Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Saksi


__ADS_3

"Aldo ... Dika, tolong kasih tahu gue ada apa sebenarnya?"


"Enggak ... ada apa-apa!" Mereka berdua terlihat gugup.


"Oh, kalian mau gue hajar ...!" Farel terlihat sangat marah.


"Ih, loe kasar banget .. gue benci sama loe!" Raya pergi memegangi tangan Nilam.


"Aduh, ... !" Terdengar suara seseorang jatuh. Ternyata itu Farel. Raya terlihat sangat panik. Ia, menghampiri.


"Loe, gak apa-apa kan? Please bangun ...?"


"Wah ... ternyata gue berhasil!"


"Ih ... ternyata loe bohong banget sih!" Raya terlihat sangat marah. Raya memukul tangan Farel. Farel, memegang tangannya.


"Ya udah maaf ...?"


"Habis, kenapa harus pura-pura. Loe kan bisa cerita sama gue, ada apa sebenarnya? Gue bisa bantu kok! Jangan cemberut terus dong, nanti cantiknya hilang"


Farel, menggodanya dengan memegangi dagunya. Raya sedikit tersenyum.


Akhirnya ia menceritakan semuanya. Farel mendengarkan dengan seksama. Karena Farel adalah tipikal orang yang akan mendengarkan cerita orang lain dengan baik.


Ia, kemudian berjalan kepada teman-temannya yang sedang latihan basket.


"Apa dia marah ya?" Raya, bertanya-tanya. Aldo dan Dika saling sikut.


"Mana gue tahu" Aldo dan Dika menjawab. Nilam hanya terdiam. Tidak lama ia kembali dengan Rey.


"Ini, partner gue!" Semua orang terkejut dengan pernyataan Farel. Termasuk Rey yang bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba saja berubah.


"Loe kan tim gue di basket. Jadi kalau gue minta bantuan loe harus tolongin gue?" Farel merangkul pundak Rey. Rey terlihat sangat senang.


'Akhirnya loe bisa kaya dulu lagi, meskipun gue masih ngerasa canggung dengan perubahan loe yang tiba-tiba. Tapi gak apa-apa gue seneng banget, alhamdulilah.' Gumamnya dalam hati. Rey, terlihat seyum tipis.


"Jadi loe gak marah?" Raya heran.


"Marah kenapa?"


"Gue pikir loe tadi marah, karena gue mau bantuin narapidana?"


"Hey ... buat apa gue marah, jujur aja gue sih gak marah cuma ......! Tapi, namanya membantu seseorang kan gak boleh pilih-pilih." Farel, malu mengakui jika ia sedang cemburu.


"Cie ... !" Aldo dan Dika berbarengan.


"Berisik loe!" Raya, memukul pundak mereka berdua.


"Sakit Raya ...!" Timpal mereka berdua.

__ADS_1


"Ayo, jalan ... gue udah pinjem mobil teman gue, jadi kita tinggal berangkat!" Mereka semua segera menuju mobil.


Farel duduk di kursi supir. Ia, terlihat sedang memasukkan kunci mobilnya. Dan terlihat bingung, harus bagaimana.


"Loe bisa gak sih?" Dika terlihat sangat cemas.


"Berisik loe ... cuma duduk aja gak usah banyak omong." Farel, sedikit lupa untuk mengendarai mobil.


'Aduh, gue lupa lagi caranya! Gue coba dulu aja' Gumamnya dalam hati. Ia, berpura-pura terlihat bisa


Mobil maju, perlahan-lahan, dan hampir menabrak pohon besar. Mereka semua berteriak. Tiba-tiba saja mobilnya, menuju ke jalur yang benar. Tiba-tiba saja Farel mengingat lagi caranya menyetir mobil.


"Wow ... gue bisa guys ...!" Ia, menjalankan laju mobilnya. Semua menarik nafas lega. Sebenarnya yang membantu Farel untuk mengingat semuanya adalah Nilam. Ia menggunakan kekuatannya untuk membantu Farel.


"Hampir aja kepala gue copot!" Gumam Dika. Aldo hanya tertawa. Mereka semua tertawa bersama. Rey, menatap wajah Nilam yang sedang tersenyum manis, di balik spion mobil.


'Andai saja kamu tahu bagaimana perasaan ini, aku selalu berharap bisa seperti ini. Berada di dekatmu meskipun kita tidak memiliki hubungan yang spesial' Matanya tetap tertuju pada Nilam meskipun ia terus berpikir tentang perasaannya.


Farel, melihat alamat tujuan. Ia, mengetahui alamat tersebut dan sudah sampai pada tujuan. Mereka turun dari mobil.


"Assalamualaikum ... permisi?" Mereka semua mengatakan dengan serentak. Hingga membuat Ujang tiba-tiba saja meloncat karena ia sedang menyapu lantai.


"Waalaikumsalam ... astaghfirullah kalian mengagetkan saya. Hampir saja, jantung saya copot nih, emang kalian bisa tanggung jawab!" Ujang mengusap dadanya. Mereka hanya tersenyum malu.


"Maaf tidak bermaksud mengagetkan. Mungkin terlalu serius jadi terkejut." Ujang hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu gak, Bagas?" Farel, mulai bertanya.


"Iya tahu, emang kenapa? Bukannya ia di penjara? Karena ia telah membunuh teman saya!." Ujang memasang wajah sedih.


"Emang kamu yakin kalau ia pembunuhnya?" Raya mulai bertanya.


"Jujur saja, sebenarnya saya tidak begitu percaya jika ia pelakunya? Karena, ia sangat mencintai mantannya tersebut. Namun, saya pikir ia masih mencintai mantannya. Mantannya adalah sahabat saya sejak kecil. Mungkin saja ia cemburu karena mantannya telah memiliki pacar baru!"


