Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Luka


__ADS_3

Keesokan harinya.


Nilam, di datangi seekor burung merpati, saat ia menyentuh burung itu. Semua, ingatannya kembali, ia tahu bagaimana ia terjatuh. Ada, seseorang yang ingin mencelakakan dirinya.


Suara pedang ...


Treng ... Treng ...


Terdengar suara pedang saat ia sedang berperang. Dengan seseorang berjubah hitam, hingga ia lengah dan terjatuh ke bumi.


Angga, mengetuk pintunya. Membuatnya terbangun dari lamunannya. Ia, segera bergegas, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.


"Bagaimana, jika pulang sekolah, ada yang harus aku berikan untuk dirimu?"


Angga, memegang tangannya. Dan, Nilam teringat wajahnya yang terlihat di peri awan. Apakah, Angga, adalah orang aku cari. Ia, berpikir demikian.


"Kenapa, kamu melamun terus, dan tidak bersemangat?" Angga, terlihat sangat cemas.


"Gak apa-apa! Sebaiknya, kita segera ke sekolah, aku takut terlambat!" Angga, merasa aneh tiba-tiba saja, Nilam berubah, akhir-akhir ini. Ia, tidak bisa banyak bertanya, karena ia sangat sibuk. Dan, Angga bukanlah tipikal pria yang selalu banyak bertanya.


Angga, mengantarkan mereka ke sekolah. Angga, masih sibuk dengan kasusnya yang belum selesai. Nilam, menuju kelasnya. Rey, sedang duduk dengan mendengarkan musik. Nilam, tidak seperti biasanya.


(Apa, aku keterlaluan!) Nilam, hanya terdiam. Sepertinya, ia kepikiran dengan semua ingatannya, haruskah aku memberi tahu kepada Angga yang sebenarnya.


(Kemarin, aku mencoba menghilangkan dirimu dalam hatiku, kini ... justru hatiku yang tidak bisa jauh darimu!)


Seorang, guru masuk ke dalam kelas. Ternyata, guru olahraga, yang akan memberikan sebuah pengumuman penting. Jika, Minggu depan tim basket mereka akan segera bertanding. Mereka, sangat senang dengan pengumuman itu. Apalagi, Farel sebagai ketua Tim, sangat antusias.


****


"Pak, lapor ...! Kami, telah menemukan lokasi keberadaan orang tuanya, berada di Bandung!"


"Baiklah, kita segera kesana!"


Mereka, bergegas menuju mobil dan segera menuju ke Bandung. Sesampainya di sana, mereka mencari lokasi pelaku. Dengan, bertanya kepada masyarakat setempat. Akhirnya, mereka menemukan alamatnya, dan segera menyergap mereka. Hampir saja, pelaku kabur, untungnya Angga, berlari menuju pintu belakang dan memukul bagian kakinya hingga terjatuh. Sedangkan, pelaku wanita berhasil di tangkap oleh Firman. Mereka, berhasil meringkus kedua tersangka. Segera, membawanya ke Jakarta, untuk di interogasi.


Sesampainya di kantor. Mereka berdua langsung di cecar berbagai pertanyaan.


"Bagaimana, bisa anak sekecil itu, mendapatkan perlakuan yang tidak baik!"

__ADS_1


"Saya, tidak tahu Pak!"


"Tidak tahu! Tapi, kabur ..! Bagaimana seorang ibu, meninggalkan seorang anak sekecil itu, bahkan terdapat luka serius di seluruh tubuhnya, organ dalamnya rusak parah, tulangnya banyak yang retak, apakah itu bukan penganiayaan terhadap anak? Coba, ibu pikir ...! Di luar sana, banyak orang yang menginginkan seorang anak, tapi kalian malah membuat anak kalian terluka, sungguh keterlaluan!" Angga, berbicara dengan nada yang sedih dan emosi. Ibu itu hanya menangis dan terdiam. Berdasarkan hasil laporan, Ibunya telah berpacaran dengan seorang pria yang masih muda, dan karena usianya masih muda, sekitar dua puluh lima tahun, anaknya sering rewel dan membuat ia sering menyiksa anaknya.


Kejadiannya sekitar pukul delapan malam, saat pacarnya datang, saat mereka sedang berpacaran, korban sedang rewel karena ia merasa lapar, pacarnya merasa tidak senang dengan korban dan mulai mengompori pelaku untuk membuat dia diam. Sehingga pada malam itu, korban dipukuli habis-habisan. Seluruh tubuhnya di hajar, hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Beberapa jam, ia sadar dan kabur, dan terjatuh kembali di jalanan. Saat, Maya menemukannya. Angga, yang mendengarnya merasa sangat sedih, ada ibu yang tega berlaku kasar terhadap anaknya sendiri.


Tidak, lama Maya menelpon dan memberikan laporan jika anak tersebut tidak bisa di selamatkan. Membuat tubuhnya menjadi lemas. Ia, terduduk di kursi panjang. Dengan, menundukkan kepalanya, dengan kedua tangannya memegang kepalanya. Kembali, ia merasa gagal tidak bisa membantu orang lain. Rasanya, hatinya sangat hancur. Ucok menghampirinya.


"Semuanya, sudah kita usahakan! Kematian itu adalah milik Allah, kita tidak bisa menghindari! Bapak, sudah melakukan yang terbaik!" Angga, terdiam sejenak, dari menarik nafasnya. Ia, mencoba untuk mengikhlaskan semuanya.


