
Akhirnya mereka berhasil, meringkus tersangka kedua. Ibunya, menangis sejadinya.
"Pak, tolong ... jangan tangkap anakku? Mereka, berdua hanya membela diri, tolonglah pak ...!" Angga, tidak tega melihat ibunya menangis, tapi bagaimanapun hukum harus terus berjalan. Timnya membawa pelaku untuk di interogasi.
Mereka berdua duduk di ruang interogasi.
"Kenapa, kalian melakukan hal sekeji itu?" Lalu, mereka menceritakan semuanya.
Pagi itu.
"Ibu, sepertinya sedang keluar dulu. Kita nonton TV saja Kak..?"
"Baiklah,..!" Mereka berdua, menonton televisi dengan ditemani oleh popcorn. Adiknya pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Ibunya, menelpon untuk menjemputnya. Di tengah telepon. Tiba-tiba saja ia mendengar teriakkan.
Ternyata, pacar ibunya telah memeluk kakaknya, ia ingin melakukan pelecehan seksual. Ibunya, berbicara dengan tegas.
"Lakukan, apapun untuk menolong kakakmu? Lakukanlah, nak..?" Ibunya, bergegas pulang. Adiknya, segera mengambil pisau dan menusukkan tepat di punggungnya. Lalu, mereka membalikkan tubuhnya. Dan segera mencekiknya hingga tewas ditempat.
Mereka, memotong seluruh tubuhnya dan mereka membuang kepalanya di dekat taman. Akhirnya, polisi segera mencari bagian kepala korban, namun ternyata tidak ada. Mereka juga bingung, karena seingat mereka berada disana.
Ibu dan ayah pelaku datang ke kantor polisi. Ayahnya terlihat sangat sedih, dan segera memeluk kedua putrinya dengan tangisan. Ayahnya, mengingat saat mereka bersama, dan ia merawatnya sejak bayi. Kini, anak yang ia sayangi harus berakhir di balik jeruji besi.
"Sabarlah, nak.. kalian akan selalu menjadi bidadari ayah,..!" Ia, mengusap air mata kedua putrinya dengan lembut. Suasana yang begitu menyedihkan. Ia, berbicara kepada mantan istrinya.
"Kini, bisa kamu lihat sendiri ...! Bagaimana, nasib anak kita, seandainya aku masih bersama mereka, kejadian seperti ini tidak akan terjadi, itu karena keegoisan dirimu... ingin berpisah dariku, karena aku tidak memiliki pekerjaan tetap, lihatlah bagaimana mereka akan menderita karena ulahmu... pria yang kau banggakan kini telah menghancurkan masa depan putri-putri kesayanganku ... ya Allah, dosa apa aku ini, hingga kedua putriku harus mengalami hal sepahit ini ...!" Ayahnya, terduduk lemas dengan tangisan yang begitu menyedihkan. Mantan istrinya juga menangis, dengan penuh penyesalan dalam hidupnya. Kedua anaknya terus, menguatkan ayah dan ibunya.
"Kami, akan bertanggung jawab atas semuanya! Tolong, tunggu kami! Kalian harus berjanji untuk kami, kita bisa bersama lagi seperti dulu!" Mereka berpelukan dengan tangisan yang mendalam. Seluruh tim kepolisian, terlihat meneteskan air mata. Mereka, sangat sedih. Angga, terlihat terdiam terpaku, ia tidak tahan menahan air matanya.
****
__ADS_1
"Hari ini, kita berolahraga di ruang aula. Karena, lapangan sedang di perbaiki" Ucap guru olahraga. Yang bernama pak Agus Salim. Mereka, mengganti kaos olahraga, seperti biasa Nilam akan lebih belakang untuk berganti baju.
"Kayanya, ada yang ketinggalan di ruang ganti ..!" Farel, berbalik untuk mengambil barangnya yang tertinggal di ruang ganti. Rey, yang mendengarnya, ia tahu jika Nilam masih berada di ruang ganti. Ia, segera berlari mengejar Farel.
Saat, Farel akan membuka pintu. Rey, segera mencegahnya.
"Kenapa loe ...!" Wajahnya terlihat sangat jutek.
"Pintunya rusak jadi harus di ganti, maksudnya di perbaiki, tadi tukangnya menyuruhku untuk memberitahu siapapun yang akan membuka pintu ini!" Farel merasa aneh,
'Ah ...tadi masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba saja pintunya rusak ... aneh banget! Sepertinya ada yang ia sembunyikan!' Gumamnya dalam hati, dengan penuh tanda tanya besar.
