Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
mencari yang hilang


__ADS_3

Angga, yang merasa cemburu. Berpura-pura memanggil Nilam untuk masuk ke dalam ruangannya.


Nilam, masuk ke ruangan Angga, namun ia seperti kembali ke masa lalunya.


"Kamu telah membunuh semua orang yang aku cintai?"


Pedang itu berada tepat di dada pangeran. Pangeran melangkah maju, hingga pedang itu menusuk sedikit bagian dadanya. Nilam sebenarnya tidak tega. Namun ia sudah terlanjur dendam dengan pangeran. Rey, menarik Nilam untuk segera pergi. Para pengawal segera menghampiri pangeran.


"Pangeran tidak apa-apa, apa kita perlu mengejar mereka?" Pangeran, menghalangi langkah mereka.


"Tidak usah, biarkan saja mereka pergi" Pangeran memegangi dadanya. Yang sedikit terluka.


Ingatannya kembali ke masa depan.


"Kenapa kamu melamun. Ayo duduk"


"Mana laporannya, apakah sudah selesai?"


"Belum ..."


"Kamu, ngapain aja sih sampai belum selesai. Apa kamu pacaran terus sama si Rey?" Angga dengan wajah yang merengut.


"Kamu, ngomong apa sih?" Nilam, sedikit kesal. Nilam, terbangun dari duduknya, dan ia ingin beranjak pergi, Angga segera menarik tangannya dan memeluknya erat.


"Aku ingin selalu bersamamu, hatiku sangat sakit jika melihatmu tersenyum bersama Rey. Entah mengapa rasanya Rey akan menjadi penghalang untuk hubungan kita!" Nilam hanya terdiam.


Rey, yang merasa jika Nilam terlalu lama berada di dalam ruangan Angga, mengetuk pintunya. Dan membuka pintu.


Ia, melihat Angga sedang memeluk Nilam. Hingga, membuat laporan yang ia bawa terjatuh semua. Nilam segera melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Rey, mengambil laporan tersebut dan terlihat sangat marah. Nilam, yang ingin membantunya pun ia tolak. Rey, menyimpan berkasnya dan ia segera berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia mencuci wajahnya, ia melihat wajahnya di cermin.


"Loe itu harus sadar cinta loe itu. Bertepuk sebelah tangan, dia cuma cinta kepada Angga bukannya loe. Loe harus ikhlasin dia ...! Di masa lalu ataupun di masa depan loe itu bukan pilihan hatinya, terlalu bodoh jika terus berharap lebih. Sehingga yang loe rasakan cuma rasa sakit!" Wajahnya yang berada di cermin berbicara. Rey, menundukkan kepalanya.


"Kenapa rasanya sesakit ini? Rasanya, aku tidak pernah rela melihat Nilam dengan pria lain. Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri yang terus mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaiku! Tapi, sejauh apapun aku membuang semuanya perasaan ini tetap ada. Setiap hari perasaan itu selalu bertambah dan tidak pernah berkurang sedikitpun meskipun yang ku rasakan terkadang hanya rasa kecewa "


Dilain sisi, Nilam mencari keberadaan Rey. Tidak ada seorangpun yang melihatnya. Nilam, menggunakan telepati nya, ia menemukan Rey berada di kamar mandi. Ia segera berlari menuju kamar mandi. Mengetuk pintu kamar mandi.


"Rey ...?"


Rey, mendengar suara Nilam. Dan segera keluar. Nilam, segera mengejar Rey, namun Rey terus berjalan tanpa mempedulikan Nilam. Tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang menarik Rey dan tiba-tiba saja berada di luar. Ternyata itu adalah Inggar. Rey, heran kenapa tiba-tiba saja ia berada di luar.


"Perasaanmu itu tidak akan pernah bisa sama, di masa lalu ataupun di masa depan. Kalian tidak akan pernah bisa bersama. Kecuali jika kamu ...?" Tiba-tiba saja Nilam datang. Membuat Inggar segera pergi.


"Rey, kamu tidak usah salah paham. Aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan Angga."


Nilam, hanya termenung sendiri. Sementara Inggar hanya mengawasi dari kejauhan.


