Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Salah paham


__ADS_3

Dalam pikiran Rey.


(Ternyata benar, seperti yang aku pikirkan. Kak Angga memang menyukai Nilam, ia pasti sangat cemburu) Rey, menatap Angga. Maya, masih menunggu jawabannya.


Ia, terdiam sejenak. Dan menarik nafasnya yang panjang.


"Tidak, apa-apa? Sebaiknya, kamu habiskan makanan itu! Bukankah itu makanan favorit kamu!" Angga, terlihat sangat serius.


(Angga, masih begitu mengingat semuanya)


Nilam, yang bisa mendengar dari kejauhan merasa cemburu.


(Apa, maksudnya ia berbicara seperti itu! Apakah hubungan mereka dulu, apa ia hanya sebatas teman! Ah, seharusnya aku tidak usah ikut campur dalam kehidupan pribadinya, tapi kenapa aku selalu ingin tahu apapun tentangnya!)


"Raffi, jangan bengong! Nanti kesambet setan!" Rey, sedikit mengejeknya. Nilam, hanya tersenyum.


"Eh, loe makanan, loe lihatin apa bakalan kenyang...!" Aldo, menasehati Farel yang sejak tadi hanya melihat semua makanannya.


Farel, teringat akan masa lalunya, saat masih bersama Ayahnya, saat semuanya itu terasa indah, hanya kebahagiaan yang ia punya. Hidup yang serba ada, keluarga yang harmonis. Namun, tiba-tiba saja semuanya berubah, yang ia ingat hanya luka dan air matanya. lamunannya buyar saat ia mengingat ibunya. Tiba-tiba saja ia berbicara.


"Mohon maaf Pak! Apakah bisa makanan ini dibungkus saja! Sekian dan terimakasih!"


"Loh, kok dibungkus sih norak loe gak pernah makan makanan mahal yah!" Dika nyeletuk. Angga, menatap dengan tajam, membuatnya terdiam malu.


"Boleh! Tapi, apa alasannya?" Tanya Angga penasaran.


"Karena, ibuku pasti sudah menungguku pulang sejak tadi, aku tidak bisa makan enak sedangkan aku tidak pernah tahu, apakah ibuku bisa makan enak! Jadi, jatah makanan untukku, akan aku berikan untuk ibuku! Ia, pasti sudah menungguku pulang, dan aku tidak bisa menghubungi, karena handphone ku terjatuh dan sekarang tidak dapat menyala!" Semua orang tercengang mendengar kata-kata Farel. Seorang yang arogan, ternyata adalah sosok yang begitu mencintai ibunya. Mereka tidak percaya dengan perkataannya. Sedangkan Rey, sudah bisa menebaknya.


(Ternyata, kamu tetaplah Farel yang dulu aku kenal!)


Raya, memandangnya dengan penuh kagum.


(Ternyata, dibalik tingkahnya yang menyebalkan dia adalah sosok anak yang sangat baik).


"Apapun, yang kamu mau berikanlah untuk ibumu!" Angga, sangat senang. Bahkan ia menyuruh Farel memesan makanan kesukaan ibunya dan dirinya sebagai hadiah. Acara telah selesai dan semua orang bersiap untuk pulang. Angga, memerintahkan agar mengantarkan anak-anak untuk pulang.

__ADS_1


Akhirnya, mereka pulang ke rumah masing-masing. Semua orang terlihat sangat lelah.


****


Keesokan paginya.


Angga, tidak sempat untuk mengantarkan mereka ke sekolah, karena ia harus menginvestigasi pelaku yang baru ia tangkap semalam. Ucok yang akan mengantarkan mereka ke sekolah.


Angga telah tiba di kantornya. Ia, langsung menuju ruang investigasi. Pelaku sudah berada disana. Angga, duduk tepat di depannya.


"Apa, motif anda melakukan semua ini?"


Ia, tersenyum sinis. Dan mendekati wajah Angga.


"Apakah, kamu pernah merasakan kehilangan, begitu sakitnya ... hati ini, jika aku ingat semuanya! Aku, sudah tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Adik yang paling aku sayangi telah pergi untuk selamanya, itu ... itu ... semua karena selebgram itu, ia menjual berbagai produk kecantikan palsu yang membuat adikku mempercayai, hingga ia terkena kanker kulit, aku sudah bersusah-susah payah untuk melakukan pengobatan, hingga uang tabungan sudah habis, bahkan aku pernah meminta pertanggungjawaban Julia saat itu, tapi ia tidak peduli sama sekali, hingga adikku meninggal dunia. Akhirnya, aku memutuskan untuk membalas dendam kepada para pendusta! Untuk apa mereka hidup hanya menipu!" Ia, bercerita sambil menangis kecil. Ia, terlihat sangat tertekan dengan semuanya. Ia, mulai histeris saat mengingat adiknya, hingga ia mengamuk. Angga, berusaha untuk menenangkan. Pelaku, sudah begitu depresi.


Angga, hanya terdiam ia berpikir.


(Bukan kamu saja, yang pernah merasakan kehilangan! Aku juga sama dan itu masih membuatku trauma untuk kembali merasakan cinta!)


