Diary Peri Awan

Diary Peri Awan
Mengingat semua kenangan


__ADS_3

Jam pulang sekolah. Rey, mulai berpikir merasa bersalah dengan kejadian tadi. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Rey, mulai mencari Nilam untuk meminta maaf. Ia, menghampiri Nilam yang sudah berdiri di depan gerbang, bersama dengan Aldo, Raya dan Dika. Tiba-tiba saja, Rey datang dengan nafas tersengal-sengal.


Ia menyodorkan tangannya.


"Maaf ...! Karena sudah bersikap dingin dan berlebihan." Nilam hanya tersenyum. Tatapannya sangat hangat, Nilam merasa nyaman saat berada di dekat Rey. Karena ia, adalah pria yang selalu cepat menyadari kesalahannya. Ia, menerima jabatan tangan dari Rey.


"Tidak apa-apa, aku tidak marah. Tapi, kenapa kamu begitu marah saat aku menggangumu? Apakah buku itu sangat penting?"


Rey, terlihat berpikir. Ia, lalu menarik nafasnya. Farel datang dan ikut mendengarkan percakapan mereka.


"Begini ceritanya!"


Setiap hari di meja Rey selalu ada sebuah kotak makanan yang berisi pudding cake. Ia, tidak pernah tahu siapa yang telah memberikan pudding cake tersebut. Rey sengaja datang lebih awal dari sebelumnya. Ternyata benar seorang adik kelas yang setiap pagi menyimpan kotak makanan tersebut. Rey, berdiri tepat di depannya. Ia, nampak terkejut karena ketauan oleh Rey. Gadis itu hanya tersenyum dan pergi berlalu. Sebelum ia pergi Rey berkata.


"Terimakasih, aku selalu memakannya!" Gadis itu tersenyum bahagia. Ia, ia berlalu pergi.


"Entah, Beberapa hari ia tidak pernah mengirim kotak pudding lagi. Bahkan, aku selalu menunggu kotak makanan tersebut, namun tidak pernah datang lagi. Bahkan, teman-temannya tidak melihatnya sudah beberapa hari. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi!" Farel, memotong pembicaraan. Ia, juga menceritakan pengalamannya saat berada di sekolah malam hari.


"Kenapa loe ke sekolah malam-malam,. ?" Dika penasaran.


"Ya, loe pikir kenapa! Gue, malem-malem ke sekolahan. Tas gue ketinggalan di sekolah, ada casan HP nya! Terpaksa, gue pergi ke sekolah?"


"Tadinya, gue males balik lagi, tapi gimana lagi! Saat gue masuk ke sekolah ada suara-suara aneh."


"Lalu, bagaimana dengan suara itu?" Dika terlihat sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Farel melanjutkan ceritanya.


"Saat, gue masuk. Suasana benar-benar mencekam bahkan, lampu gelap gulita, aku melihat sesosok tubuh yang sedang tergeletak di lantai, saat aku akan menghampiri. Gak begitu jelas siapa itu! Tiba-tiba terdengar suara raungan, bahkan ia mendekati tubuh itu, hingga aku hanya berdiri mematung terkesima, tubuh tersebut di gusur oleh monster yang sangat menyeramkan, ia berbadan kecil, tapi tinggi, ada taring, rambutnya acak-acakan, kukunya panjang. Gue, tidak akan pernah bisa melupakan kejadian tersebut!" Semua orang begitu serius.


"Terus gimana lagi?" Tanya Dika penasaran.


"Tiba-tiba ....!" Semua orang terlihat sangat serius. Farel, sempat tertawa.


"Ih, loe seriusan dong. Kita udah fokus kan, bikin males.. jangan-jangan loe bohong!" Aldo, mulai mencurigainya.


"Enggak, gue seriusan. Bercanda barusan, ya elah baper ..! Jadi, tiba-tiba ada seseorang yang mukul kepala gue, sampai gue pingsan. Tau-tau udah di luar gerbang depan keadaan terkunci. Apa gue mimpi, apa gue beneran ngalamin. Karena, gue juga masih bingung sampai sekarang!"


"Iya, bener-bener jangan-jangan emang di sekolah kita ada yang melakukan pemujaan terhadap setan. Mungkin ada yang meminta tumbal nyawa para gadis.?". Raya, mulai bersuara.


'Jangan-jangan, malam itu yang aku lihat adalah Farel'. Saat, malam itu.


"Kamu, kenapa?" Nilam bertanya. Membuyarkan lamunannya.


"Tidak apa-apa!" Rey, memberikan Nilam, sebuah minuman.


"Ini, untukku?" Rey hanya mengganguk. Nilam, meminumnya dengan sangat senang.


