Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Siapakah anak itu


__ADS_3

Sesampainya di TKP dekat sungai. Nilam melihat seorang anak berdiri di atas batu, wajahnya tidak begitu jelas namun terlihat samar-samar ia menangis.


"Pak, maaf saya yang telah menemukan mayat ini."


"Tolong, ceritakan bagaimana pertama kali anda menemukan jenazah korban?" Firman menanyakan untuk menambah informasi.


"Begini Pak, ceritanya"


Pagi itu.


"Saya, pergi memancing. Karena memang saya selalu memancing ikan di pagi hari. Namun, saya melihat seperti boneka yang mengambang. Saya sempat acuhkan dan terus memancing, namun saya penasaran karena ada bau yang cukup menyengat. Akhirnya saya memutuskan untuk melihat yang saya pikir boneka itu. Akhirnya saya dekati dan saya terkejut ternyata itu adalah jenazah anak-anak. Saya berlari ke warga dan langsung menelpon pihak kepolisian"


"Baik, terimakasih banyak atas informasinya. Apakah bapak mengenali jenazah korban?"


"Tidak Pak! Karena jenazahnya sudah rusak hingga sulit untuk di kenali"


"Baik, terimakasih banyak "


Lalu, Firman menyampaikan laporan tersebut ke Angga. Angga, menelusuri TKP. Ia mendekati korban. Ternyata jenazahnya sudah rusak dan sulit untuk dikenali.


"Pak, kemungkinan jenazahnya sudah membusuk selama tiga hari "


"Baik, kumpulkan bukti dan langsung lakukan otopsi "


"Siap ... laksanakan "


Nilam, penasaran dengan anak itu. Hingga ia tidak sadar telah memasuki air. Ia, melihat bayangan jika anak itu di masukkan ke dalam sungai. Hingga Nilam hampir terpeleset, Rey menangkapnya dari belakang.


"Hati-hati Nilam ...!" Nilam, tersipu malu. Angga, yang sedang sibuk sempat melirik namun ia langsung melanjutkan pekerjaannya. Aldo dan yang lainnya ikut memasuki air.


"Air nya segar ya?" Farel, menatap ke arah Raya. Raya, terlihat sedang mengobrol dengan murid dari sekolah Sembilan. Ia mengobrol dengan Tio, ia terlihat kutu buku. Memakai kacamata, namun juga ia terlihat tampan.


"Panas ... !" Farel terlihat sangat cemburu.


"Panas ... dingin begini ...!" Ucap Aldo.


"Iya ih, Farel loe tuh ngaco. Orang adem begini loe bilang panas. Otak loe tuh yang panas ...!"


"Ah ... berisik loe berdua ...!" Namun, tatapannya ke arah Raya.


'Loe, gak ngerti kalau gue cemburu.'


Ia, terus memukul air, hingga memuncar ke semua arah.


"Dia cemburu kali ... lihat Raya ngobrol dengan pria lain?" Aldo, menyenggol tangan Rey. Rey, hanya tersenyum.


Mereka semua duduk di batu. Sungai itu arusnya kecil. Dengan pemandangan yang indah.


"Gue, pulang duluan?" Farel, terlihat sangat marah. Ia, sembari berjalan meninggalkan semua temannya. Rey, mengejarnya.


"Loe mau kemana?" Rey, mencoba untuk menahannya.


"Mau pulang, daripada gue harus lihat Raya. Udahlah ... Loe bareng sama yang lain. Gue naik ojek. Udah gue pulang ya" Farel, terus berjalan tanpa melirik ke arah belakang.


Rey, tidak bisa menjawab. Ia, kembali ke temannya.

__ADS_1


"Beneran pulang dia ...?" Tanya Aldo heran.


Rey, hanya menganggukkan kepalanya. Tidak lama, Raya menanyakan Farel dimana.


"Udah pulang ..." Secara bersamaan.


"Kok, pulang ... !" Raya terlihat bingung.


Yang lain hanya terdiam. Nilam, melihat Vira sedang mendekati Angga.


Vira, terlihat sangat ahli. Ia, mencoba untuk membantu Angga. Ternyata di balik sikapnya yang manja, jika ia sedang serius ia terlihat begitu profesional.


Rey, membuka obrolan ringan.


"Kamu tahu, mengapa cinta itu rumit?"


"Mengapa?" Nilam penasaran.


"Lihatlah bagaimana, rasa cemburu itu tercipta tidak tahu kapan dan dimana. Terkadang kita egois, hanya ingin terus bersama, namun kita lupa jika kita mahkluk sosial yang juga akan berinteraksi dengan orang lain. Dulu, aku merasa sering sekali cemburu, tapi dengan berjalannya waktu aku merasa. Rasanya tidak baik. Entahlah mungkin aku harus terbiasa membiarkan orang yang kusukai dengan yang lain, walaupun itu membuat hatiku terasa sakit."


"Benar juga ucapan kamu."


Rey, hanya tersenyum.


"Tapi ngomong-ngomong kamu menyukai siapa?"


Rey hanya terdiam membisu. Ia tidak bisa berkata-kata saat Nilam menanyakan hal itu.


'Seandainya aku bisa bilang, wanita itu ada di hadapanku. Bisa aku lihat namun tidak bisa kumiliki' Gumamnya dalam hati.


"Oh ... enggak... eh ngomong-ngomong dimana Raya, kalian lihat gak?" Semua orang mengangkat bahunya, mengatakan tidak tahu.


Raya, ternyata mengejar Farel. Ia berlari dengan rasa bersalah.


'Farel, kamu dimana?' Ucapnya dalam hati.