Maya, menelpon kantor untuk memberikan informasi bahwa ada seorang anak kecil yang usianya masih lima tahun, yang sedang sakit tapi terdapat memar-memar di badannya. Angga segera menuju rumah sakit. Korban tidak sadarkan diri.


"Apakah kamu suka buku ini?" Rey, memberikan buku itu, berjudul 'tentang cinta' itu judulnya. Semua orang yang berada di dalam kelas, merasa heran kenapa tiba-tiba saja Rey bisa berubah menjadi sosok yang manis. Padahal ia terlihat sangat datar, entah mengapa akhir-akhir ini ia terlihat lebih bahagia. Rey, terkenal dengan sifatnya yang dingin, dan tidak pernah berbicara dengan siapapun, meskipun ia sangat pintar.


"Do, gue aneh, kok bisa berubah dalam sekejap mata! Jadi, beneran ia suka pria!"


"Oh ... no ...!" Aldo, memberikan sebuah respon. Sebenarnya, semua orang membicarakan tentang Rey, karena ia terlihat begitu perhatian terhadap Raffi, semua orang berpikir bahwa Rey penyuka sesama jenis. Farel, masuk dengan setelan bad boy nya. Seperti itulah ia di sekolah, selalu tidak pernah disiplin, selalu menggangu orang lain.


"Masih, bengong ambil ini!" Nilam, yang bisa mendengar kata-kata orang yang berpikir tentang Rey, ia merasa kasihan apakah ia harus pindah tempat duduk. Agar, Rey tidak menjadi bahan gosip satu sekolah. Tidak ada seorangpun yang tahu, bahwa ia memang menyukai seorang gadis cantik yang berada di depan matanya.


"Hmm .. Rey bolehkah aku pindah tempat duduk?" Rey, terlihat sangat shock. Ia, tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Rasanya, hatinya menjadi hancur. Ia, tidak merespon. Ia, hanya terdiam membisu, dan melanjutkan membaca bukunya.


(Sepertinya aku salah bicara, hingga sepertinya ia sangat terluka!)


Pelajaran di mulai, bahkan Rey tidak menatap wajah Nilam seperti biasanya. Nilam, menjadi tidak enak, ia mencoba untuk mengalihkan perhatian. Dengan meminjam pulpen.

__ADS_1


"Sepertinya, aku ketinggalan pulpen, bisakah kamu meminjamkan satu untukku?" Rey, tidak menatap, ia segera mengambil pulpen cadangannya. Dan, menyodorkan tanpa membalikkan kepalanya.


(Sepertinya, ia benar-benar marah! Haruskah aku meminta maaf sekarang!)


Jam istirahat.


"Kenapa, tumben sekali si Rey gak gabung makan sama kita?" Aldo, mencoba bertanya kepada teman sebangkunya.


"Eh, dia malah melamun!" Dika, menyenggolnya.


"Apaan sih!"


"Kenapa sih, loe berantem sama si Rey?"


"Iya, aneh banget gak biasanya, Rey begitu?" Raya, yang merasakan aneh.


"Sebenarnya, aku meminta untuk pindah tempat duduk!" Semua temannya merasa ikut merasakan yang dirasakan oleh Rey, dengan pernyataan Nilam.


"Pantesan, aja dia marah! Tersinggung dia, pasti ia berpikir, ada masalah apa sampai harus pindah duduk! Loe, kenapa sih gak bisa mengerti. Rasanya pasti sakit tapi tidak berdarah!" Aldo memegang dadanya. Dika, mengusapnya. Mereka memang suka mendramatisir keadaan.


"Iya, tadinya aku cuma kasihan, dia di gosipin sama anak-anak disini, tentang hubungan kami berdua! Aku, cuma ingin, membantunya keluar dari semua masalah ini! Ternyata aku salah, sudah membuatnya tersinggung! Bodoh ...!" Nilam, tertunduk sedih.


"Tapi, menurut gue dia mah jadi salah paham, sebaiknya minta maaf dan jelasin semuanya!" Raya, memberikan sebuah saran. Nilam, berpikir untuk meminta maaf.


Saat, ia ingin menghampiri Rey, tiba-tiba saja Farel berada tepat di depan mata.


"Mau kemana?" Dan, Rey keburu pergi dengan Sukma yang menghampirinya untuk menanyakan pelajaran.


"Gara-gara, kamu!" Ia, mendorong tubuh Farel hingga terjatuh.


"AW, tenaganya kuat juga!" Ia berdiri.


****


Angga, telah tiba datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi korban. Maya, menjelaskan bahwa ia menemukan anak itu di dekat jalan dalam keadaan terluka.

__ADS_1


"Sepertinya, ia terluka sangat parah! Saat, aku menemukannya ia setengah sadar, seperti orang yang ketakutan! Menurut hasil visum, korban mengalami luka serius di sekitar tubuhnya, terutama kepala bagian belakang, retak bagian tengkoraknya! Lihatlah hasil rontsen nya!" Mereka melihat hasilnya.


"Sebaiknya, kita segera cari alamatnya!" Angga, bergegas pergi, dengan Ucok dan Firman.


__ADS_2