
"Apa kamu tidak suka petir?" Farel bertanya kepada Raya, Raya melepaskan pelukannya dan mulai berbicara dengan nada yang terbata-bata.
"Iya, karena waktu kecil aku pernah di rumah seorang diri saat hujan deras hingga suara petir yang terus terdengar. Yang membuatku menangis, hingga hari ini aku masih begitu takut untuk mendengarkan suara petir!" Farel, berusaha untuk menenangkan. Ia, mengusap kepalanya dengan sangat lembut.
"Kamu, gak usah khawatir. Ada aku disini untukmu!" Farel menatapnya dengan tatapan mata yang manis. Tiba-tiba saja datang beberapa orang dari mobil dengan tergesa-gesa ke dalam.
"Pak, ... tolong ...!" Seorang ibu separuh baya, menghampiri beberapa petugas. Ia, terlihat sangat panik dan menangis. Ibu itu nampaknya sudah lelah, Diikuti oleh pria paruh abad sudah sangat tua, bahkan ia memakai tongkat untuk berjalan. Dan lelaki dewasa. Ucok datang dan menghampiri mereka, menyuruh mereka untuk tenang dan duduk agar mereka bisa mengetahui apa yang terjadi. Ibu itu menyodorkan sebuah foto seorang gadis perempuan hitam manis, dengan rambutnya yang di kuncir dua. Dengan senyuman yang manis.
Gadis dalam foto tersebut terlihat agak sedikit tomboi. Ia terlihat sangat ceria dan memiliki energi yang positif. Terlihat dari fotonya ia, bisa beladiri.
"Begini pak ... anak perempuan kami. Belum pulang Sejak kemarin. Karena tidak biasanya ia seperti ini, biasanya ia selalu memberikan kabar jika ia akan menginap di rumah temannya. Ini sampai sekarang masih tidak ada kabarnya, bahkan handphone nya tidak dapat di hubungi. Tolong pak, sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi sesuatu padanya." Ucok menulis semua laporan tersebut. Dan, ia menanyakan siapa pria yang berada di sampingnya. Ia menjelaskan bahwa pria paruh baya adalah suaminya, sedangkan yang masih muda adalah kekasih dari putrinya. Ucok mulai menanyakan kepada kekasihnya.
"Apakah ada informasi tentang korban yang berinisial NS?"
"Kami masih chatting sebelum ia turun dari kereta. Karena saya juga sedang bekerja jadi tidak bisa menjemputnya pulang. Namun, setelah turun dari kereta saya tidak mendengar kabarnya lagi. Lalu saya menghubungi keluarganya. Tepat jam dua belas malam, dan seharusnya ia sudah sampai sekitar jam sepuluh malam, tetap tidak ada kabarnya. Jadi kami putuskan untuk melaporkan kejadian ini, esok harinya. Setelah beberapa temannya tidak mengetahui keberadaan pacar saya. Tolong pak, pastikan jika ia baik-baik saja." Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Bagaimana tidak mereka sudah merencanakan untuk segera menikah, namun sang kekasih hilang secara misterius. Angga dan Nilam berusaha untuk menenangkan mereka.
Ayahnya memegang tangan Angga dan terlihat sangat berharap jika anaknya dapat segera di temukan. Angga tidak tega melihat wajahnya yang menangis. Ia, memegangi kedua bahunya dengan lembut.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari putri kesayangan bapak. Doakan semoga kami berhasil." Bapak itu menundukkan kepalanya tanda setuju. Akhirnya mereka pulang.
Angga, memerintahkan kepada semua karyawannya untuk memasuki meeting room.
"Kita akan bagi tim untuk mencari daerah selatan dan utara, telusuri setiap cctv. Waktu kita sangat berharga, karena jika kita terlambat nyawanya sedang terancam, seperti kasus-kasus yang lainnya. Kita telusuri jalan yang biasanya ia gunakan saat pulang, tim A sebaiknya menelusuri jalan. Tim B menulusuri siapa saja yang harus dimintai keterangan. Mereka semua bergegas, untuk segera berangkat menuju lokasi. Nilam terlihat sangat ingin membantu. Angga menghampiri Nilam. Ia, berdiri tepat di depannya. Ia berbicara dengan sangat lembut.