"Sekarang, pelakunya akan menerima semua hukuman yang setimpal dengan perbuatannya! Masih banyak kasus yang harus kita selesaikan!"


"Terimakasih banyak, atas semuanya, kalau tidak ada Bapak, entah bagaimana hidupku!"


"Bapak, jangan begitu! Kita saling membantu satu sama lain, bapak juga sudah banyak membantu saya, selama ini!" Angga, tersenyum.


***


Rey, terlihat sangat tampan, ia sedang tertidur di meja. Saat jam istirahat sekolah, Nilam menatapnya sambil ikut membaringkan wajahnya di atas meja.


(Ternyata, kamu ganteng juga ya!) Dalam hatinya ia tidak sadar berbicara tentang Rey.


"Udah, pesenin dulu aja!" Raya, mulai melihat menu. Farel, melewati mereka, ia terlihat sangat tampan dan banyak wanita yang sering memandang wajah tampannya itu. Tapi, ia tidak pernah menggubrisnya, ia memang terlihat menyukai Sukma. Sedangkan, Sukma sangat membencinya.


(Hatiku, kenapa sering deg-degan saat bertemu dengan Farel!) Raya, memegang dadanya. Ia, merasa aneh saat bertemu dengan Farel hatinya berdebar-debar. Aldo yang melihatnya merasa aneh.


"Kenapa loe...!"


"Ah, gak apa-apa!"


Nilam, yang sejak tadi masih memandangi wajah Rey. Tiba-tiba saja Rey terbangun, dan Nilam terkejut. Segera berdiri. Rey, menarik tangannya.


"Mau, kemana?"


Nilam, menjadi sangat gugup. Rey, terbangun dari tidurnya dan segera berdiri.


"Aku, minta maaf atas perkataan aku waktu itu! Bisakah, kita berteman kembali, aku tidak bisa melihat dirimu jauh dariku meskipun hanya sebagai teman!" Nilam, berbalik dan tersenyum.


"Aku, sudah tidak memikirkan hal itu lagi! Lagi pula, kita memang teman!" Rey, hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ayo, kita ke kantin?"


"Baiklah!" Rey, mengikutinya dari belakang. Mereka sudah menunggu Nilam sampai makanannya menjadi dingin, karena setia menunggu.


"Maaf ...!"


"Untungnya gak basi!" Dika, nyeletuk.


Mereka tertawa bersama. Rey, senang bisa melihat wajah Nilam yang tersenyum manis. Dan berpikir kapan ia bisa melihat Nilam, sebagai seorang gadis seperti malam itu. Ia, terlihat sangat mempesona hingga membuat ia tidak bisa berkata-kata lagi. Bagaikan, melihat seorang bidadari. Wajahnya selalu terbayang-bayang di pikirannya.


Waktu jam sekolah telah usai. Angga, menjemputnya. Terlihat wajahnya sangat sedih. Nilam, yang duduk di dekatnya.


Ia, memegang tangan Angga.


"Semuanya, akan baik-baik saja! Kamu, sudah melakukan yang terbaik!" Angga, terlihat diam. Ia, hanya tersenyum biasa. Hatinya masih terluka melihat wajah korban yang ia rawat. Meskipun ia tidak mengenalnya tapi ia merasa kehilangan.


Tiba-tiba saja Angga, hampir menabrak kucing, dan ia mengerem mendadak dan Nilam terpentok. Angga, terlihat merasa bersalah.


"Kamu, tidak apa-apa? Ada, yang luka?" Ia, bertanya dengan mencari luka-luka.


"Aku, gak apa-apa! Beneran!"


"Syukur alhamdulilah!" Angga, merebahkan badannya. Karena mobilnya sudah berada di pinggir jalan, mereka berhenti sejenak. Angga, adalah pria yang datar meskipun sekarang ia sedikit berubah sejak Nilam hadir.


***


Farel, pulang ke rumah dan menceritakan bahwa ia akan melakukan kompetesi untuk basketnya. Ibunya, sedang duduk sambil menonton televisi. Farel, menghampirinya.


"Bu, Farel akan kompetisi minggu depan, apakah ibu bisa datang?"


"Iya, pasti ibu akan setia menontonnya! Apakah Rey juga ikut?" Farel, terdiam sejenak.


"Gak usah tanyakan tentang dia lagi!"


"Farel, Rey tidak pernah salah! Bisakah kamu, memaafkannya?" Ia, menggelengkan kepalanya.


"Ibu, aku tidak mau, lagi membahasnya lagi! Ibu, sudah tahu jawabannya! Sebaiknya, kita tidak usah membicarakan tentang itu lagi!"


"Tapi .. Farel ...!" Farel, memasuki kamarnya. Ia, sungguh belum bisa memaafkan semua yang telah terjadi.

__ADS_1


(Rasanya, masih sakit! Sungguh, setiap hari aku harus berjuang keras untuk melupakannya, tapi tetap saja .. hatiku masih sakit! Meskipun, aku bersikeras untuk memaafkan tetap luka itu terlalu dalam, hingga setiap bertemu dengan Rey, bayangan masa lalu itu terus terulang!) Ia, merebahkan tubuhnya di atas kasur.


__ADS_2