Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Selalu ada yang terluka


__ADS_3

Angga menghampirinya mereka, dan ternyata sudah banyak petugas kepolisian. Semua nampak terkejut dengan kejadian tersebut, ada beberapa petugas kesehatan yang menghampiri mereka dan segera memeriksa kesehatan mereka.


Angga menghampiri Nilam yang sedang terduduk, Angga melepaskan jaketnya. Angga, langsung memakaikan jaket itu.


"Kamu, baik-baik saja?" Angga terlihat sangat manis saat tersenyum. Nilam terlihat sangat gugup, karena ia sudah lama tidak mengobrol dengan Angga. Sehingga membuat dirinya hanya terdiam tersipu malu.


"Hey ... kenapa melamun?" Angga mengibaskan tangannya.


"Ti ... dak .." Ia tertunduk. Angga, kemudian ikut duduk disebelahnya.


"Aku khawatir jika terjadi sesuatu pada dirimu, jujur saja aku merasa kita semakin jauh. Entah mengapa rasanya seperti berbeda!" Nilam terkejut dengan pernyataannya. Nilam merasa jika memang mereka terlihat semakin menjauh. Saat Nilam ingin menjawab pertanyaan tersebut, Ucok memanggilnya.


"Pak, maaf sepertinya banyak wartawan yang hadir. Sampai saya kelelahan untuk menghadapi pertanyaan mereka"


"Baik, saya segera kesana "


"Nilam, kamu pulang duluan saja, nanti ada Firman yang akan mengantarkan kamu pulang!" Nilam hanya terdiam, ia tidak menjawab. Sebenarnya ia ingin di antarkan pulang oleh Angga. Terlihat wajah kecewa dari Nilam. Angga, segera bergegas menuju kerumunan wartawan yang memenuhi pintu utama. Rey yang melihatnya mendekati Nilam.


"Apakah kamu ingin di antarkan pulang?" Nilam hanya menengok dan kemudian ia kembali tertunduk. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Rey.


Tidak lama Firman menghampiri mereka.


"Mohon maaf, saya di tugaskan untuk mengantarkan kalian semua pulang ke rumah masing-masing. Mari ..." Firman memberikan arahan kepada mereka.


Saat mereka berjalan menuju arah mobil yang sudah di siapkan oleh Angga. Angga terlihat melirik ke arah Nilam yang terlihat menundukkan kepalanya. Angga, sebenarnya melihat mimik wajah Nilam yang kecewa karena ia tidak bisa mengantarkannya pulang.


"Pak bagaimana dengan kepala sekolah yang tiba-tiba saja menghilang? Apakah bapak tahu keberadaannya dimana? Apakah benar jika kepala sekolah melakukan sebuah pesugihan?"


"Mohon maaf, besok kami akan melakukan olah TKP dan mengambil beberapa bukti, mohon untuk bersabar " Angga segera menutup wawancara nya.


Sementara itu ada salah satu wartawan yang menatap tajam ke arah Angga, ia seorang gadis cantik, imut dan terlihat sangat feminim. Sepertinya ia sangat mengagumi Angga. Hingga ia tersipu, bahkan ia melupakan jika ia diberikan tugas untuk mewawancarai Angga.


Mereka telah masuk ke dalam mobil. Saat akan melaju, Angga datang dan mengetuk jendela. Firman membuka kaca jendela tersebut.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak, sebaiknya kamu temani pak Ucok. Anak-anak biar saya yang antarkan pulang " Nilam yang mendengarnya terlihat sangat senang. Sementara Farel terpaksa membawa motor butut milik Aldo, ia membonceng Rey. Rey, yang melihat Angga yang memasuki mobil.


'Pasti Nilam sangat bahagia, jika ia di antar oleh Angga' Rey, mencoba untuk ikhlas, dengan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Kenapa loe?" Farel, yang melihat Rey melamun sembari menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Gak apa-apa! Gimana udah nyala ...?"


"Belum, bentar gue coba lagi ..."


Rey, yang melihat mobil yang di tumpangi oleh Nilam pergi. Ia, sebenarnya cemburu tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Farel, diam-diam memperhatikan gerak -gerik Rey yang sedang gelisah melihat Nilam pergi dengan Angga.


"Ayo, jalan ...?" Rey, hanya mengangguk.


"Cie ada yang seneng nih" Aldo menyolek Raya. Mereka hanya tersenyum. Angga, melirik ke arah Nilam.


'Aku pikir dia tidak peduli dengan diriku, ternyata diam-diam ia selalu perhatian' Angga menyetir sambil tersenyum. Nilam duduk di kursi depan. Angga, sempat memegangi tangannya sebentar.


