DINIKAHI DUDA GALAK

DINIKAHI DUDA GALAK
Cara Berterima Kasih


__ADS_3

Suara Azura membuat seluruh Ibu yang hadir meneteskan air matanya, suaranya begitu sendu, mengundang tangis, termasuk El dan Chelsi, mereka merasa tersentuh dengan nyanyian Azura.


“Terimakasih Bunda, terimakasih Ibu El, sudah merawatku selama ini, sudah menjagaku, mengajariku, dan membuat hidupku bahagia” ucap Azura polos dari atas panggung, tak lama Azura membungkukkan tubuhnya, lalu turun dari atas panggung.


Azura menghampri Eliana, Chelsi, dan Edgar yang tengah menunggu mereka.


“Ayah ...” Azura menghambur ke pelukaan Edgar,


Edgar yang kaku menerima pelukan putrinya, mendekapnya dengan erat, tanpa sepatah katapun.


Selesai melepaskan pelukan Edgar, Azura memeluk Chelsi, lalu dengan ragu dia mendekati Eliana.


“Ibu ...” Azura memeluk Eliana dengan erat, dan di balas oleh Eliana tak kalah erat.


Sepertinya Ibu dan anak yang selalu berselisih ini sudah akan berbaikan.


“Ayo kita foto bersama!” teriak Azura antusias,


“Azura, Ayah, dan Bunda di foto bareng ya, biar Ibu yang fotoin” Eliana meraih kamera dari dalam tasnya.


“Tidak, kita semua harus berfoto bersama” Chelsi maju ke depan, tangannya melambai pada orang di seberang sana.


“Iya Nyonya??” orang itu datang menghampiri.


“Tolong fotokan kami” Chelsi segera mengatur posisi, setelah orang itu bersiap memoto.


“Siap yaaa ... satu, dua, tiga!”


Cekrek!


Mereka berfoto dengan posisi, Edgar dan Eliana bergandengan, di sisi Eliana ada Azura, dan di ujung ada Chelsi.


“Jika Azura sudah memanggilmu Ibu, itu artinya dia sudah sangat menyayangimu” ucap Chelsi, saat mereka akan berpisah di parkiran.


***


Di dalam sebuah ruangan kantor yang sangat luas dan megah, seorang pria tengah termenung sendirian, sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke dahinya.


“Tuan, memanggil saya??” tanya sang asisten sambil membungkukkan punggungnya penuh hormat.


“Hmht, aku ingin bertanya sesuatu pada seorang anak muda seperti dirimu” ujar sang bos dengan suara ragu. Dia masih bingung, haruskah dia mengungkapkan keinginannya atau tidak?. Secara, apa yang dia kehendaki adalah sesuatu yang akan membuat harga diri dan image nya akan luntur.


“Bertanya tentang apa Tuan??” Aldo duduk di kursi di hadapan Edgar tanpa di perintah, seolah faham, jika Tuannya sedang dalam keadaan gundah.

__ADS_1


“Emmhhh ... itu ... anu ...” Edgar terlihat kikuk.


“Tuan mau nganu??” Aldo mencondongkan wajahnya ke hadapan Ed.


“Hah?? Eh?? Tidak! Bukan seperti yang kau fikirkan!” seketika wajah Ed langsung berubah menjadi merah padam.


“Lalu apa Tuan??” Aldo semakin penasaran.


“Eemmhhh ... coba carikan aku referensi tempat untuk berkencan” celetuk Edgar tiba-tiba, seketika Aldo membungkam mulutnya, menahan tawa. Edgar memberenggut kesal, rahangnya sudah mengeras. Sadar, Aldo segera menormalkan kembali wajahnya.


“Tuan mau berkencan?? Dengan Nyonya??” tanya Aldo memastikan.


“Menurutmu, anak muda sekarang sukanya berkencan di tempat yang seperti apa??” tanya Ed.


“Emmmhhh ... kalau mantan kekasihku dulu, sukanya makan malam romantis di caffe baru, menonton konser musik di jalanan, lalu ...”


“Stop! Apa maksudmu menonton musik di jalanan??” Edgar langsung meraba keningnya, dia merasa pusing sendiri, kenapa juga dia harus membayangkan melakukan hal-hal aneh dengan Eliana.


“I iya, mantan pacar saya paling suka makan ice cream, sambil nonton band indi, yang lagi ngadain konser di pinggir jalan, lalu kita bisa berpelukan, sambil menikmati udara malam, hhee” Aldo terkekeh, sementara Edgar tersenyum menyeringai, kepalanya sudah di lengkapi tanduk iblis, dengan segudang rencana busuknya.


“Siapkan semuanya!” seru Edgar.


“Siapkan?? Apanya yang harus di siapkan Tuan??” Aldo masih melongo,


“Eh? Ba baik Tuan” Aldo beranjak dari duduknya, sambil menggaruk keningnya perlahan.


