
Setiap manusia itu, selalu punya harapan meskipun terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah yang dirasakan Raya. Ia, menatap ke arah luar jendela kamarnya. Ia, berharap Farel datang menemuinya, meskipun itu hanya sebuah angan-angan. Ia, seperti melihat wajah Farel berdiri di depan garasi rumahnya.
"Kenapa, gue ngehalu terus... gue bodoh, udah tahu hatinya untuk Sukma...!" Ia, mendapatkan kabar jika Farel mencarinya, dan ingin ke rumahnya. Raya terlihat sangat senang dan berharap. Ia, terus menerus menunggu. Sepulang sekolah.
Farel, bersiap-siap untuk pergi ke rumah Raya, tiba-tiba saja Sukma berdiri di depan motornya.
"Farel.., kamu mau kan anterin aku ke mall buat beli baju ...? Aku, ada undangan dari sodara aku, jadi aku mau pakai baju baru ...!" Ia, langsung naik, tanpa menunggu persetujuan dari Farel. Aldo dan Dika yang melihatnya merasa aneh.
"Tadi, dia sendiri yang bilang mau ke rumah Raya, sekarang dia malah pergi dengan Sukma ...! Gak jelas ...! Dasar Playboy cap teri ...!" Dika, berbisik kepada Aldo. Mereka berdua menatap kesal.
Farel yang sudah berniat untuk pergi ke rumah Raya, terpaksa harus mengundurkan diri. Ia, merasa sangat bersalah, karena ia tidak bisa menepati janjinya untuk pergi ke rumahnya.
'Aldo atau Dika, pasti sudah memberitahu jika gue mau kerumahnya. Mereka berdua mulutnya sangat ember ...! Bagaimana, jika Raya sudah menungguku?' Gumamnya dalam hati. Sebenarnya, ia tidak ingin mengantarkan Sukma, tapi bagaimana lagi. Wajahnya terlihat lesu, ia tidak bersemangat.
"Sudah malam begini ...! Dasar pembohong besar ...! Gue, benci sama loe ... penipu hati ...!" Raya, melempar semua bonekanya. Ia, bahkan menangis. Ia, mematikan lampunya. Agar ayahnya mengetahui jika ia sedang tertidur pulas. Raya, merobek semua fotonya bersama Farel. Meskipun mereka tidak berteman sejak kecil, tapi sejak sekolah Raya merasa nyaman saat bersama Farel. Dan mereka berteman baik.
Nilam datang ke rumahnya. Dan, memasuki kamarnya yang sangat berantakan. Ia, menyalakan lampu. Namun Raya memintanya untuk mematikannya kembali. Raya, sedang menangis tersedu-sedu.
"Harapan palsu ... dia gak ngerti apa? Gue udah berharap... tapi pada kenyataannya dia bohong ...!" Nilam menenangkannya. Ia, memeluknya. Raya sedang menangis. Nilam, membereskan kamarnya dan Raya sudah tertidur pulas. Nilam mendengar suara motor sekitar pukul sebelas malam. Ia, menengok dengan membuka gorden sedikit, Farel tidak mengetahuinya. Ia, melihat Farel tengah berdiri di depan garasi rumah, tampaknya ia sedang gelisah, terlihat ia mondar-mandir.
"Raya. .. maaf gue pasti udah nyakitin perasaan loe. .? Good night ...?". Entah berapa lama ia berdiri disitu, karena Nilam juga sudah mengantuk.
****
__ADS_1
Keesokan harinya.
Rey, merasa sangat bosan. Ia, berencana untuk mengajak Nilam pergi ke pasar malam dengannya. Aldo dan Dika akan ikut. Nilam, terlihat sangat cantik. Kebetulan Angga belum pulang, dan mereka juga sedang bosan. Malam itu pukul tujuh. Raya, sedang tidak ingin di ganggu.
Mereka berangkat menuju pasar malam. Ini pertama kalinya Nilam pergi ke pasar malam. Ia, melihat semuanya dengan takjub, sepertinya ia melihat ingatan masa lalunya. Dimana ia, berada di tempat sama persis seperti ini, pasar malam peri awan. Ia, terus mengingat semuanya. Ada, seorang pria yang menghampirinya dan memberikan sebuah lampu kotak yang sangat indah dengan warna hijau. Ia, memegang erat tangannya. Wajahnya, belum bisa terlihat begitu jelas. Yang ia ingat hanyalah senyumannya yang manis. Rey, memegang pundaknya. Dan lamunannya terhenti.
Mereka berjalan, ada banyak pria nakal yang menggoda gadis cantik seperti Nilam. Mereka terpesona. Rey, memegang tangannya agar ia bisa menjaganya.
'Tangannya begitu hangat ...!' Gumamnya dalam hati. Nilam, hanya tersenyum. Saat di tempat yang aman, Rey melepaskan tangannya.
"Maaf ... aku lancang, aku hanya ingin melindungi mu ...? Kamu, ngerti kan ...?" Nilam hanya tersenyum.
Angga terlihat sangat lelah. Ia, pulang ke rumah dan ia pikir mereka semua sudah tidur. Ia, merebahkanan badannya di sofa sampai ia ketiduran.
Angga yang mendapatkan telepon tersebut, langsung bergegas menuju lokasi. Angga telah sampai, pemandangan yang ia lihat adalah orang-orang yang sedang berkumpul, mengelilingi korban. Tim Angga juga telah sampai, bersamaan dengan ambulans. Mereka, segera memasang garis polisi, dan membubarkan keramaian agar memudahkan proses evakuasi korban.