'Kenapa aku menjadi negatif thinking terhadap Nilam, apakah karena ia pulang dengan Angga. Kenapa aku harus cemburu, bukankah karena memang mereka lebih dulu saling mengenal. Harusnya, aku menbuang semua perasaan ini. Jika akhirnya hanya membuat luka'. Di dalamnya hatinya ia berperang melawan perasaannya sendiri.


"Heh Rey ... sudah sampai.." Rey terkejut.


" seriusan ... "


"Kenapa emang loe...!"


" Masalahnya masih jauh? Oh ayolah ...!"


Rey, terdiam. Ia baru ingat jika Farel tidak ingin menemui ayahnya.


"Ya udah, loe pulang ... gue bisa jalan. Cuma beberapa langkah..!" Sebenarnya Farel tidak tega menurunkan Rey, namun ia tidak bisa jika harus berada di dekat rumah Rey. Itu akan membuat kenangan buruknya, kembali melukai hatinya.


"Loe jalan ... gue lihatin dari sini ...!"


"Apaan sih loe ... gue bukan anak kecil. Udahlah loe pulang, udah terlalu malam juga ... nanti ibu khawatir, karena pasti berita ini telah menyebar ... karena ibuku juga terus menelpon di saat kita di sekolah tadi. Jadi pasti ibumu juga ...!" Farel, hanya tersenyum.


"Ya udah loe baik-baik ... gue pulang duluan!" Farel, membalikkan motornya dan melambaikan tangannya.


"Yoi ..." Rey, membalas lambaian tangannya. Rey, berjalan di jalan yang sunyi. Saat sampai rumah, ia melihat ibunya telah ketiduran dan handphone yang berada di tangannya, yang sedang berusaha untuk menelponnya dirinya.


"Maafkan Rey mah . Pasti mama cemas ..." Rey, mengusap pundak ibunya. Dan membuat ibunya terbangun.


"Nak ... kamu sudah pulang. Alhamdulillah terimakasih ya Allah ... kamu tidak apa-apa kan?" Ibunya terlihat begitu cemas. Rey, hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya. Ibunya memeluknya.


'Seburuk apapun orang tua, kita tetaplah anaknya ' Rey, membalas pelukan ibunya itu.


'I'm sorry, I love you mom' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Begitu pun, Farel yang pulang ke rumah di sambut hangat oleh ibunya yang menunggu di depan pintu. Dan memeluknya.


"Kamu ... dasar nakal ...!"


"Nakal , anak siapa dulu dong ..." Mereka tertawa bersama.


"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang kurang?"


"Ada ... yang kurang?"


"Apa nak ...? Coba ibu lihat?" Ibunya memeriksa Farel.


"Ada ... kurang banyak sayangnya ...!"


"Ih dasar ...! Udah sana ganti baju, bau ...!"


"Siap ibu negara ...!"


Sungguh, perbedaan kasih sayang antara hubungan ibu dan anak. Antara Rey dan Farel.


****


Keesokan harinya.


"Pak, Bu ... tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi. Karena ini adalah sebuah kemusyrikan ...!"


"Baik pak ... Kami sangat menyesal. Kami siap menerima semua konsekuensinya!" Angga, mengangguk. Dan ia kembali ke sekolah. Untuk sementara waktu sekolah di tutup sementara karena akan di lakukan olah TKP.


Farel, dan yang lainnya. Ikut menonton. Disana sudah banyak polisi dan wartawan. Wartawan yang tadi malam sempat bertemu dengan Angga, ikut hadir disana.


'Aku, menjadi gugup saat bertemu dengannya ... Harus atur nafas. Oke ... semua pasti berjalan dengan sesuai rencana!' Gumamnya dalam hati, sembari berjalan mendekati lokasi yang sedang di lakukan olah TKP.


Sementara Rey, mencoba untuk ikhlas. Ia pikir apakah sebaiknya menjauhi Nilam untuk sementara waktu. Hingga ia benar-benar ikhlas. Saat ia melihat Nilam, ia memutar arah dan Nilam memanggilnya. Namun ia tidak menggubrisnya.


"Aneh ... kenapa sih Rey?"


"Gak denger kali ... soalnya kan ramai begini " Raya, menimpali perkataan Nilam. Nilam hanya menganggukkan kepalanya.


"Iya juga sih ...!" Karena memang sangat ramai saat itu.


"Aku pikir mudah untuk melepaskan semua perasaan ini, ternyata sulit ..." Ia berjalan sembari berbicara sendiri.

__ADS_1


__ADS_2