, melihat ke arah Inggar dan hidungnya mengeluarkan darah. Rey, panik.
"Inggar ... bangun ...!" Tubuhnya terlihat lemah, dan tergeletak di bangku. Rey, langsung menggendongnya, ia membawanya kepada teman-temannya yang sedang mengobrol.
"Siapa ini?" Farel bertanya.
"Cepetan tolong, bawain mobil? Nanti aja nanya nya!" Raya bergegas menuju ayahnya untuk meminjam mobilnya. Semua terlihat panik, termasuk Nilam. Rey, mengendarai mobil. Dan sesampainya di rumah sakit. Inggar segera di rawat oleh petugas kesehatan.
"Tolong, tunggu di luar!" Akhirnya mereka menunggu dengan cemas.
"Sus ... kenapa?" Tanya dokter.
Begini Dok, terlihat sedikit sulit untuk memasukkan jarumnya?"
"Coba lagi ..."
"Baiklah Dok ..." Suster itu dengan susah payahnya, memberikan cairan infusan.
'Aneh, baru pertama kali, ada pasien dengan denyut nadi yang sangat sulit di temukan' Suster itu merasa heran.
Setelah selesai, Rey boleh memasuki ruangan dan duduk di dekat Inggar.
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa aku harus begitu cemas dengan keadaanmu? Aku harap kamu bisa segera sadar" Rey, menatap ke arah Inggar dengan seksama.
'Kenapa, hatiku terasa gelisah saat melihat Rey dengan Inggar!' Farel dan yang lainnya, bertanya kepada Rey siapa Inggar sebenarnya.
Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Inggar, yang akhirnya membuat mereka menjadi mengenali Inggar.
Nilam sejak tadi hanya diam, wajahnya murung dan ia segera keluar dari ruangan tersebut. Nilam, terlihat berjalan keluar, Rey mengejarnya.
"Nilam ...?" Nilam hanya melamun dan terus berjalan tanpa mendengar teriakkan Rey. Sampai, ia keluar rumah sakit dan menyebrang jalan dan hampir saja tertabrak motor. Rey, menariknya dan tubuh Nilam jatuh ke pelukan hangat Rey.
"Rey ...?" Nilam melihat wajah Rey. Rey, melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
__ADS_1
Motor itu kesal dan mendumel sembari berjalan. "Gila tuh orang bosen hidup kali ...!"
Sedangkan Nilam tidak menjawab pertanyaan Rey.
"Maaf pak ..." Rey menundukkan kepalanya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Rey, terlihat sangat manis. Ia tetap menanyakan hal yang sama. Karena merasa cemas.
"Tidak ..." Nilam sembari berjalan, meninggalkan Rey. Rey, mengikuti di belakangnya.
'Ya Allah, aku merasa sangat malu ...? Rasanya aku tidak sanggup melihat wajahnya, karena sangat malu' Sembari senyum-senyum sendiri ia, terus melaju pergi. Rey, menarik tangannya.
"Bisakah diam walaupun hanya untuk sekedar mendengarkan aku berbicara, jangan terus menerus menghindari diriku. Oke aku salah, jika akhir-akhir ini terus menghindari. Aku tahu rasanya pasti tidak enak di hindari oleh orang yang kita ... sa ...!" Tiba-tiba saja telepon genggam milik Rey, berdering.
"Hallo... Ok baik. Sebentar lagi kesana "
"Siapa?"
"Farel ... ayo Inggar sudah mulai siuman" Nilam, berjalan dengan lambat.
'Tadi Rey mau bilang apa ya? Aku penasaran sekali?'Gumamnya dalam hati, ia berjalan sangat lambat, membuat Rey merasa kesal, ia mendekati Nilam dan memegangi tangan Nilam.
"Biar cepat ... Dan jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi!" Nilam hanya tersenyum.
'Sebenarnya siapa yang lebih kusukai?' Nilam bertanya kepada dirinya sendiri. Rey, memegangi tangannya hingga memasuki ruangan rawat Inggar. Nilam melepaskan tangannya dari genggaman Rey. Inggar yang melihatnya, merasa sedikit cemburu.
