Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Kisah yang menyedihkan


__ADS_3

Mereka saling bertatapan. Dengan nafas panjang Rey mulai bicara dengan tenang.


"Sebaiknya aku angkat saja, karena jika tidak pak Angga akan marah besar!" Nilam, menganggukkan kepalanya.


Telepon pun di angkat oleh Rey dengan sedikit gugup.


"Hallo pak, assalamualaikum ...?"


"Waalaikumsalam, nah gitu dong angkat. Lama banget sih, kenapa kamu tidak angkat telepon saya dengan cepat?"


"Maaf pak tadi handphone saya tertinggal di mobil. Mohon maaf ..."


"Kamu sedang dengan Nilam?"


Rey, bingung harus menjawab apa.


"Jawab ... Saya kan lagi bertanya kepada kamu?" Nada bicaranya terlihat santai.


Nilam, terlihat gugup.


"I ... Iya pak ...!"


"Iya saya tahu, soalnya tadi pak Ucok sudah bilang kepada saya. Tolong kalian bertugas dengan benar ya. Saya, titip Nilam! Baiklah selamat bertugas, salam untuk Nilam. Jangan lupa kalian untuk makan. Tidak apa-apa jika Nilam tidak sempat untuk mengangkat telepon dari saya. Saya hanya merasa ...!"


"Merasa apa pak ...?"


"Ah ... Tidak apa-apa, kalian lanjut saja. Assalamualaikum ..."


"Oh ... Ya pak, waalaikumsalam!"


Nilam merasa tidak enak karena tidak mengangkat telepon dari Angga.


'Apa, Angga marah denganku dari nada bicaranya. Memang salahku tidak mengangkat telepon darinya. Dia pasti kecewa!'


Nilam, tiba-tiba saja merasa sangat bersalah. Rey, menjadi merasa tidak enak.


'Apa aku adalah orang ketiga di antara hubungan mereka, atau aku salah satu orang yang ada di hatimu. Banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu, namun mulutku terdiam membisu. Andai kamu tahu, betapa besarnya perasaan ini untukmu. Namun, semakin lama perasaan ini terasa menyakitkan'


"Kenapa kamu melamun?" Nilam, sambil memegang pundaknya.


"Ah ... Tidak. Aku hanya merasa tidak enak dengan pak Angga. Harusnya kamu tadi angkat teleponnya. Dia sangat mencemaskan dirimu!"


"Iya, aku merasa bersalah. Tapi, sudahlah kita lanjutkan pembahasan kita tadi untuk segera ke lokasi."

__ADS_1


Rey, menganggukkan kepalanya dan menghidupkan mobil. Mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi. Setelah sampai, mereka mengawasi dari sebrang rumah tersebut. Terlihat tidak ada aktivitas apapun. Mereka menunggu sampai tertidur pulas, hingga malam. Rey terbangun dan melihat jam tangannya.


"Sudah pukul tujuh malam!"


Nilam sedang tertidur pulas, Rey membuka jaketnya dan menutupi tubuh Nilam dengan jaketnya agar tidak kedinginan.


Rey, sempat mengusap rambut Nilam dengan lembut.


"Cinta itu buta, tidak peduli seberapa sakit saat akan tahu di tolak. Namun perasaan itu tidak pernah berubah menjadi rasa benci. Entah berapa lama aku mulai menyukaimu, rasanya perasaan ini telah lama. Hingga hari ini hanya dirimu alasanku untuk terus tersenyum bahagia" Rey, berbicara kecil sembari tersenyum dan terus menatap wajah Nilam.


Dilain sisi, Angga sebenarnya tidak tenang membiarkan Rey bertugas dengan Nilam.


"Aku sebenarnya tidak ikhlas, tapi aku harus bagaimana. Aku mencoba bersikap biasa saja, tapi sebenarnya hatiku tidak tenang melihatmu dengan Rey, yang jelas memiliki perasaan yang sama. Sabar mereka sedang bertugas bersikaplah profesional ...!" Angga mencoba untuk menenangkan pikirannya.


Angga melamun sembari memandangi foto Nilam yang ia pajang di ruangannya. Terlihat foto Nilam yang sedang duduk sambil memegang kucing, sepertinya ia tidak sadar jika Angga telah memfotonya. Rambutnya nampak sedang terkuncir dengan poni wajahnya sangat menawan dengan senyuman manis.


"Kamu memang sangat manis, membuat hatiku selalu berdegup kencang. Hanya dengan memandang fotomu membuatku selalu merasa tenang."


****


Terlihat mobil, memasuki area parkiran rumah tersebut, memang terlihat dari jauh karena perumahan itu tidak menggunakan pagar.


"Mobil itu sama persis dengan mobil korban." Rey, terus memperhatikan. Nilam terbangun dari tidurnya. Nilam tersenyum kepada Rey.


"Apa ada aktivitas?"


Mereka terus mengawasi gerak-gerik mobil tersebut. Dan keluarlah seorang wanita sekitar empat puluh tahun.


