
Saat jam pulang sekolah. Rey menyapa Nilam, Nilam hanya terdiam membisu ia terus berjalan tanpa memperdulikannya. Rey, menarik tangannya.
"Kenapa?" Rey terlihat bingung apa yang terjadi.
"Gak apa-apa!" Nilam terus berjalan.
"Please ... jangan pergi ada apa? Jawab? Aku bikin kesalahan apa? Biar aku perbaiki, tapi jangan terus diam seperti ini! Karena kita tidak pernah tahu kesalahan apa yang telah kita lakukan tanpa di beri tahu " Nilam berhenti sejenak dan menatap ke arah Rey. Lalu berkata.
"Pikir sendiri ...!" Nilam terus berjalan. Rey terdiam membisu.
Dika, nyeletuk sambil menyenggol lengannya.
"Loe tuh gak peka banget sih! Dia cemburu...!"
Rey, berpikir apa yang telah membuat Nilam cemburu. Ia baru ingat kalau tadi siang ia membantu adik kelasnya. Rey, terlihat bahagia.
"Yes ....!" Ia, berjoget saking bahagianya. Karena, Nilam cemburu.
"Aldo dan Dika yang melihatnya merasa aneh.
"Loe tuh gila ...!" Mereka berdua secara bersamaan. Farel menghampiri Raya, dan berusaha untuk minta maaf.
"Tolong berhenti sejenak, gue mau jelasin kejadian tadi siang. Loe bisa ngasih kesempatan, ini gara-gara si cupu Aldo ...!" Farel menunjuk ke arah Aldo. Aldo terlihat takut dan pura-pura tidak tahu.
Ia kabur bersama Dika.
"Hey ... loe malah kabur, sial ...! Loe ngerti kan, gue minta maaf!"
Raya hanya terdiam membisu, ia tidak mau mendengarkan semuanya. Ia sedang mendengarkan musik, Farel menarik handsetnya.
"AW ... ih kasar ...!" Raya memasang wajah yang jutek.
"Loe, bisa dengerin gak sih gue ngomong! Loe pikir gue patung, gue capek-capek ngomong sama loe, cuma buat jelasin apa yang gue rasain ke loe. Gue takut loe cemburu, ternyata gue salah. Percuma ...!" Farel pergi dengan perasaan yang marah. Raya, mulai merasa sangat bersalah. Berlari mengejar Farel, dan mengikutinya hingga ke parkiran. Ia mengikuti Farel, dan Farel hanya menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Mau kemana?" Farel tetap diam, tidak berbicara. Raya, merayu lagi.
"Ikut?" Dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Please ya ... boleh kan!" Farel tidak menjawab sepatah katapun. Ia, memarkirkan motornya dan Raya langsung naik dengan menggunakan helm. Farel hanya menarik nafas dalam-dalam. Dan melajukan motornya, Sukma yang melihatnya merasa bahwa Raya adalah penghalang bagi hubungannya dengan Farel.
'Loe harus lenyap ...!' Gumamnya dalam hati.
"Ayo, aku anterin kamu pulang!" Nilam terlihat gengsi, tapi sebenarnya ia mau. Rey tersenyum manis dan memberikan helm tersebut dan memasangkannya.
Rey, mendekati dan mengunci helm tersebut. Wajahnya begitu sangat dekat sehingga membuat jantung Nilam berdegup kencang.
"Harus di kunci, karena bahaya jika terkena angin kencang, bisa terbang. Agar lebih aman saat berkendara. Sudah, ayo naik ...!" Nilam masih tertegun melihat wajah Rey, dengan suaranya yang lembut. Ia, mengingatkan kepada teman masa kecilnya yang selalu ada untuknya.
Aldo dan Dika yang melihatnya sangat iri.
"Ah ... kenapa kita jomblo! Ini gak adil..!" Dika mengatakan dengan perasaan yang penuh iri. Dika terus berbicara. Dan ia melihat ke kiri Aldo sudah menghilang.
"Aldo, loe ...!" Ternyata ia sedang mengobrol dengan Sari yang sejak siang menjadi incarannya, tidak sia-sia perjuangannya.
"Yah, di tinggalin lagi ... jadi kambing conge ...!" Dengan memelas ia terduduk di depan gerbang masuk.
"Hey, ayo naik. Sekalian aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat." Nilam naik. Dan motornya melaju, ia melambaikan tangannya kepada Dika yang memelas sambil memeluk gerbang.
Ternyata Angga sudah menunggu dari kejauhan, ia tidak sempat menghampiri Nilam karena ia melihat Nilam sedang bersama Rey.
Angga jelas terlihat sangat tidak baik-baik saja. Sebenernya siapa yang Nilam sukai, terkadang ia merasa sangat yakin jika Nilam menyukainya namun di lain sisi. Nilam begitu dekat dengan Rey. Ia tidak pernah secemburu ini, karena ia merasa Rey adalah pria yang sangat baik.
