Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Gadis cantik itu Nilam


__ADS_3

Di jam istirahat Rey, menghampiri Nilam.


"Kamu, sudah makan? Tadi aku beli makanan, ini ada nasgor ?" Nilam, tersenyum.


"Iya, aku mau makan dulu " Mereka duduk, Angga yang melihatnya merasa cemburu. Sampai-sampai ia, menabrak meja dan semua orang melihatnya.


Raya, menyenggol lengannya.


"Ada yang cemburu tuh?"


"Siapa ...?" Nilam, melihat ke arah Angga.


"Itu, detektif ganteng ...!" Raya, melanjutkan pembicaraannya.


Rey, hanya tersenyum manis, sambil bergumam dalam hati.


'Angga terlihat sangat cemburu'


Rey, dengan refleks mengambil tissue dan mengusap area bibir yang kotor. Sehingga membuat Nilam merasa malu.


"Cie. .. cie ...!" Aldo dan Dika mulai berbicara. Hingga membuat Angga semakin cemburu.


"Berisik ... ! Sudah kalian pulang ... tidak usah lembur."


"Asyik ... pulang ...!" Aldo, terlihat joget-joget senang.


Sementara mereka bersiap-siap untuk pulang. Angga, menghampiri Nilam. Dan mengajaknya untuk berbicara berdua saja. Rey, sebenarnya keberatan tapi ia tidak bisa berkata-kata. Rey, menganggukkan kepalanya kepada Nilam untuk menemui Angga. Ia, akan menunggu di luar. Nilam, menghampiri.


"Kamu benar, sebaiknya kamu tidak usah. Berpakaian seperti ini lagi? Lagi pula, tugas itu telah usai. Kamu, dapat menggunakan identitas aslimu kembali. Sama seperti saat aku menemukan dirimu? Aku sadar, tidak baik jika kamu terus berpakaian seperti pria. Aku, juga ingin melihatmu sebagai wanita yang cantik dengan menggunakan dress cantik. Maafkan aku jika selama ini, selalu banyak mengatur. Mulai besok, berpakaian seperti wanita!" Nilam, hanya tersenyum.


"Kamu, tidak keberatan? Tapi aku ikhlas untuk semua ini!"


"Sudahlah, mulai besok berpakaian lah seperti seorang gadis pada umumnya. Sekarang pulanglah, pak Ucok akan mengantarkan kalian semua!" Angga, mengantarkan Nilam keluar ruangan dan mengantarnya sampai depan gerbang. Lalu, mereka semua pulang. Angga, yang menatap Nilam yang pulang.


'Dasar bodoh ...! Rasanya perasaan ini begitu sulit! Aku selalu ingin bersamamu, bagaimana bisa aku melihatmu dengan orang yang juga menyukaimu. Rasanya itu berat' Gumamnya dalam hati.


*****


Keesokan harinya. Ucok, membawa beberapa kardus..


"Itu apa Pak?" Nilam, merasa penasaran.


"Ini ... barang-barang untuk kamu Nilam. Dari pak Angga. Silahkan di buka?"

__ADS_1


"Terimakasih Pak ...!" Nilam, terlihat sangat heran dengan kardus-kardus itu. Lalu, Raya membantunya untuk membuka isi dari kardus-kardus itu. Mereka terkejut dengan isinya, ada banyak baju dan juga peralatan wanita.


Ada tulisan di atasnya.


"Tolong gunakan semua ini, mulai hari ini. Datanglah tepat waktu untuk bekerja hari ini" Tulisan itu di baca oleh Raya.


Nilam, terlihat sedikit ragu.


"Apa, aku harus terbiasa menggunakan status ku sebagai seorang gadis?"


"Nilam tugasmu telah usai dan ini saatnya semua orang tahu jika kamu adalah seorang gadis yang cantik. Kak Angga pasti sudah memikirkan hal ini berulang-ulang kali. Ayo, lakukanlah. Aku akan membantumu?" Raya, mendorong tubuh Nilam ke dalam kamar untuk berganti pakaian.


Nilam, di dandani oleh Raya dan ia terlihat sangat cantik. Namun, ingatannya kembali ke masa lalu.


"Jika, kecantikanku yang membuat kalian bertengkar. Aku akan merusaknya!" Nilam, melukai wajahnya dengan pisau kecil. Dan itu membuat semua orang terkejut.


"Tolong jangan lakukan itu lagi. Rey ... tolong pergilah dan jangan pernah kembali, jika kamu masih ingin hidup!" Tentunya saja Rey tidak akan pernah meninggalkan Nilam.


Nilam, mengusap pipinya yang terluka.


"Kamu pikir aku mau, hidup dengan dirimu? Cobalah tanyakan pada hatimu, apakah aku benar-benar mencintaimu.?"


"Apa maksudmu? Apa arti hubungan kita selama ini?"


"Kamu tahu, aku hanya ingin membalas dendam kepada keluargamu yang telah membunuh semua keluargaku?"


"Katakan jika kamu ingin membunuhku, karena dendam?" Nilam, mundur dan menarik pedangnya. Lalu, ia menodongkan pedang itu tepat di dada pangeran.


"Kamu pikir aku tidak berani?"


"Bunuhlah aku jika, aku bisa menebus dosa keluargaku untuk keluargamu. Karena bagiku hidupku sudah berakhir dengan kenangan saat bersamamu!"