"Kamu pulang duluan, akan ada yang mengantarkan. Karena aku sangat sibuk. Dan jangan kemana-mana. Tetap di rumah Raya. Itu sudah sangat membantuku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada kamu dan juga Raya." Angga, bergegas pergi. Nilam dan Raya juga pulang. Sebelum pulang Raya memberikan sebuah kotak makanan untuk Farel.
'Kenapa ia begitu peduli denganku! Namun bagaimana akhirnya kisah ini' Farel terkesima menatap kotak makanan tersebut.
****
Angga terus menulusuri cctv. Berdasarkan hasil cctv, ia terlihat turun dari kereta. Dan seharusnya ia menaiki angkot, namun sepertinya tidak ada angkot yang lewat karena sudah jam sebelas malam. Sepertinya ia sedikit terlambat pulang, karena setelah diselidiki, korban ternyata ada acara makan bersama teman-temannya. Hingga ia tidak menyadari bahwa sudah larut malam. Angga menanyai rekan kerjanya.
"Kami, semalam memang makan bersama di sebuah cafe karena lapar dan hari ini tepatnya hari ulang tahun. Ia, berbicara untuk menelaktir kami. Setelah itu ia pulang seperti biasa menggunakan kereta api, kami masih kontekan. Setelah itu, beberapa anggota keluarganya menelpon saya. Tapi saya juga tidak tahu." Angga, terlihat sibuk menulis hasil laporan tersebut. Ia, bergegas pergi menuju lokasi dimana ia harusnya turun.
"Coba cek cctv." Angga, memberikan arahan kepada Ucok untuk memeriksa rekaman cctv.
"Tidak ada cctv setelah turun dari kereta api pak!" Mereka terlihat berpikir.
"Kami, menemukan beberapa informasi, bahwa ada beberapa ada nakal. Menurut mereka mungkin anak-anak itu adalah pelakunya." Firman memberikan informasi tambahan. Lalu mereka menghampiri warga disana. Kebetulan ada supir angkot.
__ADS_1
"Maaf, pak. Apakah Anda mengetahui gadis ini?"
"Iya tahu pak, dia biasanya naik angkot saya. Saya seperti biasa menunggunya, namun kebetulan saat itu. Ia tidak kunjung datang. Jadi saya putuskan untuk pulang karena sudah larut malam. Namun, sebelum pulang saya juga di hadang oleh satu mobil carry berwarna hitam. Ia, meminta uang kepada saya, dengan menyodorkan sebuah pisau. Karena saya takut. Saya berikan saja. Sepertinya mereka orang yang memungkinkan melakukan hal tersebut" Pernyataan bapak tersebut membuka jalan. Mereka kemudian mencari informasi tentang anak-anak tersebut. Sekitar berjumlah lima orang.
Mereka akhirnya, menemukan beberapa informasi. Sedangkan yang lainnya sudah berhasil kabur. Mereka hanya berhasil menangkap satu orang yang berinisial TS. Dan segera membawanya menuju kantor.
"Pak, apa salah saya?"
"Ada, beberapa laporan jika kamu sudah mengancam supir angkot dan beberapa kejahatan lainnya. Sepertinya membuat keributan di sepanjang jalan di saat malam hari. Untuk sementara waktu anda kami tahan!" Ia terlihat sangat marah dan memukul meja.
"Saya, tidak mau ...!"
"Apakah anda mengenali orang ini?"
Kemudian Angga menyodorkan foto korban berinisial NS. Ia, terlihat sedikit terkejut. Wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Tidak ...! Bahkan kalian tidak punya bukti kuat bahwa aku pelakunya?" Angga hanya tersenyum.
"Iya, memang belum ada. Tapi kami pasti bisa menemukan bukti-bukti serta kejujuran! Cepat masukkan dia, untuk sementara waktu karena telah membuat banyak kerusuhan!"
"Saya, tidak mau ...!" Ia, terus memberontak.
"Sepertinya kita harus bergerak cepat mencari keberadaan temannya. Serta lokasi korban, apakah masih hidup atau tidak?"
"Kita dapat melihat informasi dari para pelaku sudah memiliki catatan kriminal, bahkan kedua pelaku yang kabur pernah melakukan pencurian dan pernah masuk penjara dan mereka kabur. Sepertinya, kita harus bergegas mencari keberadaan mereka!" Ucok menambahkan. Mereka akhirnya bergerak mencari keberadaan para pelaku lainnya. Serta kemungkinan korban yang masih bisa di selamatkan.
Angga, tetap berada di kantor. Karena, ia harus mengumpulkan informasi. Tidak lama, pelaku memanggil.