"Lapor Pak ... korban sepertinya sudah meninggal. Kehabisan darah!" Ucok memberikan laporan tersebut.
"Baiklah, periksa kincir angin tersebut untuk menemukan barang bukti, serta mintai keterangan kepada para saksi ...?" Setelah itu, ia mencari keberadaan Aldo, Dika dan Nilam.
Ia, mencari-cari, dan menelpon Aldo. Ternyata mereka sedang berdiri di dekat warung. Angga menghampiri, Nilam yang mengetahui jika Angga pasti akan marah. Dan ia hanya terdiam. Angga, sebenarnya sangat cemburu. Tatapannya sangat tajam. Aldo dan Dika terlihat sangat cemas jika jatah jajan mereka akan ditahan lagi.
Angga, menarik nafasnya dalam-dalam. Ia, terus melakukan hal tersebut untuk menenangkan diri sendiri. Dika, bertanya dengan polosnya.
__ADS_1
"Kakak ... asma ....?" Sontak membuat semua orang terkejut. Angga, terlihat sangat marah. Namun ia tidak berbicara sepatah katapun. Aldo menarik tangannya.
"Loe ... bodoh banget sih ...! Udah tahu kakak lagi marah, please deh ...!" Aldo berbisik. Dika hanya tersenyum malu. Nilam, mencoba mendekati, ia mencoba untuk memegang bahunya. Namun, Angga berdiri dan bangun dari duduknya. Ia, terlihat menghindar. Rey, merasa sangat bersalah, karena ia Angga telah marah.
Angga, terlihat menelpon seseorang untuk mengantarkan mereka untuk pulang. Karena ia masih banyak urusan, mereka memasuki mobil, dan mereka melihat dari jendela mobil, Angga terlihat sangat sibuk dengan kasusnya. Ia, sedang berdiri dengan beberapa tim nya untuk membahasnya kasus tersebut di kantor. Dan ada beberapa alat bukti seperti rekaman cctv. Mobil yang di tumpangi oleh Nilam berangkat. Angga terlihat melihat wajah Nilam, ia hanya tersenyum manis dengan memegangi sebuah berkas. Wajahnya terlihat sangat tampan, dengan rompi hijau yang membuat wajahnya terlihat sangat tampan, bahkan ada beberapa wanita yang terus menerus melihat wajah tampan Angga. Nilam, berpikir sepertinya ia sudah tidak marah lagi. Nilam, sangat senang jika Angga ternyata tidak semarah itu.
"Gue, minta maaf sama kalian ...?" Rey, terlihat sangat bersalah.
"Bukan, salah loe. .. lagian kita juga bosen di rumah terus, kak Angga tipikal orang yang akan mengerti perasaan orang lain, ia akan berpikir setelah ia marah. Makanya, tadi ia tersenyum kembali saat kita akan pulang. Ya, kecuali pelitnya ...! Itu gak bisa dihilangkan ...? Dia tuh ganteng-ganteng pelit, kalau minta uang harus jelas untuk apa, pokoknya ribet punya kakak ganteng tapi pelit ...!"Mereka akhirnya tertawa bersama. Nilam hanya tersenyum manis. Rey yang melihat seyum Nilam, ia menjadi ikut senang. Rey, orang yang tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Ia, hanya tersenyum jika ada hal yang lucu.
****
Angga, kembali ke kantornya dan ia telah berada di ruang meeting. Di layar tersebut, terlihat beberapa foto korban semasa hidupnya dan setelah kejadian. Mereka, menyelusuri jejak digital korban, dan mengetahui jika ia telah janjian dengan seseorang. Hasil otopsi belum keluar, Maya masih mengerjakan tugasnya. Angga, telah memeriksa rekaman cctv, namun sayangnya pelaku menggunakan masker. Mereka masih mengecek chat korban dengan beberapa temannya.
Karena, pelaku tidak meninggalkan jejak, ia terlihat sangat rapi dan bersih dalam melakukan kejahatannya. Bahkan, ada beberapa chat yang sudah di hapus dengan sengaja. Mereka menjadi kesulitan. Mencari dengan siapa ia bertemu.
"Chat pentingnya sudah terhapus, tapi pelakunya sengaja tidak menghapus semua, besok semua chat ini harus ada, termasuk panggilan terakhir korban ...? Dan, datangi rumah korban, Sekarang, istirahat dulu. Besok tugas kita masih panjang?"
"Baik Pak ... siap laksanakan ...!" Mereka semua berdiri, Angga meninggalkan ruangannya. Ia, membawa berkas tersebut untuk di selidiki di rumah.
Nilam, baru ingat jika Inggar, memberikan sebuah cermin. Ia, segera mengambil cermin tersebut di laci dekat kasurnya. Ia, menatap cermin tersebut. Namun tidak bereaksi apa-apa.
"Bagaimana cara penggunaannya ...!" Ia, membulak-balikan cermin tersebut. Tiba-tiba saja, cermin tersebut bergetar hebat dan menjadi panas. Nilam sangat terkejut, ia spontan melemparkan cermin tersebut ke lantai. Terdengar suara, retakan kaca.
__ADS_1
"Ya, ampun ... jangan-jangan pecah, bagaimana ini ...?" Ia, mendekati cermin tersebut, dengan wajah yang gelisah.