Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Hutan


__ADS_3

"Seriusan, kita nyusul! Gimana, kalau semua bayangan kamu itu salah, dan kita bisa di marahin habis-habisan, sama kak Angga!" Dika, sempat berpikir akan semua resikonya.


"Gue, Tim percaya Nilam, terserah loe mau ikut apa gak!" Aldo, berjalan dengan Nilam mencari rental mobil murah. Dika, berjalan di belakang dengan kegelisahan.


Mereka menyewa sebuah mobil jadul, mirip seperti bus mini, seperti dalam film kartun dulu, kebetulan saja Raya lewat dan ikut bersama dengan mereka. Karena ia bosan jika harus terus berada di rumahnya sendirian. Saat mereka berangkat di jalan mereka menabrak seseorang. Aldo yang menyetir mobil langsung turun dari mobil dengan wajah yang panik.


Gubrak ... terlihat seseorang tengah tergeletak di tengah jalan.


"Aduh, gimana dong, gue nabrak manusia apa hantu?" Tanya Aldo dengan panik, semua orang terlihat cemas.


"Ini masih siang, mana ada hantu Di ...!" Dika terlihat cemas.


"Udah, turun aja kalian berdua!" Ucap Raya. Sedangkan Raya dan Nilam tetap di dalam mobil. Sambil melirik ke luar jendela.


"Gue, ta ...kut! Temenin ayo?" Ia menarik lengan Dika. Dika dengan terpaksa harus turun dari mobil. Mereka mendekati tubuh yang tergeletak di jalan itu. Dika, menggoyangkan dengan kakinya karena ia takut. Dika, mencoba mendekati dengan menggoyangkan tubuhnya, dan membalikkan badannya. Alangkah terkejutnya mereka. Ternyata itu adalah Farel. Rey, yang melihatnya dari kejauhan saat pulang bekerja. Menghampiri mereka dengan menggunakan switer berwarna merah marun, ia terlihat sangat tampan. Raya dan Nilam sempat terpesona dengan ketampanannya, ia terlihat mengibaskan poninya.


(Ganteng banget sih Rey! Sampai aku meleleh, seperti es yang mencair) Gunam nilam dalam hati. Raya yang melihatnya tersenyum sendiri, menepuknya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri!" Nilam hanya menggelengkan kepalanya.


"Do, gawat nih! Musuh ...! Bisa habis kita semua!" Mereka berdua sangat takut. Rey, yang penasaran mendekati, justru membuat mereka berdua semakin kaget, karena Rey tiba-tiba saja datang seperti jelangkung. Dan mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Kalian, tenang aja, aku gak akan bilang apapun! Lagipula, dia tuh pasti gak akan ingat kenapa dia bisa ada disini! Udah angkat aja badannya ke dalam mobil?" Rey, membantu mereka.


Mereka, terpaksa mengangkat tubuh Farel yang sangat berat. Dengan tergopoh-gopoh, karena badan Farel lumayan besar, dan ia sangat tinggi.


"Aduh, ini orang punya banyak dosa kayanya, be ... rat banget!" Mereka bertiga ngos-ngosan mengangkat tubuh Farel. Karena badan Farel adalah badan atlet, ia sangat terampil dalam bidang olahraga. Nilam, membantu mereka dengan kekuatannya, mereka heran kenapa tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lebih ringan. Nilam hanya tersenyum, ia sedikit gugup saat melihat wajah Rey. Akhirnya mereka memasukkan tubuhnya ke dalam mobil yang bersebelahan dengan Nilam. Sedangkan Raya pindah ke bagian belakang mobil.


"Kenapa jadi, ringan banget padahal tadi berat banget kaya bawa beras berkarung-karung!" Mereka tertawa bersama. Saat Rey akan pulang.

__ADS_1


"Aduh, tangan gue tiba-tiba saja sakit, gara-gara nih bocah berat banget!" Aldo mengeluhkan bahwa ia tidak bisa membawa mobil karena tangannya sakit setelah mengangkat tubuh Farel.


Rey, merasa iba dan mencoba menawarkan diri sebagai supir mereka.


"Gimana, kalau gue aja kebetulan juga gue udah pulang kerja, boleh ...?"


Aldi langsung tersenyum manis, dan merangkulnya.


"Tentu saja! Gue bisa duduk santai, gue di depan sama loe, Dika di belakang sama Raya, Farel di tengah dengan Ni ..., Eh, maksudnya Raffi! Udah, ayo berangkat!"


Tentunya dengan senang hati bertambahnya anggota baru. Rey, terlihat mencuri pandang di spion mobil bagian depan, ia terlihat melihat wajah Nilam yang sedang serius. Nilam tidak menyadarinya karena ia tengah membaca buku yang telah diberikan oleh Rey tempo hari. Rey, senang buku yang ia berikan ternyata bermanfaat. Raya, merasakan jika Rey curi-curi pandang. Ia berpikir apakah Rey tidak normal. Menyukai seorang pria.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju hutan. Sementara itu di tempat Angga.


