
“Karena aku sudah tidak memiliki Ayah dan Ibu, melihat perjuangannya yang begitu hebat, hatiku jadi terenyuh, ini adalah bentuk dari tanggung jawabku padanya, karena sudah membuatnya tidak nyaman dan kehilangan pekerjaannya” ucap Edgar kemudian, mengusap wajahnya sambil berlalu mendekati kembali anak-anaknya yang sudah melakukan gerakan-gerakan aneh.
“Baik Tuan” Aldo membungkukkan tubuhnya, lalu berlalu untuk melaksanakan perintah Tuannya.
“Aksa, Azura! Ayo mandi! Kalian harus segera berangkat sekolah!” teriak Edgar pada anak-anaknya.
“Ya Ayah ...” jawab anak-anaknya kompak.
****
Senja menyapa, pendar sinar perak di langit sudah hampir musnah, berganti dengan hadirnya ribuan bintang yang bertebaran.
Rumah sakit ketika malam hari nampak lenggang, hanya beberapa orang perawat dan Dokter yang terlihat melakukan aktifitas rutin, merawat dan memantau keadaan pasien yang kritis.
Begitupun yang mereka lakukan pada Ibu, mereka dengan telaten memeriksa Ibu setiap sudah saatnya. Aku duduk di sebuah kursi, kepalaku rasanya mau pecah, penat sekali. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini? Ujian rasanya terus datang menghampiriku.
Tiba-tiba aku teringat tentang biaya rumah sakit Ibu, bagaimana caraku melunasinya? Sementara itu, tabunganku sudah mulai menipis, dan lagi aku belum mendapatkan pekerjaan kembali. “semua ini gara gara manusia itu!” aku berdecak sebal, tiap kali mengingat kejadian yang tengah menimpaku.
Perlahan, aku bangkit dan berjalan menuju loket pembayaran rumah sakit, setibanya di sana aku segera bertanya pada staf yang tengah berjaga.
“Permisi, Mbak saya mau tanya, kira-kira berapa pembayaran untuk biaya perawatan Ibu saya??” tanyaku lemah, sudah kupersiapkan diriku untuk terkejut mendengar nominal yang akan di sebutkannya, karena pada dasarnya bertahun-tahun membayar biaya pengobatan Ibu, aku sudah faham, gambaran biaya yang akan di sebutkannya.
“Mbak El, biaya rumah sakitnya sudah di bayar” jawabnya singkat, sambil tersenyum simpul.
“Ooohhh ... siapa yang membayarnya??” tanyaku masih santai, etapi sebentar, apa dia bilang?? Sudah ada yang membayar?? Siapa orang baik hati yang telah melunasinya? Kenapa aku jadi linglung gini sih?? Aku benar-benar terkejut sekarang.
“Seorang pria, aku fikir itu masih kerabatnya Mbak El” jawabnya,
“Seorang pria?? Siapa namanya??” aku semakin penasaran.
“Atas nama bapak Edgar Adiswara” jawabnya sambil mesem-mesem, kenapa dia?.
“What??? Pria itu lagi?? Kenapa dia mau membayar biaya pengobatan Ibuku?? Tidak bisa ku biarkan! Jangan-jangan pria itu mau melakukan hal keji lagi padaku! Setelah dia berusaha memanfaatkan namaku, sekarang dia mau kembali merusak namaku?? Ooohhh tidak bisa! Aku masih punya harga diri! Aku harus menemuinya! Aku akan mengembalikan semua uangnya!” tekadku dalam hati begitu kuat.
***
“Azura! Kenapa nilai bahasa Indonesiamu turun?? Sepertinya akhir-akhir ini kau terlalu banyak bermain!” suara Edgar meninggi, menatap putrinya yang tengah mencengkram ujung roknya ketakutan.
“A Ayah ... soalnya begitu sulit” jawab Azura kian gemetar.
“Bukankah Ayah sudah mendatangkan guru privat terbaik untuk bisa mengajarimu?? Kenapa kau bodoh sekali??” Edgar masih dengan muka datar dan dinginnya, membuat suasana sekelilingnya menjadi beku.
“Hhhiii ... hhiii ...” Aksa menutup mulutnya, menertawakan Kakaknya yang tengah di omeli.
__ADS_1
“Aksa! Apa yang kau lakukan??!!” bentak Edgar, membuat Aksa terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Apa yang tengah kau gambar???” Edgar menatap buku gambar putranya lekat.
“Aaahhh ... Ayah, lihat ini! Aku menggambar keluarga kita, ini Ayah ...” Aksa menunjukkan gambar seorang pria dengan tanduk, taring, dan asap yang tengah mengebul di atas kepalanya, Edgar mendelik pada putranya, tapi Aksa hanya terkekeh polos.
“Ini Kakak Azura” Aksa menunjuk gambar seorang anak perempuan menggunakan dress dan tangannya memegang bunga.
