
Angga, menarik nafasnya. Ia, tidak boleh marah. Ia, harus tetap tenang.
'Oke, santai ... mereka hanya berteman saja. Kalau aku marah lagi, dia pasti lebih marah lagi'. Angga, berusaha untuk menenangkan diri.
Angga, memegang tangannya.
"Maaf ya. Aku, membuatmu kesal lagi!" Nilam, hanya terdiam. Aldo dan Dika, kembali menggerutu.
"Lihatlah, kita hanya kacang goreng kayanya ...!" Dika, menyenggol lengan Aldo.
"Mobil milik berdua, anggap saja kita cuma angin lewat!" Aldo menimpali ucapan Dika.
Akhirnya, suasana menjadi cair. Dan mereka tertawa-tawa. Nilam, pun tertawa lepas.
"Nah, gitu dong. Kan kelihatan lebih cantik ...!" Angga, menyentuh dagu Nilam. Nilam, hanya tersenyum.
Drttt ... drttt ...
Angga, mengangkat telepon tersebut.
"Pak, sudah kami temukan. Lokasi kejadian." Terdengar suara Ucok berbicara. Dan memberikan alamatnya. Angga, segera bergegas menuju lokasi kejadian.
Sesampainya di lokasi, terlihat banyak orang. Serta warga disana. Ia, menghampiri Ucok dan Firman.
"Maaf Pak ... Sepertinya kami belum menemukan korban, bahkan tim Basarnas telah turun. Kami masih menyisir tempat ini!" Firman memberikan laporan.
"Baiklah, laporan di terima. Kita akan cari bersama."
Mereka melanjutkan pencarian korban. Raya datang, setelah ia berdiam di dalam mobil. Angga, mulai sibuk. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Mereka membawa senter. Angga, kembali menemui Nilam, dan memberikan sebuah senter.
"Tolong, pergunakan baik-baik. Jangan, kemanapun, tetap disini. Oke!" Angga, terlihat sangat khawatir dengan Nilam.
"Awas, jika kalian tidak bisa menjaga dua gadis ini. Raya dan Nilam, tamatlah riwayat kalian!" Dengan nada sedikit bercanda. Nilam, hanya tersenyum. Sedangkan, Aldo dan Dika terlihat tercengang dengan ucapan Kakaknya itu. Angga, kemudian melanjutkan pencariannya.
"What ... kita harus menjaga mereka berdua, emang kenapa! Apakah mereka anak kecil." Aldo terlihat kesal. Dika terlihat ikhlas saja. Raya, menepuk pundaknya.
"Kenapa loe gak ikhlas. Lagian, siapa yang butuh bantuan loe ... loe!" Raya, menunjuk mereka berdua. Mereka berdua, terlihat menelan ludah karena salah berbicara.
"Kita bisa jaga diri, iya gak ..?" Ia, bertanya kepada Nilam yang sejak tadi seperti melihat sesuatu.
__ADS_1
Nilam, melihat seorang gadis berdiri dan Nilam penasaran. Ia, berjalan menghampiri gadis itu, gadis itu malah berjalan pergi. Ketiga temannya mengikuti tujuan Nilam. Sedangkan Aldo dan Dika, saling berpegangan.
"Do, gue bisa jatuh nanti ... jangan begini ... ini sawah. Cuma setapak nanti kalau gue jatuh loe mau tanggung jawab?" Dika, terlihat sangat serius. Aldo melepaskan tangannya dengan perasaan takut.
"Hei ... tunggu ...?" Nilam, terus berlari mengejar gadis itu.
"Nilam, tunggu ...!" Raya, terus mengikuti dari belakang.
"Dik, bulu mata gue berdiri ...?" Aldo terlihat sangat takut.
"Masa bulu mata ... kenapa gak bulu hidung aja sekalian ...?" Timpalnya dengan tawa.
"Gue, beneran takut ... itu si Nilam mau kemana? Jangan-jangan, ngejar hantu ...?" Dika, berhenti sejenak mendengar perkataan Aldo.
"Iya, juga ...! Gue, emang jomblo tapi bukan berarti gue harus ngejar-ngejar setan ...!" Mereka berdua mulai takut. Raya, meneriaki merek mereka agar segera menyusulnya. Tiba-tiba saja Nilam berhenti.
"Kenapa?" Tanya Raya heran.
"Lihatlah ...!" Nilam, menunjukkan sungai yang mengalir. Aldo dan Dika terkejut dengan penampakan gadis tersebut yang sedang berdiri di ujung batu. Tiba-tiba saja ia, menatap ke arah mereka. Dan mereka semua terkejut dan teriak bersama.
"Mereka pasti sudah pergi!" Angga, menepuk jidatnya. Hingga, membuat suara mereka terdengar oleh Angga. Angga, segera mencari sumber suara tersebut. Dan, menemukan Nilam, sedang berdiri.