****


"Ternyata, aku hanya bermimpi! Syukurlah kalau hanya mimpi, sungguh menyeramkan jika benar-benar terjadi! Meskipun hatiku sedikit takut, ya Allah lindungilah kami!" Angga, terlihat mengusap wajah.


"Maaf Pak! Apa kita akan jadi berangkat?" Firman mulai bertanya.


"Iya, tentu saja jadi, hanya tadi saya mengantuk!"


"Siap Pak ...!" Firman mulai memerintahkan kepada semua Tim nya untuk segera bergegas menuju mobil, karena perjalanan akan segera dimulai.


Angga, mengambil sebuah handphone ia merasa merindukan Nilam, ia menelpon Aldo, ia merasa cemas apakah mereka benar-benar sudah pulang ke rumah. Aldo dan Dika tidak mengetahui jika Angga menelpon mereka, karena Aldo menyalakan musik dengan sangat keras. Membuat semua teman-temannya merasa tidak nyaman. Ia, tetap tidak peduli. Ia terus bernyanyi meskipun suaranya sangat fals dan tidak enak didengar. Sepertinya hanya Rey yang terlihat tersenyum manis, mendengarkan suaranya.


"Ayo, Pak, ini sudah larut malam, bisa-bisa kita sampai malam, sangat sulit untuk mencapai tujuan jika malam hari!" Angga, menyimpan kembali handphone nya, ia segera menyalakan mobil. Tapi entah mengapa ia terus memikirkan Nilam, perasaannya menjadi gelisah. Angga, menghidupkan mobilnya dan segera pergi.


Angga, membawa satu tim yang berjumlah sekitar tujuh orang. Mereka mencari lokasi, sangat sulit untuk mencapai lokasi karena lokasinya terletak di hutan yang lebat basah, setelah di guyur oleh hujan deras, serta jalan yang licin. Mereka tiba-tiba saja melihat sebuah cahaya, ternyata itu adalah senter dari wartawan yang menelpon mereka tadi.

__ADS_1


"Sore Pak! Perkenalkan nama saya Hari, saya wartawan dari MCS, silahkan bapak cek sendiri lokasinya!" Ia menundukkan kepalanya, dan tidak lama berjalan. Angga, dan yang lainnya segera mengikuti dari belakang. Di sebuah pohon besar, tergeletak sebuah tubuh manusia yang berjenis kelamin perempuan, Angga mendekati, dan wajahnya terlihat rusak, sama seperti korban sebelumnya. Dan mulai mengeluarkan bau yang tidak enak, sehingga Angga memakai sebuah masker. Tim penyidik mulai mencari bukti-bukti dan membungkus mayat tersebut dan dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Ucok mendekati dan mulai percakapan.


"Sepertinya, sudah berhari-hari!" Angga, terdiam sejenak. Dengan, tetap menelaah sebenarnya apa motif pelaku yang sebenarnya. Ia menelpon Maya, agar bersiap untuk memeriksa mayat baru. Mereka tetap berkeliling untuk mendapatkan bukti.


***


Tiba-tiba saja, kepala Farel menyender ke bahu Nilam. Tangannya pun, berada di atas tangan Nilam. Dan tiba-tiba saja ia menggenggam tangan Nilam. Karena sepertinya ia sedang bermimpi dengan seorang gadis yang pernah ia temui dulu. Rey, yang melihatnya dari spion, tiba-tiba saja mendadak mengerem laju kendaraannya. Hingga, membuat Farel terbanting ke arah depan, dan menabrak kursi mobil, hingga ia terbangun dari pingsannya.


Semua orang terkejut.


"Aduh, ada apa?" Aldo yang sedang bernyanyi jadi merasa terganggu.


"Tadi lihat kucing hampir ketabrak!" Rey, dengan polosnya menjawabnya dengan tenang.


"Mana sih, perasaan gak ada apapun?" Mereka semua bingung.


"Maaf ... mungkin salah lihat!" Tiba-tiba saja Farel terbangun, dengan memegangi kepalanya.


"Aduh, siapa sih yang gangguin tidur orang!" Ia setengah sadar, dengan menggosokkan matanya. Saat ia membuka matanya, terlihat sangat jelas ia langsung syok karena mengetahui bahwa ia berada di sebuah mobil.


"Tolong, culik ...!"


"Berisik ..!" Dengan membukam mulutnya.


"Kalian ...! Kalian culik gue buat apa? Gue bukan anak orang kaya! Ini ada tas kosong!"


"Siapa yang mau nyulik lor, pede banget! Gue kalau di suruh nyulik, mendingan nyulik kucing, loe gak berguna!" Dika, membalasnya dengan senyuman sinis. Tiba-tiba saja telepon berdering. Telepon dari ka Angga, akankah Aldo mengangkatnya. Karena mereka sudah berada di luar. Pasti Angga akan memarahinya.


drtt ... drtt ... drtt ...

__ADS_1


__ADS_2