
Nilam berjalan ditengah derasnya hujan. Ia terlihat menangis, ia bahkan tidak fokus berjalan ia hampir tertabrak motor.
Tittt ....
Motor itu berhenti tepat di depan Nilam.
Ternyata itu adalah Farel, ia terlihat sangat marah.
"Woy, mau mati gak usah dijalan raya, nyusahin orang! Yang elit dikit di atas gedung kek! Loe, dendam banget sama gue!" Nilam yang melihatnya, langsung pingsan.
"Eh, malah pingsan! Berat banget ya Tuhanku, ini orang makannya apa!" Disana tidak ada siapapun selain dirinya sendiri. Jadi ia terpaksa harus mengangkat tubuhnya Nilam seorang diri.
Samar-samar, ia melihat wajah Farel dari spion. Ditengah derasnya hujan. Tangannya sebelah kiri memegang tangan Nilam agar tidak jatuh ia membawa motor itu dengan sangat hati-hati. Farel terlihat sangat tampan dengan guyuran hujan. Karena ia kebetulan tidak memakai helm karena dekat dengan rumahnya.
"Sudah sadar!" Farel melihatnya dari balik spion. Nilam hanya terdiam. Dan Farel melepaskan tangannya.
"Aku, mau pulang?" Farel hanya, tersenyum jutek.
"Pegangan yang kuat!"
Farel kemudian fokus pada jalannya dan mengencangkan motornya. Sehingga membuat Nilam terpaksa memeluknya. Anehnya Farel merasa nyaman saat Nilam memeluknya. ia terlihat tersenyum manis. Tidak lama kemudian sampai dirumahnya. Ibunya bertanya kepada Farel siapa yang bersamanya.
"Temanku Bu! Kami kehujanan di jalan!" Ia membawa Nilam di teras rumah, dan seorang wanita yang masih terlihat cantik dan muda, ia tersenyum manis dan menyodorkan sebuah anduk.
"Pakailah Nak!" Nilam, mengambil anduk itu. Ia teringat seseorang yang selalu memperhatikannya.
'Apakah aku memiliki seorang ibu di peri awan?' Gumamnya dalam hati.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia sering mengingat masa lalunya.
"Mandi dulu!" Farel, mengajaknya ke kamar mandi.
"Kamu, mau mandi bareng!" Nilam terlihat tegang.
__ADS_1
"Iya, emang kenapa! Ada masalah kita kan satu jenis, pria dan pria, kecuali dengan wanita itu bukan muhrim!" Farel adalah anak yang sering bercanda, meskipun kadang terlihat galak.
"Farel, jangan bercanda terus kasihan temen kamu! Dia, udah kedinginan! Mandilah Nak! Farel memang sering bercanda!" Ibunya menarik tangannya.
Ternyata Farel hanya menyiapkan air hangat untuknya. Selesai mandi, Farel sudah menyiapkan sebuah baju, bajunya yang terlihat sangat besar. Nilam keluar dari kamar.
Tidak lama Farel keluar dari kamar mandi, ia terlihat mengibaskan rambutnya, dan hanya memakai anduk. Badannya terlihat sangat bagus, seperti model. Nilam yang melihatnya tertegun kagum dan tidak lama ia menutup matanya.
"Woy, kenapa sih! Biasa aja! Oh, gue tahu loe kagum kan lihat ketampanan gue, iya kan! Loe, masih normal kan ya, kalau lihat cowok ganteng?" Wajahnya mendekati Nilam. Ia memegang kening Nilam.
"Tapi gak panas! Masih normal!" Nilam langsung berlari menuju dapur. Farel hanya tertawa dengan memasuki kamar.
"Apakah, kamu seorang gadis?" Ibunya bertanya kepada Nilam. Dengan berbisik, Nilam, tertegun sejenak.
"Tenang, Farel tidak mengetahui, tadi Ibu tidak sengaja masuk ke kamar mandi dan tidak sengaja melihat kamu memasang rambut palsu mu! Tapi Farel tidak mengetahuinya, Ibu yakin kamu ada alasan lain untuk menyamar sebagai seorang pria! Farel pernah cerita tentang kamu! Ia terlihat antusias saat menceritakan tentang kamu".
"Aku baru tahu jika ia malah membicarakan aku?"
"Aku, sedang dalam penyamaran karena ada kasus-kasus yang belum bisa terpecahkan di sekolah, aku adalah orang yang dipilih detektif Angga!"
"Ya ampun ibu sangat menyukai detektif Angga, selain sangat tampan, ia juga sangat pintar, ibu selalu bilang, Farel lihatlah detektif itu semoga kamu bisa menjadi seperti dia! Farel hanya tersenyum tidak pernah menjawab sepatah katapun! Semoga kamu sukses ya, hati-hati banyak orang jahat!" Tidak lama Farel menghampiri mereka berdua. Dan mereka pun makan bersama.
