
Hingga mereka telah kembali ke rumah masing-masing, dengan keadaan sedang tertidur pulas.
Pagi hari. Seperti biasa mereka mulai melanjutkan semua aktivitas.
Hanya saja pagi itu di sekolah, Aldo seperti merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya tapi entah apa.
"Kenapa loe melamun?" Dika menatap ke arah Aldo yang sedang melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu yang hilang.
"Gue juga bingung ... apa yang hilang.. kaya sesek aja, gue pikir ada hal yang seharusnya ada, gue sejak bangun tidur merasa ada sesuatu yang hilang!" Dika langsung melotot.
"Apa loe kehilangan keperjakaan loe ...?" Aldo langsung menepuk jidatnya.
"Gila loe ...!"
"Eh ... tunggu gue juga merasa ada sesuatu yang hilang, tapi apa?" Raya ikut memikirkan hal tersebut. Sedangkan Farel mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, mengapa mereka semua merasa ada sesuatu yang mereka lupakan.
"Pasti ada yang tidak beres ...!" Gumam Rey sambil meminum es kopinya.
Sebenarnya Nilam, sedikit ingat, namun ia mencoba untuk mengingat semuanya.
"Tapi, aku memiliki sebuah pedang ... apa aku membelinya?"
"Mana ... ? Wow ini sih keren habis". Dika terlihat sangat penasaran. Rey, secara diam-diam mengeluarkan pedang tersebut. Namun, tidak bisa di sentuh oleh orang lain. Karena saat di sentuh ia akan bergetar hebat dan menolak. Dika melemparkan pedang tersebut.
"Serem ...! Takut gue ..." Semua orang berdecak kagum dengan pedang tersebut. Sangat indah, dan terlihat sangat tajam.
"Sebentar gue ke toilet dulu" Aldo bergegas pergi ke toilet. Setelah selesai dari toilet. Ia terkejut melihat seorang gadis yang sangat cantik yang menatapnya dari kejauhan. Aldo mengikutinya hingga sampai ke taman belakang.
Ia berbalik dan tersenyum manis, Aldo menarik tangannya saat ia akan pergi. Seketika itu ia mengingat semua kenangan.
"Terimakasih ya, kamu adalah pacar terbaikku!" Gadis itu menyenderkan kepalanya di bahunya.
__ADS_1
Saat membaca buku berdua di taman.
"Aduh pegel ...!" Aldo, berpura-pura merasa pegal dan meletakkan tangannya di bahu Rika. Rika hanya tersenyum.
"Kalau aku lulus sekolah nanti, aku mau kuliah di universitas yang terkenal di Yogyakarta, kalau kamu mau kemana?"
"Kalau aku mau ngelamar kamu?" Rika hanya tersenyum.
"Eh ... maksudku kalau aku lulus sekolah nanti, aku mau kerja cari uang yang banyak. Supaya aku bisa menjadi masa depan buat kamu. Aku janji bakal terus ada buat kamu" Terlihat ucapan yang serius dari mulutnya. Rika, hanya tersenyum. Lamunan itu kembali ke masa depan.
"Jangan menangis, kamu baik-baik ya disini. Semoga kamu bisa mendapatkan pengganti diriku!" Rika tidak berkata lagi. Gadis itu melambaikan tangannya dengan wajah yang terlihat sedih.
Seketika itu Aldo mengingat apa yang telah hilang dari hidupnya. Ia, terduduk kaku menahan tangisnya. Ia kembali ke meja kantin dengan wajah yang teramat sangat sedih.
"Loe ke toilet ngantri, kaya ngantri mau mandi di tempat umum aja!"
"STT ... kayanya dia lagi shock .. lihat aja wajahnya menyedihkan. Emang dia patah hati, punya pacar aja enggak!" Farel ikut mengisengi.
Aldo tetap saja diam. Sepertinya ia tidak sadarkan diri. Rey, merasa ada sesuatu yang salah. Nilam, memegangi tangannya. Nilam melihat apa yang terjadi sebelum ia pulang dari toilet.
"Eh, kalian tau gak ... gue merasa udah melewati sesuatu dengan kalian, tapi apa ya. Gue lupa ...!" Ia berjalan pergi.
"Gak jelas ...!" Dika menimpali perkataan Sukma.