Angga datang, ia melihat dari balik mobil. Rey, terlihat begitu menyukai Nilam. Tatapannya yang tajam terhadap Nilam, ia bisa melihat jika Rey begitu menyukai Nilam.


'Kenapa, rasanya aku sungguh tidak menyukai saat kamu berada dekat dengan pria lain!' Aku pikir rasanya seperti kekanak-kanakan!'

__ADS_1


ia mengklakson dengan sangat keras. Karena cemburu Rey berdekatan dengan Nilam.


"Berisik ...! Siapa sih!" Keluh, Aldo dan Dika, mereka menutup kupingnya. Mereka melihat ternyata Angga. Dengan tatapan matanya yang sedang marah.


Ia, menghampiri mereka dengan wajah yang penuh amarah. Tapi, ia tidak berkata apa-apa lagi. Rey, yang mengetahui jika Angga terlihat sangat cemburu.


"Masuklah...!" Ia, membuka pintunya. Ternyata Nilam malah duduk di belakang. Raya, pulang dengan taksi karena ia akan ke rumah neneknya.


'Kenapa, kamu duduk di belakang!' Ia berpikir kenapa tidak duduk di dekatnya. Ia, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan hari itu tidak macet. Meskipun, dalam batas normal.


"Kak, kita belum punya pacar. Jangan dulu mati ..?" Mereka terlihat cemas.


"Do, jantung gue mau copot. Kira-kira copot gak?" Ia, memegangi dadanya.


"Copot sih kayaknya...!" Dika, malah meledeknya. Nilam sedikit merasa sangat kesal.


"Kamu, kenapa sih?" Nilam sedikit berteriak.


Ia, tidak berbicara sepatah katapun.


"Selalu begitu, marah tiba-tiba!" Angga, terlihat menarik nafasnya dalam-dalam. Dan, ia menghentikan laju mobilnya, ke arah pinggir.


Dan memutar badannya, berbalik ke arah belakang.


"Aldo, Dika ... turun. .. kalian naik angkot aja!" Aldo dan Dika bingung. Mereka saling bertatapan.


"Kamu, tidak usah ..!" Tatapannya sangat tajam.


"Kalau, mereka turun aku juga turun ... untuk apa, aku berada di dalam mobil yang sama dengan orang yang sedang marah!" Angga, melepaskan tangannya. Ia, menarik nafas dalam-dalam.


"Ada apa? Kamu, itu suka tiba-tiba saja marah, gak jelas! Terkadang seseorang harus tahu bagaimana ia salah, karena jika seseorang tiba-tiba saja marah, kita tidak akan tahu. Kesalahan apa yang telah di perbuat!" Nilam terlihat marah, dengan melipat kedua tangannya.


"Apakah kita kambing conge!" Aldo, menyikut lengan Dika. Dika hanya tersenyum.


Angga, terlihat malu dengan ucapan Nilam.


'Seharusnya, aku tidak marah secara tiba-tiba, sepertinya aku keterlaluan!' Tiba-tiba saja ia, tersenyum malu.


"Baiklah, aku minta maaf?" Ia, memberikan tangannya, untuk berjabat tangan. Sepertinya Nilam masih kesal dengan sikap Angga. Ia, tidak menerima jabatan tangan tersebut. Tiba-tiba saja telepon berdering, agar Angga segera datang ke kantor.


Akhirnya, mereka masuk kembali ke dalam mobil. Ada, informasi tentang gadis yang hilang kemarin. Ia, memutarkan mobilnya, bergegas menuju kantor. Ia, melihat Maya yang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya sedang menunggu taksi. Nilam yang melihatnya merasa kasihan, dan menyuruh Angga untuk berhenti. Dan membuka kacanya. Aldo yang bertanya kepada Maya.


"Maaf, kak mau kemana?" Maya, menghampiri dengan tersenyum. Angga, tidak melihat sedikitpun. Ia, memang sedikit dingin terhadap wanita, dan selalu bersikap manis hanya kepada wanita yang ia sukai.


"Ke kantor, sepertinya tujuan kita sama, karena ada informasi tentang korban. Bolehkah aku menumpangi mobil kalian!" Nilam, menganggukkan kepalanya.


Ia, ternyata duduk di depan. Di dekat Angga. Nilam, sebenarnya tidak mau jika Maya yang duduk di dekatnya. Namun, karena ia terlanjur duduk di bangku belakang. Maya, terlihat curi-curi pandang. Meskipun Angga tidak melirik sedikitpun, Angga justru hanya melihat wajah Nilam dari balik kaca yang tertempel di dekat, atas kepalanya.


Nilam, yang menyadarinya. Ia, terlihat sangat gugup dan malu Karena, Angga terus memandanginya. Maya yang mulai menyadari, merasa aneh.

__ADS_1


Aldo dan Dika, yang baper melihat kemesraan mereka secara diam itu.