Warga semakin ramai. Ia, tidak melihat Farel. Ia terus saja mencari dengan berlari dan hingga ia terjatuh. Ia menangis. Ia belum bangun dari jatuhnya, ia melihat sepasang sepatu di depannya, dan ulurlan tangan. Ia menatap ke atas, ternyata itu adalah Farel.


"Ayo, bangun ..." Raya, hanya menangis. Farel menarik tangannya. Dan memeluknya.


"Maaf ..." Ucap Farel merasa bersalah.


Raya, hanya terdiam. Farel mengusap air matanya.


"Sorry ... kok kamu diem aja?"


"Gak lucu ...!" Ia memukul pelan.


"Ah ... masa sih. Cowok setampan ini tidak lucu ...!" Raya kemudian tersenyum.


"Kenapa kamu pergi ...!"


"Ya ... jujur saja. Aku cemburu melihat kamu dengan yang lain. Tadinya aku memang mau pulang. Namun, jalanan penuh dengan orang-orang, aku memutuskan untuk diam di pinggiran. Tidak lama aku melihatmu seperti mencariku. Tadinya aku mau berteriak tapi aku marah karena melihatmu tadi. Jadi aku putuskan untuk diam dan mengawasi. Namun aku lihat kamu malah berlari-lari, jadi aku kejar ya hingga akhirnya kamu terjatuh. Dan tepat pada waktunya aku berdiri di depanmu".


"Ih ...!" Raya mencubit tangan Farel.

__ADS_1


"Yah ... maaf ... tapi romantis kan kaya di film-film."


"Kan temen... masa gak boleh temanan. Kan kita mahluk sosial, udah gak usah kaya anak kecil gitu. Kan aku cuma sukanya sama kamu!" Farel, terdiam membisu mendengar ucapan Raya.


"Apa tadi kamu bilang ...?" Dengan wajah yang malu dan bahagia.


"Gak ...!" Dengan wajah yang memerah.


'Aduh ... malu banget gue!' gumamnya dalam hati.


"Asyik ... hari ini terasa dunia milik berdua. Woy ....!" Raya menutup mulutnya.


"Ih ... malu-maluin aja!"


"Biarin aja. Kan lagi seneng ... Biar semua orang tahu"


Farel, memegangi tangan Raya.


"Maaf, kalau aku gak bisa jadi apa yang kamu mau, tapi aku janji untuk menjadi yang terbaik untuk kamu."


Raya, hanya tersenyum. Tidak lama terdengar suara kriuk.


"Suara perut siapa?" Raya malu. Farel, melihat ke semua arah.


"Eh ... itu ada warung makan. Aku telepon teman-teman! Kamu duduk duluan " Raya, hanya mengangguk.


Tidak lama kemudian, teman-temannya datang. Termasuk juga Tio. Farel, mendekati Tio. Semua orang nampak terkejut, mereka pikir Farel akan menonjok Tio.


"Aduh, loe tahu kan. Farel segalak apa, kebayang Tio bakal bonyok" Dika, menyenggol lengan Rey. Raya, dan semuanya menanti apa yang akan terjadi.


"Duduk bro ...!" Farel, mengajaknya untuk bergabung.


Semua orang saling menatap. Dan mereka semua tertawa bersama.


"Kalian kenapa?" Farel terlihat heran.


"Gak apa-apa!" Mereka serentak.


Tidak lama tim kepolisian juga ikut bergabung, karena lelah melakukan olah TKP. Terlihat Angga membuka topinya dan menatap ke arah Nilam. Vira berdiri dan berbicara.


"Teman-teman semua, kalian saya traktir. Silahkan makan sepuasnya." Semua orang bertepuk tangan. Sedangkan, Angga sibuk melihat hasil olah TKP. Vira sengaja duduk dekat Angga. Dan itu membuat Nilam cemburu. Rey yang melihatnya, mencoba untuk mengalihkan pandangan Nilam kepada dirinya.


"Nilam, kamu tahu aku bahagia sudah bisa berdamai dengan Farel. Tidak ada lagi yang membuatku bahagia, karena hanya dia yang sejak kecil bersamaku. Tapi sejujurnya aku membenci ibuku sendiri!"


"Kenapa? Harusnya kamu bisa memaafkan."


"Melupakan dan memaafkan itu dua hal yang berbeda. Kita bisa saja memaafkan namun untuk melupakan semuanya itu butuh waktu lama, atau bahkan tidak mungkin."


"Itu tandanya kamu belum bisa memaafkan, karena jika memaafkan itu kita juga harus melupakan kesalahan itu. Ya... memang butuh waktu lama untuk bisa melupakan dan memaafkan. Tapi ibumu juga terluka jika terus melihat anaknya tidak mencintainya. Karena aku juga pasti akan sedih jika anakku seperti itu "


Rey, mulai terbuka dengan ucapan Nilam. Ada benarnya juga. Ia tidak bisa selamanya terus membenci ibunya. Farel menambahkan.


"Gue juga dulu gitu, namun ibuku selalu bilang, maafkanlah apapun itu karena dengan memaafkan hati kita akan tenang. Apalagi itu ibumu sendiri, dan gue sendiri sudah ikhlas dengan kenyataan ini, buktinya gue udah bisa hidup berdamai dengan loe. Walaupun pada awalnya berat tapi gue sadar ini sudah takdirnya, dan kita harus ikhlas dengan ketentuan dari Allah. Sejak itu gue mulai membuka hati. Justru gue yang salah udah membebani hidup loe dengan kebencian. Gue minta maaf...?"


"Loe gak salah, gue yang salah...?"

__ADS_1


"Udah, loe berdua salah ...!" Ucap Raya. Semua tertawa. Inggar, melihat mereka dari kejauhan.


__ADS_2