
Eliana pov
Trek ...
Aku mengerjap, lalu menoleh ke arah sumber suara, ku dapati pria itu tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap ke arahku, dengan sebuah dus besar di tangannya. Aku balik menatapnya. Sungguhkah dia suamiku sekarang?
“Ini barang – barang Ibumu yang aku bawa dari rumah sakit, harus ku letakkan di mana?” tanyanya masih berdiri tegap, dan aku masih menatapnya. Sungguhkah hidupku harus seperti ini? Kenapa aku harus menikah dengan orang yang harusnya cocok jadi pamanku? Bahkan kini aku memiliki dua anak sekaligus, yah ...mereka bilang menikah dengan duda itu satu paket, buy one get two. Dan kini aku tengah merasakannya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang?
“Harus ku letakkan di mana?” lagi – lagi suara itu membuatku mengerjap.
“Di sana saja” ucapku sambil menunjuk arah kolong ranjang.
“Aku harap kamu bisa segera menyadari posisimu di rumah ini El” ucapnya, aku mengernyitkan dahi, bingung, apa yang dia maksud?
“Apa maksudmu?” aku mengedikkan wajah kumalku.
“Bibi ... ayo kita berangkat sekolah ...” Tiba – tiba Aksa datang dari samping ayahnya, aku menatapnya lagi.
“Sekolah??”
“Hum ... sekolah, pagi ini aku ingin sekolah di antar bibi ...” mata Aksa terlihat berbinar.
“A aku ...” aku menunduk dalam, apa hariku harus di mulai dengan cara seperti ini?
“Ayo bibi ...” Aksa berlari ke arahku, kemudian berhambur kepelukanku, menarik narik unjung piyama yang tengah ku gunakan.
“Ah ... a aku ...” masih bingung, ku tatap Edgar, dia hanya mengedikkan kedua bahunya kemudian berlalu.
“Bibi tidak mau ikut denganku? Tidak mau mengantarkan aku?” wajah Aksa terlihat kecewa.
“Ah, baiklah, aku akan mengantarkan kamu ke sekolah, aku akan bersiap siap dulu, kamu tunggu aku di meja makan yah ... kita sarapan” ucapku sambil mengelus pucuk kepalanya, Aksa memanggutkan kepalanya, kemudian berlalu keluar kamarku.
Sementara aku segera menyeka sisa air mataku, lalu berlalu menuju kamar mandi, ku lakukan ritual pagiku.
Akan ku tata kembali hariku dengan baik, ku harap menikah dengan pria asing yang awalnya sangat aku benci bisa mengubah hidupku menjadi lebih baik lagi. Seperti cerita yang ada di dalam novel – novel yang sering aku baca, awalnya benci ujungnya cinta.
Semangat Eliana!
***
Aku menghampiri meja makan berbentuk persegi panjang tersebut, ku tarik salah satu kursi lalu kudaratkan bokongku di sana. Mereka menatapku bergantian. Edgar yang tengah menatapku dengan tatapan dingin dan datarnya, Azura yang menatapku dengan tatapan anehnya, dan Aksa yang menatapku dengan tatapan imutnya, hanya Aksa yang tersenyum menyambut kedatanganku.
“Mulai sekarang orang ini akan menjadi Ibu kalian” ucap Edgar membuka percakapan tanpa menoleh ke arahku. Apa maksudnya ‘Orang ini?’ apa dia tidak menganggapku sebagai istrinya.
“Ibu?? Apa dia pengganti Ibu?” Azura, anak perempuan kelas satu SMP itu menatapku, selama ini aku tidak dekat sama sekali dengan Azura, aku belum tahu betul seperti apa kepribadiannya.
“Hmh ...” jawab Edgar sambil mencoba meraih sayuran di hadapannya.
“Apa kami harus memanggilnya Ibu?” tanya Azura lagi menatapku dalam.
__ADS_1
“Tidak juga, tapi jika kau mau memanggilnya seperti itu tidak masalah” ucap Edgar lagi, sebentar ... keluarga macam apa ini? Kenapa Edgar mendidik anak anaknya seperti itu? Kenapa dia tidak mengajarkan sopan santun pada mereka, jika aku istri Edgar, harusnya aku jadi Ibu bagi anak anaknya bukan? Harusnya mereka memang memanggilku Ibu bukan? Hhuuuhhh ... haaaahhhh ...
“Aku akan memanggilnya Bibi ...” ucap Aksa sambil tersenyum lebar.
“Ah iya ...” aku menunduk, rasanya aku sungguh seperti orang asing di rumah ini, padahal statusku adalah istri. Oh tuhan ... inikah ujiannya? Etapi, aku kan memang orang asing bagi mereka, dan mereka juga orang asing bagiku.
“Aku juga akan memanggilmu Bibi ...” Azura mengikuti tingkah adiknya,
“Diam! Ayo cepat makan! Nanti kalian terlambat ...” Edgar memperingatkan anak anaknya, dengan wajah dingin dan suara datarnya, kemudian dia memasukkan makanannya ke dalam mulut. Akhirnya akupun mengikuti mereka untuk memasukkan makanan itu kedalam mulutku.
“Ikut aku ...” Edgar menarik tanganku, kala acara sarapan kami telah berakhir.
“Eeeehhh ... apa ini? Lepaskan!” aku berteriak ketika tangan kekar itu terus menarik tanganku kedalam sebuah ruangan.
“Kau adalah istriku mulai dari beberapa hari yang lalu, beberapa hari terakhir aku mengampuni tingkahmu karena aku paham, kau masih berduka” ucapnya masih datar.
