
Tring ... tring ... tring ...
Tiba-tiba ponsel Eliana terdengar nyaring, sepertinya ada banyak notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya. Eliana segera membuka ponselnya.
“Bu Nana bagaimana acara traveling kita?” Mirnahobytraveling.
“Oh, jadi dong, dua hari lagi kita berangkat, yang lain setuju bukan??” Nanayangpalingcantik
“Setujuuuuu” seluruh member geng drove girl langsung menyahut.
“Peraturannya, jangan lupa bawa suami masing-masing, karena kita akan bermalam jum’at disana, jadi kita bisa sekalian sunnah rosul di dalam tenda wkwkwkwk” Nanayangpalingcantik.
“Jangan lupa bawa camilan khusus untuk malam jum’at” Lilicelaluceliacelamanya.
“Emang ada camilan khusus malam jum’at??” ElianaAdishwara dengan emote garuk-garuk.
“Ish ... pengantin baru, belum berpengalaman jadinya begini xixixi” Nanayangpalingcantik.
“Tapi kan Tuan Ed sudah sangat berpengalaman, wkwkwk” Mirnahobytraveling dengan emot ngakak.
“Bawa novel 21++ sama obat kuat aja, itu yang paling penting” Lilicelaluceliacelamanya, menimpali.
“Whhaattt?? Uhuk ... uhuk ... gadis mau left dulu” ElianaAdishwara.
“Hah?? Gadis?? Gadis endasmu!! Wkwkwk ...” seluruh anggota geng drove girls langsung mencibir Eliana, mereka tidak tahu, jika sesungguhnya hubungan Eliana dan Edgar belum sejauh itu.
“Ish ... menyebalkan! Kenapa juga aku harus ikut acara mereka?? Kenapa mereka selalu mengancamku? Jika aku tidak melakukan apa yang mereka minta, maka mereka akan membuat Aksa di kucilkan anak-anak lainnya, hiks ... nasib Emak yang terlalu sayang anak ya begini” El ngedumel sendiri.
“Siapa yang menyebalkan??” suara berat itu tiba-tiba terdengar dari belakang tubuh El yang sedang asyik berselancar di dunia maya.
“Hah?? Tidak!” El berdiri, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas, setelahnya dia berlalu menuju kamar mandi, untuk menggosok gigi.
Diam-diam AA meraih ponsel istrinya sambil celingukan, takut El tiba-tiba muncul, perlahan dia membuka ponsel istrinya yang tidak menggunakan pasword itu.
“Hah?? Haha ... ide yang bagus!” seketika kening AA menjadi bertanduk, dia tersenyum menyeringai, dengan segudang rencana liciknya, setelah membaca pesan chat di Group WA geng Drove girls.
***
Dua hari kemudian ...
__ADS_1
“Hupt ... uh ...” Eliana tampak kesusahan menenteng tas ranselnya yang super besar, dia menuju tempat perkumpulan geng drove girls sebelum berangkat mendaki gunung. Terpaksa El harus berangkat mendaki gunung tanpa AA, sengaja dia tidak memberi tahu AA, karena dia enggan memapah AA, jika sewaktu-waktu pria itu mogok di jalan, karena kelelahan, begitu fikirnya.
“Nyonya El!!” Bu Nana melambaikan tangannya pada Eliana, sedangkan tangan lainnya menggandeng tangan suaminya, begitupun dengan yang lain. Eliana membalas lambaian tangan Bu Nana sambil tersenyum.
“Loh?? Suaminya mana??” tanya Bu Lili mulai heboh,
“Emmhh ... suami saya sibuk” jawab El mengada-ada.
“Sibuk?? Tapi suami kami juga sibuk kok, tapi mereka memaksakan dirinya, untuk memenuhi keinginan kami, iya kan Nyonya-Nyonya??” ucap Bu Nana sambil mengibaskan kipasnya.
“Eeehhee ...” El menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Sepertinya, bakalan ada yang kesepian di malam jum’at ini, jangan iri ya nyonya El” Bu Mirna menimpali,
“Eh, terus nanti yang bakalan mendirikan tenda Nyonya El siapa dong??” Bu Lili terlihat bingung.
“Karena saya masih muda, saya bisa mendirikan tenda saya sendiri” ujar El sambil membulatkan tangannya, memberi semangat pada diri sendiri.
“Ih ... sungguh tidak romantis!!” Bu Nana bergidik,
“Sayyyaaaannnggg ... tolong bawain barang-barangku dooonnggg” ucap Bu Nana dengan manjanya pada suaminya.
