
Keesokan hari di sekolah. Karena terlalu bahagia Raya berjalan dengan tersenyum sendiri. Ia masih merasa jika ia sedang bermimpi, ini adalah hari pertama ia jadian dengan Farel. Nilam yang melihatnya merasa aneh.
"Hey ... kenapa!"
"Eh ... gak apa-apa! Sorry ...!" Ia terlihat gugup. Dan terus tersenyum. Farel datang terlihat lebih rapi dan semakin tampan, sehingga para gadis melihatnya. Aldo dan Dika, baru sampai. Aldo segera menghampiri Rika. Dengan mengusap rambutnya. Dika yang melihatnya merasa tidak senang, ia memasang wajah sinis.
"Hai gadis ...?" Rika, hanya tersenyum.
"Ini buku yang kamu pinjemin aku udah selesaikan ... makasih banyak ya? Aku masuk dulu!"
"Rika, nanti ke kantin bareng ya. Aku traktir makan siang!" Rika, mengangguk dan Aldo terlihat sangat senang. Dika, terlihat sinis.
"Emang loe ... punya uang?"
"Enggak ... Ya gue pas-pasin sih buat traktir pujaan hati gue ..! Loe jangan syirik dong, loe kan harusnya ikut bahagia!"
Dika, hanya terdiam, dan ia bergegas menuju kelas. Farel, merasa gugup karena ia akan menemui Raya. Tidak seperti biasanya, karena kali ini mereka memiliki hubungan khusus. Sehingga membuat jantungnya berdetak kencang. Sebelum masuk, ia terus menarik nafasnya yang panjang. Rey, yang berada di belakangnya merasa sangat heran.
"Hey ... ayo masuk ...!" Farel sempat terkejut dan ia terus memegangi dadanya.
'Oke tenang ... tarik nafas panjang, dan tetaplah berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa! Oke ... semangat ...!'
Kemudian ia masuk ke dalam kelas. Raya terlihat menunduk karena malu. Hampir saja Farel terjatuh, ia kurang fokus karena matanya tertuju kepada Raya.
"Farel ... loe kenapa sih, dari tadi aneh ...! Gue lihat kaya gugup gitu, terus senyum-senyum sendiri, kesambet loe?" Aldo merasa heran.
"Gak ... apaan sih! Lebay banget ...!" Kemudian ia duduk di kursinya.
Jam pelajaran di mulai. Farel terlihat curi-curi pandang ke arah Raya. Setelah jam istirahat, mereka langsung menuju ke arah kantin. Karena akan ada jam bermain basket setelah istirahat, Farel ingin memberitahu mereka. Namun mereka terfokus kepada Aldo.
Aldo, segera menghampiri Rika mereka makan berdua. Terlihat sangat serasi. Farel duduk dan menawarkan minuman untuk Raya.
"Kok cuma Raya!" Celetuk Dika.
"Oh ya ... maksudnya semuanya. Gak apa-apa gue yang pesen!" Farel menulis untuk diberikan kepada ibu kantin.
Nilam melihat isi handphonenya, ia berharap ada pesan dari Angga. Tapi ternyata tidak ada, ia merasa terlalu berharap banyak.
Rey yang melihatnya merasa kasihan, ia tahu jika Nilam menunggu pesan dari Angga. Namun, Nilam malah mendapatkan pesan dari perempuan yang menyukainya. Ia tersenyum melihat isi pesan tersebut, ternyata dari adik kelasnya.
"Kenapa loe?" Tanya Raya penasaran.
"Ini, ada pesan dari cewek."
"Ya, suka kali sama loe ...! Emang dia bilang apa? Sini gue lihat?" Raya hanya tertawa, melihat isi pesannya.
{ Jangan lupa makan ya kakak Raffi yang ganteng, salam manis dari NZ}
Dika, kemudian ikut tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ya, emang bener sih ... kalau di lihat-lihat loe emang ganteng kalau jadi cowok, dan cantik kalau jadi cewek. Lagian juga, loe tuh bener-bener gak kelihatan ceweknya sih. Maskulin, dan juga mirip cowok Korea!" Raya, menanggapi hal itu.
"Bener sih ... Dika dan Aldo mah lewat ...!" Farel ikut serta, sembari membawa minuman. Ia spesial memberikan untuk Raya.
"Ini buat loe ... Spesial gak pakai saos!" Semua orang tertawa.
"Ya, masa pakai saos loe pikir bansos ...!" Timpal Dika.
