Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Cinta ini untuk siapa


__ADS_3

Mereka segera menyusul, ambulans dari belakang.


'Padahal sebenarnya, aku yang sedang kesal ... tapi kenapa, dia yang lebih kesal...!' Nilam, melihat keluar jendela mobil. Ia, merasa kesal terhadap Angga. Angga, tersenyum. Setelah sampai disana sudah ada Maya yang menunggu mereka karena sudah mendapatkan informasi.


Maya, menghampiri mayatnya dan segera memeriksa di ruang otopsi. Sementara Angga dan yang lainnya menunggu di ruangan tunggu. Ruangan itu sangat bersih, dengan sofa yang empuk berwarna putih dan juga terlihat mewah, disana ada televisi yang besar. Nilam, menonton televisi, Angga menghampiri sambil membaca buku. Nilam, sebenarnya masih merasa kesal terhadapnya. Namun, ia juga tidak bisa jauh-jauh darinya. Mereka duduk bersebelahan. Angga, juga belum siap menjelaskan tentang Maya, jadi ia tidak berbicara terhadap Nilam, ia hanya fokus membaca buku. Sedangkan Nilam, menonton televisi dengan tertawa bersama dengan Aldo, Raya dan Dika.


Nilam, tertidur pulas hingga menyender di pundak Angga. Angga, terlihat sangat senang. Ia, tersenyum dan tetap melanjutkan membaca buku. Semua orang melihatnya, saling menyenggol tangan.


"Lihatlah, mereka itu sangat cocok ...!" Aldo, begitu antusias. Mereka berbicara dengan suara yang pelan. Dika, hanya tersenyum. Sementara, Raya merasa merindukan Farel. Ia, sedang melamun dan membayangkan jika ia yang tidur di pundaknya Farel.


"Hem ... pasti romantis ...!" Ia, menghayal, dengan tersenyum bahagia, dengan mengepalkan tangannya.


"Yeh .. malah khayal loe ...!" Aldo, membuyarkan lamunannya. Raya, memukul tangannya.


"Auw ... sakit ...!" Aldo, kesakitan.


"Syukurin ....!" Dika, merasa puas dan tertawa lepas.


Beberapa jam kemudian, Maya keluar dari ruangannya. Ia terkejut melihat pemandangan itu. Angga, hanya terdiam.


'Apa, Angga masih normal ...? Apa, sebenarnya, dia tidak ingin memiliki kekasih, apa karena ia sudah tidak normal, karena merasa trauma sejak kejadian beberapa tahun lalu...!' Maya, merasa aneh. Angga, segera menidurkan Nilam di sofa dan menghampiri Maya untuk menanyakan hasilnya.


"Ini hasil laporan visum korban ... sepertinya korban meninggal dunia sekitar satu hari yang lalu, hingga wajahnya masih mudah untuk diketahui, dan identitas korban sudah kami temukan, dari hasil visum korban mengalami pendarahan di dalam otaknya, akibat benturan keras di kepala menggunakan benda tumpul, dan beberapa lebam di sekitar tubuhnya, dan juga terjadi pelecehan seksual terhadap korban, dan ada sisa ****** yang bisa di teliti milik siapa! Nanti, akan aku berikan hasil laporan, sebaiknya, kamu secepatnya mencari siapa saja yang harus bertanggung jawab atas kematian korban!"


"Baguslah kalau begitu ...!" Angga, mengambil berkas tersebut dan memasukkan ke dalam tas.


"Sepertinya ada yang sedang cemburu...?" Aldo, menyenggol lengan Dika. Raya, terlihat sangat bingung.


"Jadi, menurut kalian gimana? Apakah kak Maya masih menunggu cintanya kak Angga?"


"Kelihatannya bagaimana? Sikap itu lebih menyakinkan dari hanya sekedar ucapan!" Dika, berbicara dengan penuh percaya diri.


"Tumben loe bener terus, akhir-akhir ini? Sejak, Rey gabung loe jadi ikutan puitis ...!" Aldo, mengusap kepalanya, dengan tertawa.


"Ish .. rusak stylish rambut gue ...!" Dika, membenarkan rambutnya. Mereka bertiga tertawa bersama. Angga, terlihat tidak tega untuk membangunkan Nilam. Ia menyuruh Aldo dan Dika untuk membawakan tas Angga. Ia, menggendong Nilam. Maya yang melihatnya merasa tidak senang. Ia, terlihat sangat cemburu tapi ia juga bingung siapa pria kecil itu.


'Sepertinya aku harus mencari tahu siapa dia sebenarnya?' Maya, kembali masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Nilam, yang sedang bermimpi indah. Ia, melihat bayangan masa lalunya yang sedang di gendong seorang pria tampan, yang memakai baju kerajaan, dengan topi lebar berwarna hitam, dengan rambut yang sedikit panjang. Dan, pria itu tersenyum manis, namun wajahnya tidak begitu jelas. Ia, setengah sadar melihat Angga sedang menggendongnya hingga memasuki mobil.


****


Farel terbangun dari tidurnya dan mulai mencari ibunya, ia tiba-tiba saja memeluk erat ibunya yang sedang membuat kue.


"Kamu, kenapa sih Nak ...?"


"Farel bermimpi buruk, buruk sekali ... hingga Farel tidak sanggup untuk menceritakan semuanya pada ibu ...!" Farel menangis tersedu-sedu. Ibunya, berbalik badan dan mengusap air matanya.


"Ibu akan selalu ada untukmu...! Sudahlah jangan menangis..!" Farel hanya menangis.


"Rasanya, seperti nyata ... rasanya sakit sekali ...!"


