
"Aku, sungguh tidak sanggup lagi. Kasihan sekali korban." Saksi tersebut menangis sejadinya. Ia, merasakan sakitnya jika di posisi korbannya.
"Coba, lanjutkan cerita tersebut." Ucok, memutar kembali rekaman tersebut.
"Lalu, apa yang kalian lakukan terhadap korban?" Ia, bertanya dengan badan yang sedikit gemetar.
"Yah, sudah bisa di pastikan." Pelaku melanjutkan ceritanya.
"Tolong, lepaskan aku, aku akan berikan apapun untuk kalian, uang ataupun handphone. Tolong, ibu dan ayah pasti sudah menungguku pulang. Sebentar lagi, aku juga akan menikah. Jadi tolong, biarkan aku hidup. Aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi, asalkan kalian melepaskan aku?" Ia, memohon dengan tangisan yang begitu menyedihkan, ia memohon dengan kedua tangannya memegang kaki TS, sebagai otak semuanya. TS, tidak peduli dengan ucapannya, ia malah melecehkan korban, dan mereka menggilir hingga pingsan. Bahkan, setelah siuman mereka memukuli kepala bagian depan berkali-kali, hingga darah yang mengalir.
'Ibu, ayah ... maafkan aku tidak bisa pulang dan memberikan kalian makanan kesukaan kalian. Pagi tadi menjadi pagi terakhirku bertemu dengan kalian.' Ia, terus menangis, membayangkan, wajah kedua orang tuanya yang selalu menunggunya pulang dan selalu menyiapkan makanan kesukaannya. Serta wajah tunangannya yang selalu mengantarkan kemanapun ia pergi, pria yang sangat ia cintai setelah ayahnya.
Pelaku pergi begitu saja dengan meninggalkan dirinya seorang diri tanpa busana di tengah sawah yang dingin dan gelap. Yang ia lihat hanyalah cahaya rembulan. Hingga ia, tidak bisa melihatnya kembali, ia mengingat tunangannya, padahal sebentar lagi ia akan menikah. Hingga matanya tertutup untuk selamanya.
"Sakit rasanya, mendengar kisah ini!" Nilam mengusap punggungnya dengan lembut.
"Terimakasih banyak atas bantuannya, kami memiliki hadiah untukmu, semoga kamu suka!" Angga, memberikan sebuah kotak kecil. Ia, membuka kotak tersebut.
"Kunci?" Ia, terlihat sangat senang.
"Kunci motor, dan juga kunci rumah baru untukmu dan keluargamu agar tidak ada siapapun yang mengetahui jati dirimu. Kami, akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi saksi". Ia, menangis terharu. Karena selama ini ia dan orang tuanya mengontrak rumah kecil, karena keluarganya pas-pasan. Ia, melakukan sujud syukur.
"Alhamdulillah, ya Allah ...!"
Nilam, terlihat sangat kagum.
'Angga, begitu perhatian terhadap orang lain. Padahal dia sedikit perhitungan terhadap adik-adiknya.' Ia, berpikir sambil tersenyum. Angga, menghampirinya.
"Melamuin siapa?" Dengan tidak sadar ia berkata.
"Angga ...!" Ia, terkejut. Ia, berbalik badan dan sangat malu. Ia memukul kepala dengan pelan.
"Aduh ... kenapa harus keceplosan sih!"
__ADS_1
"Kenapa?" Angga, terlihat sangat senang.
"Gak apa-apa!" Nilam, berjalan mendekati Aldo dan Dika. Angga, hanya tersenyum melihat tingkah Nilam.
"Bisakah kamu sekali lagi tanyakan dimana alamat mereka, membuang jasad korban?" Meskipun ia sedikit ragu dan takut. Namun, ia mencoba menyelesaikan tugas terakhirnya. Untuk menemukan jasad korban. Ia, mendatangi lagi pelaku.
"Aku, sudah membawakan rokok dan kopi kesukaan kamu?"
"Wow, gini dong ...!" Ia, meminum kopi tersebut. Saksi kemudian mulai bertanya lagi.
"Oh, iya ... dimana kamu membunuh korban?" Pelaku, terlihat cemas. Ia, melirik ke arah kanan dan kiri. Dan mendekati saksi dari balik jeruji besi.
"Di sawah di kampung, yang kita suka lewati! Kamu, tahu kan?" Ia, terus menghisap rokok tersebut. Saksi, terus berpikir dimana yang ia maksud. Tiba-tiba saja, polisi berdatangan untuk, memergoki ia berbicara. Sebagai barang bukti. Pelaku terlihat sangat marah terhadap saksi.
"Awas ya loe ... tunggu pembalasan gue?"
Saksi terlihat sangat takut, Nilam, menenangkannya agar ia tidak takut.
****
"Kamu, itu untuk apa bekerja di orang? Apa kurang yang mamah berikan untuk kamu?"