Nilam, terus mengingat kembali masa kecilnya saat beberapa pengawal kerajaan membantai seluruh warga dan keluarganya. Hanya dan Rey yang pingsan.


"Bunuhlah aku ...!"


Nilam, tidak ingin melakukan itu semua. Karena sebenarnya ia sangat mencintai pangeran. Pangeran, mendekati Nilam dan Nilam terlihat mundur. Pangeran memegangi pedang itu, pedang itu menyala berwarna merah. Pangeran, menariknya agar menusuk tubuhnya. Namun, Nilam menariknya dan pangeran tetap menahannya dengan tangannya hingga terluka.


"Aku tahu, di hatimu sekarang adalah aku. Percayalah, bahwa bukan keluargaku yang telah melakukan pembantaian itu?" Tiba-tiba saja, terdengar suara pengawal kerajaan yang lain. Rey, menarik Nilam.


"Kita pergi, karena posisi kita sudah tidak aman?" Nilam, masih melihat pangeran yang sedang terluka, sebenarnya ia ingin mengobati pangeran. Tapi, ia sudah tidak bisa. Karena kerjaan sudah menetapkan Rey dan Nilam sebagai penghianat. Rey, harus menyelamatkan nyawa Nilam. Pangeran terlihat hanya diam sesaat dan terjatuh ke tanah. Melihat Nilam pergi.


Ingatannya kembali ke masa depan.

__ADS_1


"Sudah selesai.. Ayo kita berangkat" Mereka berangkat ke kantor. Terlihat semua orang yang sangat terpesona dengan kecantikan Nilam. Mereka bertanya-tanya siapakah gadis cantik itu. Hingga, membuat keributan. Karena keributan itu Angga keluar dari ruangan kerjanya.


"Ya ampun pagi-pagi sudah berisik ...!" Ada apa? Semua orang sedang melihat apa. Bidadari?" Karena semua orang sedang berkumpul. Nilam, hingga terlihat malu. Angga, mencoba untuk mencari tahu. Ada seseorang yang menjawab pertanyaan Angga.


"Bidadari pak?"


"Minggir ... bisa gak? Bidadari ... bidadari ..!" Mereka semua minggir dan memberikan ruang bagi Angga untuk melihat apa yang mereka lihat.


"Bi .. dadari ...!" Angga, terlihat sangat kagum. Hingga ia tidak bisa berkata-kata lagi.


'Aku, tidak salah jika kamu harus menjadi wanita yang cantik!'


Nilam mendekati Angga dan berbicara.


"Terimakasih banyak ..." Angga hanya tersenyum.


Rey, yang melihatnya dari kejauhan tampak sangat kagum. Akhirnya keinginannya untuk melihat Nilam sebagai wanita tercapai.


"Sudah-sudah, saatnya bekerja kembali. Nilam, saya akan menempatkan kamu di ruang kontrol. Mari ikuti saya, yang lain juga yang satu kelas dengan Nilam!" Angga, terlihat sangat gugup.


'Kenapa rasanya hatiku semakin berdegup kencang. Oke tenang ...' Ia berjalan sembari berbicara dalam hati.


Mereka memasuki ruangan kontrol.


"Ini, ada ibu Ayu yang mengatur semua ruangan ini. Bagian operator, nanti beliau yang akan menjelaskan tentang fungsi ruangan ini. Selamat bekerja! Ibu Ayu tolong bantuannya ... terimakasih banyak" Sebelum Angga meninggalkan ruangan, ia mengusap kepala Nilam dengan lembut.


"Siap, laksanakan!" Ibu Ayu berusia sekitar empat puluh tahun dan terlihat sangat ramah.


Rey, hanya terdiam sejenak kemudian ia mendekati Nilam. Dan berbisik.


"Kamu sangat cantik ...! Sepertinya aku tidak bisa berkata-kata lagi!" Nilam, terkejut dan terlihat sangat malu. Hingga, wajahnya memerah.


"Pantesan, semua orang terpesona melihat kecantikan Nilam. Bidadari mah lewat ...!" Aldo berbicara, hingga membuat semua orang tertawa.


"Baiklah anak-anak, saya akan menunjukkan fungsi ruangan ini adalah untuk mengetahui jika ada telepon emergency. Ruangan ini dinamakan emergency room. Masyarakat bisa menggunakan handphone atau telepon rumah untuk menghubungi pihak kepolisian jika ada masalah yang besar. Karena, sering terjadi kasus pembunuhan, perampokan, juga kecelakaan."


"Oh, jadi seperti di luar negeri ya Bu Ayu?"


"Betul sekali ...! Mari kita lihat ini meja satu untuk bagian operator. Ini meja kedua untuk bagian analisa data korban, dan meja ketiga ini bagian penghubung antara polisi, ambulans atau pemadam kebakaran. Di meja satu bagian operator adalah paling penting untuk menanyakan kepada korban apa yang sedang terjadi dan mencoba untuk menenangkan para korban, agar tetap tenang hingga tim penolong datang"


"Wow ... ruangan ini sangat keren. Dan juga terlihat sangat canggih. Bisa di perlihatkan bagaimana cara kerjanya?" Dika terlihat sangat antusias.


"Oh ... tentu saja. Mari kita ke meja satu sebagai operator" Dika, terlihat sangat ingin duduk di meja satu.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mempraktekkan ini. Dengan senang hati" Aldo, memukul pelan pundaknya.


"Semangat banget bos ...!" Dika hanya tersenyum. Semua orang juga ikut tersenyum.


__ADS_2