"Makanan ini sangat enak!" Nilam dengan lahap menyantap makanan tersebut. Hingga ia tersedak, Farel memberikan ia minum.
"Hati-hati, kaya orang kelaparan aja! Udah berapa minggu gak makan?" Nilam tertunduk malu.
"STT ... Farel bercanda terus! Ayo, lanjutkan Nak, makan yang banyak! Farel, memang begitu, sering sekali bercanda! Oh iya, kamu nginep disini saja, karena sudah larut malam!"
"Iya, tidur dikamar gue!"
'Aduh, gimana ini, apakah aku harus tidur dengannya!' Cemasnya dalam hati.
"Tenang aja gue tidur di sofa, kalau loe emang gak biasa tidur dengan orang lain, gue ngerti gak semua cowok emang tidur bareng temennya!" Nilam menarik nafas lega. Farel mengerti juga.
__ADS_1
"Tapi gimana kalo Aldo dan Dika khawatir!"
"Tapi gue gak punya nomor mereka, soalnya gue ngerasa gak penting! Baru kali ini, aku harus mencari nomornya!"
Wajahnya terlihat sangat sedih, ia takut mereka khawatir. Farel, diberikan kode oleh ibunya agar ia bisa menghubungi teman, Farel yang mengerti menelpon temannya yang memiliki nomor Aldo atau Dika. Akhirnya menelpon, Aldo jika ia baik-baik saja, dan besok bertemu di sekolah.
Mereka akhirnya tidur, tapi Nilam tidak bisa tidur. Ia memikirkan Angga yang khawatir, ia mengucapkan sebuah mantra-mantra dan menunjukkan telunjuk jarinya, dan memperlihatkan Angga sedang mencarinya. Nilam merasa sangat senang, jika Angga mengkhawatirkan dirinya.
****
"Aku, tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi! Tolong jangan tiba-tiba saja langsung memelukku seperti tadi! Bisa-bisa menjadi fitnah!"
"Maaf, aku tidak tahu harus berbuat apa, saat bertemu denganmu aku langsung refleks memelukmu, dan terimakasih atas bantuannya!"
'Apakah ada seseorang yang sedang kamu jaga perasaannya?' pikirnya.
"Aku, sudah membantumu! Aku pulang dulu!" Tiba-tiba saja telepon seluler berdering. Aldo menelpon dia berbicara bahwa Nilam belum juga pulang ini sudah malam. Angga, langsung panik dan bergegas mencari Nilam. Maya, yang melihatnya merasa aneh. Kenapa Angga begitu perhatian terhadap pria kecil itu.
Angga, mencarinya dengan panik, ia mencari ke semua sudut kota. Tidak menemukan Nilam. Tidak lama kemudian ia menemukan gantungan tas milik Nilam yang berbentuk hati, Angga pernah memberikan itu untuknya. Karena gantungan itu bersinar jika di tempat gelap.
"Dimana kamu?" Angga terlihat sangat putus asa. Ia memukul-mukul setir mobil.
Sementara Nilam merasa Angga sedang mencari keberadaannya. Ia dapat merasakan jika Angga merasa sedih dan khawatir terhadapnya. Angga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia, terlihat sangat putus asa, kecewa karena kejadian tadi membuat Nilam pergi dari hidupnya.
'Apakah ia telah mengingat semuanya hingga ia kembali ke dunianya!' Angga terus berpikir. Ia sangat takut jika Nilam pergi meninggalkan mereka. Ia tidak dapat menemukan Nilam, ia pergi ke rumah Ucok untuk bercerita.
"Menurut saya dia butuh waktu untuk sendiri, apa mau saya bantu pak?"
"Tidak usah, saya banyak merepotkan bapak selama ini!" Ia tertunduk, dengan memegang rambutnya. Ucok merasa kasihan melihatnya, Angga nampak sangat sedih, dengan menghilangnya Nilam.
"Begini saja, besok pasti ia akan kembali! Saya yakin Nilam akan pulang, terkadang tidak semua hal bisa di ungkapkan dengan kata-kata, termasuk saat seseorang sedang marah, ada yang hanya ingin sendiri, menikmati kekecewaan dan mencoba mengobati lukanya!" Ucok memberikan sebuah nasihat.
Angga, hanya perlu waktu untuk bersabar. Tidak lama ia pulang. Dalam perjalanan pulang ia hanya mengingat wajah Nilam. Ia kemudian di telepon oleh wartawan jika ada laporan tentang mayat yang berada di tengah hutan, pembunuh nya sama merusak wajah korban, sepertinya sama dengan korban pertama, mungkinkah pelakunya adalah orang yang sama?
__ADS_1