"Untuk apa, semuanya bukan punya aku, Mah. Semuanya milik Farel. Kita yang sudah menghancurkan kehidupan mereka, itu semua salah kita, harusnya Mamah sadar itu! Mamah sudah merusak kebahagiaan orang lain demi kepuasan Mamah sendiri. Mamah, gak pernah tahu, jika setiap hari, aku selalu di hantui rasa bersalah. Apalagi Ibu Farel sudah seperti ibuku sendiri, lebih dari ibuku sendiri, yang sibuk dengan dunianya!"
"Cukup Rey ...!"
Terdengar suara, tamparan keras melayang ke wajah Rey. Rey, menatap wajah ibunya dengan sangat marah. Sambil memegangi pipinya, terlihat tetesan air matanya. Rey, pergi dengan perasaan yang campur aduk, emosi dan sedih menjadi satu.
"Ma ... afkan Mamah..!" Rey, berlalu pergi. ibunya menangis, terduduk di lantai. Ternyata Farel telah mendengar percakapan mereka di dalam, ia kebetulan sedang membaca buku.
'Ternyata Rey selalu memikirkan perasaan gue selama ini. Gue, keterlaluan selama ini. Ternyata dia lebih tertekan dengan semuanya.'
Rey, menangis tersedu-sedu di pinggir jalan. Ia, sangat sedih, setiap hari di kejar-kejar rasa bersalah terhadap Farel dan ibunya. Serta ia sangat membenci Ibu kandungnya sendiri. Ia, sangat tertekan dengan keadaan ini. Nilam, kebetulan lewat.
__ADS_1
"Bisakah, kamu memberhentikan mobil?" Angga, menghentikan laju mobilnya.
"Kamu, mau kemana?" Tanyanya heran.
"Tunggu sebentar...!" Ia, turun dan menghampiri Rey, yang sedang tertunduk menangis dengan kedua tangannya memegangi kepalanya.
Ia, melihat sepasang sepatu yang berdiri tepat di depannya. Ia, melihatnya. Nilam, duduk di dekatnya.
"Kamu, kenapa?" Tiba-tiba saja Farel memeluknya erat sambil menangis. Angga, terlihat sangat cemburu. Ia, ingin menghampirinya, Aldo dan Dika menahannya.
"Kak, maaf nih ya ... kayanya situasinya tidak tepat. Karena terlihat sekali Rey sedang ada masalah besar. Jadi, kami minta tolong, biar Rey tenang dulu." Mereka tersenyum kecil, Angga hanya melotot tajam.
"Ampun Bang jago ...!" Mereka berdua, terdiam.
Angga, mencoba untuk tetap tenang. Ada benarnya juga ucapan Dika dan Aldo. Angga, yang menatap dari kejauhan, mencoba untuk mengerti.
Sore itu, perasaan Rey sangat hancur. Ia, merasa sudah tidak punya siapa-siapa sejak Farel pergi dari hidupnya. Karena Farel adalah sahabat terbaik baginya. Sejak kecil, temannya dalam suka dan juga duka. Kebersamaan dengan Ibunya Farel selalu ia rindukan. Betapa tersiksanya batinnya dengan semua keadaan ini, sehingga sejak masalah itu terjadi, ia tidak pernah berbicara dengan siapapun. Sejak Nilam hadir di hidupnya, kehidupannya kembali ceria. Ia, menangis tersedu-sedu.
'Baru, kali ini, aku melihatnya begitu sedih. Pasti masalahnya sangat berat.' Gumamnya dalam hati.
"Kamu, harus sabar ... masih ada aku." Rey, melepaskan pelukan dan menatap wajah Nilam.
"Maaf ...!" Karena ia memeluk Nilam secara tiba-tiba. Nilam, menghapus air matanya.
'Hanya kamu, yang bisa membuatku bahagia. Dan nyaman saat aku sedang bersedih.' Rey, menatapnya dengan dalam. Nilam hanya tersenyum. Sementara itu, Angga terlihat sangat cemburu.
"Kamu, kenapa? Aku siap mendengarkan semuanya?" Rey, yang melihat Angga di dalam mobil. Yang sedang menatap mereka dengan serius. Rey, merasa tidak enak jika terus bersama dengan Nilam. Angga, terlihat sangat kesal, hingga ia memukul klakson mobil. Hingga, membuat mereka berdua terkejut.
'Meskipun, aku ingin bersamamu. Tapi, keadaan ini tidak memungkinkan, meskipun hatiku ingin bercerita tentang semuanya, tapi ada seseorang yang akan terluka jika melihat kita berdua' Gumamnya dalam hati.
"Gak apa-apa, lain kali aku bisa cerita. Kamu pulang saja." Rey, kemudian pergi. Angga, merasa senang dan menghampiri Nilam.
"Rey ...?" Rey, hanya berjalan dan memberikan kode oke. Bahwa ia baik-baik saja. Meskipun hatinya sangat membutuhkan Nilam. Angga, berusaha untuk tidak marah.
__ADS_1
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan!" Ia, memegangi tangan Nilam dan menuntunnya menuju mobil. Sedangkan Nilam, malah kepikiran dengan Rey yang terlihat sangat sedih.
'Kenapa dia jadi melamun. Apa dia kepikiran Rey!' Angga, terlihat sangat kesal.