******


Layanan telepon berdering. Kebetulan yang bertugas di ruang kontrol adalah Rey dan Nilam. Nilam, segera mengangkat telepon tersebut.


"Iya, ada yang bisa kami bantu?"


"Saya, ingin melaporkan bahwa istri saya menghilang sejak tadi pagi dan ini sudah sore. Tolong bantu saya untuk mencari istri saya"


"Oke, tolong tenang. Apakah teman dan keluarga sudah di hubungi? Agar memastikan bahwa istri anda mungkin sedang berada di rumah kerabat terdekat, karena ini juga belum ada dua puluh empat jam."


"Sudah, semua temannya dan keluarga telah saya hubungi tapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya, jadi saya mulai berpikir buruk jika terjadi sesuatu telah terjadi kepada istri saya?"

__ADS_1


Baiklah, anda bisa langsung datang ke kantor dan membawa foto istri anda, kami tunggu."


"Baiklah terimakasih banyak"


"Sama-sama"


Telepon berakhir. Rey, masih tetap terdiam. Nilam, sebenarnya ingin bertanya namun ia melihat wajah Rey yang terlihat sangat serius memandangi berkas yang ada di tangannya. Nilam, segera pergi keluar untuk mengurus berkas laporan yang baru. Rey, terlihat sedikit melirik ke arah Nilam yang meninggalkan ruang kontrol.


"Harusnya, aku bisa melihat wajahmu tersenyum seperti biasa. Tapi mengapa rasanya aku tidak bisa marah terhadapmu, rasanya aku ingin selalu berbicara denganmu. Betapa bodohnya diriku. Sial ....!" Tangannya mengepal memukul kecil ke meja.


Tidak lama pria yang menelpon tadi, datang ke kantor bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Yang satu lelaki berusia sepuluh tahun, dan yang kedua perempuan berusia empat tahun. Mereka di persilahkan duduk.


"Baiklah, mana foto istri bapak?" Pria itu memberikan foto tersebut. Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia terlihat masih muda dan energik. Dengan kerudung hijau.


"Baiklah, bisakah anda ceritakan kronologi bagaimana istri anda menghilang?"


"Istri saya sedang hamil, sembilan bulan. Iya biasanya menjemput anak kami yang pertama pulang sekolah, namun ternyata anak saya di antarkan oleh orang tua temannya yang kebetulan searah. Saya, memang sedang libur bekerja. Jadi saya menjaga anak kedua kami. Iya berpamitan untuk menjemput anak pertama kami pulang. Namun, ia tidak pernah kembali. Tolong cari istri saya ...? Saya, takut jika hal buruk menimpanya. Tolong ...!"


"Baik-baik ... kami akan segera urus, walaupun ini belum ada dua puluh empat jam."


Tidak lama anggota keluarga dari pihak korban datang. Dan mereka juga di wawancara untuk informasi selengkapnya. Namun, pihak keluarga dari perempuan malah menyalahkan suaminya. Terutama, ibunya.


"Pasti kamu, yang membuat anak saya pergi. Karena ia tidak bahagia dengan dirimu. Bukankah sebelum ia menghilang kalian sempat bertengkar. Usiamu yang lebih tua tujuh tahu sedangkan anakku masih muda, dari muda yang seharusnya ia bermain tapi harus melepaskan masa remaja dulu demi dirimu. Ibu yakin pasti hidupnya sangat tertekan harus mengurusi suami dan kedua anaknya. Bahkan, ia sedang hamil tua. Beban hidupnya pasti bertambah. Malang sekali nak nasibmu ...!"


Suami korban hanya terdiam membisu. Tidak bisa berbicara sepatah katapun. Ayah korban menghampiri sambil tersenyum, mengusap pundaknya.


"kamu sabar, ibu sedang cemas. Iya terlalu khawatir sehingga tidak bisa berpikir jernih. Cepat kamu cari, istrimu sampai ketemu, anak-anak biar kami yang urus. Doa kami selalu menyertaimu."


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Tim Angga, akan segera berangkat karena telah membentuk tim pencari korban. Suami korban pun ikut serta dalam pencarian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2