"Kan kata gue juga setan ...!" Aldo terlihat gugup. Sedangkan Aldo dan Dika, saling berpegangan. Dengan menutup mata mereka. Sebelum akhirnya tim Angga sampai di lokasi kejadian. Angga, mulai memberikan sebuah komando.
"Ayo, semuanya segera turun, Nilam kamu tidak apa-apa kan?"
"Tidak!" Nilam, melihat gambaran dari kejadian itu. Saat, gadis itu memegang pundaknya dari belakang. Dalam bayangan itu.
"Bro, loe yakin tuh cewek udah mati ..?" Salah satunya bertanya. Mereka terlihat diam dan mulai ragu.
"Jangan-jangan, gadis itu masih hidup ia hanya pingsan, kita pastikan!" TS mulai berpikir untuk kembali.
Di lain itu, ternyata gadis itu, hanya pingsan dan segera memakai baju dengan tertatih-tatih. Ia, hampir tidak sanggup memakai baju. Karena begitu banyak luka yang ia terima. Ia, mulai berjalan dengan tertatih-tatih. Tak tahu arah. Gelap, hanya sinar bulan yang menerangi jalannya.
"Iya, juga sebaiknya kita bergegas memeriksanya!" Mereka kembali mencari korban. Ternyata benar korban sudah tidak ada. Mereka kemudian berpencar.
"Gue, gak mau di penjara lagi, apalagi gue masih buron ... Setelah kabur dari lapas!" Salah satu temannya mulai marah.
"Sudah, tidak usah banyak bicara, sekarang cepat cari sampai dapat. Gue yakin bahwa gadis itu belum jauh, mengingat luka-luka yang di deritanya."
__ADS_1
"Mendingan kita berpencar saja!" Akhirnya mereka berpencar. Dan mulai mencari gadis itu. Gadis itu mulai menyadari jika keadaannya tidak aman lagi.
Gadis itu mulai berlari, saat ia kembali di kejar. Ia, menangis. Dan saat di ujung jalan, ia melihat sungai yang mengalir. Mereka, mendekati korban, hingga korban jatuh sendiri ke dalam sungai. Karena ia sudah tidak punya pilihan lain. Bertahan hidupun. Sepertinya sudah tidak mungkin, karena hidupnya sudah di nodai oleh pria-pria yang tidak mempunyai hati. Ia, memilih untuk terjun.
Nilam, kembali dari bayangannya. Gadis itu tersenyum bahagia. Dan mengucapkan
"Terimakasih banyak ..." Gadis itu menghilang. Nilam, membalas senyumannya. Akhirnya, mayat gadis itu dapat di temukan. Dan, segera di bawa ke ruang otopsi.
****
Rey, terlihat sedang memainkan sebuah gitar, di balkon sekolah, suaranya sangat merdu. Dan terlihat sangat tampan. Ia, sedang sendirian, hingga ia merasa seseorang sedang mengawasinya dari belakang. Ia, mulai menyadarinya. Dan, diam-diam melemparkan tas. Hingga, orang itu berkata.
"AW ...!" Ia, terlihat mengusap kepalanya.
"Hey, siapa disana? Ternyata seorang gadis!" Gadis itu, segera pergi. Rey, mengejarnya. Dan, malah bertabrakan dengan Nilam. Di lantai bawah. Hingga, membuatnya terjatuh. Rey, mengulurkan tangannya.
"Maaf, aku tidak melihatmu?" Rey, menarik tangannya. Dan, mereka berdua berdekatan dengan tatapan mata yang tajam.
'Kenapa hatiku berdegup kencang, saat berada di dekatnya?' Nilam, mulai plimpan terhadap perasaannya.
'Bisakah, kita sedekat ini. Dengan, tangan yang hangat. Serta tatapan mata yang penuh makna' Gumam Rey dalam hati. Tiba-tiba saja, Bell berbunyi. Membuyarkan lamunan mereka.
"Kamu kenapa?" Nilam, terlihat heran.
"Aku, tadi sedang bernyanyi di atas, tapi ada seseorang yang memperhatikan dari belakang, aku melemparkan tas, hingga ia terlihat kesakitan. Ternyata ia seorang gadis. Bahkan aku belum sempat melihat wajahnya, ia langsung pergi!" Rey, terlihat serius.
"Bagaimana ciri-cirinya?"
"Ia, memakai jubah gaun berwarna hitam. Ia, terlihat memakai penutup wajah seperti ninja. Tapi lebih feminim." Nilam terlihat sangat terkejut mendengar cerita tersebut.
'Untuk apa, Inggar menunjukkan dirinya di sekolah ini? Aneh sekali. Aku, harus mewaspadainya! Pasti, ia datang dengan maksud dan tujuan!"
Rey, mengibaskan tangannya
"Hey, malah bengong ...!"
"Hemm ... iya, maaf aku juga tidak tahu siapa?"
"Tapi kenapa kamu terlihat gugup?"
__ADS_1
"Ah ... enggak kok ...!"
'Sepertinya, Nilam menyembunyikan sesuatu dariku!'