"Ada apa?"
"Aku, ingin bertemu dengan mantan pacarku?" Angga, sebenarnya keberatan. Namun, ia bisa mendapatkan informasi tambahan lagi dari pelaku. Lalu, ia memanggil mantan pacarnya. Perempuan itu benar-benar datang.
"Kamu, kenapa di penjara?"
"Aku, gak tau! Mana rokok yang aku mau?" Perempuan itu, menyodorkannya.
"Kamu, yakin gak melakukan hal yang buruk?" Pria tersebut, tiba-tiba saja menutupi mulutnya. Gadis itu terlihat sangat takut, badannya sedikit bergetar, karena ia tahu jika TS adalah orang yang sangat tidak manusiawi.
"STT ... aku memang melakukan kejahatan, mereka menanyakan dimana wanita itu?"
"Wanita mana?" Ia, berbalik bertanya dengan nada takut.
__ADS_1
"Wanita yang aku culik, tempo hari, ia lebih mempesona dari kamu! Sangat menggairahkan!" Ia, begitu mengekspresikan dengan penuh *****.
'Aku, yakin ia sudah melakukan hal yang buruk terhadap gadis itu' Gumamnya dalam hati.
Angga, menghampiri jam besuknya sudah berakhir. Angga, menanyakan kepada wanita yang sekarang menjadi saksi.
"Sepertinya ia, sudah melakukan hal buruk terhadap korban. Pak, saya juga dulu pernah di lecehkan. Bahkan sering di pukul, tadinya saya tidak ingin datang tapi hati saya, berkata bahwa saya bisa membantu kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini!"
"Terimakasih banyak atas bantuannya, kami akan menjaga privasi Anda sebagai saksi."
"Tapi, saya takut jika TS akan mengancam saya! Saya, masih trauma dengan kejadian itu!"
"Kamu, tenang saja. Besok kamu kembali kesini, dan kami akan pasang alat perekam suara digital, agar ia tidak curiga!"
"Apakah, kamu masih ingin membantu kami?" Ia, terlihat menundukkan kepalanya. Sepertinya ia ragu karena takut. Sempat terdiam beberapa menit kemudian ia mengatakan setuju untuk terus membantu. Mereka bersalaman tanda bekerja sama.
****
Farel, sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ia, terlihat sangat bahagia. Termasuk juga Raya yang sedang bahagia sejak kejadian semalam. Mereka berdua bertemu di sekolah, Farel memberikan sebuah kotak makanan.
"Ini, terimalah!" Raya, membuka kotak tersebut. Ia, begitu senang.
"Kamu, tahu ini semua kesukaan aku!" Didalam kotak tersebut ada, semur tahu, ayam goreng dan tahu bacem, serta sambel goreng. Raya terlihat sangat senang menerima kotak makanan tersebut. Farel, terlihat memegangi dadanya.
"Loe, kenapa sih? Jantungan! Hah ..." Aldo, bertanya dengan nada yang judes.
"Apaan sih ... Kepo!" Farel, menjitak kecil kepalanya, dengan berlalu pergi.
Terlihat raut wajahnya yang bahagia. Ia, terus memegang dadanya karena hatinya terus berdetak kencang.
"Aw ... sakit!" Ia, mengusap kepalanya.
"Loe sih kepo ...!" Dika, terlihat ketawa puas.
"Seneng kan, dapet hadiah dari Farel?" Nilam, terlihat ikut senang dengan temannya itu. Rey, terlihat sedang melihat ke arah luar jendela, ia nampak sedang berdiri dengan buku di tangannya. Ia, begitu serius. Nilam penasaran dengan buku apa saja yang ia baca. Ia, mengangetkan Rey yang sedang serius, hingga bukunya terjatuh. Nilam meminta maaf. Rey, hanya terdiam ia, mengambil bukunya. Dan kembali berdiri.
"Kamu, marah?"
"Aku, minta maaf?" Rey, tetap terdiam. Ia, kemudian pergi.
Rasa bersalah, dan bingung menyelimuti Nilam. Terlihat dari buku yang ia baca adalah buku. 'Gerhana merah' Seperti yang pernah ia lihat di cermin. Ada hubungan apa antara Rey dan tulisan di cermin tersebut. Apakah, ini semua adalah sebuah kebetulan. Atau sebuah takdir dan petunjuk, dengan beberapa gadis yang hilang.
__ADS_1