Rey, memotret dari kejauhan. Lalu di zoom untuk melihat wajah wanita tersebut, dan dikirimkan kepada suami korban. Barangkali mengenali wajah wanita itu. Namun, suaminya tidak mengenali wanita tersebut.


Rey ingat ia memasang perekam suara di rumah tersebut saat sedang menggeledah rumah tersebut.


Ia menghidupkan alat yang tersambung dengan perekam suara tersebut, ke dalam handphonenya.


"Apa itu?"


"Aku, baru ingat jika aku sudah memasang alat perekam suara di rumah itu, sebentar."


Krek ... Krek ... Krek ...


Suaranya belum terdengar jelas.


Rey, terlihat berusaha agar tersambung. Akhirnya tersambung. Dan terdengar suara percakapan.

__ADS_1


"Ibu, dari mana saja. Mana bayinya?"


"Bayinya, sudah meninggal." Dengan rasa yang tidak bersalah.


"Mama mungkin Bu!" Terdengar suara tangisan kecil dan menyesal.


"Maaf ya, ibu tidak bisa menjaga adikmu. Ibu buru-buru langsung menguburkan bayi, ibu tidak menelepon karena takut kamu khawatir." Terlihat gugup.


"Tapi, kenapa ibu membawa mobil teman ibu kemarin, memangnya dia kemana?" Tanyanya heran.


"A ... Anu dia pulang." Dengan nada yang gugup.


"Pulang... Tapi kenapa mobilnya dia tinggalkan begitu saja. Aneh ...!"


"Dia naik kereta, dia bilang menitipkannya disini. Sudah ibu ke kamar dulu ...!"


Anaknya hanya menganggukkan kepalanya.


"Ada yang aneh sepertinya, ada yang ibu sembunyikan! Sebaiknya aku cek tas nya."


Gadis itu memeriksa tas tersebut dan ia menemukan sebuah surat pernyataan telah menyerahkan seorang bayi. Dan ada uang yang banyak di dalam tas tersebut. Ada barang-barang orang lain, dan handphone ia membuka handphone tersebut. Ada foto wanita kemarin yang pernah datang ke rumah mereka.


Ada beberapa pesan masuk yang mencari keberadaannya.


"Aneh kenapa barangnya ada disini! Sepertinya ibu sudah membohongi diriku!"


Lalu, ia menemukan sebuah surat pernyataan jika ia mengalami keguguran di usia dua bulan. Ia terkejut.


"Jadi, ibu sudah keguguran sejak dua bulan. Lalu kenapa ibu berbohong jika ia hamil sembilan bulan, dan tiba-tiba saja bayinya meninggal dan kenapa ada surat pernyataan telah di adopsi bayi perempuan. Tadi ibu bilang bayinya telah meninggal lalu ini bayi siapa? Apa jangan-jangan ... Bayi itu adalah bayi wanita kemarin yang datang kemari ia juga sedang hamil sembilan bulan. Lalu, keluarganya jelas-jelas sedang mencarinya!" Tiba-tiba saja ibunya keluar karena ia lupa meninggalkan tas nya. Ia terkejut saat anaknya sudah membuka tas tersebut.


"Ibu ... Tolong jawab jujur?"


Ibunya terlihat gugup.


"Ini maksudnya apa? Ibu sudah berbohong telah hamil, padahal ibu telah keguguran sejak dua bulan. Lalu bayi yang sudah diadopsi oleh orang lain ini bayi siapa? Apa bayi wanita kemarin, lalu kenapa barangnya ada di tas ibu? Tolong Bu, jelaskan semuanya? Kemana wanita kemarin, handphonenya terus berdering karena keluarganya berharap bisa menemukannya. Ibu tidak bisa berbohong lagi, tolong jawab Bu." Ia sambil menangis, tidak percaya jika ibunya melakukan hal sekejam itu.


Ibunya, hanya terdiam membisu dengan wajah yang pucat.


"Bu, jawab Bu ... Kemana wanita kemarin, polisi sudah kemari Keluarganya pasti sangat khawatir, kenapa ibu bisa melakukan hal ini, apa demi uang? Aku tidak butuh uang banyak, aku hanya ingin melihat wajah ibu setiap hari. Aku akan berusaha untuk membuat ibu bahagia. Aku hanya ingin ibu jujur saja semuanya! Aku tidak perlu berobat lagi, paru-paru ku sudah mulai membaik. Ibu tolong, jujurlah padaku?" Gadis itu sambil terus menangis.


Ibunya mulai tersentuh dengan kata-kata anaknya, sambil menangis ia menjawab.


"Baik-baik .... Ibu akan jujur, sebenarnya ibu telah membunuh wanita kemarin dan mengambil bayinya!"

__ADS_1


"Apa .... Ibu telah membunuh wanita tersebut? Astaghfirullah .... Ibu ... Dimana hati ibu?" Badannya Langsung lemas, ia terduduk di lantai sampai menangis tersedu-sedu, mendengar penjelasan ibunya. Tidak dapat ia percaya jika ibunya melakukan hal sekeji itu.


Rey, dan Nilam yang mendengarkan cerita tersebut sangat shock. Mereka saling bertatapan.


__ADS_2