“Ini aku” kemudian jari mungilnya menunjuk pada gambar anak laki-laki yang tengah memegang balon,
“Dan ini ...” Aksa menghentikan ucapannya, saat jari jemarinya menunjukkan gambar seorang perempuan yang tengah menggandeng tangannya, dengan garis di bagian bibirnya melengkung lebar.
Edgar diam tidak bergeming, dia menunggu ucapan selanjutnya dari putranya, hatinya terasa teriris perih.
“Ini Ibu ...” Aksa menundukkan kepalanya, air mata menetes membasahi buku gambarnya tepat pada gambar perempuan yang tengah menggandeng anak laki-laki tersebut.
“Huuuaaaa ...” tiba-tiba tangisan Aksa pecah begitu saja, Edgar hanya menatap putranya iba,
“Aksa!!! Jangan cengeng! Apa yang kau lakukan?? Kau merusak buku gambarmu!!” teriak Edgar, membuat Aksa kembali terdiam menutup mulutnya, menahan tangisnya.
“Jangan cengeng! Sejak kapan anak laki-laki jadi cengeng?!” Edgar melempar buku tugas Azura, kemudian berlalu dari ruangan anak-anaknya. Edgar menutup pintu dengan keras, lalu menyandarkan kepalanya pada pintu ruangan tersebut.
“Kakaaaakkkk ... aku rindu Ibuuuuu ...” terdengar Aksa kembali menangis sejadi-jadinya, sambil meneriakkan nama Ibunya.
“Tuan ... di luar ada seorang perempuan yang ingin bertemu denganmu” ucap seorang pria paruh baya, yang tidak lain adalah pak Toto sopir pribadi Edgar,
“Siapa?” Edgar mengusap wajahnya, hampir saja air mata lolos dari pelupuk matanya.
“Seorang perempuan” jawab pak Toto.
“Siapa? Kenapa malam-malam begini ada tamu perempuan menemuiku?” tanya Edgar mengerutkan keningnya.
“Dia bilang, ini sangat darurat Tuan” Pak Toto berlalu begitu saja meninggalkan Edgar yang tengah termenung.
Edgar melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, sejurus kemudian dia menatap punggung seorang perempuan yang tengah membelakanginya.
“Ekhem!” deheman Edgar membuat perempuan itu mengerjap, lalu memutar tubuhnya.
Deg ...
“Kau???” Edgar mengerutkan keningnya.
“Iya! Ini aku! Kenapa??” perempuan itu mengedikkan wajahnya menantang Edgar yang masih kebingungan,
__ADS_1
“Ada apa lagi kau datang kemari??” Edgar menatap perempuan itu lekat.
“Ingin mengembalikan ini!” teriaknya.
“Apa ini nona Eliana??” dahi Edgar mengerut, lalu membolak-balik amplop yang tengah di genggamnya.
“Itu uang yang ingin ku kembalikan padamu!!” teriak Eliana lagi
“Uang?? Uang apa yang kau maksud??” Edgar tidak mengerti.
“Uang yang kau gunakan untuk membayar biaya rumah sakit Ibuku! Maaf aku tidak membutuhkannya!” Eliana mendengus kesal.
“Kau pikir kau siapa?? Bisa melakukan apapun sesuka hatimu?” Mata Eliana menajam menatap Edgar yang tengah mengerutkan keningnya.
“Apa kau ingin memanfaatkanku kembali tuan Edgar??” Eliana semakin berapi-api.
“Dasar kau! Perempuan tidak tahu diri!” Edgar mencengkram erat amplop yang tengah di genggamnya.
“Yah aku memang tidak tahu diri! Saking tidak tahu dirinya, aku menolak pemberianmu! Kau tahu? Biaya rumah sakit Ibuku adalah harga diriku! Bukankah kau sendiri yang bilang? Kita selesaikan urusan kita masing-masing dengan cara kita sendiri! Tapi kenapa kau mencampuri urusan pribadiku lagi!? Apa kau tahu? Di rumah sakit semakin beredar kabar kedekatanku denganmu hanya karena transaksi yang kau lakukan! Apa ini caramu meredakan gosip yang tengah beredar??” Eliana semakin berapi-api, membuat Edgar terkesiap.
“Huuhhhffffttt ...” gadis itu meniup ujung poninya.
“El ... bu kan ...”
“Stop!” Eliana merentangkan tangan kanannya, Edgar yang hendak membuka mulut, kembali terdiam.
“Aku sudah memaafkanmu, pertemuan kita cukuplah sampai disini, jangan pernah berurusan denganku lagi!” Eliana menghentakkan kakinya lalu meninggalkan kediaman Edgar segera.
“Siapa yang mau minta maaf??” Edgar melongo, menatap punggung gadis itu hingga hilang seiring pintu rumahnya yang di tutup.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan komentar nya ya readers ...
Terimakasih karena sudah membaca karyaku hingga bab ini.
Follow akun Ig-ku di Teteh_neng2020
__ADS_1
Terimakasih ...