“Iiihhh ... sayaaanngg ... jangan malu-malu” Bu Nana berlalu mengejar suaminya.
“Hupppttt ...” El kembali mencoba menenteng tasnya.
“Biar aku yang bawa” tiba-tiba suara berat itu terdengar dari samping El.
Seketika semua orang menoleh kebelakang, mereka menganga tak percaya atas apa yang mereka lihat.
AA dengan stylish yang sangat keren, tengah menggendong tas ransel El, lalu tangan lainnya menggandeng tangan El, mereka berjalan menebar pesyona, melewati Ibu-Ibu rempong, yang dari tadi terus mengatai Eliana, membuat para Ibu-ibu itu menjadi iri.
“Haaahhh?? So swweeaaattt bangeettt!! Papah ... lihat mereka!!” Bu Nana dan yang lainnya menyenggol tangan suaminya, yang tengah berdecak kesal.
“Ish ... aku fikir aku akan benar-benar naik gunung, ternyata apa ini?? Kalau ujung-ujungnya harus naik mobil, kenapa kita gak ke mall aja??” Eliana terus ngedumel, di samping AA.
“Ya ampuuunnn Nyonya Ellll ... plis deh, kalau kita punya fasilitas buat apa kita sia-siakan?? Saya tidak mau, jika nanti kita berjalan menuju gunung, kaki saya pegal, kuku saya patah, dan kulit saya yang baru melakukan perawatan bakalan gosong terbakar” jelas bu Nana panjang lebar.
“Iyalah, sultanwati mah bebas!” El mendengus kesal, lalu menatap jendela yang tembus pada pemandangan luar.
__ADS_1
Semuanya asyik dengan kegiatan masing-masing di dalam mobil travel yang membawa mereka ke kaki gunung tempat tujuan mereka melakukan kemah.
Bu Mirna asyik membaca novel 21++, Bu Nana asyik membaca dosis obat kuat, dan Bu Lili asyik memijat paha suaminya, sementara El hanya memutar kedua bola matanya. Jengah.
“Sudah, nikmati saja pemandangannya” Ed membuka suara,
“Apanya yang mau dinikmati?? Naik mobil ya begitu-begitu saja” El masih kesal.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tahu acaraku??” El menatap wajah AA, yang tengah asyik membaca koran.
“Apa yang aku tidak tahu tentang keluargaku??” AA bertanya balik, menatap Eliana intens.
“Lalu, kau kenapa tidak memberi tahuku tentang kegiatan ini??” suara AA terdengar mengintimidasi.
“Emmhhh ... aku ... aku tidak ingin mengganggumu,” El menunduk.
“Cih ... justru kalau kau pergi sendiri, kau akan menggangguku!” ucap AA sambil membalikkan korannya.
“Maksudmu??” El mengerutkan keningnya.
“Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu ketika di tengah hutan?? Apa itu tidak akan menggangguku??” ucap Ed datar.
“Lain kali, mari kita coba untuk berbagi, seluruh keluh kesahmu, katakanlah padaku” AA kembali mengibaskan korannya, sementara Eliana hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal, Eliana masih bingung dengan perasaannya sendiri.
“El ... aku ...” AA menatap Eliana lekat,
“Pemandangannya bagus!!” seru El mengalihkan perhatian AA,
“Ck!!” AA berdecak sebal, lalu melanjutkan membaca korannya.
***
“Hhhoooaaammm!! Akhirnya kita tiba” sorak Bu Nana, sambil berjingkrak, dia segera turun dari dalam mobil, lalu berlarian menuju padang ilalang, yang akan di jadikan tempat berkemah.
Selang satu jam, para Bapak-bapak sudah sibuk mendirikan tenda, sementara para istri sedang sibuk menyiapkan makanan, berbeda dengan kemping pada umumnya, yang harus menyiapkan makanan dengan cara memasak masakan seadanya, maka geng drove girl menyiapkan makanan yang sudah mereka pesan dari resto ternama, intinya, kita melakukan kemah di tempat ini, hanya pindah tidur saja. Yang awalnya kita tidur di kamar, maka sekarang kita tidur di bawah tenda, di alam terbuka. Sementara untuk fasilitas lainnya, semuanya masih tetap sama.
“Yah ... ayo semangat Papah! Jangan kalah sama Tuan Ed!” Bu Nana bersorak, menyemangati suaminya, yang tengah mendirikan tenda, dari tadi, tenda Bu Nana tak kunjung berdiri, karena suaminya yang kurang piawai, berbeda dengan AA yang langsung bisa mendirikan tendanya.
Siapa dulu dong ... AA gitu loh.
__ADS_1