"Ah, gue jomblo sih. Coba punya pacar ... gimana sih rasanya!" Aldo mulai menghayal.


Dika, memukul pundaknya. Dengan berbisik.


"Mimpi ...!"


"Sialan loe ..! Gue, pasti bisa punya pacar. Taruhan, ayo ...!" Dika, terlihat tidak yakin.


"Udah, cepetan ... loe kasih uang jajan loe, selama seminggu buat gue yah. Kalau gue berhasil punya pacar ..!" Dengan terpaksa Dika, menerima jabatan dan tantangan tersebut. Nilam, hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.


Angga, yang melihat dari balik spion mobil. Senang akhirnya Nilam tersenyum manis. Maya, merasa jika Angga memang menyukai anak laki-laki itu.


Setelah sampai, mereka semua masuk dan Angga segera duduk di ruang meeting.


Mereka memasuki ruangan meeting. Saksi tersebut memasuki ruangan. Ia, menangis tersedu-sedu. Semua orang bertanya bingung. Ia, memberikan rekaman tersebut. Mereka memutar rekaman suara tersebut.


"Bagaimana, kamu melakukannya?"


Begini ceritanya.


Malam itu sudah larut dalam kesunyian. TS memulai percakapan


"Bro, gimana kalau kita nyulik seorang gadis untuk bersenang-senang.!" Mereka saling bertatapan. Salah satunya menjawab.


"Gue, sudah pernah masuk penjara, gue rasa. Gue gak mau balik lagi!."


"Ayolah bro ... jangan begitu, kita senang-senang saja. Gue, jamin kita gak akan tertangkap, buktinya selama ini tindak kejahatan kita tidak pernah tercium." TS menyakinkan mereka semua. Akhirnya mereka setuju, dan terus melajukan mobil untuk mencari mangsa. Kebetulan ada seorang gadis yang sedang berjalan sendirian di tengah malam. Mereka menghampiri gadis tersebut.


"Hey, Neng malem-malem gini sendirian. Ayo, abang-abang anterin ...?"


"Maaf, Bang ... aku pulang sendiri aja!". Ia, mempercepat langkah kakinya.


"Udah, malem gimana kalau ada orang jahat ... nanti Eneng kenapa-kenapa. Ayo, mendingan sama kita, di jamin aman!" Salah satu dari mereka turun dari mobil dan menghampiri gadis tersebut.


"Gak, Bang. Makasih banyak, aku biasa pulang sendiri!". Gadis itu sudah mulai gelisah.


Akhirnya ia, memutuskan untuk berlari, karena ia takut. Ia, pikir jalan yang ia lalui sepanjang malam selalu aman. Tempat dimana ia di besarkan disana, untuk apa ia merasa khawatir, karena biasanya ia merasa sangat aman. Dan malam ini, ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia, hanya ingin cepat pulang ke rumah, mengingat wajah orang tuanya dan tunangannya yang akan segera menikah. Ia, berlari sekencang-kencangnya sambil menangis. Dan, sayangnya tidak ada orang lain, selain ia. Dan para pria itu.


Salah satu temannya memberikan kode mata, agar melancarkan aksi mereka. Dan mereka mengejar gadis tersebut. Dan, sayangnya gadis tersebut berhasil di tangkap.


"Bang, ampun ... tolong, ambil apapun. Tapi, tolong biarkan saya pulang Bang ...!" Ia, menangis tersedu-sedu. Namun apalah daya. Ia, tidak mampu melepaskan diri. Hingga, ia bawa entah kemana. Kebetulan mereka melewati perkampungan jalan. Disana ada anak remaja yang sedang bermain handphone di depan rumahnya dan mendengarkan teriakan dari sebuah mobil, yang meminta tolong. Ia, segera menyadari bahwa ada sesuatu yang telah terjadi.


Tidak lama Kakak dari saksi datang setelah pulang kerja, dan menceritakan kronologi tersebut. Kakaknya kemudian, menghidupkan kembali mesin motornya, dan mengejar mereka, karena adiknya mengingat flat nomor mobil tersebut. Mereka mengejar mobil tersebut, dan benar saja. Mobilnya ada di pinggir sawah. Mereka berdua mencari, tidak ketemu.


"Sepertinya mereka sudah kabur!" Mereka pulang. Ternyata, para pelaku sedang bersembunyi. Dan membungkam mulut gadis tersebut. Gadis tersebut menangis. Ia, mengingat masa-masa bersama orang tuanya, juga bersama tunangannya. Ia, terus menangis.


'Ibu, ayah ... maafkan aku sepertinya aku tidak akan pernah kembali untuk kalian!' Ia, sudah pasrah dengan keadaan ini.

__ADS_1


__ADS_2