Sementara Edgar langsung kembali mengerjakan pekerjaannya. Setelah sebelumnya, dia mengetikkan sebuah pesan, yang entah untuk siapa?.


***


Sementara itu, di rumah ...


“Aksa, Azura, ayo makan siang dulu ...” teriak Eliana dengan nyaring.


“Iya Ibu ...” Aksa dan Azura datang saling berkejaran menuju meja makan, sementara itu, Eliana sibuk menyiapkan piring untuk mereka.


“Siang anak-anak ...” tiba-tiba suara perempuan yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka terdengar.


Eliana menoleh, lalu tersenyum.


“Mbak Chelsi?? Tumben Mbak??” tanya Eliana, sambil menyodorkan sepiring makanan untuk Aksa.


“Iya, aku datang ke sini, mau jemput anak-anak, aku mau ngajak mereka jalan-jalan, bolehkan??” tanya Chelsi, sambil duduk di salah satu kursi makan mereka.

__ADS_1


“Ah? Iya, boleh Mbak” Eliana tersenyum,


“Mbak, sekalian makan di sini ya” tawar Eliana tulus.


“Enggak usah, tadi aku sudah makan dengan pamannya anak-anak” ujar Chelsi,


“Bunda mau ngajak kita jalan-jalan kemana?? Hari ini panas, aku ada tugas menggambar, aku tidak ingin jalan-jalan” ucap Aksa merajuk.


“Aku juga ada les nari hari ini, aku gak akan ikut jalan-jalan sama Bunda” Azura ikut-ikutan menolak.


“Eeeehhh ... anak-anak sekali ini aja ikut Bunda yah ... “ Chelsi seperti memaksa.


“Tapi Bunda ...” Aksa melepaskan sendoknya, hingga terdengar bunyi dentingan antara sendok dan piring.


“Mbak, kalau anak-anaknya gak mau, gimana kalau besok aja jalan-jalannya??” usul Eliana, yang tidak tahan ketika melihat anak-anak merajuk.


“Eeehhh ... ayo kita harus jalan-jalan keluar rumah hari ini, lagi pula, masa kanak-kanak gak boleh belajar terus, sesekali kalian harus main juga, Azura, nanti Bunda belikan boneka sebanyak yang kamu mau, Aksa nanti kamu Bunda belikan mobil yang menggunakan remote control, mobil yang kamu mau itu lho” tawar Chelsi kemudian, membuat Eliana mengerutkan keningnya, merasa heran, karena tidak biasanya Chelsi memaksakan kehendaknya pada anak-anak.


“Janji ya Bunda??” seru mereka kompak.


“Bunda janji” Chelsi membentikkan jari kelingkingnya, dan di sambut oleh anak-anak, Eliana tersenyum.


Selesai makan, sesuai keinginan Chelsi, dia memboyong anak-anaknya untuk menuju sebuah mall terbesar di kota itu. Untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, sementara itu Imran juga ikut bersama mereka, karena dia juga merasa harus mendampingi adiknya, yang sedang dalam masa proses perceraian itu. Imran yakin, hati adiknya pasti saat ini sedang tertekan.


“Kenapa kau melakukan semua ini??” tanya Imran ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Ini adalah bentuk rasa bersalahku terhadap Ed” jawab Chelsi, seraya menatap kaca jendela mobil.


“Perempuan bodoh! Aku bahkan sudah melakukan banyak cara, agar kau bisa kembali padanya, tapi kau malah menghancurkan semuanya!” Imran mengeratkan rahangnya kesal.


“Aku tidak bodoh, justru aku tidak ingin mengulangi kebodohanku kembali” ujar Chelsi, sambil sesekali mengusap kepala Aksa, yang kini sudah tertidur dalam pelukannya.


“Kau harusnya mengikuti permainanku!” Imran kembali berujar dengan kekesalannya.


“Kak, kau dan dia dari dulu bersahabat, sekarang, tetaplah menjadi sahabatnya kembali, aku dulu telah melakukan kesalahan besar, aku ingin melihatnya bahagia, karena cinta harusnya seperti itu bukan?? Membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya, sama seperti dia dulu, yang membiarkan aku memilih kebahagiaanku sendiri” Chelsi mengusap sudut matanya yang sudah berkaca-kaca.


“Bodoh! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri!” seru Imran, masih kesal akan keputusan adiknya.


“Dan kau malah ikut membantu dia, untuk mendekatkan dirinya pada istri barunya, itu bukan cinta! Itu naif namanya!”


“Terserah Kakak saja, tapi satu hal yang pasti, sekarang, aku bisa bersama dengan anak-anakku, adalah anugrah terindah yang pernah aku rasakan, dan ini berkat bantuan Eliana, ini caraku berterimakasih pada mereka Kak!”


“Cih! ...”

__ADS_1


.


__ADS_2