DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Geng Baru


__ADS_3

“Bibi ... ayo cepetan, nanti kita terlambat ...” Aksa masih menarik-narik tanganku, jujurnya aku masih sangat lemas, tidak berdaya. Tapi tarikan lemah dari tangan Aksa membuatku mau tidak mau harus turun dari dalam mobil, mengantarkannya masuk kedalam sekolah.


Terlihat beberapa perempuan tengah berdiri berjejer di depan gerbang sekolah, mungkin mereka juga tengah mengantarkan anaknya sekolah. Seriusly?? Ini sekolahan elite, tapi kenapa mereka sendiri yang mengantarkan anak – anaknya sekolah? Kenapa mereka tidak menggunakan jasa babby sitter saja? Bukankah kebanyakan orangtua kaya raya memang begitu?


Ku tatap mereka satu persatu, dengan kaki masih mengikuti langkah kaki Aksa, “Bibi ... ayo cepetan”


“Ah ... iya”


Aku menatap mereka, yang juga tengah menatapku sinis, kenapa mereka? Apa karena ini pertemuan pertama kami? Makanya tatapan mereka seperti itu?


Perlahan ku tatapi diriku sendiri, Astagaaaa!!!! Apa ini?? Dandananku begitu lusuh dengan pakaian dan makeup seadanya, sementara mereka? Dandanan mereka pada syantik – syantik, menor – menor, pake lipstik merah membara, alis ada yang di ukir menjadi bentuk clurit, ada juga yang model alis shinchan, baju mewah, sepatu branded, dan tas harga sekian dan terimakasih, tidak lupa mereka juga turun dari mobil mewah dengan di bukakan oleh sopir pribadinya masing – masing.


Apa ini? Rasanya aku belum siap menjadi seorang Ibu, jika di bandingkan dengan gaya keceh badai mereka, jelas aku kalah telak.


“Suster barunya Aksa ya??” tanya si Ibu berlipstik pink panta.


“Hah? Eh ... bu bukan” aku menggeleng, sembarangan juga mulut nih Ibu.


“Bibi ... itu mamahnya Nadine, yang waktu itu dorong aku sampe jatuh” Aksa menarik - narik ujung bajuku, aku mengangguk tanda mengerti,


“Ini bukan Suster! Ini Bibi ... istrinya Ayah!” Ucap Aksa tegas, dengan tangan masih menggantung pada tanganku.


“Eh, jeng ... sssttt ... ssttt ... sssttt ... belum baca kabar terbaru ya? Gosipnya dia itu istrinya Pak Edgar yang baru” seorang Ibu dengan bulu mata anti badai menyenggolnya. Sambil terus berbisik - bisik.


“Haha ... masa?” si Ibu dengan baju motif macan maju kedepan, ikut – ikutan mengerubungiku.


“Iya, dia Ibuku yang baru, sekarang Ibu sudah tidak di syurga lagi, sekarang Ibu sudah ada di sini, mulai sekarang Bibi akan mengantarku ke sekolah setiap hari” jelas Aksa dengan ceria, huuuhhh ... sepertinya Aksa belum faham apa arti Ibu sambung bagi dirinya.


“Eh, kalau dia Ibumu kenapa kau memanggilnya Bibi hum??” Si Ibu loreng berjongkok kemudian mengelus pucuk kepala Aksa. Aksa diam, mungkin dia sedang berfikir.

__ADS_1


Si Ibu loreng kemudian berdiri, lalu menatapku, “Selamat atas pernikahanmu, lain kali kau mau kan bergabung dengan geng ku??” tanyanya lagi, menatapku dengan tatapan sinis.


“Geng?? Geng apa??” tanyaku mengerutkan dahi.


“Hahaha ... masa kau tidak tau? Kami ini, para istri pengusaha memiliki geng, kami menamainya geng ‘Drove girl’, apa kau tidak pernah melihat berita? Bahkan geng kami sekarang sedang naik daun” ucapnya sambil mengedik ngedikkan wajahnya, pertanda sedang menghinaku.


Aku tersenyum “O ya?? Maaf aku tidak tahu”


“Ah ya sudahlah jeng, dia itu istri baru, kelihatannya dia orang biasa, dia tidak akan mengerti urusan kita” ucap si Ibu berlipsik pink panta.


“Aaaahhh ... tidak, kita harus mengajaknya masuk kedalam geng kita, oh iya, geng kita itu seringkali mengadakan acara amal, acara jalan – jalan keluar negri, dan acara angon gajah di Afrika” jelasnya lagi, sambil mengedikkan bibirnya.