"Benar, ada sesuatu yang kita lupakan ... sepertinya ini pernah terjadi sebelumnya! Tapi apa ...?" Rey, terus berpikir. Di lain itu, ternyata Angga tidak pulang. Ia malah tertidur pulas di meja kerjanya.
"Pak ... maaf ini sudah pagi?" Ucok membangunkannya. Angga terkejut mengapa ia bisa ada di kantor.
"Ma..af ...!" Angga, menggisikan matanya. Ia bingung apa yang terjadi. Ia melupakan sesuatu.
"Pak, apa saya tertidur disini sejak malam?"
__ADS_1
"Iya pak ... emang ada yang salah? Katanya bapak sedang mengerjakan kasus minggu lalu?"
Angga langsung melihat ke arah berkas dan segera memeriksa, tapi ia tidak menemukan apa yang ia cari semalam. Hingga ia menyerah.
"Maaf pak ... kalau begitu saya permisi, karena saya masih banyak pekerjaan " Ucok segera menyelesaikan pekerjaan kembali.
Sementara itu Angga hanya terdiam, ia memikirkan apa yang sebenarnya yang terjadi. Bahkan ia n, padahal bagaimana bisa ia tiba-tiba saja bisa berjalan?" Sukma menceritakan tentang keanehan di dalam rumahnya.
Semua orang mulai berpikir jika memang ada sesuatu yang aneh sejak tadi malam. Nilam sebenarnya sudah mengingat semuanya dan ia bermaksud untuk kembali pada malam hari.
'Sebaiknya, aku tidak usah memberi tahu kepada mereka, karena jika mereka ikut aku khawatir jika sesuatu terjadi kepada mereka'
Malam itu, Nilam terus menatap ke arah Raya. Yang tengah tertidur pulas. Nilam, takut jika ia tidak bisa kembali karena kekuatan makhluk itu sangat kuat. Ia, segera pergi menuju sekolah. Saat ia memasuki gerbang sekolah, lampu terang benderang. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, namun terlihat ada dua orang pria yang sedang mengobrol di lorong sekolah dan memasuki ruangan kepala sekolah. Membuat Nilam mengikuti langkahnya dan menguping pembicaraan mereka.
Terdengar juga ada suara seorang perempuan.
"Aku mau satu lagi tumbal hari ini ... kamu harus pilih istri atau anakmu ..." Terdengar suara gebrakan meja yang sangat kuat. Lalu menghilang, Nilam merasa jika akan ada korban lagi. Saat wanita itu keluar dari ruangan tersebut, Nilam hampir saja ketauan, untung saja ada seseorang yang menariknya dari belakang.
"STT ...!" Ternyata itu adalah Rey. Mereka bersembunyi di dalam loker besar. Dan mengintip dari balik celah. Perempuan itu berjalan ia terlihat sangat cantik tidak terlihat seperti monster. Namun perempuan itu merasa mencium bau aroma tubuh manusia, ia sempat mendekati loker tempat Nilam dan Rey bersembunyi. Mereka berdua berdegup kencang. Rey, memegangi tangan Nilam. Berusaha untuk menenangkan Nilam. Nilam bukannya takut, namun ia belum persiapan dan masih menyusun rencana. Namun penglihatan perempuan itu terhenti saat ia mendengar suara gadis lain.
"Lepasin ... tolong ...! Ibu ... ayah ..." Ia meronta. Pemandangan itu sontak membuat Rey dan Nilam terkejut.
dan ternyata itu adalah Sukma yang di bawa oleh anak buah dari perempuan itu.
"Bagus ... kalian bawa masuk ia, ke ruang atas." Perempuan itu, memberikan arahan dan ia juga mengikuti dari belakang.
"Ayah tolong Sukma ...!"
"Tolong lepaskan anakku ... aku akan berikan banyak gadis lain, lebih dari satu, aku akan berikan tapi tolong jangan sakiti anakku ...?"
"Kamu telah gagal memberikan sebuah persembahan karena tiba-tiba saja banyak anak-anak nakal itu, itu sungguh mengganggu selera makan ku! Aku sudah memberikan apa yang kamu mau tapi kamu telah membuatku muak, seharusnya mereka tidak mengingat kejadian kemarin!"
__ADS_1
Sukma, merasa sangat tidak percaya jika ayahnya bersekutu dengan iblis. Ia menangis.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Sukma? Bagaimana jika aku kembali gagal menyelamatkan orang yang kucintai!" Nilam berbicara kecil. Ia menahan tangisnya. Rey, memeluknya.