Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Titik terang


__ADS_3

Bell pulang berbunyi


Rey, terus menatap wajah Nilam.


"Kamu, kenapa?"


"Oh, tidak apa-apa?" Rey, mulai membereskan buku-bukunya.


Rey, terlihat ragu-ragu untuk memberikan sesuatu terhadap Nilam. Saat, semua orang sudah keluar kelas. Rey, menarik tangan Nilam.


"A ... ku ...!" Ia, terlihat gugup.


"Ada apa?" Nilam, penasaran.


"Ini ..." Rey, memberikan bingkisan kotak. Entah apa isinya.


"Apa ini?" Nilam, mengambil bingkisan kotak tersebut.


"Jangan, buka disini, buka saja di rumah. Karena jika kamu tidak menyukainya, setidaknya aku tidak melihat ekspresi wajahmu! Kamu, boleh membuangnya jika tidak menyukainya. Aku, tidak akan memaksamu untuk menyukai apa yang aku berikan." Rey, pergi dengan wajah yang penuh harapan.


"Terimakasih ...!" Rey, hanya melambaikan tangannya dengan terus berjalan. Nilam, berjalan keluar dengan terus memandangi bingkisan tersebut. Ia, tidak sabar untuk membukanya di rumah. Aldo, Raya dan Dika telah menunggunya di depan gerbang. Samar-samar ia melihat Inggar.


Inggar nampak berdiri di atas gedung sekolah dengan menatap ke arah Nilam yang sedang pulang sekolah. Nilam, yang bisa merasakan keberadaan Inggar, membalas tatapannya. Inggar, nampak begitu serius.


Gaun jubah hitamnya, nampak tertiup angin kencang. Hingga, ia menghilang begitu saja.


'Kenapa, tiba-tiba saja ia muncul di sekolah ini. Apa akan ada masalah besar!'


"Nilam, tadi kak Angga menelpon kita pulang naik angkot saja." Nilam hanya termenung.


"Nilam, kamu kenapa?" Raya, bertanya kepada dirinya.


"Oh, tidak apa-apa. Bolehkah aku hari ini menginap di rumahmu lagi?".


"Tentu saja, selamanya juga tidak apa-apa." Aldo dan Dika terlihat bersedih.


"Nilam, apa ada masalah?" Dika terlihat cemas.


'Entah, mengapa hatiku rasanya sangat sedih, ketika melihat Inggar. Sepertinya, aku harus mencari tahu sendiri'.


"Kalian bilang saja, jika aku akan menginap di rumah Raya." Mereka berdua hanya terdiam membisu.


Setelah sampai di rumah Raya. Ia, membuka bingkisan dari Rey. Ia, terkejut melihat isinya, sebuah gaun selutut, dengan lengan panjang, dengan pita di belakangnya. Baju itu berwarna merah maroon. Ada, surat di dalamnya.


"Kalau kamu suka dengan gaun ini, datanglah hari minggu ke taman kota jam delapan pagi. Jika, kamu tidak suka, kamu tidak usah datang." Bertanda Rey.


Nilam terlihat sangat senang dengan hadiahnya. Ia, melihat bayangan masa lalunya.


"Ini, hadiah untukmu semoga kamu menyukainya." Seorang pria memberikan sebuah kotak, dengan bungkus kain berwarna merah muda. Nilam, membukanya. Isinya terdapat cermin yang pernah Inggar berikan untuknya.


"Aku, sangat menyukainya." Kemudian ia memeluk pria itu, namun masih samar. Siapa pria yang selalu ada dalam bayangan masa lalunya itu saat di negeri awan.


'Kenapa cermin itu, sama persis dengan yang Inggar pernah berikan untukku!' Gumamnya dalam hati.


"Woy ...!" Raya datang dengan membawa makanan. Nilam, nampak begitu terkejut.


"Kamu ..."


"Sorry ... Itu dari siapa?" Raya, mengambil baju tersebut.


"Bagus banget ... dari Rey ya?" Raya, mendekati Nilam.


"Kok, kamu tahu sih?" Nilam terlihat malu.