“Apa maksudmu??” ku lepaskan genggaman tangannya.
“Ketika kau memasuki rumah ini, tentu saja kau pun harus mengikuti semua peraturan di rumah ini.
“Peraturan?? Peraturan apa?” aku mengernyitkan dahi, bingung.
“Satu. Rumah ini memiliki luas sekitar dua ribu meter persegi, dan kau harus membereskannya sendiri, dengan kedua tanganmu itu” ucapnya tegas, sambil menunjuk kedua tanganku, sementara aku hanya menganga, aku yakin dia pria gila.
“Dua. Aku melarang seluruh anggota keluargaku untuk memakan makanan instan! Jadi, kau harus menyiapkan makanan untuk keluarga ini, memasaknya sendiri, dan pastikan nutrisi yang terkandung di dalamnya sudah sesuai untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, dan untukku yang memang membutuhkan nutrisi lebih, karena ... ehem ... usiaku yang terus bertambah” ucapnya sambil mengusap tengkuknya, sementara aku masih menyimak dengan mulut terbuka.
“Tiga. Siapkan seluruh kebutuhanku, dari mulai hal kecil hingga hal besar sekalipun, juga siapkan kebutuhan anak-anak dengan teliti”
“Stop!” aku merentangkan tangan kananku, membekap mulutnya dengan gemas.
“Apa yang kau lakukan? Sebenarnya aku ini istrimu? Atau pembantumu?” tanyaku dengan tangan masih menempel pada mulutnya.
“Kau? Tentu saja kau adalah istriku” ucapnya datar.
“Empat ... Kita harus tidur dalam satu ruangan”
“Stop! Tidak, aku tidak mau, tidak ada kontak fisik selama aku belum yakin dengan pernikahan ini!” teriakku, sambil mengedikkan bibirku, sementara kedua tanganku menutupi kedua benda yang terpampang di dadaku, rasanya ingin tak remas-remas mulut si tua ini.
“Dasar mesum! Siapa yang memintamu untuk melakukan kontak fisik? Aku hanya mengatakan kita akan tidur dalam satu ruangan! Kau tidur di ranjang itu, dan aku akan tidur di sofa itu” ucapnya sambil menunjukkan tempat yang dia maksud, tak ayal semuanya membuatku tenang.
“Lima, jangan ikut campur dengan urusanku, kita urus urusan kita masing-masing, dan kita lakukan tugas kita masing-masing dengan baik dan benar”
“Enam, ....”
“Stop! Kenapa semua peraturan ini begitu menguntungkanmu? Kenapa tidak ada yang menguntungkan aku”
“Enam, laporkan semua kegiatan anak-anak secara rinci, setelah aku pulang kerja”
“Bukankah kau memasang kamera cctv di setiap penjuru ruangan ini? Kenapa kau tega sekali menyiksaku??”
__ADS_1
“Tujuh, ...”
“Stop! Stop! Stop! Kenapa banyak sekali peraturannya?”
“Tujuh ... jangan membangkang, peraturan di adakan untuk di turuti,”
“Delapan ...”
“Huaaaaa ...”
“Delapan, lakukan semuanya dengan benar, jika ada kesalahan maka hukuman lainnya sedang menantimu” tersenyum menyeringai.
“Sembilan, di rumah ini aku selalu benar”
“Tapi ...”
“Ingat peraturan nomor sembilan Nona”
“Huuuaaaa ... hiks, ini namanya penyiksaan, bolehkah aku melaporkan si tua ini pada komnas HAM?”
“Ingat! Nomor sembilan” peringatnya lagi, sambil menyunggingkan sebelah bibirnya.
“Satu lagi, ajarkan anak - anakku bahasa yang baik dan benar dalam berkomunikasi, jangan sampai anak - anakku bergaul dengan sembarangan orang” pungkasnya sambil berlalu dari hadapanku.
“AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!”
“Bibi ... kenapa teriak – teriak?? Mobil sudah menunggu kita di depan, ayo antarkan aku sekolah” Aksa kembali menarik - narik baju yang kugunakan.
“Baiklah ... di mana kaka Azura?” aku memutarkan pandangan.
“Bibi ...” Azura tengah melipat tangannya menatapku dari ambang pintu.
“Ah, ayo kita berangkat sekolah anak - anak” aku bergegas menggandeng tangan Aksa.
“Tunggu dulu” Azura merentangkan tangan sebelah kanannya.
“Apa lagi??” setengah kesal aku menatap Azura.
“Jika si bodoh Aksa bisa terus menempel padamu, maka tidak denganku! Aku tidak bisa dengan mudah menerima kedatanganmu!” gadis itu masih melipat kedua tangannya di dada.
“Astaga ... apalagi ini? Anak ini, tadi begitu manis di hadapan Ayahnya, tapi kenapa sekarang ketika di belakang Ayahnya bisa seperti ini?? Tidak! Keluarga ini tidak normal!”
“Bibi ... ayo kita berangkat sekolah, aku ingin memamerkan pada teman - teman sekolah, jika aku juga memiliki Ibu, Ibuku tidak di syurga lagi, Ibuku sudah turun kebumi, dan sekarang akan mengantarkan aku kesekolah” ucap Aksa dengan mata berbinar, kemudian Aksa berlari mendahuluiku.
“Ibunya ada di syurga? Apa Ibunya sudah meninggal??”
Selamat lebaran untuk seluruh teman-teman yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
Selamat berbahagia 🥰🥰🥰