"Bakso ... Dika ..." Serentak. Akhirnya mereka mulai makan. Hanya Dika yang merasa ada yang kurang sejak Aldo tidak pernah makan bareng.
Sementara Angga, terus menulis dan menghapus kembali. Ada puluhan kali ia terus mengulang hal yang sama. Ia sebenarnya ingin menanyakan kabar Nilam, bagaimana dengan sekolah, dan ia ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari. Namun, rasa gengsinya mengalahkan sehingga ia terus menulis dan menghapus.
"Kenapa sama handphone nya? Rusak? Aku lihat kamu hanya membulak- balik, aku pikir rusak" Tanya Rey.
"Enggak ... cuma lagi menunggu seseorang untuk mengirimkan sebuah pesan!" Nilam, memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya. Tidak lama, Angga mengirimkan sebuah pesan singkat. Namun Nilam tidak menyadarinya. Ia tidak sempat melihat pesan tersebut.
{ Selamat makan siang dan maaf atas kejadian tempo hari. Bisakah malam ini, kita makan berdua? Aku akan menjemputmu, di sekolah? }
"Dik, loe kenapa sih melamun terus, dan ngelihatin Aldo? Loe pengen punya pacar juga?" Farel, terus mengejeknya.
"Gue, bukannya gak mau Aldo punya pacar. Tapi gini, dia bakal lupain gue! Tiap malam mereka telponan, sedih udah gak punya waktu buat gue lagi! Sekarang nih, makan siang dia pergi, gue sebenernya seneng lihat dia bahagia, masalahnya dia jadi gak ada waktu buat gue lagi, maen game sendiri, gue bete!" Dika terdengar sedih. Rey, mengusap pundaknya.
"Dika, masih ada kita disini. Biarkan saja mereka sedang bahagia! Kenapa loe juga gak punya cewek sekalian, jadi Doble date?"
Dika hanya tersenyum.
"Gak tau ... Gue gak tau,...!"
"Enggak ....!"
"Oh pantesan aja gak punya pacar!"
"Ih, bukan gitu maksudnya, loe pikir gue ini gak normal. Gue masih normal, cuma dulu gue pernah suka sama cewek tapi ternyata dia cuma manfaatin gue doang. Sakit tapi gak berdarah, ya sejak saat itu gue jadi gak mau punya pacar, di tambah kak Angga bakal marah besar, apalagi kak Angga itu perhitungan, dia bakal ceramah habis-habisan. Panas kuping gue ...!" Mereka tertawa melihat tingkah laku Dika yang bercerita dengan wajah yang lucu.
"Ya udah ... sekarang kenapa Aldo bisa?" Tanya Rey.
"Ya, kan dia mah. Diam-diam, gue gak bisa bohong. Keburu ketauan, ngomong aja bla-bla e e ... ah udah otomatis ketauan, kak Angga tuh pinter baca mimik wajah orang, ya dia kan detektif, gue gak ada apa-apanya sih di banding Aldo yang pinter aktingnya."
"Ah, masa sih ...!" Farel, nyeletuk sambil mengoyor kepala Dika pelan.
"Ih, loe sendiri gak punya pacar kenapa?" Farel tersedak, sehingga Raya segera memberikan air putih. Semua orang heran dengan sikap Raya dan Aldo yang tiba-tiba saling perhatian. Dika menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Kalian pacaran?" Tanya Dika penasaran.
"Enggak kok ...!" Timpal mereka berdua yang terlihat gugup. Tidak lama, cermin yang dibawa Nilam bergetar hebat. Membuat perhatian mereka teralihkan. Nilam mengambil cermin tersebut.
"Gerhana merah ..." Mereka membaca berbarengan dengan saling bertatapan satu sama lain. Nilam mulai memberikan penjelasan.
"Gawat ... akan ada yang terjadi malam ini, karena ini bertepatan dengan gerhana bulan merah, ada sesosok mahluk yang bentuknya seperti manusia serigala, namun ia menghisap darah." Mereka terlihat cemas.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Raya, mulai cemas.
"Kita harus mengetahui dimana letak iblis itu akan keluar, karena aku juga tidak bisa memastikan apakah ia akan menyerupai bentuk manusia seutuhnya atau dia memang langsung memakan korbannya!"
"Tapi, kita gak punya alat pendeteksi iblis? Dik, ..." Farel, mulai berpikir jika Dika dan Aldo selalu membuat alat aneh.