"Sudahlah, jangan menangis terus ... sebaiknya kamu siap-siap untuk sekolah ..! Ibu sudah membuat bekal kesukaan kamu, dan juga Rey ... tolong ini amanah dari ibu, agar kamu berikan untuk Rey ...!" Ibunya memelas, akhirnya Farel mau menyetujui permintaan ibunya.


'Aneh, kenapa akhir-akhir ini ibu, berusaha keras untuk membuatku untuk kembali seperti dulu lagi, dengan Rey ...!' Farel, berjalan menuju kamarnya.


****


'Kenapa, aku merasa sangat terganggu saat melihat Rey. ..! Apakah, mungkin ia juga menyukai Nilam dan mengetahui jika Raffi adalah seorang gadis ...!'


Mereka, mulai berjalan menuju kelas dan terlihat Rey mendekati Nilam. Nilam, memegang jaketnya dan mengetahui jika itu adalah pemberian. Entah mengapa wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi wajah kecewa.


"Kenapa kamu cemberut...?" Rey, bertanya kepada Nilam.


"Siapa yang memberikan jaket ini ...?" Ia, bertanya dengan wajahnya yang jutek.


'Kenapa dia bisa tahu, kalau ini sebuah pemberian..! Aneh sekali ...!' Rey, berpikir bagaimana Nilam tahu jika jaketnya adalah pemberian.


"Kok, kamu tahu ini pemberian ...? Padahal aku belum bicara. ..?" Langkah Nilam terhenti, dan ia merasa sangat malu, lalu ia berlari ke kelasnya. Dan, menabrak Farel dan Farel menyanggahnya. Rey dan Raya yang melihatnya merasa sangat cemburu.


'Kenapa, setiap melihat wajahnya hatiku merasa sangat senang ...! Ya ampun aku sudah tidak normal ...!' Farel, melepaskan dengan pelan-pelan.


"Loe tuh kebiasaan banget deh ...! Jalan pakai mata ...!"


"Ih ...!" Raya, terlihat sangat marah dan ia menggertak kakinya. Rey yang melihatnya, merasa jika Raya menyukai Farel.

__ADS_1


Akhirnya kelas dimulai. Raya tidak berbicara sepatah katapun. Sampai jam istirahat sekolah. Farel, bingung dengan perasaannya. Ia, merasa sangat deg-degan ia memeluk beberapa siswa laki-laki yang melewatinya. Mereka tidak bisa menolaknya karena Farel akan marah.


"Bos, kenapa ...? Masih normal kan ...?" Anak buahnya. Bertanya kepada Farel. Siswa yang di peluk Farel merasa jijik,. tapi bagaimana lagi.


Tiba-tiba saja, Aldo di peluk oleh Farel.


"Woy ... pelecehan ini namanya ...! Loe gak normal yah ...! Stress loe. ..!" Semua orang tertawa bersama.


"Gue, bingung ... rasanya beda, dengan gue meluk Raffi, apakah gue yang gak normal ...?" Aldo yang mendengarnya merasa terkejut. Farel merasa sangat aneh, dengan respon Aldo. Aldo segera, pergi. Farel mengejarnya dan bertanya tepat di depan matanya.


"Loe, tahu kan ... Raffi itu siapa?" Aldo, bergetar hebat. Ia, terlihat sangat gugup. Terlihat keluar keringat dingin. Raya datang dan menarik tangan Aldo.


"Gak, usah ganggu Aldo ...! Ngerti loe ...?" Raya, berbicara dengan nada bicara yang galak, dan menunjuk dada Farel.


"Tumben banget loe galak ...?"


Mereka akhirnya ke kantin sekolah. Disana sudah ada Dika dan Nilam. Tapi, sepertinya Raya masih kesal dengan kejadian tadi pagi. Ia, masih cemburu dan tidak berbicara sepatah katapun. Nilam merasa sangat aneh, ia memegang tangannya dan bisa merasakan perasaan Raya yang sedang cemburu.


"Maaf ...!" Tiba-tiba saja, Nilam berbicara dengan nada bersalah. Raya, memeluknya dan memaafkan semua kejadian tadi pagi, karena memang bukan salah Nilam.


"Kenapa sih kalian aneh banget ...?" Dika, bertanya ada apa.


"Gak apa-apa?" Jawab Raya, akhirnya mereka makan bersama.


****


"Lapor pak .. Saksi-saksi sudah di kumpulkan, termasuk juga ojek online yang mengantarkan korban terakhir kalinya ...? Laporan selesai ...!" Ucok, segera mengantarkan Angga menuju ruang otopsi jenazah korban, karena mereka akan mengajak kedua orang tua korban.


"Pak, begini dengan berat hati kami harus memberi tahu jika anak perempuan bapak, sudah tidak bernyawa lagi ..?" Seketika, tubuhnya menjadi lemas ia memeluk istrinya. Dan mereka menangis berdua.


"Bu, kuat ya ... ikhlas ...!" Bapak tersebut berusaha untuk menguatkan istrinya. Usia mereka sudah tua, sekitar tujuh puluh tahun. Sudah sangat tua. Saat mereka membuka kantong jenazah tersebut, mereka mengiyakan bahwa itu adalah anak mereka. Istrinya bahkan pingsan dan di gotong oleh pihak kepolisian.


"Bapak, nanti kami butuh informasi tentang korban .. bapak bersedia untuk memberikan informasi untuk membantu proses penyelidikan?" Angga bertanya dengan sangat hati-hati.


"Baiklah pak ...!" Wajahnya terlihat sangat sedih.


'Hal yang paling menyakitkan adalah harus mengatakan sebuah kenyataan pahit' Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2