“Hah?? Angon gajah?? Di Afrika??” teriakku kaget,


“Iya ... haha ... norak, kau juga tidak tahu itu?? Padahal berbagai media seringkali mengabarkannya”


“Aku tidak akan ikut geng kalian!” ucapku tegas,


“Loh? Kenapa?”


“Karena sekolah ini adalah milik suamiku, jadi aku juga berkuasa untuk menentukan siswa mana saja yang bisa masuk kesekolah ini” si Loreng semakin mengedikkan wajahnya, mungkin dia sedang menantangku.


‘Sabar El ... tapi apa yang harus kulakukan? Jika aku tidak mengikuti keinginan mereka, bagaimana jika Aksa di keluarkan dari sekolahnya? Jika aku mengadu pada suamiku, bagaimana jika dia malah memakiku? Jika aku mengikutinya, sudah bisa di pastikan, aku pasti akan tertindas. Hiks ... apa yang harus kulakukan? Hari pertama menjadi seorang istri, kenapa begini siiihhh???’


***


‘TEERRREERRROOORREEETTT ... TERET TOREETTT ... TORRREEETTTT!!!’ ( suara terompet )


“Kebakaraaaannnn!!! Kebakaraaannn!!! Kebakaraaaannn!!!” Eliana segera bangkit dari atas ranjangnya kemudian melompat – lompat sendiri di atas ranjang, piyama tidur acak – acakan, rambut berantakan, sesaat kesadarannya mulai kembali. Dia mengerjap ngerjapkan wajahnya berkali – kali.

__ADS_1


“AAAAAAAAAA!!! Ke kenapa kau di sini??” Eliana menunjuk wajah pria dengan wajah datar di hadapannya, yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, setajam ... silet.


Pria itu adalah Edgar, Edgar segera melirik jam bekker yang berada di atas nakas, menyambarnya kemudian melemparnya ke arah Eliana yang masih limbung, mencoba mengumpulkan nyawanya. Eliana menangkapnya dengan gelagapan.


“Lihat! Jam berapa itu??” Edgar menunjuk jam bekker itu dengan wajahnya.


“I ini baru jam tiga malam, kenapa kau membangunkan aku dengan menggunakan terompet??” Eliana menghentak – hentakkan kakinya kesal.


“Jam tiga malam?? Jam tiga itu bukan waktu malam El, tapi ini sudah pagi!” Edgar masih dengan wajah datarnya.


“Apaaaa???” Eliana mengacak rambutnya yang sudah berantakan hingga menjadi semakin berantakan.


“Kau tidak lupa dengan peraturan di rumah ini bukan??” Tanya Edgar sambil melipat tangannya di dada.


“Peraturan?? Aku sudah lupa tuh” Eliana ikut melipat tangannya di dada.


“Cepat bangun! Dan segera bereskan rumah!” Ucap Edgar menatap Eliana dengan lekat, seolah menelisik sesuatu.


“Kenapa kau menatapku begituh?? Lagi pula, di rumah ini sudah ada pembantu, kenapa aku harus membereskan semuanya? Apa kau tidak tahu?? Rumah ini sangat luas, pinggangku masih sakit, kala membereskan rumah ini kemarin, selain itu, aku juga harus masak, aku juga harus mengurus anak – anak, aku juga masih harus mencabuti rumput, menyiram bunga ...”


“Kau keberatan El??” suara berat itu menghentikan Eliana yang sedang membentikkan jarinya, berhitung pekerjaan berat yang harus di lakukannya setiap hari.


“Ti tidak ...” Eliana menunduk.


“Ini adalah latihan untukmu, agar kau bisa menjadi istri, dan Ibu yang baik! Segera bereskan rumah sanah!” Perintah Edgar dengan suara kejamnya, sambil memutar badan, berniat pergi dari ruangan itu.


“Ah, satu lagi!” tiba – tiba Edgar kembali menoleh.


“Apa lagi???!!!” Eliana mengedikkan wajahnya.

__ADS_1


“Bereskan dulu wajah badutmu itu! Sebelum anak – anakku lari ketakutan karena melihatnya!” Peringat Edgar, kemudian dia berlalu, meninggalkan Eliana yang masih berdiri di atas kasur, sambil mengerutkan keningnya.


“Apa dia bilang?? Wajahku seperti badut?? Di tidak sadar apa?? Wajahnya saja seperti tembok! Keras dan dingin kayak gituh” Eliana menghentakkan kaki lalu menuju kamar mandinya.


__ADS_2