"Nebak saja, karena terlihat Rey itu meskipun dingin, ia hanya akan begitu perhatian terhadap wanita yang ia sukai. Justru gue lebih suka sama cowok kaya Rey daripada ....!"


"Farel, maksudnya ...?" Nilam, meneruskan percakapannya. Raya, terlihat sangat bersedih dengan perasaannya.


"Farel juga baik, namun ia tidak bisa memilih. Kita tidak pernah tahu hati seseorang, setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri mengapa dia begitu."


Raya, terlihat diam.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah di pikirkan. Gue, mau ke kantor Ayah."


"Mau ngapain?"


"Biasa ketemu PR."


"Emang kenapa kamu begitu peduli, jangan-jangan ...?"


"Apaan sih, biasa aja. Gue cuma suka sebatas teman saja, soalnya dia seumuran kita. Kasihan banget menurut aku, harusnya dia sekolah, tapi dia malah terjebak dalam sel. Apalagi dia bilang kalau dia gak bersalah dan gue juga yakin dia gak bersalah!."


"Ya, sudah. Kalau kamu mau kesana. Aku di rumah aja, soalnya aku mau istirahat"


"Oke ..."


Raya, bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kantor ayahnya. Sedangkan, Nilam masih duduk termenung di depan jendela kamarnya.


'Entah mengapa hatiku rasanya, pernah mengenal Rey di masa lalu.' Nilam, terus berpikir sebenernya siapa dirinya. Dan apa tujuannya untuk ke bumi. Ia, meneguk minumannya. Meskipun ia sudah menyesuaikan diri terhadap manusia.


*****


Raya datang ke kantor. Iya, melihat ayahnya dan meminta ijin untuk bertemu dengan PR.


"Tidak boleh ...!"


"Loh, kenapa. Ayah kan tahu sendiri, aku cuma pengen semangati dia aja karena aku dan dia seumuran."


"Iya, tahu ..."


"Terus kenapa?"


"Masalahnya ada keluarga nya, jadi kamu harap tunggu ..."


"Oalah ... ngomong dong Yah ..."


"Udah kamu duduk dulu, Ayah masih banyak pekerjaan."


"Siap ..." Raya, hormat terhadap ayahnya. Ayahnya mengusap kepalanya dan pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Mah, please ... percaya sama aku?"


"Kamu, harus sabar Nak ... jika salah sebaiknya bilang saja. Untuk apa, kamu berbohong sudah ada banyak bukti. Mamah mau kamu mengakuinya. Jujur adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Maafkan Mamah jika selama ini sering pilih kasih terhadap kamu, hingga kamu melakukan hal sekeji itu Nak ..."


"Tapi, aku tidak melakukan apa-apa termasuk membunuh mantanku sendiri. Aku gak punya alasan buat bunuh dia."


"Tapi, dia itu hamil kan! Mungkin aja emang loe mau bunuh dia dan gak mau tanggung jawab!" Abangnya melanjutkan pembicaraan.


"Bang, gue gak gitu ... kalau emang dia hamil sama gue, gue pasti bertanggung jawab. Gue, walaupun kurang perhatian dari orang tua gak kaya loe, gue bukan orang pengecut ...!" PM terlihat sedikit emosi.


"Ya, udah terserah loe ...!" Abangnya berdiri.


"Sudah, jangan bertengkar ...!"


Abangnya menarik nafasnya dalam-dalam.


"Sorry, gue berlebihan. Gue juga usahain buat nyewa pengacara meskipun mereka nolak karena bukti yang kuat! Loe baik-baik disini ..." Abangnya menepuk pundaknya dan pergi dengan ibunya. Ia berpapasan dengan Raya. Mereka masuk ke dalam mobil.


"Kamu, kenapa? Dari tadi perasaan megangin pundak terus ada apa Nak, ?"


"Sakit Mah, pundakku akhir-akhir ini. Kaya berat aja."


"Kamu, kecapean kali. Ya sudah, nanti coba berobat ke dokter?"


Ia, mulai menyalakan mobilnya, dan terlihat dari spion mobil depan seperti ada sesosok hantu wanita yang diam di atas pundaknya. Ia, tidak menyadarinya dan mereka berjalan pergi. Sementara PR akan segera masuk.