"Bukankah kamu pernah melihatnya saat sedang balapan terjadi, bahkan saat itulah kejadian pembunuhan itu terjadi? Apakah kamu masih ingat? Tolong bantu untuk menjadi saksi, hanya kamu yang bisa membantunya?" Raya terlihat sangat bersemangat, justru itu membuat hati Farel merasa terluka.


'Apa gue cemburu? Harusnya gue bisa ikhlas, ternyata sulit. Melihatnya begitu membela Bagas, apakah mereka memiliki sebuah hubungan yang istimewa' Gumamnya dalam hati.


Ujang, baru mengingat kejadian tersebut.


"Iya memang benar, saya saksinya waktu Bagas sedang balapan liar. Baiklah saya akan memberikan sebuah kesaksian untuk Bagas dan mencari pembunuh sahabat saya!"


Mereka semua terlihat sangat senang dengan keputusan Ujang.


Ujang, segera mengikuti mereka dari belakang saat akan masuk ke mobil, Ujang di culik dengan menggunakan sebuah motor. Mereka semua terkejut dan langsung memasuki mobil untuk mengejar Ujang.


Aksi kejar-kejaran antara Farel dan penculik terjadi. Farel memberikan kode kepada Rey untuk, membuka pintu mobil saat sudah mendekati pelaku. Dan, beberapa saat Farel bisa menyusulnya. Rey, membuka pintu mobil dan mendorong motor penculik dengan kakinya, hingga tersungkur ke tanah. Ujang pun turut terjatuh. Farel, memberhentikan mobilnya dan turun dari mobil. Penculik tersebut terbangun dan mencoba melawan, hingga datang rekannya, dan segera kabur. Sayangnya mereka tidak bisa menghentikan para penculik tersebut, dan fokus untuk membantu Ujang yang sedang terduduk lemas.


"Jang ... loe gak apa-apa?" Tanya Raya cemas.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok." Ujang menghela nafas panjang. Rey, terlihat sedang berpikir. Lalu, ia berbicara kepada teman-temannya.


"Jika ada seseorang yang mengetahui jika Ujang adalah saksi, maka ada seseorang yang telah membocorkan rahasia ini, berarti benar jika Bagas bukan pelakunya?"


"Berati kita harus melindungi Ujang, karena nyawanya sekarang sedang terancam!" Aldo menimpali ucapan Rey. Mereka semua sepakat untuk segera membawa Ujang untuk segera menuju kantor polisi. Saat mereka akan pergi, ada sebuah mobil yang memberhentikan mobil mereka. Ternyata itu adalah Angga.


"Kakak?" Dika, terkejut dengan kedatangan kakaknya tersebut."


"Siapa yang sedang bersama kalian?"


"ini ... anu ...!" Aldo dan Dika terlihat sangat gugup.


"Maksudnya? Kenapa terlihat gugup?"


"Bro ... kak Angga marah gak kita kelayaban begini?" Aldo berbisik kepada Dika.


"Gak tau gue? Emang gue peramal!"


"Begini kak .. ini adalah saksi untuk Bagas, karena ia adalah saksi untuk Bagas." Farel, mulai menjelaskan.


Angga, melihat ke dalam, ia melihat Nilam sedang terdiam, sepertinya hubungan mereka berdua menjadi buruk. Angga terlihat berpura-pura tidak melihatnya.


'Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Karena aku sangat menghawatirkan keadaan dirimu, meskipun kita tidak bisa berkata-kata lagi' Gumamnya dalam hati.


Dan, menjelaskan jika ia akan membawa saksi menuju kantornya. Dan memerintahkan kepada mereka untuk segera kembali ke rumah masing-masing.


Rey, yang melihatnya merasa jika Angga sebenarnya sangat merindukan Nilam, hanya terhalang oleh gengsi. Akhirnya, Farel mengantarkan mereka semua untuk pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah, mereka segera mengganti pakaian mereka.


"Kenapa, kamu dan kak Angga belum baikan?" Raya penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Apa pentingnya!"


"Begitulah kalau sudah suka, ada rasa gengsinya. Rinduku terhalang oleh gengsi!" Nilam hanya tertawa kecil. Mereka kemudian tertidur pulas. Nilam bermimpi berada di negeri awan. Dua orang anak kecil, yang satu perempuan dan satu laki-laki. Pria kecil itu berbicara. Pria itu sudah berumur tiga belas tahun, sedangkan untuk gadis kecil itu baru berumur sepuluh tahun.


"Aku akan selalu mengajarimu, banyak hal seperti memanah. Karena jika kamu ingin bertahan hidup, kamu harus terus kuat setiap hari. Hingga, tidak ada seorangpun yang mampu mengalahkan dirimu?" Pria kecil itu, mengajarinya cara memanah. Setiap hari, mereka berdua hanya terus menghabiskan waktu bersama. Hingga sesuatu yang buruk terjadi. Desa mereka di serang oleh pemberontak, si gadis di bawa kabur oleh orang yang tidak di kenal. Sedangkan pria kecil itu pingsan.


Ketua kelompok tersebut datang dan, melihat semua mayat dimana-mana.


"Bagus ... jangan sampai ada yang selamat, apapun alasannya?" Mereka, membalikkan badannya. Dan, terdengar suara raungan anak laki-laki.


"Siapa?" Mereka menghampiri anak laki-laki tersebut.


"Sebaiknya bunuh saja?" Ucap salah satu anak buahnya.


Pedang sudah mendekati kepalanya. Bosnya menahan pedang tersebut.


"Tidak, usah ... sebaiknya kita bawa saja..?" Mereka membawa anak laki-laki tersebut. Entah apa yang terjadi selanjutnya kepada anak laki-laki dan gadis tersebut.

__ADS_1


__ADS_2