Semua orang terpaku melihat pemandangan itu. Sontak membuat wajah Nilam memerah. Raya hanya tersenyum, Farel yang melihatnya sangat senang dengan perkembangan hubungan mereka berdua.
Rey, menghampiri Inggar.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Inggar hanya menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih banyak atas bantuan kalian semua? Maaf sudah banyak merepotkan?" Inggar menundukkan kepalanya. Raya menjawab dengan senyuman.
"Tidak kok, sudah seharusnya jika teman saling membantu?"
"Teman ...?" Inggar terlihat sangat heran.
"Iya ... teman. Kami semua adalah teman-temanmu?"
'Jadi begini rasanya memiliki banyak teman, beruntung sekali Nilam memiliki kehidupan yang sempurna dua pria yang mencintai dirinya ' Dalam lamunannya, ia merasa senang. Untuk pertama kalinya ia memiliki teman manusia.
Mereka makan bersama di ruangan itu, sembari tertawa.
Ini pertama kalinya aku makan bersama manusia. Ternyata mereka adalah orang baik. Sedikit demi sedikit, hati Inggar mulai luluh. Sedangkan Nilam belum sepenuhnya mempercayai Inggar
__ADS_1
'Aku belum bisa memastikan apa maksud dan tujuanmu?' Gumam Nilam hati. Ada rahasia apa antara Nilam dan Inggar.
***
Keesokan harinya.
Angga, masih sibuk mencari keberadaan pelaku. Tidak lama ia mendengar informasi dari informan yang bertugas di luar kota. Mereka berhasil menemukan keadaan pelaku yang sempat kabur. Dan akhirnya berhasil di tangkap, ternyata ia adalah seorang perempuan. Lalu, pelaku di interogasi.
"Mengapa anda melakukan tindakan pembunuhan? Apakah karena dendam?" Angga terlihat sangat serius. Sedangkan pelaku hanya diam saja tidak menatap dan terus menunduk, ia merasa ketakutan.
"Tolong jangan ganggu saya ...?" Ia terus melihat ke kanan dan kiri. Seperti melihat sesuatu. Hingga ia menjadi histeris. Angga, bingung ada apa dengan pelaku. Angga memanggil Ucok untuk segera memindahkan pelaku ke ruangan tahanan. Ia masih terus berteriak keras.
"Sungguh aneh ... kenapa wanita itu seperti ketakutan?" Angga, berjalan keluar dari ruangan interogasi tanpa menyadari bahwa sesosok penampakan wanita yang sangat menyeramkan dan penuh dendam.
"Maaf pak, terpaksa kami harus membawa pelaku ke dalam ruangan kesehatan karena tadi ia mengamuk dan sempat pingsan, jadi kami mengikatnya?"
"Baik... tolong segera beri obat penenang. Karena besok kita akan memulai untuk interogasi kedua."
"Siap ... laksanakan " Jawab Firman.
****
Pagi itu di sekolah.
Rey, menghampiri Nilam.
"Aku boleh bertanya?"
"Apa?"
"Kapan kamu akan menggunakan baju perempuan di sekolah?" Nilam menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku tidak tahu?"
"Bukankah, kasus ini telah usai? Apalagi alasannya? Aku hanya ingin melihat dirimu menjadi wanita pada umumnya. Kamu memakai baju sekolah setelan anak gadis. Maaf jika permintaan ku terlalu berlebihan. Kamu lupakan saja!" Nilam hanya terdiam.
"Aku juga ingin terlihat seperti gadis pada umumnya. Namun, ada satu hal lagi yang tidak bisa aku ceritakan padamu? Belum saatnya. Tadinya aku hanya mengikuti apa kata Angga, suatu hari nanti kamu pasti bisa mengerti " Rey hanya tersenyum.
'Sepertinya, aku terlalu menyukai semua yang ada di dalam dirimu' Gumamnya dalam hati.
Bell mulai berbunyi.
"Assalamualaikum ... selamat pagi anak-anak?"
"Waalaikumsalam selamat pagi pak??
__ADS_1
"Bagus... Ada tugas untuk kalian?"
Semua orang saling bertatapan.