Saat, ia akan masuk kembali. Raya memanggilnya.


"Loe ..." Ia, terlihat sangat senang.


"Biarin, aku udah ijin sama ayah" akhirnya mereka duduk kembali.


"Ini makanan untuk kamu". PM, hanya tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.

__ADS_1


"Gue bingung ...!"


"Bingung kenapa?"


"Loe terlalu baik sama gue .. Nanti kalau gue suka beneran gimana?"


Raya terdiam sejenak dan menatap wajah PR.


'Sebenarnya, loe ganteng tapi, apa bener loe bukan kriminal!'


"Heh ... malah bengong.. Gue bercanda, lagian loe mana mau, sama cowok kriminal kaya gue ..!" Ia, memakan makanan tersebut.


"Kalau baik sih gak apa-apa!" PR, tersedak mendengar pernyataannya.


"Loe gak apa-apa kan!" Raya, mengusap pundaknya dan memberinya minum.


'Loe, jadi makin membuat hati gue berdegup kencang' PM, terus menatapnya.


Raya kembali duduk.


"Oh iya ngomong-ngomong, kalau gue lihat kok, tinggi kakak loe sama dengan loe ... perawakannya juga sama!"


Mendengar itu PR mulai berpikir sejenak.


'Benar juga, yang memiliki akses masuk ke dalam kamar gue, pasti cuma orang terdekat gue. Apalagi, tadi Abang seperti mengetahui jika mantan gue sedang hamil, jangan-jangan ... tapi sejak kapan mereka berhubungan!'


"Kok, bengong sih ..."


"Sorry, iya juga sih. Gue sama mantan gue pernah ketemu dan ngobrol, karena sejak putus gue emang gak musuhan. Dia pernah cerita sama gue, dia punya pacar baru."


"Gue, punya pacar baru. Loe gak cemburu kan!"


"Apaan sih loe. Gue seneng loe punya pacar baru, jadi loe gak gagal move on dari gue ... secara gue ganteng, ya meskipun bad boy. Tapi gue kan idaman setiap wanita" Ia tertawa.


"Huh ... pede banget ... pacar baru gue juga ganteng, gak jauh beda sama loe, hampir mirip, jangan-jangan kalian sodaraan.!"


"Apa? ..."


"Tapi dia lebih dewasa, dan juga dia mapan. Gak kaya loe, sekolah aja gak bener. Loe kapan sih berubah menjadi lebih baik lagi.!"


"Berubah jadi, power ranger maksudnya?" PM hanya bercanda.


"Bercanda ...!" Akhirnya mereka tertawa bersama.


"Cuma itu yang gue ingat. Dia, ngajakin gue ketemu lagi di pasar malam, cuma gue gak bisa datang handphone gue juga ketinggalan di kamar. Gue waktu itu sedang balapan liar. Sampai gue, di ceramahin teman gue, lucu ..!"


"Gimana di ceramahinnya?"


"Ya, ampun kamu tuh gak tobat-tobat. Bukannya perbanyak ibadah ini malah balapan liar motor. Sungguh miris." Dia pakai Koko mau ke mesjid.


"Lucu banget ...!" Raya tertawa mendengar ceritanya.


'Kok, gue jadi seneng banget bisa lihat loe ketawa kaya gini'


****


Keesokan harinya Angga duduk di meja makan. Aldo dan Dika juga ikut makan.


"Dimana Nilam?"


"Nginep di rumah Raya." Jawab Aldo, dengan terus menggigit rotinya.


"Oh ... nginep!". Angga, tiba-tiba saja terkejut.


"Kok, dia gak bilang sama kakak?"


"Mana kami tahu." Mereka berdua, mengangkat pundaknya.


"Ya, udah cepat. Kakak anterin ke sekolah sekarang, kakak mau ketemu sama Nilam."


Mereka berdua saling bertatapan dengan, mulut yang masih menguyah. Mereka berangkat ke sekolah dan disana sudah ada Nilam yang sedang berdiri di gerbang pintu bersama Rey yang sedang mengobrol. Angga yang melihatnya merasa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2