"Minggir loe ...!" Rey, tetap bertahan. Mereka berdua terus memperebutkan pintu, Tiba-tiba saja, Nilam membuka pintu dan membuat mereka berdua terjatuh.
"Kalian, kenapa ...?" Mereka berdua saling bertatapan.
"Kamu, kenapa ... ngelakuin hal kaya gini ..?"
Rey, tidak berbicara, ia segera pergi ke ruang aula, diikuti oleh Nilam dari belakang.
Mereka semua sudah berkumpul, namun Farel sengaja membuat sebuah rencana agar, lebih seru. Ia, melemparkan tikus kecil putih dan melompat-lompat, hingga semua siswa perempuan ketakutan. Dan, berlarian mengacaukan suasana. Nilam, langsung meloncat ke arah Farel, dan Farel menyanggahnya. Mata mereka saling bertatapan.
'Kenapa, gue jadi deg-degan saat berdekatan seperti ini ...! Gue, udah gak normal kayanya, harus ke dokter psikologis ...!' Gumamnya dalam hati. Raya, yang melihatnya merasa cemburu, apalagi Rey yang terlihat sangat marah, dan ia melemparkan sebuah bola. Tiba-tiba saja, membuat lamunan Farel buyar dan melepaskan Nilam, hingga terjatuh.
"Wah, gue udah gak normal kayanya, harus ruqyah kayanya ...!" Ia, berbicara kecil, kepada dirinya sendiri.
"Aw ... sakit ..!" Nilam, mengusap punggungnya. Rey, memberikan sebuah tangannya. Dan, membangunkan Nilam agar berdiri. Gurunya berhasil menangkap tikus tersebut. Dan, menyuruh mereka semua mengaku siapa yang melakukannya.
"Jika, tidak ada yang mengaku, bapak akan hukum kalian semuanya ... Bapak hitung ... satu, dua .. ti ..!" Tiba-tiba saja Farel mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Sudah, kuduga kamu lagi pasti siapa! Bersihkan, semua toilet ..!" Farel, hanya tersenyum. Tiba-tiba saja, Raya membuat sebuah pengakuan jika ia juga melakukannya, namun teman-temannya tidak percaya.
Raya, merasa kasihan jika Farel harus sendirian. Mereka berdua berdebat, Farel tidak ingin Raya, ikut repot dengan hukumannya.
"Tidak apa-apa! Aku, juga kesal ...!" Raya, mengikuti dari belakang. Dan, memfoto bayangan Farel yang sedang berjalan. Ia, merasa sangat senang bisa sedekat ini.
"Ya, sudah ... karena kamu, mau bantuin ...aku juga gak bisa melarang kamu! Baiklah, kita lakukan ini bersama!" Farel, adalah orang yang semangat jika melakukan sesuatu.
"Boleh, aku bertanya sesuatu kepadamu?" Raya, mulai membuka percakapan. Farel yang sedang mengepel lantai, hanya tersenyum manis.
"Boleh, apa ...?"
"Ehmm .. wanita seperti apa aja yang kamu sukai?"
"Gue suka wanita anggun seperti Sukma, dia ramah dan sangat feminim, Gue menyukai wanita seperti itu!"
"Apa, seistimewa itu?" Raya, berpikir Nilam wanita yang ia sukai, ternyata adalah Sukma.
"Sebenarnya, waktu gue masih SD, gue melihat Sukma, berlari ingin menyelamatkan kucing yang berdiri di tengah jalan ...! Ia, rela berkorban untuk seekor kucing ..! Itulah, mengapa gue gak bisa melupakannya begitu saja! Gue sudah jatuh cinta terhadap Sukma, ia selalu tulus jika membantu seseorang yang bertanya tentang pelajaran ...!" Raya, yang mendengarnya merasa sangat cemburu. Ia, bahkan tidak benar mengepelnya hingga ia hampir saja terjatuh, Farel segera menyanggahnya.
"Ya Tuhan, aku sepertinya benar-benar sudah jatuh cinta ...!" Tatapannya hanya tertuju pada Farel. Farel, melepaskan secara perlahan dan mulai bicara.
"Loe, gak apa-apa kan,..?"
Raya, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Gue bilang juga, loe gak usah bantuin gue .. dengerin ya, gue udah biasa ngerjain ini semua, karena gue kerja di cafe dan harus dibersihkan kembali sebelum pulang ..! Ini, semuanya kecil ...!" Tiba-tiba saja, Farel menginjak lantai yang masih basah, dan ia terjatuh. Hingga, membuat Raya tertawa-tawa lepas.
'Kenapa, gue suka lihat loe ketawa kaya gini! Aneh...!' Gumam Farel dalam hatinya. Mereka kemudian tertawa bersama.
__ADS_1