"Kok jadi ngelihatin gue ...! Emang gue pengusir iblis ..?"
"Iya, bener loe tuh ... biasanya nyiptain alat aneh loe, kali aja berguna. Gue dukung loe seribu persen ...!"
"Iya betul ...!" Mereka semua berharap agar Dika dapat menciptakan sebuah alat pendeteksi iblis.
Dika tersenyum, dan ia tampak bersemangat. Mereka menumpukkan tangan mereka dan berkata yel-yel semangat. Aldo kemudian datang, dan mereka menjelaskan apa yang akan terjadi. Cermin itu bergerak lagi dan memberikan sebuah inisial nama R. Mereka saling bertatapan dan menatap ke arah Rika yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Aldo nampak bersedih karena ia takut jika terjadi sesuatu pada kekasih yang baru ia pacari sebulan ini.
Aldo bertekad untuk melacak dimana, akan keluar iblis tersebut. Setelah pulang sekolah, Aldo dan Dika mengajak mereka untuk masuk ke basemen tempat mereka biasanya melakukan eksperimen. Karena sudah lama tidak di gunakan terpaksa mereka harus membersihkan ruangan tersebut.
Angga, ke sekolah dan tidak menemukan siapapun.
'Apa aku terlambat untuk datang ' Ujarnya dalam hati. Tidak lama ia mendapatkan panggilan jika ada seseorang yang terluka parah di sebuah hotel. Mendapatkan banyak luka tusukan, di duga korban di tusuk oleh kekasihnya. Karena cemburu buta. Akhirnya Angga segera menahan pelaku. Ia hampir lupa, untuk mengirimkan pesan kembali ke Nilam.
{Tunggu aku saja di taman kota, karena masih ada urusan yang harus aku selesaikan}
Nilam, mengambil handphone-nya dan ternyata ada lima puluh panggilan dari Angga, serta pesan. Ia berbicara kepada teman-temannya jika ia ada urusan penting. Rey merasa cemas berniat untuk mengantarkan Nilam. Nilam sempat menolaknya. Namun, Rey bersikukuh keras. Akhirnya Nilam mengikuti sarannya. Setelah sampai, Nilam menyuruhnya untuk pulang dan segera membantu temannya. Jika ia selesai, ia akan menyusul. Rey hanya mengangguk dan pergi. Nilam duduk, untuk ia membawa baju ganti. Ia berganti dengan kekuatannya. Kebetulan malam itu tidak ada siapapun hanya ia sendiri yang duduk. Malam itu pukul tujuh, suasana sangat dingin.
Tidak lama handphonenya mati, jadi sebelum ia berhasil menghubungi Angga. Handphonenya keburu mati.
"Yah ... sayang sekali mati ...!" Ia menunduk. Ia melihat seseorang sedang berdiri di depannya. Saat ia melihatnya ternyata Rey. Membawanya minuman.
"Kenapa kembali lagi?"
"Aku, sebenarnya tadi sudah pulang. Namun, aku memutuskan untuk kembali.. mengingat bahwa tadi tidak ada siapapun. Aku takut terjadi sesuatu"
'Sebenarnya hatiku lah yang membawaku kembali ' Nilam hanya tersenyum.
"Kamu tidak usah cemas ... aku ini kuat jadi tidak ada yang bisa menyakiti ...! Sudahlah kamu sebaiknya kembali ...!" Ia mendorong-dorong Rey untuk pulang.
"Kamu menunggu Angga?" Nilam terdiam.
"Kamu yakin dia akan datang ...? Jika tidak bagaimana?"
"Aku akan menunggunya meskipun hingga pagi ...!" Nilam terlihat sedikit putus asa dan sedikit tersenyum.
"Aku mau nemenin kamu?"
"Gak usah, sebaiknya kamu pergi. Aku gak mau kamu ikutan menunggu"
"Oke, aku pergi tapi setelah Angga datang!"
"Enggak, aku bisa sendiri ... tolong kamu kembali saja ...!" Dengan terpaksa Rey pergi.
__ADS_1
Ada rasa cemburu yang Rey rasakan. Ia kembali ke motornya, dan segera menyalakan motornya, melihat Nilam yang terus menunggu di keheningan malam. Ia tidak tega jika harus merelakan Nilam untuk orang lain.
"Kamu menunggunya dan aku menunggumu" Terdengar suara putus asa dari suara kecil Rey.