'Kamu semudah itu, membuat hatiku terluka dan dilema dengan semua sikapmu ini. Kamu tidak pernah tahu sesakit apa hatiku ini!' Angga terus menarik nafas panjang. Berusaha untuk tenang meskipun hatinya terluka.
"Do, kayanya kakak sedang galau, Nilam pulang bareng Rey?" Aldo hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk tetap diam.
"STT ... tutup mulut loe, loe tau kan marahnya kakak gimana?"
Setelah mengantarkan Aldo dan Dika pulang. Ia kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas.
"Kenapa rasanya sakit ....! Perasaan gelisah, menyelimuti seluruh hatiku. Pikiran kemana-mana, bagaimana jika mereka berdua berpelukan dan saling ... Ah ... buang pikiran seperti itu ...!" Ia duduk di kursi dan terus berpikir. Ia, terus berputar-putar di kursi.
Ucok, memberikan sebuah informasi bahwa ada seorang pria yang telah membunuh istrinya dan sempat kabur, namun warga berusaha untuk menahannya. Mereka segera bergegas menuju lokasi.
Pelaku panik setelah mendengar suara sirine polisi, Angga terpaksa harus melumpuhkan lawan dengan tembakan di kaki karena berusaha untuk kabur kembali.
__ADS_1
Lalu, mereka menangkap pelaku. Dan segera bergegas menuju rumah korban, pemandangan yang sangat menakutkan terlihat tubuh korban sudah tergeletak dengan wajah yang rusak dan darah dimana-mana. Semua orang yang sangat terkejut terutama kedua orang tuanya terlihat sangat menyesalkan sikap pelaku yang telah tega membunuh anak semata wayangnya itu.
"Kenapa kamu tega sekali, melakukan hal ini? Apa salah anakku!"
Pelaku hanya terdiam dan ia mengucapkan kata
"Maaf ...!" Dengan tertunduk malu.
"Maaf katamu ... Maafmu tidak bisa mengembalikan nyawa anakku! Sakit rasanya hati ini, anak yang telah ku besarkan dengan penuh kasih sayang, kini tidak bernyawa dengan cara yang mengerikan, dimana hatimu!" Ibu itu, terus menangis tersedu-sedu menyesali apa yang terjadi kepada anaknya. Suaminya mengusap pundaknya.
***
Ditengah jalan Nilam merasa ingin membantu tugas Angga, karena ia sudah lama tidak pernah ikut serta dalam menyelesaikan kasus-kasus.
Nilam, meminta agar Rey mengantarkannya kepada Angga, karena ada hal penting yang harus ia lakukan. Rey, mengantarkan Nilam, dengan instingnya ia berhasil menemukan Angga. Aldo dan Dika terkejut melihat kedatangan Nilam yang mengetahui keberadaan mereka.
Orang tua korban duduk di kursi dan Angga memberikan mereka waktu untuk tenang.
"Pak, ini salah kami, harusnya mereka tidak usah menikah. Kenapa tidak ibu saja nak, kenapa harus kamu yang mengalami penderitaan sepahit ini!" Angga, mengusap pundaknya dan mengatakan bahwa ia akan membantu penyelidikan ini hingga selesai.
"Pak, istri saya telah berselingkuh dengan pria lain! Saya cemburu buta, saya sudah sabar dengan perilakunya, saya tahu istri saya sangat cantik. Tapi ia telah menyakiti hati saya. Saya khilaf dan menyiramnya dengan air keras, lalu memukuli hingga tidak bergerak lagi. Karena ia telah membawa pria lain dikamar."
"Bohong ...!" Tiba-tiba saja Nilam memotong pembicaraan mereka.
"Ia telah, memfitnah saya. Ia yang berselingkuh dan membawa seorang wanita kemari"
Kembali ke masa tragedi tersebut.
Pagi itu.
Seperti biasa, Milla adalah korban, Milla bekerja dan ia pulang lebih awal karena sedang tidak enak badan.
"Kok, tumben sekali pintu terbuka!" Milla segera masuk tanpa perasaan yang curiga. Ia, duduk sebentar di kursi, ia segera masuk ke dalam kamar karena ia ingin istirahat. Ia, begitu terkejut melihat suaminya sedang dengan wanita lain.
"Mas ...kamu!" Mereka terkejut dan suaminya mengejarnya.
"Tolong dengerin penjelasan aku dulu?"
__ADS_1
"Penjelasan apa lagi, cukup mas ... aku kerja banting tulang demi keluarga kecil kita, aku ngerti kamu menganggur tapi kenapa harus berselingkuh. Kurang apa lagi aku? Aku mau kita pisah sekarang juga. Aku akan memberi tahu kepada keluargaku". Tiba-tiba saja ia dipukul dari belakang oleh selingkuhan suaminya itu, ternyata adalah teman masa kecil Milla. Ia tidak mau rahasianya ketauan oleh para warga. Tubuhnya tersungkur di lantai rumah, setengah sadar ia melihat ternyata yang telah mengkhianatinya adalah sahabat masa kecilnya.